
Perguruan Sekar Bumi menjadi tempat Yuda Lelana singgah pertama kali terbuang di bumi. Kehadirannya yang membawa perdamaian antara Peluh Selayang dan Kutilang Manja diterima dengan baik oleh Nyai Sirih Dewi.
Memang pada mulanya Nyai Sirih Dewi sempat curiga, menyangka Yuda Lelana memihak Peluh Selayang.
"Seharusnya kau tidak ikut campur dalam urusan ini, Anak Muda," ujar sang Guru yang usianya sudah mencapai delapan puluh tahun, tapi masih kelihatan tegar.
Kulitnya berkeriput, namun tulangnya masih lurus. Tak ada bungkuk sedikit pun. Matanya masih memandang dengan tajam, setajam pisau cukur. Wibawa dan kharismanya masih tinggi.
Dengan pakaian hijau tuanya Nyai Sirih Dewi menampakkan sikap kurang ramah kepada Yuda Lelana. Bahkan dengan nada ketus ia berkata,
"Apa perlumu membela Peluh Selayang, sehingga kau yakin betul bahwa Peluh Selayang tidak mencuri kitab pusaka kami?"
"Kalau dia mempunyai kitab itu dan sudah pelajari jurus 'Lumbung Petaka', tentunya perguruanmu sudah digulung habis, Nyai!" jawab Yuda Lelana dengan santainya, cuek-cuek menjengkelkan.
Tapi lagaknya itu diperhitungkan oleh sang Guru. Biasanya orang yang sok berlagak cuek ilmunya tinggi.
"Alasanmu memang masuk akal, Anak Muda. Tapi aku yakin pembelaanmu terhadap Peluh Selayang karena kau naksir dia. Iya, kan?"
Yuda Lelana tersenyum tipis.
"Yang jelas tak mungkin aku naksir kamu, Nyai. Aku masih muda, tentu saja naksir cewek yang masih muda juga dong!"
"Hmm...!" Nyai Sirih Dewi mencibir.
"Sekarang saja kau bisa bilang begitu. Coba dulu, ketika aku masih semuda Peluh Selayang...."
"Apakah kau juga secantik dia?" potong Yuda Lelana.
"Kau bakalan celeng kalau lihat aku masih seusia Peluh Selayang!"
Tawa kecil Yuda Lelana terdengar mirip orang menggumam terpatah-patah.
"Aku percaya... aku percaya...," sambil manggut-manggut.
"Sekarang pun sebenarnya kau masih kelihatan cantik, Nyai."
"Hmm...!"
Nyai Sirih Dewi semakin mencibir, padahal hatinya sempat bergemuruh mendapat pujian seperti itu. Tapi ia berlagak sok jual mahal dan berkata ketus,
"Kau tak usah memujiku, walau ucapanmu itu memang benar. Sekarang yang penting aku tidak suka dengan sikapmu yang memaksaku menerima Peluh Selayang kembali ke perguruanku. Dia kuanggap telah mencuri sesuatu yang amat berharga dariku! Kalau kau tak rela aku menuduhnya begitu, kau boleh melakukan pembelaan dengan cara apa pun!"
"Aku hanya meluruskan kesalah pahaman saja, supaya tidak terjadi korban yang sia-sia!"
"Lagakmu seperti orang pintar saja! Siapa namamu?!"
"Yuda Lelana, Nyai!" jawabnya polos saja.
"Dapatkah kau membuktikan bahwa Peluh Selayang tidak mencuri kitab itu?"
"Aku tahu apa yang tidak kau ketahui, Nyai!"
"Hmm...! Perlu kujajal juga anak ini. Setinggi apa sih ilmunya, sok berlagak jadi pembela kebenaran di depanku!" kata Nyai Sirih Dewi dalam hatinya.
Kemudian ia berkata,
"Kalau memang kau tahu apa yang tidak kau tahu, coba sekarang jawablah apa yang ada di dalam tusuk kondeku ini!"
Nyai Sirih Dewi mencabut tusuk kondenya. Rambutnya yang putih tetap tergulung di tengah walau tusuk kondenya dicabut. Tusuk konde itu sepertinya terbuat dari logam besi berbentuk runcing, panjangnya satu jengkal. Pada ujung tusuk konde itu terdapat bulatan sebesar kelereng, mirip bola kecil.
Tusuk konde itu rupanya termasuk senjata milik Nyai Sirih Dewi juga. Keruncingan tusuk konde itu dapat untuk melukai lawan. Konon lawan yang terkena tusuk konde itu walau hanya tergores dapat menderita lumpuh seketika.
Nyai Sirih Dewi jarang mempergunakannya kecuali dalam keadaan terdesak.
"Apa maksudmu menyuruhku menebak isi tusuk konde ini, Nyai? Mengapa bukan isi dompetmu saja yang harus kutebak?"
"Aku tak punya dompet!" katanya ketus dan cemberut.
"Aku ingin menjajal ilmumu. Aku tidak tahu apa isi tusuk kondeku ini. Yang jelas itu senjataku. Nah, sekarang coba jawab apa yang ada di dalam bulatan kecil itu!"
Tusuk konde warna putih mengkilap bagaikan anti karat mempunyai bobot yang cukup berat.
Tusuk konde itu dipandangi oleh Yuda Lelana dengan cengar-cengir. Ia merasa seperti sedang dikerjain oleh tokoh tua itu.
Para murid Perguruan Sekar Bumi mengelilinginya, memperhatikan percakapan antara guru mereka dengan sang tamu. Di antara para murid itu duduk paling depan Peluh Selayang dan Kutilang Manja. Mereka duduk berdua bersebelahan dalam jarak satu jangkauan. Mata mereka juga tertuju kepada Yuda Lelana yang masih memperhatikan tusuk konde itu, seperti sedang menyelidiki sesuatu dengan santai tapi pasti.
"Tusuk konde ini berisi 'Racun Kadal Buncit'. Letak racunnya ada di bulatan seperti bola ini!"
Nyai Sirih Dewi menyunggingkan senyum sinis.
"Kau hanya mengarang-ngarang jawaban saja, Yuda Lelana!"
"Aku katakan apa yang sebenarnya kuketahui, Nyai. Kau kan tidak tahu kalau tusuk konde ini berisi 'Racun Kadal Buncit'? Bagaimana kau bisa menyangkal jawabanku!"
"Aku tidak percaya. Memang aku tidak tahu isi tusuk konde itu. Tapi aku tidak percaya dengan kata-katamu. Sekarang kalau kau benar-benar tahu, lantas apa akibatnya jika tusuk konde itu melukai seorang lawan?"
"Lawan itu akan jatuh dan lumpuh seketika!"
Kini semua wajah terangkat memandang Yuda Lelana dengan mata sedikit terbuka menandakan rasa kaget mereka.
Nyai Sirih Dewi sendiri menatap dengan dahi berkerut. Yuda Lelana masih cengar-cengir saja, kayak bocah desa yang punya sifat malu-malu meong.
"Dari mana kuperoleh tusuk konde ini kalau kau memang tahu?"
"Dari nenekmu," jawab Yuda Lelana seenaknya, para murid cekikikan.
"Siapa nama nenekku yang memberikan tusuk konde itu?"
"Nini Sulang Rupi!" jawab Yuda Lelana cepat.
Nyai Sirih Dewi terkejut dalam hati.
"Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaanku dengan benar? Dia juga kenal nama nenekku. Padahal tokoh tua yang sekarang masih hidup seangkatanku saja jarang yang tahu nama nenekku?" Nyai Sirih Dewi membatin dalam keheranan.
"Apakah jawabanku salah?" tanya Yuda Lelana.
"Memang tidak ada yang salah," jawab Nyai Sirih Dewi sambil tarik napas dan melangkah tiga tindak meninggalkan tempatnya.
Lalu badannya berbalik arah lagi menghadap Yuda Lelana yang masih berdiri sambil memainkan tusuk konde itu.
"Kau hanya bisa menjawab secara kebetulan saja. Aku masih kurang yakin dengan pengetahuanmu!" katanya bernada penasaran.
Orang-orang di pendapa menjadi bertambah tegang, tapi hati mereka merasakan sebentuk kesenangan yang seru. Kali ini mereka meiihat gurunya beruji kecerdasan dengan sang tamu.
Bahkan mereka sempat berharap tegang setelah mengetahui Nyai Sirih Dewi mengambil alih tusuk konde itu dari tangan Yuda Lelana dengan hanya menyentakkan tangan kirinya ke depan dan menariknya sedikit.
Wuuut...!
Tusuk konde tahu-tahu melayang dan tertangkap di tangan Nyai Sirih Dewi.
"Gila! Dia mau pamer ilmu rupanya?" pikir Yuda Lelana masih kalem-kalem saja.
Senyumnya membias tipis di bibir dengan pandangan mata bersikap tenang. Tiba-tiba ia terperanjat melihat tusuk konde itu dilemparkan dengan gerakan cepat dan menancap pada salah satu tiang pendapa dari kayu jati.
Jeeeb...!
__ADS_1
Tusuk konde itu masuk ke dalam kayu, tinggal sisa bulatannya yang mirip kelereng itu yang terlihat dari tempat mereka.
Tentu saja lemparan tersebut disertai lepaskan tenaga dalam cukup tinggi, sehingga kayu sekeras itu bisa menjadi empuk seperti batang pisang.
"Kutilang Manja, coba cabut benda itu!" perintahnya kepada sang murid kesayangan.
Kutilang Manja tak menolak, langsung bangkit dan mencabut benda itu. Tapi dengan tenaga dalam sudah dikerahkan semua, benda itu tak bisa dicabut. Bahkan Kutilang Manja akhirnya terpental sendiri jatuh di kaki gurunya.
"Maaf, Guru... saya tidak sanggup!"
"Memang tidak ada yang sanggup mengambilnya," kata Nyai Sirih Dewi sambil sunggingkan senyum sinis. Lalu ia berkata kepada Yuda Lelana,
"Anak muda, aku akan mempercayai kata-katamu tentang Peluh Selayang yang menurutmu tidak mencuri kitab itu, jika kau berhasil mencabut tusuk konde tersebut dari tiang itu!"
Yuda Lelana diam, tersenyum dan memandang ke sana-sini. Cengar-cengirnya sempat membuat beberapa murid di situ menjadi lebih tegang.
Peluh Selayang membatin kata,
"Jika Kutilang Manja sendiri tak mampu mencabut tusuk konde itu, apalagi pemuda itu? Pasti tidak akan bisa, sebab tusuk konde itu ditancapkan bukan saja dengan tenaga dalam melainkan dengan bacaan mantera yang hanya diketahui oleh Guru sendiri."
Yuda Lelana tetap kalem. Cengar-cengirnya seperti orang salah tingkah dan malu akibat tantangannya kali ini agak berat. Nyai Sirih Dewi tersenyum kian sinis dan berkata,
"Ayo, lakukan! Katanya kau serba tahu, tentunya kau juga tahu bagaimana cara mencabut tusuk konde itu dong! Lakukanlah!"
"Aku malas ke sana, Nyai!"
"Ah, alasan saja kau!"
"Sungguh. Aku malas ke sana. Sebaiknya kucabut dari sini saja, ya?"
Setelah ngomong begitu, Yuda Lelana hentakkan kakinya ke lantai.
Duug!
Dan tiba-tiba tusuk konde itu copot sendiri dari tiang tersebut. Melesat mundur dan tertangkap oleh Yuda Lelana.
Taaab...!
"Oooh...?!" para murid menggumam kagum dan terbengong-bengong.
Nyai Sirih Dewi pun tertegun tak berkata apa-apa. Ketika Yuda Lelana serahkan tusuk konde itu, Nyai Sirih Dewi bagaikan tak punya lidah lagi. Ia menerima dengan mulut sedikit menganga, mirip lubang belut. Hatinya membatin,
"Manusia apa dia sebenarnya? Orang-orang tak ada yang mampu mencabut tusuk kondeku jika sudah kubacain mantera, tapi anak muda ini dengan mudahnya mencabut benda ini? Sekali hentakkan kaki, tusuk konde melayang sendiri. Wah, jangan-jangan aku berhadapan dengan anak ib lis!" Nyai Sirih Dewi jadi ngeper juga melihat kesaktian Yuda Lelana.
Tentu saja ia jadi ngeper karena ia tak tahu kalau Yuda Lelana sebenarnya adalah dewa yang punya kesaktian tinggi.
"Siapa sebenarnya dirimu, Anak Muda?"
"Budek juga lu ya?" kata Yuda Lelana seenaknya.
"Tadi aku kan sudah bilang kalau namaku Yuda Lelana? Masa' masih ditanyain lagi sih?"
"Maksudku, dari perguruan mana kau berasal, Yuda Lelana?"
"Dari perguruan tinggi," jawabnya seenaknya juga.
"Pokoknya kamu nggak perlu tahu dari perguruan mana aku, sebab aku tidak pernah masuk perguruan tinggi mana pun. Aku hanya seorang pengelana yang ingin menegakkan kebenaran dan menolong kesulitan siapa pun. Asyik nggak?" Yuda Lelana tersenyum sambil angkat-angkat alisnya.
Beberapa murid tersenyum, demikian juga Nyai Sirih Dewi. Sejak itulah sikap Nyai Sirih Dewi menjadi baik dan ramah kepada Yuda Lelana.
Pendapat Yuda Lelana dihargai, si baju merah abu-abu bebas dari tuduhan. Tetapi Nyai Sirih Dewi mempunyai satu pertanyaan lagi untuk Yuda Lelana.
"Jika begitu, tentunya kau pun tahu siapa yang mencuri Kitab Jayabadra itu, Yuda Lelana? Tolong katakan yang sebenarnya!"
Baru saja selesai bicara dalam bentuk pertanyaan seperti itu, tiba-tiba seorang murid yang bertugas di pintu gerbang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Sugana?!" tanya Nyai Sirih Dewi.
"Utusan dari Geladak Hitam datang dan memaksa masuk, Guru!"
"Hahh...?!" para murid nampak tegang, lalu tanpa diperintah mereka menyebar.
Baik yang lelaki maupun yang perempuan, segera mempersiapkan senjata masing-masing.
Di pendopo tinggal lima orang, Sugana, Nyai Sirih Dewi, Peluh Selayang, Kutilang Manja, dan Yuda Lelana.
Setelah mereka saling pandang, Yuda Lelana ajukan tanya,
"Siapa yang datang sebenarnya?"
"Kau pasti lebih tahu dariku," kata Nyai Sirih Dewi agak menyindir.
"Tidak semua kegiatan kupantau, sehingga tidak semuanya kuketahui."
Sebelum pertanyaan itu terjawab, dua orang bertubuh besar nyelonong masuk dengan cara mendobrak pintu gerbang. Beberapa murid Perguruan Sekar Bumi terlempar karena diterjang dua orang bertubuh besar itu.
Mereka bergerak dengan cepat nyaris tak bisa dilihat kelebatannya. Dalam waktu sekejap mereka sudah berada di depan Nyai Sirih Dewi dan Yuda Lelana. Tapi di depan Nyai Sirih Dewi berdiri tegar Peluh Selayang dan Kutilang Manja.
Dua orang bertubuh besar itu sama-sama mempunyai wajah angker. Dari sorot matanya mereka tampak ganas dan liar. Kumis mereka sama lebatnya, hanya beda bentuknya saja. Pokoknya wajah mereka menyeramkan.
Matanya saja besar-besar, mirip sepasang jengkol di wajah. Kulit mereka tergolong hitam walau bukan keling. Tampaknya tebal, seperti dari terpal.
Yang berambut botak tengahnya memakai rompi panjang warna biru, sama dengan celananya.
Yang berambut gondrong metal berpakaian serba hitam, lengan panjang tapi tidak dikancingkan. Perutnya tampak sedikit membuncit. Tangan mereka besar-besar, jarinya saja ibarat berukuran sebesar pisang Ambon. Pasti tabokannya membuat orang melintir tujuh keliling.
Nyai Sirih Dewi berbisik kepada Yuda Lelana,
"Yang berpakaian biru itu bernama: Adu Polo, yang berpakaian hitam namanya: Kebo Tumang."
"Serem-serem namanya, ya?" komentar Yuda Lelana dengan tetap kalem.
"Mereka utusan dari Geladak Hitam. Sudah dua kali datang kemari. Ini yang ketiga kalinya."
"Apa perlunya?"
"Memintaku untuk meninggalkan bukit ini. Orang-orang Geladak Hitam bernafsu sekali untuk mendiami bukit ini!"
"Hmmm...!" Yuda Lelana manggut-manggut.
Sementara itu, Kutilang Manja sedang adu debat dengan Kebo Tumang dibantu oleh Peluh Selayang, sedangkan para murid lainnya mengelilingi tempat itu dari kejauhan. Mereka sudah berada di pelataran.
Yuda Lelana berbisik lagi,
"Mengapa mereka ingin menguasai bukit ini?"
"Aku tak tahu jawaban yang pasti. Cobalah kau gunakan teropong batinmu untuk menjawab pertanyaan itu!"
Tiba-tiba mereka terpaksa lompat ke belakang karena Kebo Tumang melepas pukulan tenaga dalamnya ke arah Kutilang Manja.
Wuuut...!
Kutilang Manja menepiskan gelombang pukulan itu dengan sentakan tangan kanan ke arah kiri. Namun kuatnya pukulan itu masih tersisa, dan sisa gelombang sempat membuat tubuh Kutilang Manja oleng ke kanan. Sisa pukulan itu juga hampir saja mengenai Nyai Sirih Dewi.
Sang Nyai segera tepiskan dengan gerakkan tangan kanan bagai menyangga sesuatu dan membuangnya ke atas.
__ADS_1
Wuuus...!
"Kebo Tumang...!" sentak Nyai Sirih Dewi.
"Kali ini kau sudah menggunakan kekerasan untuk tugasmu! Apa maumu sebenarnya?"
"Tugasku sekarang adalah mengusirmu dengan kekerasan, Nyai!" jawab Kebo Tumang.
"Dua kali kami datang dengan baik, tapi kau tidak mau pergi dari Bukit Bara."
"Karena bukit ini bukan kekuasaan kalian!" sentak Nyai Sirih Dewi.
"Aku menempati bukit ini sebelum kalian datang dari Pulau Iblis!"
"Tak tahukah bahwa wilayah timur ini kekuasaan Ratu Geladak Hitam?!" sentak Adu Polo dengan ngotot, buktinya urat lehernya sampai menegang nyaris lompat dari kulitnya.
"Ratu kalian berkuasa baru-baru ini saja! Aku tak pernah mengusiknya. Aku juga tak pernah bikin perkara dengan ratu kalian; si Dardanila!"
"Jadi jelas sudah bahwa kau ingin dihancurkan seperti tiga perguruan di wilayah timur itu!" kata Adu Polo.
"Jika begitu maumu, bersiaplah menghadapi kami berdua, Nyai Sirih Dewi!"
Adu Polo dan Kebo Tumang segera membuka jurus awal. Peluh Selayang dan Kutilang Manja juga membuka jurus awal dengan mulai memasang kuda-kuda siap serang.
Tetapi dari belakang mereka tiba-tiba terdengar suara Yuda Lelana,
"Mundurlah kalian. Aku mau bicara sebentar dengan mereka."
Peluh Selayang dan Kutilang Manja melirik gurunya, sang Guru memberi isyarat dengan gerakkan mata agar mereka mundur.
Maka Yuda Lelana segera maju menggantikan tempat berdiri Peluh Selayang. Mata kedua orang bertampang angker seperti kuburan para dukun santet itu segera menatap dengan beringas.
Yang ditatap hanya cengar-cengir kalem.
"Siapa kau, Anak Muda? Setahuku kau bukan murid di sini, karena aku tak pernah melihat tampangmu!" ujar Adu Polo.
"Aku Yuda Lelana. Memang bukan murid Mak Tua itu, tapi yaaah... sekadar tamu biasalah," jawab Yuda Lelana enak saja.
"Apa maumu menggantikan kedua wanita cantik itu, hah?" gertak Adu Polo.
"Eit, jangan galak-galak, Kang...!" Yuda Lelana nyengir.
"Tanya ya tanya tapi nggak perlu pakai bentak-bentak segala."
Adu Polo mendengus kesal dengan lagak Yuda Lelana. Ia berkata kepada Kebo Tumang,
"Anak ini lama-lama bikin niat membunuhku menjadi besar!"
"Habisi saja dia!" kata Kebo Tumang.
"Sabar, sabar...," Yuda Lelana menyela kata.
"Soal menghabisi aku sih mudah-mudah saja. Tapi urusannya harus diselesaikan dulu. Coba kasih tahu sama kau punya ratu, ya? Jangan berlagak ingin menjadi penguasa di wilayah timur. Berkuasa saja di tempat kalian sekeliling. Tak perlu harus menaklukkan tiap perguruan yang ada di sini!"
"Bocah kemarin sore berani bicara seenak perutnya?! Kuremukkan mulutmu yang congkak itu!"
Adu Polo segera melompat bagai kutu loncat, tangannya mengepal menghantam ke arah mulut Yuda Lelana.
Wuuut...!
Tapi anak muda itu menahan pukulan tersebut dengan menangkap kepalan menggunakan tangan kirinya.
Traab...!
Kepalan itu meremas hingga terdengar bunyi gemeretaknya tulang-tulang jari yang patah serempak.
Kraak...!
"Aaauh...!" Adu Polo menjerit. Wajahnya menyeringai sakit.
Kebo Tumang segera bergerak menerjang. Tapi kaki Yuda Lelana menendang dengan tendangan samping.
Wuuut...!
Dees...!
Tendangan yang tak bisa dilihat karena kecepatan geraknya itu mendarat telak di wajah Kebo Tumang.
Kontan orang berambut gondrong mental itu terlempar ke belakang dan terjungkal sambil memekik kesakitan.
Sedangkan tangan kiri Adu Polo segera meremas lengan Yuda Lelana, lalu kepalanya maju disodokkan ke arah dada Yuda Lelana.
Wuuuk...!
Serudukan kepala Adu Polo yang memang sekeras besi itu segera ditangkap dengan dua tangan, lalu lutut Yuda Lelana menyentak ke atas, menyodok wajah lawan dengan kerasnya.
Gerakan lutut itu pun begitu cepatnya hingga tak terlihat dengan jelas oleh Nyai Sirih Dewi maupun kedua murid wanitanya itu.
Prook...!
"Auuuffh...!" pekik Adu Polo yang segera terpental ke belakang dengan wajah tersentak kuat-kuat.
Pandangannya jadi gelap, tak bisa melihat mana batu dan mana rumput. Akhirnya,
pletook...!
Kepala itu pun membentur batu sebesar genggamannya, dan ia makin memekik kesakitan.
"Gerakan jurus-jurusnya begitu cepat, aku sampai tak bisa mengikutinya?!" pikir Nyai Sirih Dewi.
Ketika Kebo Tumang menyerang Yuda Lelana dari belakang dengan senjata kapak dua mata, Nyai Sirih Dewi hampir saja lepaskan pukulan jarak jauhnya untuk menggagalkan serangan membokong itu.
Tetapi niat tersebut dibatalkan, karena tiba-tiba kapak itu telah mental, lepas dari tangan Kebo Tumang sebelum mendekati punggung Yuda Lelana.
"Lho, kenapa kapak itu mental sendiri?" gumam Kutilang Manja.
Ia terheran-heran, sama dengan yang lainnya. Dan tentu saja mereka heran secara kompak, karena mereka tidak melihat gerakan kaki Yuda Lelana yang berputar arah dengan sangat cepat, serta berhasil menendang pergelangan tangan Kebo Tumang.
Tendangan yang disertai pelepasan tenaga dalam tinggi itu sempat membuat tulang pergelangan tangan itu menjadi retak. Padahal besar pergelangan tangan itu hampir sama dengan tulang sikunya Yuda Lelana sendiri.
"Bang sat kau, hiaaat...!"
Kebo Tumang masih penasaran. Ia menyerang dengan satu lompatan membabi buta atau **** buta beneran, yang jelas cepat dan ngawur.
Yuda Lelana pun melompat pula.
Wuuurrs...!
Ia bagaikan bayangan yang melintas begitu saja, bersimpangan dengan Kebo Tumang di udara.
"Aaaauh...!" terdengar Kebo Tumang menjerit keras, tapi tak diketahui apa sebabnya menjerit.
Apakah karena ia merasa punya mulut besar, atau karena kakinya tertusuk duri. Tak jelas bagi mereka.
Namun setelah Kebo Tumang berdiri setengah membungkuk sambil memegangi telinga kirinya, dan Yuda Lelana melemparkan sesuatu yang digenggamnya, yaitu daun telinga berdarah, maka tahulah mereka bahwa Kebo Tumang telah kecolongan daun telinga kirinya.
__ADS_1
Mereka makin terheran-heran dan berpikiran,
"Bagaimana caranya Yuda bisa memotong telinga lawan, sedangkan dia tidak bersenjata apa pun?"