
Sinar putih perak melayang-layang di sekeliling taman keputren, artinya taman untuk putri raja.
Cahaya itu besarnya seukuran bola bekel, mempunyai ekor sinar panjang sekitar dua jengkal. Cahaya itu bergerak terbang ke sana-sini sampai akhirnya berubah menjadi seekor kupu-kupu warna putih perak.
Kupu-kupu itu hinggap di atas daun, padahal di sampingnya ada bunga bermadu, tapi kupu-kupu itu memilih hinggap di daun. Jelas itu kupu-kupu be go namanya.
Tapi biarlah, itu urusan si kupu-kupu. Yang jelas dari sudut istana muncul seorang gadis cantik berjalan bersama seorang lelaki bertubuh tinggi besar, gemuk, hitam, keling, mukanya lebar, hidungnya besar, matanya juga besar, mulutnya lebar, wah... pokoknya je lek sekali deh.
Tapi orang itu mengenakan mahkota dan jubah mengkilap berwarna hitam. Jubahnya itu tampak keren, disulam dengan benang emas gambar kepala iblis bertanduk satu.
Kepala wajah iblis itu sedang julurkan lidah. Di atas sulaman gambar kepala iblis di bagian dada kirinya itu ada tulisan sulam juga dari bahan benang putih berbunyi:
JAGALAH KEBERSIHAN.
Dari jauh memang terbaca begitu, tapi begitu didekati tulisan itu ternyata berbunyi: 'Sang Pelebur Nyawa'.
Serem juga makna tulisan itu. Sesuai dengan wajah angker si pemakai jubah hitam mengkilap itu. Lebih menyeramkan lagi jika mahkotanya dibuka, maka tampaklah kepala gundulnya yang mengkilap dengan sisa rambut berkuncir di bagian agak belakang.
Orang bermahkota dan berkalung rantai emas batuan merah berbentuk kepala manusia kecil itu tak lain adalah penguasa Pulau Iblis yang disebut-sebut sebagai Raja Kala Bopak. Jin yang berubah wujud menjadi manusia ltu ternyata tetap saja kelihatan jelek dan menyeramkan.
Tapi anehnya anak gadisnya yang didampinginya kala itu tampak cantik sekali!
Putri raja jin itu bernama Murti Kumala. Sangat sesuai dengan keelokan wajahnya. Tak sia-sia nama itu tersemat di hati dan jiwa si gadis.
Usianya sekitar dua puluh tahun. Masih bertingkah centil dan manja. Rambutnya digulung menjadi dua bagian, melingkar di kanan-kiri kepala. Rambut itu diikat dengan tali pita warna ungu, sebab ia mengenakan pakalan serba ungu. Pakaiannya tipis sekali, transparan, sehingga bentuk keelokan pinggulnya tampak nyata, bentuk dadanya yang tanpa pelapis lagi tampak menantang jantung untuk berdetak lebih cepat lagi.
Ia mengenakan perhiasan lengkap. Dua cincin indah melingkar di jari-jarinya yang lentik. Perhiasan itu menambah kecantikan wajahnya. Hidungnya mancung, bibirnya mirip kuncup mawar yang siap dicaplok, sesuai dengan wajah imut-imutnya. Matanya bundar indah, bulunya lentik, (bulu mata), alisnya lebat dan berbentuk indah.
Sungguh wajah itu mirip wajah boneka yang menggemaskan, enak diremas-remas.
Kulit tubuhnya kuning langsat, tapi mulus tanpa cacat tanpa goresan apa pun. Jubahnya yang tanpa lengan menampakkan kulit tangannya yang lembut seperti kulit bayi, tanpa ada bekas suntikan cacar di ujung lengannya.
Tinggi gadis itu lumayan, tidak terlalu jangkung, tidak terlalu pendek. Pokoknya serasi dengan bentuk tubuhnya yang sekal, padat, dan kencang.
Sangat kontras dengan wujud sang ayah yang angker mirip kuburan para zombi.
"Kamu nggak perlu murung lagi, Murti Kumala. Sekarang kita sudah punya kunci menuju keinginanmu. Kitab Jayabadra sudah kita peroleh. Tinggal bagaimana ketekunanmu mempelajari Ilmu'Pintu Tiga Ibiis' itu. Nanti Ayah akan membantumu dalam mempelajari ilmu tersebut."
Sang putri berkata,
"Terima kasih, Ayah. Ayah selalu menuruti
keinginanku."
"Karena sejak kematian Ibumu, kaulah satu-satunya buah hatiku, Murti Kumala. Anak semata sapi harus disayang setulus hati," kata Raja Kala Bopak dengan suaranya yang besar.
Mereka duduk di bangku taman yang terbuat dari batu bening tembus cahaya itu. Letaknya berdekatan dengan tanaman bunga kuning yang daunnya dipakai hinggap seekor kupu-kupu perak.
"Tapi sebenarnya Ayah merasa heran sekali, mengapa kamu ingin sekali pelajari ilmu 'Pintu Tiga Iblis', apakah itu tidak menyindir
ayahmu, Nak?"
"Ayah jangan tersinggung," kata Murti Kumala dengan lagak manjanya.
"Murti hanya ingin pelajari ilmu saja itu kok. Sebab Murti kepingin bisa menembus tiga lapisan alam."
"Lho, kamu kan anak jin, kamu sudah bisa keluar masuk alam siluman."
"Iya, tapi kan nggak bisa masuk ke alam kayangan, Ayah."
"Ooo... jadi kau ingin masuk ke alam para dewa?"
"Iya dong. Murti kan kepingin ketemu dewa yang bernama Batara Kama. Katanya dia itu dewa terganteng di seluruh kayangan."
"Katanya sih memang begitu, tapi Ayah sendiri belum pernah melihatnya. Habis Ayah selalu diusir kalau mau masuk ke kayangan. Ayah tak bisa mengalahkan penjaga kayangan."
"Makanya biar Murti saja deh yang ke sana. Murti cuma ingin buktikan cerita almarhumah Ibu yang bilang bahwa dewa terganteng itu adalah Batara Kama. Kata mendiang Ibu sih, ketampanan Batara Kama tidak ada yang mengalahkan. Makanya Murti jadi penasaran banget deh sama yang namanya Batara Kama itu, Ayah!"
"Ya, sudah. Nanti Ayah bantu kamu pelajari kitab itu. Sekarang Ayah ingin kembali ke istana, ada yang harus Ayah bicarakan dengan Panglima Marong!"
"Baiklah. Silakan Ayah ke istana, Murti mau duduk di sini mengkhayalkan pertemuan dengan Batara Kama nanti."
"Hah, hah, hah, hah, hah... !"
Raja Kala Bopak tertawa sambil mengusap punggung putrinya.
Saat itu tanaman-tanaman bergetar karena bumi pun bergetar mendapat sentakan gelombang suara tawa Sang Pelebur Nyawa itu.
Putrinya memejamkan mata, menahan rasa sakit di telinganya.
"Ayah kalau tertawa jangan di dekat Murti! Kuping Murti bisa budek nih!"
"Iya, iya... maafin Ayah deh!" sang Ayah bersikap sabar, penuh curahan kasih sayang kepada anaknya.
Setelah sang Ayah pergi, Putri Murti Kumala duduk sendirian dengan kaki kiri ditumpangkan ke kaki kanan, jubahnya menyingkap, sehingga betis yang mulus indah terlihat jelas sampai ke paha.
Seekor kupu-kupu perak menjadi gelisah, lalu terbang dan hinggap di paha yang tersingkap itu.
Sang putri tertawa geli dan cekikikan.
"Aduh, lucunya... kupu-kupu bersayap perak. Iiih... bagus sekali! Akan kurawat di kamar tidurku, ah!"
Sang kupu-kupu ditangkap, lalu dibawa lari masuk ke kamar tidurnya.
Kamar tidur Murti Kumala berkesan mewah. Ada tanaman pot yang mempunyai bunga merah jambu bening seperti kaca. Kupu-kupu perak itu diletakkan di tanaman bunga itu dengan hati-hati.
"Kupu-kupu, kamu di sini saja ya? Jangan terbang ke mana-mana. Aku suka melihat kecantikan rupamu. Jangan nakal, ya?" ujarnya dengan manja.
Sang kupu-kupu diam saja. Ruang tidur itu cukup sejuk karena Raja Kala Bopak menyalurkan hawa salju yang mengembang di atas langit-langit kamar tersebut. Hawa salju itu tak bisa hilang jika tidak diambil oleh si pemiliknya.
__ADS_1
Hawa sejuk itu membuat sang putri betah tlnggal di kamar, apalagi sekarang ada kupu-kupu lucu, pasti akan lebih betah lagi.
Bahkan ketika ayahnya menyarankan agar segera mempelajari ilmu 'Pintu Tiga Iblis', Murti Kumala menangguhkan niatnya itu, sebab ia masih senang bermain dengan
kupu-kupu perak.
Tentu saja keadaan di kamar membuat sang kupu-kupu juga menjadi betah. Tapi ia sering dibuat gelisah manakala Murti Kumala masuk ke dalam kamar, selesai mandi sore dan melepas pakaiannya untuk ganti dengan pakaian yang bersih, juga berwarna ungu.
Agaknya cewek itu memang suka warna ungu sebagai warna favoritnya. Buktinya ranjang tidurnya berlapis seprai warna ungu juga. Selimut tebalnya juga berwarna ungu.
Ketika Murti Kumala salin busana tanpa canggung-canggung, sayap kupu-kupu itu bergetar menandakan hatinya sedang gundah dicekam kegelisahan.
Eh, ternyata kupu-kupu perak itu nekat terbang berkeliling sebentar dipandangi Murti Kumala yang berhentimengenakan busananya kupu-kupu itu lalu hinggap di ujung dada Murti Kumala.
Sang putri cekikikan geli, lalu mengangkat kupu-kupu perak.
"Ih, nakal kamu ya? Nggak boleh begitu, ah! Kamu istirahat di sini saja, ya?" sambil meletakkan kupu-kupu ke daun tanaman pot itu.
"Kalau kau ingin mimik, mimiklah madu di bunga itu. Kamu kan kupu-kupu, mimiknya ya madu. Nggak boleh mimik lainnya."
Murti Kumala tertawa cekikikan sendiri.
Pada malam hari, menjelang Murti Kumala tidur, kupu-kupu perak dlambilnya dari tanaman bunga. Kupu-kupu itu diletakkan di atas bantal dan sayapnya dibuat mainan dengan jari lentik sang putri.
Sungutnya juga dibuat mainan seraya diajak bicara macam-macam. Murti Kumala tampak senang sekali bermainkan kupu-kupu itu, sampai tak terasa malam semakin larut dan akhirnya rasa kantuk pun tiba.
"Nah, sekarang aku mau tidur. Kamu tidur di bantal sampingku saja, ya? Besok pagi kita main kembali. Kamu juga harus tidur lho, jangan begadang. Kalau kamu begadang, nanti masuk angin. Kalau kamu masuk angin, aku susah ngerokinnya. Habis tubuhmu kecil sih. Hi, hi, hi, hi...!"
Sang putri pun tidur. Cantik sekali dalam keadaan tidur begitu. Bibirnya sedikit merenggang bak delima merekah.
Tanpa disadarinya, kupu-kupu perak itu memancarkan cahaya putih menyilaukan. Semakin lama cahayanya semakin terang dan bertambah besar. Akhirnya,
blaaab...!
Cahaya itu padam,
wujud kupu-kupu berubah menjadi Yuda
Lelana. Pemuda itu cengar-cengir, duduk di atas ranjang di samping sang putri.
Tangannya memainkan ujung hidung sang putri. Bibirnya disentuh-sentuh oleh jari telunjuk Yuda. Dagunya juga dimainkan, dan akhirnya merayap sampai ke dada. Sang putri kaget lalu terbangun.
"Hahh...?!" ia terpekik tertahan den lompat dari tempat tidur.
Matanya membelalak tegang melihat sesosok pemuda berpakaian kumal ada di atas ranjangnya. Tentu saja sang putri berdebar-debar ketakutan dan merasa dongkol.
"Siii... siapa kau?"
"Namaku Yuda Lelana," jawab Yuda dengan kalem. Ia turun dari ranjang,
Murti Kumala mundur ketakutan.
"Jangan dong. Aku suka di sini kok."
"Nggak bisa! Nggak bisa! Keluar sana! Kalau ayahku tahu kau ada di sini, kau akan dipancung, tahu?!"
"Iya. Tahu. Bapakmu sadis sih!" jawab Yuda Lelana seenaknya saja.
"Dari mana kau masuk? Bagaimana kau bisa sampai di sini? Penjagaan sangat ketat. Jangankan menuju ke kamarku, masuk ke istana saja sulitnya bukan main. Tapi... tapi kau bisa berada di sini dengan tanpa luka apa pun? Aneh sekali. Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku adalah kupu-kupu yang kau bawa dari taman itu."
"Ah...!"
Murti Kumala tak percaya. Tapi matanya segera pandangi sekeliling mencari kupu-kupu itu.
Ternyata memang tak ada. Barulah Murti Kumala tertegun dan mengurangi ketegangannya.
"Kalau begitu... kalau begitu kau bukan pemuda sembarangan!"
"Memang bukan. Aku adalah pemuda idola," kata Yuda Lelana.
Ia mendekati Murti Kumala yang telah bersandar di dinding. Matanya memandangi Yuda tak berkedip, lalu sadarlah sang putri bahwa pemuda yang ada di depannya itu ternyata berparas rupawan.
Hanya karena pakaiannya kumal dan tubuhnya kurang terawat saja sehingga tampak kurang menawan.
"Oh, hatiku kenapa jadi berdebar-debar indah?" pikir Murti Kumala.
"Pandangan matanya begitu lembut membelai kalbuku. Aduh, mati aku, Mak...! Kenapa tiba-tiba aku merasa ingin dipeluknya? Celaka. Tubuhku menggigil penuh harapan mesra. Oh, haruskah kubiarkan dia mendekatiku terus? Haruskah? Ya, harus."
Yuda Lelana nekat mepet gadis itu.
Sang gadis yang merasa terpepet tak bisa berbuat apa-apa. Kepalanya rapat dengan dinding, matanya masih menatap nanar pada seraut wajah tampan di depannya.
"Gagah sekali dia," pikir MurtiKumala dengan masih diam tak berkutik.
Ketika jarak wajah tinggal dua jengkal, Yuda Lelana ucapkan kata lembut yang lirih sekali, membuat telinga penasaran ingin menyimak lebih jelas.
"Cantik sekali kau, Murti Kumala. Baru sekarang kutemukan kecantikan yang sempurna pada seraut wajah seorang gadis sepertimu. Oh, rasa-rasanya aku tak ingin malam cepat berlalu, biar kupuas memandangi wajahmu yang membekas lengket di hatiku."
Sebaris rayuan mulai diluncurkan lewat ucapan lirih. Rayuan itu membuat Murti Kumala makin tak berkutik.
Kini Yuda Lelana sunggingkan senyum lebar. Dada Murti Kumala terguncang hebat karena senyuman itu. Setangkai bunga merah jambu bertangkai hijau dipetiknya. Yuda Lelana menyematkan setangkai bunga itu di rambut Murti Kumala, di atas telinga.
"Bunga ini sebagai lambang kebahagiaanku bisa bertemu denganmu, Murti Kumala. Kebahagiaan ini melebihi segala kebahagiaan yang pernah kujumpa. Ingin rasanya aku membawamu terbang dan duduk di gumpalan mega putih menikmati malam terang bulan purnama."
"Ba... bawalah... bawalah aku pergi, Yuda," ucap Murti Kumala sambil sesekali menelan napas untuk menenangkan kegundahan hatinya yang diterkam seribu kemesraan asmara.
Yuda Lelana hanya sunggingkan senyum. Lalu pelan-pelan didekatinya wajah itu, dibisikkan kata lirih,
__ADS_1
"Aku... kagum padamu, Murti Kumala. Bolehkah kusentuh ujung bibirmu?"
"He'eh...," gadis itu hanya bisa menjawab dengan napas mendesah.
Kepalanya mengangguk samar. Kemudian karena takut jantungnya meledak saat didekati wajah tampan, Murti Kumala pejamkan mata dengan tangan menggenggam gemetar.
Mulutnya sedikit ternganga, seakan pasrah. Dan Yuda Lelana segera tempelkan bibirnya ke bibir sang gadis.
Plek...!
Nyuuuut...!
"Mmmhh..."
Nyawa Murti Kumala bagaikan melayang tinggi, nyantel di awang-awang. Karena saat itu bibirnya dikecup pelan dan lembut sekali.
Tak bisa dilukiskan lagi kelembutannya, sehingga roh Murti Kumala bagaikan diterbangkan tinggi-tinggi.
"Duh Gusti... enak nian pagutan bibirnya. Nasib apa yang akan kutemui selanjutnya sehingga aku menerima kebahagiaan yang begitu tinggi dan tak tertandingi lagi?" pikir Murti Kumala sambil tetap biarkan bibirnya menerima kelembut Yuda Lelana.
Malam itu, jatuhlah hati sang putri kepada pemuda kumal yang menjelma menjadi kupu-kupu di siang harinya. Murti Kumala tak bisa lari dari kenyataan, bahwa hatinya terpaku di tempat sang pemuda memeluknya.
Kemesraan itu membuat Murti Kumala terlena di alam mimpi. Sekalipun Yuda Lelana hanya memangku kepala sang putri hingga sang putri tertidur dalam usapan lembut tangan Yuda, tapi mimpi yang hadir adalah mimpi pembawa sejuta kenikmatan.
Murti Kumala menerima kehangatan cinta, terpenuhi hasrat wanitanya di alam mimpi. Dan pemuda yang hadir di alam mimpinya itu tak lain adalah Yuda Lelana.
Raja Kala Bopak heran melihat perubahan anak gadisnya. Setiap siang hanya bermain kupu-kupu, sedangkan kalau malam lebih sering mengeram diri di dalam kamar.
Kitab Jayabadra menjadi bahan cuekan. Sama sekali tak dibaca dan tak disentuh oleh Murti Kumala.
"Kau ini bagaimana? Berbulan-bulan murung hanya ingin dapatkan Kitab Jayabadra, giliran sudah dapat nggak mau dipelajari? Apa sih maumu sebenarnya, Anakku?" tanya sang ayah dengan nada jengkel.
"Seleraku sedang turun, Ayah," hanya itu jawab sang anak.
Karena memang dimanja, maka sang ayah tidak mau memaksa putrinya untuk pelajari isi Kitab Jayabadra. Pikirnya, nanti-nanti pasti kitab itu akan dipelajarinya.
Buat Raja Kala Bopak, yang penting wajah sang anak selalu ceria dan tidak murung seperti bulan-bulan kemarin.
Tiga malam berturut-turut Yuda Lelana tinggal sekamar dengan Murti Kumala. Tiga malam berturut-turut tidur sang putri amat nyenyak. Terang saja, sebab sang kekasih selalu menenggelamkan buaian indah dalam pelukan.
Bahkan kalau perlu satu hari itu tanpa ada siang. Malam terus. Biar kebahagiaan batin selalu terpenuhi.
Sebab sekalipun mereka tidak lakukan percumbuan yang paling dalam, tapi jika berada dalam pelukan Yuda mimpi sang putri selalu indah, selalu mimpi mendapat kehangatan yang memuaskan batin.
Sampai pada malam keempat, akhirnya sang putri berkata dengan sangat terpaksa, sebab didesak oleh kebutuhan batiniahnya.
"Aku tak mau hanya dalam mimpi. Aku ingin mimpi itu menjadi kenyataan."
"Berarti kita harus menikah."
"Aku bersedia. Sangat bersedia!" jawabnya menggebu-gebu, sudah tak memikirkan malu-maluin lagi.
"Kapan kau akan melamarku?"
"Esok siang aku akan menghadap ayahmu," jawab Yuda Lelana.
"Apakah kau berani? Ayahku raja preman!"
"Demi mendapatkan dirimu, tak ada yang membuatku takut sedikit pun! Biar ayahmu raja jin, malaikat sekalipun, aku tak gentar melamarmu."
"Oh, Yuda...," Murti Kumala jatuhkan kepala ke dada Yuda.
"Kau memang pria idaman yang mampu membangkitkan semangat cintaku. Lamarlah aku secepatnya! Jika ayahku tak izinkan kita kawin, kita lari dari Pulau Iblis!"
Maka Yuda Lelana memberanikan diri menghadap Raja Kala Bopak. Ia muncul bukan dari kamar sang putri, melainkan berubah menjadi kupu-kupu dulu, kemudian terbang keluar benteng istana, lalu menjelma menjadi manusia dan datang ke istana dalam keadaan pakaian tetap kumal.
Penjaga gerbang berkumis lebat dan berwajah seram menahannya.
"Siapa kau, dan mau apa datang kemari?"
"Namaku Yuda Lelana. Aku mau menghadap Raja Kala Bopak."
"Apa perlumu?"
"Melamar Putri Murti Kumala."
"Hah...?! Lancang betul mulutmu?! Putri raja kami mau dilamar pemuda kumal sepertimu? Wah, ini sih sudah kurang ajar namanya! Perlu dibobok dulu mulut dan gigimu itu!
Heaaah...!"
Wuuus...!
Sekelebat tangan besar menghantam wajah Yuda Lelana. Tapi karena Yuda Lelana sebenarnya adalah dewa, dan penjaga gerbang itu hanya prajurit jin kelas kambing, maka pukulan itu hanya ditahan dengan satu jari. Pukulan itu menghantam ujung jari telunjuk Yuda yang mengeras.
Dess...!
"Aaaauh...!" penjaga gerbang memekik kesakitan.
Tubuhnya berasap. Matanya terpejam kuat-kuat, giginya meringis. Sekujur tubuhnya yang berasap menjadi gemetaran. Tangan yang memukul mau ditarik susahnya setengah mati. Badan besar itu bagaikan dibakar api dari dalam tubuh. Panasnya bagaikan panas lahar gunung berapi.
"Ampuuun...!" ratapnya sambil menggeliat-geliat.
Lalu, Yuda Lelana menarik jari telunjuknya.
Seet...!
Orang itu pun roboh dengan terkulai lemas, seperti karung beras basah.
Brruk...!
__ADS_1
Tetapi teriakannya yang keras tadi telah mengundang perhatian anak buah Raja Kala Bopak. Mereka segera menyerang Yuda Lelana dengan kesaktian masing-masing. Mereka dapat menghilang silih berganti, membuat raganya bagai bayangan yang tak bisa disentuh.