Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Berkenalan


__ADS_3

Setelah menghentikan kuda dengan Jurus 'Damai Hati'. Tapi Pandu Puber tidak tahu nama jurus itu karena jurus itu titisan dari ayahnya. Hanya saja ia mampu bergerak bagai dituntun oleh nalurinya sendiri.


“Iiieeehhhkk…!” sang kuda meringkik tapi tak melonjak.


“Minggir kau! Minggir….!” Seru gadis itu dengan tegang.


“Kau yang minggir!” sentak Pandu Puber.


“Cepat turun dan tinggalkan kuda itu! Dia akan menjadi liar lagi jika masih ditunggangi. Ayo, turun!”


“Tur….turun….turun ke mana?!” gadis itu panik.


“Ya turun ke bawah dobg! Masa’ turun ke atas?!”


“Maksudku…..o, iya! Aku harus segera turun!” gadis panik itu akhirnya melompat turun dan berlari ke arah belakang kuda, menjauhi kuda itu, diam di bawah sebuah pohon berdahan besar dan berdaun rindang. Sang kuda tampak tenang. Pandu Puber mendekatinya sambil berseru kepada sang gadis yang masih memandang dengan tegang dan ngos-ngosan.


“Kuda ini punya penyakit kejiwaan! Rada-rada gila!”


“Mungkin!” jawab sang gadis dari kejauhan.


“Makanya lain kali kalau mau naik kuda hati-hati dan pilih dengan teliti. Jangan naik kuda gila!” sambil Pandu mengusap-usap leher kuda yang tampaknya mulai jinak. Lalu ia memeriksa kuda itu, sampai akhirnya ditemukan sebuah jarum menancap di bawah pelana kuda.


“Ooo… ada orang jahil ingin celakakan kamu, Nona! Ada yang memasang jarum di bawah pelana ini, jadi kalau kau duduk di atas pelana maka kuda ini merasa kesakitan ditusuk jarum.” Pandu Puber mencabut jarum itu dan menunjukkan dari tempatnya. Sang gadis terbengong heran.


Pandu Puber berkata lagi sambil mengusap-usap punggung kuda.


“Kuda seperti ini tidak boleh mendengar suara teriakan. Semakin kita panik, semakin panik juga dirinya. Jadi harus diusap dengan lembut dan mesra, supaya tidak nakal….!”


Begitu selesai bicara, tiba-tiba Pandu terkejut dan tak sempat menghindar. Kuda itu melonjak dengan dua kaki belakang terangkat, lalu ia menyepak dengan kuat tepat pada saat Pandu ada di bagian belakang kuda.


Wuuutt…! Buueehg…!


“Heeegh…!”


“Iiiiieeehhkk…!” kuda meringkik bagai kegirangan lalu lari dengan liar lagi.


Sedangkan Pandu Puber terpental dan terguling-guling karena sepakan kaki kuda terkena telak pada bagian dadanya. Tubuh Pandu melayang dan jatuh tepat di depan gadis itu, dua langkah dari tempat sang gadis berdiri. Gadis itu tak hiraukan Pandu yang meringis menahan sakit, sesak napasnya. Gadis itu berlari sambil berseru,


“Kudaku…?! Kudaku…?! Oh…!” Gadis itu makin gugup, lalu kembali menemui Pandu Puber yang sudah berdiri dengan sedikit membungkuk dan memegangi dadanya.


“Kudaku…! Kudaku lari…! Oh, larilah kudaku, eh… anu….kudaku lari!” Gadis itu mendorong-dorong punggung Pandu.


“Kejar….! Cepat kudaku mengejar! Eh…anu….kudaku dikejar. Cepat dikejar! Kudakuuu…!”


“Kudaku, kudaku!” bentak Pandu dengan jengkel.


“Dadaku ini bagaimana?”


Gadis itu mau lari mengejar, tapi tak jadi dan kembali lagi. Duduk di batu setinggi pinggulnya dan berwajah murung sedih. Sementara itu Pandu Puber menggerutu dengan suara jelas.


“Dada mau jebol disuruh ngejar kuda! Yang benar aja. Hilang kuda sih masih bisa beli lagi, tapi kalau hilang dada mau beli di mana? Mau diganti dada ayam juga nggak pantas!”


“Tapi…tapi aku tak bisa pulang tanpa kuda. Rumahku jauh….” Gadis itu mau menangis. Pandu menjadi tegang dan mulai panik.


“Ja…jangan….jangan menangis. Jangan menangis, ya?”


“Rumahku jauh…oooh…aku tak bisa pulang,” gadis itu mulai menangis.


Pandu terbayang wajah ibunya jika sedang menangis. Pandu paling tidak bisa melihat ibunya menangis. Maka ketika gadis itu menangis, Pandu menjadi gemetar. Tubuhnya terasa lemas sekali.


“Jang…jangan menangis…jangan….!” Ucapnya pelan sekali. Lama-lama berdirinya menjadi limbung. Gadis itu menangis dengan bersuara. Pandu jatuh terkulai lemas. Matanya menerawang sayu, terbayang wajah ibunya jika sedang menangis. Napas Pandu selalu terengah-engah jika melihat sang Ibu menangis, karena ia sangat sayang kepada sang Ibu dan tak mau melihat sang Ibu menitikkan air mata. Pandu lebih suka melihat ibunya marah dan menghajarnya daripada menangis di depannya.


“Ibuuu…” Pandu lirih, badannya bagai tak bertenaga lagi. Semakin mendengar rintih tangis gadis itu, semakin terpuruk raga bocah tampan itu.


“Ibuuu…jangan menangis…” ucapan itu nyaris tak terdengar siapapun.


Kian lama sang gadis menyadari, bahwa dengan menangis saja ia tak akan sampai di rumah secara gaib. Ia harus mencari cara bagaimana supaya bisa pulang ke rumahnya. Maka satu-satunya sarana yang akan dimanfaatkan adalah anak muda tampan itu. Setidaknya bisa dimintai bantuan untuk menuntunnya ke arah jalan menuju pulang, sebab sang gadis sudah lupa lewat mana saja kudanya tadi membawa lari. Tangis itu dihentikan, Pandu yang terengah-engah dengan duduk bersandar pohon segera didekati. Wajah sedih sang gadis cantik masih tampak jelas.


“Maukah kau mengatarku pulang?”


“Yaah…” jawab Pandu lemas. “Tapi…tapi jangan menangis lagi.”


Sang gadis menyusutkan air matanya.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak menangis lagi. Tapi…menangis sedikit nggak apa-apa kan?”


“Jangan…aku…aku tak bisa melihat gadis menangis,” jawab Pandu sambil napasnya terhela berat sehingga bicaranya terpotong-potong.


“Anak ini gila,” pikir gadis itu sambil berusaha mengeringkan air mata.


“Yang nangis aku kok yang lemas dia? Tapi…ah, ternyata dia anak yang tampan. Hmm…benar. Mataku tak rusak karena tangis. Mataku masih jelas menilai ketampanan seorang pemuda. Sayang usianya kayaknya masih muda. Tapi…nggak apa-apa deh. Biar muda usianya tua pengalamannya, boleh juga!” Gadis itu lalu jongkok di samping Pandu Puber yang pucat pasi itu, Pandu memandang dengan mata sayu dan berkata,


“Aku…hampir pingsan. Aku lemas.”


“Karena melihat tangisku?”


Pandu mengangguk. Gadis itu mencoba untuk tersenyum. Lalu berkata,


“Aku tidak menangis lagi. Lihatlah….aku sudah bisa tersenyum kan?”


“Ya, tapi…tapi aku masih tetap lemas. Kakiku seperti tak bertulang lagi.”


“Lho, ke mana tulangnya?”


“Hanya seperti, ****!” ucapnya dengan pelan tapi mengandung kejengkelan.


“Sepertinya tak bertulang. Tapi kalau diraba sih ya masih ada tulangnya.”


“Jadi…jadi kau tidak bisa mengantarku pulang dong?”


“Entahlah. Aku tak bisa berjalan.”


“Kok jadi begitu sih? Lalu bagaimana caranya memulihkan kekuatanmu?”


Pandu diam memandang tak mau berkedip. Gadis itu makin lama makin tertarik. Tatapan matanya tak mau berkedip. Pandangan Pandu tanpa sadar telah memancarkan suatu kekuatan magis. Jurus ‘Mata Dewata’ milik ayahnya yang menitis padanya bekerja dengan sendirinya.


Jurus itu mampu membuat hati seorang gadis menjadi luluh, trenyuh, iba dan akhirnya menjadi sayang kepadanya. Hal itu dirasakan betul oleh gadis tersebut. Hati sang gadis bergetar, makin lama getarannya makin kuat, makin tak bisa dibendung lagi. Bunga-bunga indah muncul menggoda hatinya. Pandu Puber segera pejamkan mata pelan-pelan dalam keadaan wajah terdongak sedikit.


Gadis itu semakin dicekam perasaan yang tak dimengerti apa artinya, hanya bisa dirasakan begitu indah dan bahagianya. Urat-urat tengkuk mengeras, kepalanya bagaikan didorong oleh debaran indah di hati. Kepala itu mendekat. Hati kecil menolak, tapi hati besar memaksa untuk lebih dekat. Dan akhirnya bibir gadis itu mencium kening Pandu Puber. Cuup…!


Ceeesss…!


Tubuh Pandu bagaikan disiram air ember. Air segar yang bagaikan menyiram sekujur tubuh itu membuatnya menjadi begolak. Darah menghangat, urat mengejang pelan. Kekuatannya mulai tumbuh kembali. Detak jantungnya normal. Tensi darahnya pun normal. Napas terhela lega. Plong rasanya. Lalu ia bangkit menegakkan duduknya. Tersenyum penuh keceriaan. Wajah pucat hilang, yang ada tinggal kecerahan yang kian menawan hati.


“Kok aku jadi menciumnya sih? Aih… gila amat aku ini! Malu-maluin aja! Aduh, gimana ya kalau udah begini?” Dari situlah awal perkenalan mereka. Sang gadis yang mengaku bernama Lila Anggraeni segera diantarkan pulang oleh Pandu Puber.


Tentu saja sepanjang perjalanan pulang, Pandu Puber banyak bicara tentang keindahan yang ada pada diri Lila Anggraeni. Pandu Puber banyak memuji kecantikan Lila Anggraeni yang nada pujiannya seperti pujian lelaki dewasa. Sang gadispun hanyut dalam pujian itu, sehingga tak segan-segan menggandeng tangan Pandu Puber walau dalam hatinya membatin


“Sayang dia masih berusia lima belas tahun. Tapi, ya…lumayanlah!” Lila Anggraeni kelihatan sebagai anak orang kaya. Perhiasan yang dikenakan sanagn menyolok dan berharga mahal. Pandu Puber langsung saja menebak.


“Ayahmu seorang Adipati?”


“Bukan. Ayahku seorang saudagar. Pemilik kapal dagang dan…”


“Dan kau pasti putri tunggalnya. Iya, kan?”


“Aku putri sulungnya. Adikku masih ada dua lagi.”


Pandu Puber hanya nyengir karena tebakannya selalu salah. Ia garuk-garuk kepala sambil berkata,


"Sebenarnya aku mau bilang begitu. Tapi aku tak tega kalau tebakanku benar semua. Kau nanti akan kaget dan kalau kau pingsan aku kebingungan membawamu pulang.”


“Ah, kau bisa aja!” Lila Anggraeni mencubit lengan Pandu Puber. hati Pandu Puber berdesir indah, tapi kulitnya terasa panas karena cubitan itu. Jadi Pandu hanya bisa nyengir, antara girang dan sakit.


“Kalau aku pingsan,” kata Lila Anggraeni, “Apa yang akan kau lakukan?”


“Hmm…yah, paling-paling membawamu ke kotaraja lalu meletakkan kau ke tengah kotaraja. Nanti kalau ada orang yang mengenalimu pasti kau akan dibawanya puang.”


“Hanya begitu?” pancing Lila Anggraeni.


“Habis, mau diapakan lagi?” Pandu Puber tersenyum geli. Sang gadis hanya bisa tersenyum. Tapi kepalanya disandarkan di pundak Pandu dan kakinya melangkah sedikit bergelayut. Mesra sekali. Romantis sekali perjalanan itu. Pandu Puber sengaja menegakkan badannya biar tampak gagah.


Tiba-tiba dari atas pohon bermunculan manusia-manusia berpakaian hitam. Mereka saling berlompatan menghadang Pandu Puber dan Lila Anggraeni. Jumlah orang-orang berbaju hitam itu ada lima. Mereka rata-rata bertampang bengis. Senjata mereka golok. Sepertinya golok pembagian jatah, sehingga bentuk dan rupanya sama persis. Dari arah gerumbulan semak depan melompat seorang berpakaian merah.


Wuuusss…! Jleeg…!


Lila Anggraeni makin ketakutan, makin merapatkan tubuh ke badan Pandu Puber, setengah memeluk erat-erat. Pandu Puber sedikit tegang, tapi sempat berbisik,

__ADS_1


“Jangan takut! Ada aku!”


“Kau berani melawan mereka?”


“Untung-untungan,” jawabnya dengan suara pelan sekali.


Orang berpakaian serba merah itu berambut panjang, tapi putih warnanya. Sudah tua, tapi masih tampak tegar dan gagah. Tubuhnya memang kurus, tapi sorot matanya tajam penuh tantangan dan keberanian. Orang itu berkuku panjang, tanpa senjata apapun. Usianya yang sudah sekitar delapan puluh tahun itu menimbulkan kesan bahwa ia tokoh tua yang beilmu tinggi. Buktinya ketika ia melompat dari semak-semak, ketik akakinya mendarat ke bumi, terasa jelas getaran yang ditimbulkan karena kaki itu. tanah bergetar tipis, walau tak sampai menumbangkan pohon sekecil apapun.


“Mau apa kau, Pak Tua?!” sapa Pandu Puber lebih dulu, menunjukkan bahwa ia tak kalah mental dengan tokoh tua itu.


“Apakah kau belum mengenalku?”


“Kalau sudah kenal aku tidak kaget melihatmu, Pak Tua.”


Senyum sinis itu dingin sekali. Pak tua berpakaian serba merah segera berkata dengan melangkah lebih dekat lagi.


“Akulah yang berjuluk Sikat Neraka!”


“Apakah aku harus takut dengan julukanmu?” tanya Pandu Puber sepertinya terucap dengan polos itu.


Sikat Neraka menggeram jengkel. Hasrat membunuhnya mulai berkobar. Ia berkata dengan mata sedingin salju.


“Sebenarnya aku hanya ingin merampas perhiasan Nona itu! Tapi karena bicaramu lancang, sok berani, maka aku terpaksa harus membunuhmu, Bocah!”


“Aku akan melawan!” kata Pandu bagai tanpa dipikir dulu.


Sikat Neraka rentangkan tangannya ketika lima anak buahnya ingin bergerak menyerang Pandu. Rentangan tangan itu sebuah isyarat bahwa mereka tak boleh bergerak menyerang. Ia ingin menangani bocah muda itu sendiri. Maka ia pun maju dua tindak lagi. Matanya tetap tajam memandang Pandu, seakan ingin menembus batok kepala bocah itu.


“Mundurlah sedikit,” kata Pandu pelan kepada Lila Anggraeni. Gadis itu cemas, namun akhirnya mundur juga. Tapi tak berani jauh dari Pandu. Sebab hanya Pandulah satu-satunya harapan keselamatan bagi jiwanya, walaupun akhirnya ia sangsi, apakah Pandu bisa diharapkan sebagai pelindungnya?


“Cukup satu jurus kau akan kubuat tak bernapas selamanya, Bocah Tollol!”


“Mudah-mudahan aku masih punya napas cadangan, Sikat Neraka!”


“Bangssaat!” geramnya penuh kemarahan.


“Hiaaah…!”


Kedua tangan menyentak ke depan. Dari kedua telapak tangan melesar tenaga dalam besar tanpa sinar dan tak dapat dilihat.


Pandu Puber sempat terpaku sejenak. Dan saaat itulah tenaga dalam besar menghantam tubuhnya.


Buuhg!


Weess…! Buuurrk…!


Pandu Puber terlempar jauh dan jatuh karena membentur pohon. Lila Anggraeni menjerit,


“Pandduuu…!” ia berlari menghampiri Pandu dengan penuh kecemasan. Tapi sebelum ia tiba di tempat Pandu, pemuda itu bangkit dengan satu hentakan kaki dan berdiri tegak lagi. Wajahnya memang memucat, pertanda terkena pukulah tenaga dalam. Tapi agaknya luka itu tidak dihiraukan. Ia tetap maju menuju tempat semula.


"Aku tidak apa-apa. Tenang saja. Menepilah, biar kuhadapi orang itu!”


Sikat Neraka terperanjat melihat Pandu masih bisa berdiri dan berjalan. Hatinya membatin,


“Biasanya orang yang terkena pukulanku itu langsung remuk seluruh tulangnya, tak mampu berdiri dan tak mampu bernapas lagi. Tapi bocah ini agaknya punya ilmu awet muda. Atau mungkin ia memang punya napas cadangan? Hmm… agaknya aku harus gunakan jurus yang lebih hebat lagi. Malu sama anak buah, kalau aku tak bisa membunuhnya dalam satu-dua jurus!”


Pandu Puber berdiri dengan kaki sedikit merenggang. Sikat Neraka menggeram dengan kedua tangan mengepal kuat-kuat hingga tulang-tulangnya terdengar gemeretak.


“Sudah kubilang aku akan melawanmu, Pak Tua!”


“Jahanam, hiaaah…!”


Sikat Neraka keluarkan jurus lebih tinggi dari yang tadi. Seberkas sinar kuning dari tengah dahinya setelah ia hentakan kaki ke bumi.


Slaapp…!


Sinar itu memandang lurus tanpa putus. Sasarannya ke dada Pandu. Tapi pada saat itu, Pandupun mengeluarkan jurus penangkis sinar kuning.


Jurus ‘Cakram Biru’ melesat dari pergelangan tangannya. Sinar itu berwarna biru berbentuk piringan cakram. Sinar biru itu menghantam ujung sinar kuning yang akan mengarah kepadanya.


Blegaaarr…!


Dentuman dahsyat terjadi hingga mengguncangkan alam sekeliling. Asap tebal mengepul dari benturan dua sinar tadi. Dua anak buah Sikat Neraka jatuh tunggang-langgang akibat gelombang sentakan yang menggelegar itu. Tiga lainnya terhuyung-huyung mundur nyaris jatuh. Pandu Puber sendiri terpental ke belakang, tapi tak sampai jatuh. Sedangkan Lila Anggraeni terpelanting jatuh dan memekik. Pandu segera menolongnya. Lila Anggraeni segera memeluk penuh perasaan takut.

__ADS_1


“Tenang, tenang…! Sudah tak meledak lagi kok. Tenang, Lila….!” Bujuk Pandu dengan rasa takut kalau-kalau gadis itu tahu-tahu menangis. Dalam keadaan seperti itu sangat berbahaya jika Lila Anggraeni menangis. Kekuatan Pandu Puber bisa lenyap seketika. Tapi ketika asap tebal tadi lenyap, mereka sama-sama memandang keadaan Sikat Neraka yang mirip orang dicabik-cabik seratus singa lapar. Pakaiannya tak ada yang utuh. Rambutnya yang putih terbakar sebagian. Wajahnya penuh dengan sayatan. Berdirinyapun gemetar. Anak buahnya terbengong melompong karena baru kali itu mereka melihat Sikat Neraka dibuat separah itu.


“Tunggulah saatnya! Kukenali wajah dan namamu! Kita akan jumpa lagi!” ucapnya, lalu segera memberi isyarat kepada anak buahnya agar pergi, dan ia sendiri melesat meninggalkan tempat dengan gerakan tak selincah semula.


__ADS_2