
Perjalanan ke kotaraja sendiri terhalang oleh kemunculan Sikat Neraka yang kala itu bersama kakak seperguruannya, Hantu Congkak. Tujuan mereka sebenarnya tidak menghadang Pandu Puber. Mereka punya tujuan tersendiri, tapi begitu melihat sekelebatan anak muda yang ganteng berpakain ungu muda berbintik-bintik putih bagai tetesan embun itu, Sikat Neraka ingat akan kekalahannya dua tahun yang lalu. Maka iapun mengajak Hantu Congkak untuk menghadang anak muda bertato mawar.
Hantu Congkak berpakaian abu-abu, jubahnya berlengan panjang. Memegang tongkat berukir kepala monyet pada bagian atasnya. Tubuh Hantu Congkak juga kurus seperti Sikat Neraka. Matanya cekung ke dalam, tulang pipinya bertonjolan. Kulitnya keriput, rambutnya putih dan tumbuh di bagian tepian saja, bagian tengahnya botak polos. Tanpa tato. Alisnya yang lebat juga berwarna putih. Ia sedikit bungkuk, menandakan usianya lebih tua dari Sikat Neraka. Kesepuluh jarinya juga berkuku panjang dan runcing, seperti kukunya Sikat Neraka. Giginya sudah banyak yang ompong, sehingga sulit menyebut hurup ‘P’. biasanya hurup ‘P’ diucapkan dengan nada seperti mengucapkan hurup ‘F’.
“Rufanya anak ini yang kau ceritakan fadaku dulu itu, Sikat Neraka?”
“Betul, Hantu Congkak! Anak inilah yang pernah mencabik-cabik tubuhku dengan ilmu gilanya itu. aku masih sakit hati sampai sekarang.”
Pandu Puber diam memandang wajah Sikat Neraka yang cacat bergaris-garis akibat bekas luka pertarungannya dulu. Lengannya pun cacat bergaris-garis. Hati pemuda ganteng berambut sepanjang pundak tapi depannya pendek model punk-rock itu merasa geli dan bangga bisa membuat tokoh sesat yang ganas mengalami luka seperti itu. Diharapkan dapat membuatnya jera, ternyata sekarang malah menantangnya lagi.
“Kau masih ingat padaku, Bocah Tikus?!” hardik Sikat Neraka.
“Tentu saja, Pak Tua!”
“Bagus. Aku juga masih ingat padamu. Tato mawar merah di dadamu itu sangat membekas dalam ingatanku. Dulu kau secara kebetulan saja bisa mengalahkan. Tapi sekarang aku punya perhitungan lebih matang! Kau tak akan bisa mengalahkanku, Bocah Tikus!”
“Tentu saja, karena kau sekarang membawa pawang hujan!” sambil menunjuk Hantu Congkak berpipi kempot.
Yang ditunjuk menggeram menahan murka.
“Aku bukan fawang hujan! Jagung busuk! Seenaknya aja kalau ngomong! Huhh… gue beri, mati dah lu!” sambil Hantu Congkak menggeram ingin menggebukkan tongkatnya, tapi Pandu Puber sudah siaga menangkis, sayang gertakan atas kejengkelannya saja.
“Hajarlah ia, Hantu Congkak. Biar dia tahu adat bagaimana menghargai orang yang lebih tua, seperti kita ini!”
“Soal menghajar dia itu mudah!” katanya dengan congkak.
“Sekali gebuk fasti nyawanya bablas! Cuma masalahnya, afa kau nggak bisa hajar dia sendiri?”
“Jangan meremehkan aku. Aku hanya memberi kesempatan kepada yang tua lebih dulu. Kalau aku langsung menghajarnya, nanti disangka aku tidak hormat kepada kakak seperguruan? Jadi kutawarkan padamu dulu. Kalau kau sudah mengizinkan aku lebih dulu bertindak, ya aku akan bertindak. Cuma…. kalau kira-kira aku kepepet kau cepat-cepat bergerak, ya?”
“Huh… lama-lama yang kugebuk kefalamu sendiri!” geram Hantu Congkak kepada Sikat Neraka, gemas mau memukulkan tongkatnya.
“Sudah sana, maju dan sikat dia! Fercuma funya nama Sikat Neraka kalau tak becus menyikat bocah sekutu beras gitu!”
Sikat Neraka maju, Hantu Congkak menepi. Jalannya tertatih-tatih dan punggung bagian dekat tengkuk membungkuk bukan karena terkantuk-kantuk.
Pemuda berbaju ungu tanpa lengan dan mengenakan anting di telinga kirinya itu segera melangkah ke samping dengan gagah mencari posisi yang enak untuk menyerang lawan.
“Kutebus kekalahanku tempo hari, Bocah Tikus! heeaah...!” Sikat Neraka melompat bagaikan gerakan terbang mengelilingi Pandu Puber. Ia membuat pemuda tampan itu sedikit kebingungan dengan jurus terbang memutar itu. Mau tak mau Pandu Puber juga ikut-ikutan bergerak memutar. Dan tiba-tiba dari tangan kanan Sikat Neraka keluarkan kilatan cahaya petir yang menyambar tubuh Pandu Puber.
Crelaaap...!
“Hiaaah...!”
Pandu Puber sentakkan kaki dan melenting ke atas, bersalto satu kali tepat jatuh ke atah tubuh Sikat Neraka. kakinya segera menjejak punggung itu.
Buug...
Tapi dentuman terdengar lebih dulu akibat sinar petir menghantam pohon.
Jlegaar...!
Wwwrrr... bruuk!
Pohon itu roboh, tapi keadaannya sudah hangus dan berasap. Sedangkan Sikat Neraka juga roboh tersungkur menyusuri tanah dengan wajahnya dan berhenti di depan kaki Hantu Congkak.
Srruukk...! Deb!
Kepalanya ditahan oleh kaki Hantu Congkak supaya tidak menabraknya. Pandu tersenyum menahan geli melihat Hantu Congkak bagai menangkap bola menggelinding dengan kakinya.
__ADS_1
“Guwoblok! jangan serang fakai jurus ‘Kelelawar Sawah’. Serang dengan jurus ‘Cakar Garuk Gatal’! Dia tak akan bisa menghindarinya!”
“Iya. Tapi kakimu jangan langsung injak kepalaku dong! Malu dilihat anak muda itu!” gerutu Sikat Neraka yang wajahnya menjadi kotor karena nyerosot di tanah. Untung bibirnya hanya somplak sedikit. Perih juga sih, tapi masih bisa dicuekin oleh Sikat Neraka.
Wuuttt...! Jleg...!
Sikat Neraka yang berbaju warna merah itu tahu-tahu berdiri dalam jarak tiga langkah dari Pandu Puber. Matanya memandang ganas. Tubuhnya merendah, kakinya merenggang ke belakang, tangannya diangkat dua-duanya membentuk cakar maut. Itulah sistem kuda-kuda dari jurus ‘Cakar Garuk Gatal’ yang dikatakan Hantu Congkak tadi.
“Heeaaat...!” Sikat Neraka segera bergerak melompat sambil kedua tangannya mencakar-cakar dengan amat cepat. Nyaris tak bisa dilihat lagi oleh mata manusia biasa.
Pandu Puber sempat bingung menangkis dan menghidarinya. Gerakan mencakar itu hampir saja kenai wajah Pandu kalau wajah itu tak segera ditarik muncur secara refleks.
Wuuttt, wuutt...!
“Kukunya pasti beracun ganas. Aku harus menghindarinya!” pikir Pandu, sambil segera menjatuhkan diri, lalu kakinya menyambar kaki lawan dengan kerasnya.
Wuuttt…! Prookk...!
Terdengar mata kaki itu berbenturan dengan tulang kakinya Pandu Puber.
“Aaaooww...!” teriak Sikat Neraka sambil hentikan serangan dan melompat mundur. Tapi lompatannya terlalu keras sehingga menabrak Hantu Congkak.
Bruss...!
“Heengk...!” Hantu Congkak mendelik karena perutnya ketiban tubuh Sikat Neraka dalam keadaan dirinya terkapar di tanah.
“Ba bi ganjen kau! Huuh...!” Hantu Congkak sentakkan tubuh Sikat Neraka dengan kedua tangannya. Tubuh itu melayang tinggi karena disentakkan dengan tenaga dalam.
Wuuutt...!
“Waaaooo...!” teriak Sikat Neraka saat melayang naik dan melayang turun tanpa bisa menjaga keseimbangan badan. Hampir saja ia menjatuhi tubuh Hantu Congkak lagi kalau sang Hantu Congkak tidak segera berguling-guling ke kiri tiga kali. Dan tubuh Sikat Neraka pun jatuh terhempas dengan kuat.
“Mati akuuu...!” rintih Sikat Neraka secara spontan saat terhempas. Tulang tubuhnya bagaikan remuk. Sedangkan kakinya yang kiri menjadi bengkak karena mata kakinya pecah akibat sapuan kaki Pandu Puber tadi. Sikat Neraka mengerang-erang bagaikan anak manja supaya ditolong kakak seperguruannya. Tapi sang kakak perguruan malah membentak.
“Bangun, To lol!”
Buuhg...! Tongkatnya digebukkan asal-asalan. Tepat kenai lambung. Sikat Neraka makin mengerang kesakitan.
“Kamu itu tokoh sakti afa ba bi dikebiri? Tarung kok ngeringkuk begitu?!” omel Hantu Congkak dengan mata congkaknya.
“Fercuma funya nama menakutkan orang kalau cuma musuh anak kencur saja keok begitu. Malu-maluin! Ayo, keluarkan jurus mautmu. Jangan merasa sayang. Fakai senjata jurus maut, kalau habis bisa beli lagi!”
“Kakiku...uuuhh...! Kakiku...!”
“Kenafa dengan kakimu? Minta tolong?!” sang kakak perguruan agaknya tak mau memanjakan sang adik perguruan.
“Bangun! Ayo, bangun...!” punggung sang adik perguruan disodok-sodok dengan tongkat.
“Salurkan hawa murni ke kakimu biar sakitnya berkurang. Uuh...fayah kau ini!”
Sikat Neraka tiba-tiba mengejang, lalu sekujur tubuhnya gemetar. Pandu Puber memperhatikan dengan kedua tangan bersidekap di dada. Dia tetap tenang dan mempelajari tiap gerakan serta ucapan lawan.
“Terus...! Terus...! Salurkan hawa murni ke betis dulu. Terus, terus...Kiri, kiri dikit. Ya cukuf!” seru Hantu Congkak mirip tukang parkir.
Sikat Neraka segera bangkit kembali. Masih terasa linu kakinya, tapi ia langsung melompat dengan ganas dengan kedua tangan terjulur ke depan.
“Heaaah...!”
Dari kedua tangan keluar sinar kuning yang
__ADS_1
menyatu dan membentuk seperti tombak memanjang menghantam tubuh Pandu Puber. Pemuda ganteng itu hanya melompat menghidar sinar tersebut. tetapi telapak kakinya mengeras dan menukik ke bawah. Dari ujung jempol kaki kanan keluar sinar putih perak sebesar lidi.
Claaap...!
sinar itu tepat mengenai sinar kuning mirip tombak itu.
Craas...!
Blegaarrr...!
Tubuh Sikat Neraka yang sedang melayang gaya Superman itu terpental balik. Melayang-layang di udara dan menghantam pohon yang sedang bergetar akibat ledakan dahsyat itu.
Braak...! Kkrrrekk... bruukk!
Pohon itu tumbang seketika. Tubuh Sikat Neraka terkapar dalam keadaan memar membiru dari kepala sampai kaki. Rupanya gelombang ledakan tadi memancarkan hawa panas yang cukup tinggi, sehingga membuat tubuh si baju merah itu matang mendadak.
Sementara tubuh Pandu Puber sendiri terpental ke atas dan nyangsang di dahan pohon. Tapi keadaannya tak parah. Hanya kulitnya menjadi merah sedikit karena hawa panas tadi. Sedangkan Hantu Congkak tetap berdiri di tempat dengan tangan kiri tegak di dada, tongkat tergenggam dan mata terpejam. Kejap berikutnya ia membuka mata dan menghembuskan napas pelan-pelan.
Rupanya Hantu Congkak tadi segera salurkan kekuatan hawa dinginnya merembes keluar melalui tiap lubang pori-pori. Hawa dinginnya itu yang digunakan melawan gelombang hawa panas, sehingga ia tidak terbakar sedikitpun. Rasa panaspun tidak dirasakannya sedikitpun. Hanya dia yang masih tetap segar dan tidak bergeming dari tempatnya. Tentunya hal itu dikarenakan ia berilmu tinggi, lebih tinggi dari Sikat Neraka.
“Wow...! Jurus apa yang tadi keluar dari ujung jempol kakiku? Hmm... sebaiknya kunamakan jurus ‘Jempol Syahdu’ saja. Biar mudah kuingat!” pikir Pandu Puber sambil berusaha bangkit dan melompat turun dari pohon.
Wuutt...!
Tahu-tahu ia sudah berdiri di depan Hantu Congkak dalam jarak lima langkah ke depan. Si Hantu Congkak menatap dengan angkuh. Tapi kemudian melirik adik perguruannya yang tak berkutik, hanya terdengar erangannya yang samar-samar. Hantu Congkak kembali memandang Pandu Puber sambil berkata menggeram,
“Siafa gurumu sebenarnya, Jadah Goreng?!”
“Aku tak punya guru. Mau apa?” tantang Pandu Puber rada tengil.
“Usiamu cukuf muda, tapi ilmumu tinggi juga! Kau bisa buat adik ferguruanku tumbang, itu berarti kau funya ilmu tidak sembarangan, Anak Singkong!”
“Yang jelas aku tidak membuka perkara! Dia yang memulai!”
“Ya, ya....!” Hantu Congkak manggut-manggut.
“Tapi kau jangan bangga dulu. Aku kakak ferguruannya akan membalas kekalahannya. Hati-hati melawanku, Nak. Hantu Congkak tak fernah kalah dalam fertarungan dengan siafa fun.”
“Aku tidak funya fersoalan fadamu. jangan fancing kekurang ajaranku, Kek!”
“Jangan ikut-ikutan ngomong begitu!” bentak Hantu Congkak yang merasa tersinggung gaya bicaranya ditirukan Pandu Puber. Anak muda itu hanya senyum-senyum kecil saja. Ia membiarkan Hantu Congkak maju dua langkah, lalu diam berdiri dengan tongkat disentakkan ke tanah.
Jluug...!
Ternyata sentakan tongkat ke tanah menghadirkan sinar merah melesat dari dalam tanah ke tubuh Pandu Puber.
Claapp...!
Sinar itu seperti panah. Cepat sekali. tapi Pandu Puber punya jurus ‘Angin Jantan’ dari ayahnya. Ia mampu bergerak melebihi kecepatan biasan sinar merah itu.
Zlaap...!
Dan sinar merah dari tanah akhirnya menghantam dahan pohon.
Blaarr....!
Dahan pohon itu hancur seketika. Serpihannya menyebar kemana-mana. Hantu Congkak terbengong batinnya.
“Gila! Dia bisa menghindari jurus ‘Lintah Bumi’ ku?
__ADS_1