
“Hooek…!”
"Nah, makin parah kan? Cari penyakit sih kakek tua itu. Salah sendiri!"
Terdengar suara Ratu Geladak Hitam berseru dari tempatnya,
“Loan Besi! Kalau kau menghalangiku sekali lagi, kubikin remuk seluruh tulangmu!”
“Bangkhat…!” Loan Besi sedikit kaget. Suaranya jadi serak. Mau memaki dengan kata ‘Bang sat’ jadi ‘Bangkhat’. Tapi ia berusaha bangkit dengan pergunakan tongkat gembalanya. Walau terhuyung-huyung mau jatuh, Loan Besi masih belum mau menyerah. Ia menduga antara Pandu dengan Dardanila punya masalah besar yang membuat Pandu Puber kalah dan dikejar oleh Dardanila untuk dibunuh. Maka sikap Loan Besi sebagai calon pelayan ataupun guru Pandu merasa perlu menghambat kejaran Dardanila itu agar Pandu mampu selamatkan diri sejauh mungkin.
“Akho… makhu khalau khau bekhani…!” maksudnya, ‘Ayo maju kalau kau berani’. Tapi karena tenggorokannya terasa perih, jadinya seperti orang gagu baru bisa belajar ngomong. Khasikhan, ya? (kasihan ya?)
Tongkatnya diputar-putarkan di atas kepala dengan lengkungannya mencantol di pergelangan tangan. Jurus itu dinamakan olehnya jurus ‘Tongkat Manja’.
Ratu Geladak Hitam benar-benar tak bisa bersabar lagi terhadap si tua yang selalu merasa berilmu tinggi itu. Merasa gerakannya terhambat dan membayangkan Pandu Puber sebentar lagi mencapai tanah Kapur Gaib, maka Dardanila segera lepaskan pukulan bercahaya kuning pecah bagaikan piring bergerigi tak beraturan.
Claapp…!
Jurus ‘Tongkat Manja’ pun segera beraksi. Putaran tongkat itu timbulkan cahaya biru mengelilingi tubuh Loan Besi. Cahaya itu terdiri lebih dari sepuluh lingkaran, sehingga Loan Besi bagaikan dikurung dalam perlindungan cahaya biru. Dan sinar kuning itu hanya bisa menghantam cahaya biru terang tersebut, sehingga terjadilah dentuman menggelegar dari perpaduan dua jurus bertenaga dalam cukup besar itu.
Blegaarr…!
Ratu Geladak Hitam terpelanting terbang ke belakang karena gelombang getaran daya ledak tadi sangat besar. Tetapi tubuh Loan Besi tetap tegak dalam kurungan sinar birunya.
Kutilang Manja dan Peluh Selayang tiba di tempat itu gara-gara mendengar suara ledakan pertama. Mereka diam sesaat perhatikan siapa orang yang bertarung dengan Dardanila. Ternyata kedua murid Nyai Sirih Dewi itu juga mengenal wajah tokoh tua tersebut.
“Paman Loan Besi, kenapa Paman berselisih dengan Dardanila?” tanya Peluh Selayang merasa heran.
“Tanyakan sendiri kepadanya! Cepat tanyakan saja sebelum nyawanya terbang ke ujung neraka!” ujarnya dengan suara serak sudah bisa dikendalikan.
“Sebaiknya kita jangan ikut campur,” bisik Kutilang Manja.
“Agaknya mereka punya persoalan sendiri. Kita lihat saja dari kejauhan.”
Peluh Selayang setuju, tapi masih merasa heran melihat Dardanila baru saja bangkit dari kejatuhannya. Ia tak sangka kalau Loan Besi mampu membuat Dardanila terpental dan jatuh bagai orang tak berilmu tinggi. Padahal menurut taksiran Peluh Selayang, ilmunya Dardanila lebih tinggi dari pada ilmunya Loan Besi.
“Peluh Selayang, Kutilang Manja…. Hadapi si tua itu, aku tak punya waktu! Jangan sampai Pandu berhadapan dengan si Ratu Peri Sore itu! aku akan menyusulnya sebelum tiba di sana!”
Dardanila berkelebat lewat jalur lain menyusul Pandu Puber. Loan Besi berteriak namun tak mampu sekeras biasanya.
“Hooi…! Selesaikan dulu urusan kita! Mau ke mana kau, Landak Bunting….!”
Loan Besi mengejar Dardanila. Peluh Selayang dan Kutilang Manja bingung sendiri, sebab semasa mendiang guru mereka masih hidup, hubungan mereka dengan Loan Besi cukup baik dan tak pernah terlibat bentrok apapun. Kini mereka harus menghambat Loan Besi yang tentu saja dapat membuat Loan Besi marah. Padahal Loan Besi ilmunya sejajar dengan mendiang guru mereka. Tapi apa boleh buat dari pada jadi masalah dengan Ratu Geladak Hitam. Mau tak mau Peluh Selayang ambil inisiatif menghambat pengejaran Loan Besi.
Wuutt…!
Clapp…!
Pukulan bersinar merah dilepaskan dari tangan Peluh Selayang. Sinar itu menghantam pohon dan pohon itu rubuh merintangi jalan Loan Besi.
Duaar…!
Bbrruukkk…!
__ADS_1
Merasa dirintangi, Loan Besi segera berpaling menatap Kutilang Manja dan Peluh Selayang. Matanya tampak ganas walau masih dalam batas pengekangan emosi di dalam dadanya. Ia melangkah dengan geram dan gigi menggeletuk mendekati Kutilang Manja dan Peluh Selayang. Tapi yang dipandang tajam justru Kutilang Manja. Lalu tiba-tiba pipi Kutilang Manja ditamparnya.
Plaakk…!
“Auh…!” Kutilang Manja tidak menangkis atau menghindar kecuali hanya memekik.
“Kenapa aku yang ditampar?”
“Karena kau berani mencoba menghambat pengejaranku!”
“Bukan aku, Paman! Ini nih….. si Peluh Selayang!”
“Tidak mungkin!”
“Betul, Paman! Bukan aku!”
“Harus kamu!” Loan Besi ngotot.
“Sudah terlanjur kutampar kok mau bukan kamu, enak saja! Sini kutampar lagi kau!”
“Jangan, Paman! Aku tak mau bikin perkara denganmu!”
“Kalau tak mau jangan pamer ilmu di depanku!” bentaknya kepada Kutilang Manja.
“Pakai numbangin pohon segala memangnya cuma kamu yang bisa?!”
“Dibilangin bukan aku, bukan aku, kok masih ngotot sih?!” bentak Kutilang Manja tak mau mengalah lagi.
“Aku!” jawab Peluh Selayang tegas.
Loan Besi memandang Peluh Selayang dengan cemberut, lalu berkata,
“Ah, tidak mungkin! Kau tidak mungkin bisa tumbangkan pohon dari jauh. Pasti Kutilang Manja!”
“Paman, sebenarnya ada apa Paman Loan Besi berselisih dengan Dardanila?” tanya Peluh Selayang sengaja mengambil alih persoalan itu.
“Tentu saja aku berselisih dengan si cantik kurapan itu!” geram Loan Besi.
“Dia mau celakai calon muridku!”
“Siapa calon muridmu itu, Paman?”
“Ya itu…..si….siapa tuh namanya? Hmm….Pendekar Kanjeng!”
“Pendekar Ganjen, maksudnya?”
“Bukan! Pendekar Kanjeng!” katanya ngotot untuk menutupi ucapannya yang sudah telanjur salah itu.
“Aku lebih suka panggil dia Pendekar Kanjeng!”
Kutilang Manja dan Peluh Selayang sembunyikan senyum.
“Pandu Puber, kan?”
__ADS_1
“Ya. Pandu Puber. Dari pada muridku itu dibuat celaka oleh Dardanila, mendingan perempuan busung tawon itu yang kuhajar duluan!” Loan Besi tampak jengkel sekali.
“Paman, Dardanila bukan mau celakai Pandu Puber. Tapi di mau cegah Pandu agar tidak pergi melawan Ratu Peri Sore!”
“Lho….?! Jadi….?! Jadi Pandu Puber mau tarung sama Ratu Peri Sore?!”
“Iya!”
“Wah, lha kok malah tambah bahaya musuhnya itu?”
“Kalau Paman Loan Besi merasa bakal jadi gurunya Pandu, kejar dia dan hadapi si Ratu Peri Sore itu!” kata Kutilang Manja.
Loan Besi garuk-garuk kepala kribonya.
“Wah, kalau urusannya sama Peri Nongkrong Sore, ntar dulu deh!” katanya seenaknya saja ganti-ganti nama orang.
“Urusan sama Peri Ngider Sore sama saja urusan memperpendek umur beneran tuh!”
Dengan bibir meruncing Kutilang Manja menyindir,
“Belain dong! Katanya calon gurunya, belain sana…!”
“Belain, belain…” gerutu Loan Besi bersungut-sungut.
“Belum sempat kubela sudah lenyap nyawaku!”
“Masa’ murid sama calon gurunya lebih berani muridnya sih?” ledek Peluh Selayang sambil melirik Kutilang Manja, memberi isyarat supaya membakar emosi Loan Besi.
Maka Kutilang Manja pun berkata
“Tunjukkan dong rasa cinta sama murid. Sebelum murid mati melawan musuh terberatnya, gurunya menjajal dulu dan harus berani mati lebih dulu untuk kasih contoh pada sang murid.”
“Contoh, contoh…” gerutunya lagi bersungut-sungut.
“Contoh kok pake nyawa. Guwoblok amat tuh!”
“Lha iya, contoh yang guwoblok kan begitu!”
“Sudah, sudah…! Diam kalian!” bentak Loan Besi jengkel sendiri.
Kedua wanita itu tertawa mengikik saling berdekatan dan menutup mulut mereka.
“Mau tarung di mana si Pandu sama Peri Obor Sore itu?” tanya Loan Besi.
“Di Bukit Bara, di tanah Kapur Gaib!”
“Kalau begitu aku harus segera ke sana!”
Loan Besi bergegas pergi.
“Mau membela sang calon murid ya, Paman?”
“Mau nonton pertarungan itu, Guwoblok!” jawabnya sambil pergi seenaknya.
__ADS_1