Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Tiba Di Bumi


__ADS_3

Sebuah danau di puncak bukit mempunyai air berwarna biru bening. Bukan karena danau itu pernah kemasukan blau pemutih pakaian, tapi karena di dalam danau itu ada batu sebesar anak sapi yang berwarna biru bening.


Kebiruan warna batu itulah yang memancar dalam bentuk bias cahaya dan membuat air danau itu berwarna biru bening. Para pengembara ataupun para pelancong menyebut bukit itu dengan nama Bukit Biru, dan danau itu disebutnya Danau Kedamaian. Sebab barang siapa memandang beningnya air danau itu, hatinya akan memancarkan kedamaian.


Konon amarah seseorang yang sampai membuat telinganya merah legam dapat reda jika cuci muka dengan air danau itu.


Yang akan diceritakan dalam kisah ini bukan bagaimana caranya cuci muka, melainkan tergeletaknya sesosok tubuh yang ada di tepi danau itu.


Perlu diketahui, danau itu dikelilingi oleh pepohonan rindang. Tempatnya teduh, semak-semaknya tidak berduri, rumputnya halus, enak untuk bersantai di sana. Sekalipun banyak pepohonan rindang tumbuh mengelingi danau, tapi tak satu pun daun kering yang jatuh di permukaan air danau itu.


Sekalipun angin berhembus menerbangkan daun daun kering, tapi air danau itu tak terjamah oleh sang daun. Tak ada kotoran masuk ke danau tersebut, sehingga danau itu tetap bersih dan enak dipandang mata, terutama bagi orang yang tidak tunanetra.


Kabarnya, tidak semua orang bisa mencapai danau itu. Pada umumnya, para pengembara dan pelancong yang berhati bersih saja yang bisa menemukan danau tersebut. Benar dan tidaknya, sulit dibuktikan.


Yang jelas, di tepi danau yang luasnya tak seberapa itu sekarang sedang dipakai tidur seorang lelaki muda, kira-kira berusia sekitar dua puluh tujuh tahun.


Pemuda itu berpakaian kumuh. Bajunya warna putih kusam. Banyak noda coklat bekas makanan atau minuman di bajunya. Pokoknya baju putih berlengan panjang itu kotor.


Bagian tengkuk dan ujung lengan kanannya robek sedikit. Mungkin habis tersangkut duri atau digigit kuda nil.


Celana pemuda itu warna hitam belel. Juga kumuh dan kotor. Bagian pantatnya robek sedikit. Entah karena menduduki paku atau habis diseruduk banteng.


Pokoknya penampilannya nggak keren. Cenderung mirip orang susah hidup.


Tapi dilihat dari badannya, ia tampaknya seorang pemuda yang cukup banyak asupan vitamin. Badannya kekar, walau tidak berotot seperti binaragawan. Tingginya sedang-sedang saja, tidak membuatnya menjadi jangkung. Kulitnya coklat muda. Wajahnya bersih tanpa jerawat. Kumisnya tak ada. Mungkin memang tak mau tumbuh atau memang dibuat supaya tak tumbuh.


Pokoknya wajah bersih itu tergolong ganteng.


Hidungnya bangir, matanya sedikit besar tapi indah. Tampak jantan. Sayang kalau harus


dicolok pakai lidi.


Rambutnya hitam, panjang sebatas punggung, sedikit bergelombang. Rambut itu diikat dengan ikat kepala warna putih. Sama dengan ikat pinggangnya yang juga berwarna putih, terbuat dari kain agak tebal dan kusam.


Ketika pemuda itu terbangun dari tidurnya, ia segera terkejut dan memandangi alam sekitarnya. Ia juga memeriksa pakaiannya dan merasa aneh dengan pakaian sekumal itu.


Sebelum hatinya ngomong apa-apa, ia sudah lebih dulu mendengar orang berkata,


"Ingat, namamu sekarang adalah Yuda Lelana. Kau adalah manusia...."


"Yang bilang kucing siapa?"


gerutu pemuda itu memotong yang bicara, dia segera menyadari bahwa dirinya sebenarnya adalah dewa yang telah dibuang dari kayangan.


Batara Kama kini berganti nama Yuda Lelana. Orang yang bicara itu tak tampak wujudnya.


Yuda Lelana tahu, suara itu adalah suara Sang Hyang Guru Dewa.


Sekalipun tanpa handphone seperti zaman sekarang, tapi Yuda Lelana masih bisa bicara dengan Sang Hyang Guru Dewa yang ada di kayangan.


Rupanya pemuda tanpa senjata itu mengajukan protes kepada pihak para dewa.


"Mengapa aku diturunkan di dekat danau ini? Mengapa pakaianku mirip gelandangan? Apa di kayangan sudah kehabisan busana model terbaru?"


"Kau harus menjalani bertapa yang dinamakan Tapa Melarat!"


"Apakah tidak bisa diganti dengan Tapa Kaya saja? Tapa kok melarat?!" ia bersungut-sungut.


"Tapa Melarat gunanya untuk membawa alam kehidupanmu sebagai Yuda Lelana menuju ke suatu tempat. Di tempat itulah kelak kau akan menemukan kunci menuju jati dirimu kembali."


"Kalau aku merasa enak menjadi manusia, aku tidak mau jadi dewa lagi!" katanya dengan jengkel sambil berdiri, lalu bercermin di tepian danau.


Hatinya membatin,


"Ganteng juga sih. Tapi untuk apa jadi cowok ganteng kalau melarat. Nggak bakalan disukai sama cewek-cewek!"


Rupanya kata-kata hati itu pun didengar pula oleh Sang Hyang Guru Dewa. Bukan karena Sang Hyang Guru Dewa seorang paranormal yang bisa mendengar suara batin dan membaca pikiran manusia, tapi karena memang dia guru dari segala kekuatan batin para dewa, makanya gampang saja mendengarkan suara batin Yuda Lelana.


Ia pun segera berkata kepada anak muda yang tampak sudah matang itu.


"Kaya atau miskin bukan ukuran mendekati seorang gadis. Yang penting bagaimana sikapmu di depan mereka. Tak perlu salting, tak perlu over akting, kalem-kalem saja. Maka gadis-gadis itu akan menaruh simpati padamu."


"Apakah aku juga mempunyai kekuatan daya pikat untuk membuat para gadis tergila-gila padaku, Guru?"


"Ya. Kau mempunyai ilmu pemikat. Tapi karena kau sebenarnya dewa, maka kau tidak boleh mengumbar ilmu pemikat sembarangan. Nanti yang rugi kau sendiri. Karena tugas utamamu di bumi bukan untuk koleksi cewek, tapi untuk berbuat kebajikan! Ingat, berbuat kebajikan! Itu tugas utamamu!."


"Iya, iya... aku inget!" gerutunya sambil bersungut-sungut.


"Ingat pula, bahwa proses penuaanmu akan lebih cepat daripada manusia biasa," kata suara Sang Hyang Guru Dewa.


"Lho, kok gitu? Bukannya aku punya ilmu awet muda?"


"Memang. Tapi ilmu itu tidak berfungsi bagi dirimu. Sebab jika tanpa proses penuaan yang lebih cepat, kau akan enak-enakan hidup di bumi menikmati masa awet mudamu. Dengan mempercepat proses penuaan, maka kau akan segera mencari tujuan utamamu, yaitu kembali menjadi dewa dengan menebus kesalahanmu semasa di kayangan, yaitu berbuat kebajikan sebanyak mungkin dan mencari seorang istri untuk menghasilkan keturunanmu."


"Tapi ingat, jika kau mendapatkan seorang istri harus dinikahi secara baik-baik. Tidak boleh kumpul kebo. Itu namanya perbuatan asusila. Paham?"


"Paham deh, paham...!" jawabnya dengan nada dongkol.


"Ya, sudah... percakapan kita sampai di sini dulu. Selamat berjuang, Yuda. Dan jangan mudah menyerah menghadapi tantangan hidup sebagai manusia. Tantangan itu tidak harus dihindari tapi harus kau kalahkan. Oke?"


"Oke sajalah!" jawabnya lagi dengan wajah cemberut kesal.


Telinga pun segera mendenging. Sepertinya ada sesuatu yang melesat dari dalam telinga dan lenyap entah ke mana. Yuda Lelana tidak pedulikan lagi denging itu, sebab ia tahu denging tersebut tanda terputusnya pulsa hubungan bicara dengan pihak kayangan.


Tak berapa jauh dari tempat Yuda Lelana bercermin di permukaan air danau, tepatnya di lereng bukit itu, terdapat suatu peristiwa yang sudah terjadi sebelum Yuda Lelana jatuh di dekat danau tersebut.


Di sana ada pertarungan tanpa penonton. Pertarungan itu terjadi di alam bebas, tanpa ring atau arena berpanggung.


Dua tokoh berilmu pedang cukup handal sedang saling bertaruh nyawa. Mereka saling mengibaskan pedangnya, berusaha membuntungi kepala lawannya. Tapi yang terjadi adalah denting suara pedang yang saling beradu dengan cepat. Denting suara pedang itulahyang membuat Yuda Lelana tertarik untuk melihat apa yang terjadi di lereng bukit tersebut.

__ADS_1


"Jangan-jangan di bawah sana ada tukang pandai besi yang sedang bikin senjata? Tengok dulu, ah! Siapa tahu punya makanan buat pengganjal perutku!"


Ternyata dua tokoh yang bertarung itu adalah dua wanita berpakaian lebih bersih dari pakaiannya Yuda Lelana.


Yang satu berpakaian pinjung sebatas dada warna kuning, sama dengan celananya yang sebatas betis. Pinjung dan celana itu ketat dengan tubuhnya yang sekal dan sexy. Karena ketatnya, maka bentuk dadanya yang menonjol sekal dan menggemaskan itu terlihat jelas di mata Yuda Lelana.


Tentu saja mata itu enggan berkedip karena memang suka dengan pemandangan yang bersifat syur seperti itu. Sayang sekali wanita muda yang ditaksir usianya sekitar dua puluh empat tahun itu mengenakan pakaian jubah lengan panjang warna abu-abu tipis, sehingga bentuk keelokan tubuhnya tak bisa terlihat bebas.


"Cantik juga dia. Tahi lalat di dekat bibirnya itu yang membuatnya tampak cantik dan menawan hati. Gemas sekali aku pada bibir itu!" gumam Yuda Lelana yang suka berpikiran nakal itu. Katanya lagi.


"Tapi yang satunya lagi juga oke punya, Coy! Memang sedikit lebih tua dari yang berjubah abu-abu itu, cuma matanya tampak galak dan melambangkan suka bercinta. Bibirnya tipis tapi malah yang bentuknya kayak gitu yang bikin betah jika dipagut. Wow...! Keren!"


Mata Yuda Lelana masih pandangi wanita yang kira-kira berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu.


Sekalipun usianya sudah sekitar segitu, tapi bentuk tubuhnya masih menggiurkan. Pantatnya menonjol sekal, keras, dibungkus celana ketat warna merah darah. Bajunya tanpa lengan warna merah juga. Tapi belahan bajunya cukup lebar.


Kalau saja bagian dadanya tidak dilapisi kain hitam dari jenis sutera, maka tonjolan di dadanya itu akan terlihat. Sayang dadanya ditutup kain hitam, yang membuat bagian atas dadanya saja yang tampak tersumbul putih mulus tanpa cacat. Bentuknya lebih besar dari milik si gadis berpakaian kuning dan jubah abu-abu itu.


Rambut wanita berpakaian merah itu terurai lepas sebatas punggung, kepalanya diikat dengan kain merah juga. Rambut yang lepas terurai itu menambah daya seksinya lebih tinggi lagi.


Yuda Lelana hanyut dalam khayalan ngeresnya untuk beberapa saat sampai tubuhnya menjadi bergidik merinding, lalu ia tarik napas dan membuang khayalan.


Yuda Lelana sengaja tidak ikut campur dalam pertarungan itu. Ia hanya menjadi seorang penonton yang bersembunyi dari balik semak.


Hanya kepalanya yang tampak nongol dari sana. Jarak persembunyiannya dengan pertarungan itu sekitar enam tombak. Jadi ia dapat melihat jelas jurus-jurus yang digunakan oleh kedua wanita itu.


Pada satu kesempatan, si jubah abu-abu itu berhasil melompat di atas kepala lawannya, lalu pedangnya berkelebat menebas punggung.


Wuuut...!


Tapi pedang lawannya tiba-tiba bergerak ke belakang sehingga tertangkislah tebasan pedang itu.


Traaang...!


Dengan cepat si baju merah berbalik dan tangan kirinya menyentak ke atas,


wuuut...!


Claaap...!


Sinar kuning bundar melesat menghantam tubuh si jubah abu-abu yang masih melayang turun itu.


Melihat sinar kuning dilepaskan dari tangan si baju merah, maka si jubah abu-abu pun melepaskan sinar merah panjang dari dua jari yang disodokkan ke depan.


Suuuuuut...!


Wuuut...!


Blaaar...!


Benturan dua sinar menghasilkan ledakan. Ledakan menghasilkan gelombang. Gelombang menghasilkan sentakan. Sentakan membuat keduanya terpental dan jatuh kehiLangan keseimbangannya.


"Hiaaat...!" si baju merah cepat sentakkan pinggul yang membuat tubuhnya melenting naik lalu berdiri dengan dua kaki sedikit merenggang dan rendah.


Jleeg...!


Ternyata lawannya sudah lebih dulu berhasil berdiri dengan kaki berkuda-kuda kokoh. Pedangnya melintang di atas kepala dengan tangan kirinya terangkat di depan dada.


Matanya menembus pandangan mata si baju merah, napasnya terengah-engah tampak sedikit sesak. Bukan karena punya sakit bengek, tapi karena hentakan gelombang ledak tadi memukul dadanya agak keras.


"Kau tak akan bisa mengalahkan aku, Peluh Selayang!" kata si jubah abu-abu kepada lawannya yang berbaju merah yang ternyata bernama Peluh Selayang.


Ujarnya lagi,


"Sebaiknya menyerahlah sebelum keadaanmu menjadi lebih buruk lagi. Karena jika kau tetap ngotot, aku pun akan tetap ngotot menangkapmu untuk diserahkan kepada Guru!"


"Aku bukan orang bo doh, Kutilang Manja!"


Hati Yuda Lelana membatin,


"Oo... yang berjubah abu-abu itu namanya Kutilang Manja. Hmm... cantik juga nama itu. Serasi dengan wajahnya."


Lalu cowok tampan itu kembali menyimak omongan si Peluh Selayang,


"Kalau aku mau menghadap Guru, itu berarti aku mengaku sebagai pihak yang bersalah. Sampai mati pun aku tidak mau diserahkan kepada Guru, karena aku bukan orang yang bersalah!"


"Jika kau tidak bersalah mengapa kau lari dari perguruan kita?"


"Aku punya alasan lain untuk lari dari perguruan. Bukan karena aku mencuri Kitab Pusaka Jayabadra, tapi karena aku merasa kecewa dengan sikap Guru yang menganak emaskan dirimu!"


"Kau hanya membuat-buat alasan saja, Peluh Selayang!" tegas Kutilang Manja.


Suaranya kecil tapi merdu. Menggelitik hati jika didengar oleh kaum lelaki. Sedangkan suara Peluh Selayang sedikit serak, mengusik kejantanan seorang lelaki yang mendengarnya, seperti Yuda Lelana itu.


Suara Kutilang Manja terdengar lagi,


"Perlu kau ketahui, Peluh Selayang... tugas yang diberikan Guru padaku bukan saja menangkapmu. Jika kau bandel, aku diperkenankan untuk membunuhmu! Menurut Guru, daripada kau berhasil mempelajari semua jurus dalam Kitab Jayabadra, ada baiknya kalau kau dibunuh saja. Karena jika ilmu dan Kitab Jayabdra berhasil kau kuasai, maka kau akan menjadi orang sesat yang sukar ditandingi! Nama perguruan pun akan jatuh, karena setiap orang tahu bahwa kau adalah murid dari Perguruan Sekar Bumi!"


"Aku tidak mencuri kitab itu!" bentaknya.


"Jangan mengkambinghitamkan diriku, Kutilang Manja! Hilangnya kitab itu tidak ada hubungannya dengan kepergianku dari perguruan!"


"Buktinya beberapa waktu setelah kau pergi, bumi menjadi berguncang, bencana alam datang. Itu pertanda kau telah mempelajari ilmu 'Lumbung Petaka' yang merupakan salah satu ilmu berbahaya di dalam Kitab Jayabadra!"


"Pers etan dengan tuduhan itu! Aku benar-benar tidak menguasai ilmu tersebut. Jika beberapa waktu yang lalu terjadi bencana alam, itu bukan karena ulahku! Jangan kaitkan bencana itu dengan kepergianku dari perguruan!" sentak Peluh Selayang yang tubuhnya sudah berkeringat sejak tadi itu.


Kitab Jayabadra adalah kitab pusaka milik guru mereka Nyai Sirih Dewi.


Salah satu ilmu berbahaya yang terdapat dalam Kitab Jayabadra adalah jurus 'Lumbung Petaka', yang apabila digunakan bisa menghadirkan bencana pada alam sekelilingnya.

__ADS_1


Mereka tidak tahu bahwa bencana yang terjadi belum lama ini adalah akibat murka Begawan Dewa Gesang, ayah Batara Kama yang kini menjadi Yuda Lelana itu.


Murka yang menggegerkan kayangan, juga menggegerkan kehidupan di bumi, telah disalah artikan oleh Nyai Sirih Dewi. Karenanya ia mengutus murid tercintanya Kutilang Manja untuk menangkap Peluh Selayang, sebab kepergian Peluh Selayang bersamaan dengan hilangnya Kitab Jayabadra.


"Sekali lagi kuperingatkan padamu, Peluh Selayang. Menyerahlah dan jangan melawan supaya aku tidak bikin nyawamu melayang-layang!"


"Kau pikir mentang-mentang kau menjadi anak emas Guru, maka kau bisa kalahkan ilmuku? Hmmm...! Sori aja, ya?!Bagaimanapun juga kedudukanmu masih di bawahku, Kutilang Manja. Aku adalah atasanmu! Ilmumu belum sepadan dengan ilmuku! Sebaliknya, akulah yang harus memperingatkan dirimu agar jangan coba-coba melawanku. Apalagi aku merasa tidak bersalah, mati bareng pun kujalani!"


"Kalau begitu, terimalah jurus 'Pedang Mata Malaikat' ini!


Hiaaah...!"


Suuut...!


Claaap...!


Pedang ditusukkan ke depan. Dari ujung pedang bergagang gading itu keluar sinar merah berasap. Melesat cepat bagaikan tali panjang yang terulur cepat.


Melihat jurus 'Pedang Mata Malaikat' digunakan oleh Kutilang Manja, Peluh Selayang sempat terperanjat heran. Sebab jurus 'Pedang Mata Malaikat' itu hanya akan diberikan oleh sang Guru jika seorang murid sudah hampir mencapai tingkat akhir dalam menuntut ilmu di Perguruan Sekar Bumi itu.


Peluh Selayang sendiri merasa belum mendapatkan ilmu tersebut. Hal ini memperjelas pandangan Peluh Selayang, bahwa gurunya benar-benar menganakemaskan Kutilang Manja.


Dengan penuh kegeraman, Peluh Selayang segera lepaskan jurus penanding sinar merah berasap itu. Ia mempergunakan jurus 'Pedang Mata Maling' dengan cara memegang pedang dua tangan, satu di gagang satu lagi di pucuknya. Pedang itu ditegakkan di depan dada dan memancarkan sinar putih kemilau ke semua arah.


Slaaap...!


Sinar merah lurus berasap itu menghantam pedangnya Peluh Selayang.


Jraasss...!


Blegaaar...!


Dentuman dahsyat terjadi lagi. Sinar putih menyilaukan dari jurus 'Pedang Mata Maling' itu memecah lebar berubah warna menjadi merah jambu.


Sekejap setelah bunyi ledakan menggelegar itu, sinar-sinar pada pedang mereka lenyap seketika. Tapi tubuh mereka saling terpental mundur.


Tubuh Kutilang Manja bagai ada yang mendorong hingga ia terpelanting mundur sampai membentur sebuah pohon. Tapi keadaannya masih tetap berdiri dengan menahan napas beberapa saat.


Sedangkan tubuh Peluh Selayang terlempar melayang bagaikan sampah daun pisang yang terbuang begitu saja.


Brruk!


Tubuh itu jatuh terbanting dengan pedang lepas dari tangannya.


"Uuhg...!" terdengar suara lirih Peluh Selayang mengerang kesakitan sambil menggeliat dalam keadaan setengah merangkak.


Ia berusaha untuk berdiri, tapi tiba-tiba kepalanya tersentak maju dan mulutnya memuntahkan darah segar.


"Hoeek...!"


Melihat keadaan Peluh Selayang menjadi parah, Kutilang Manja segera menyerangnya lagi untuk memereskan lawannya. Pedangnya dikelebatkan ke sana-sini dengan cepat.


Kemudian dari ujung pedang yang disentakkan ke depan dengan dua tangan itu, keluar sinar merah berasap seperti tadi.


Claaap...!


Tubuh wanita berpakaian serba merah itu akan hancur dihantam sinar maut dari ujung pedang Kutilang Manja.


Namun mendadak dari arah semak-semak melesat sinar biru bagaikan piringan bergerigi. Berputar-putar dengan gerakan melesat amat cepat dan menghantam ujung sinar merah berasap sebelum ujung sinar itu menghantam tubuh Peluh Selayang.


Blegaaarrr...!


Ledakan yang timbul lebih dahsyat lagi dari ledakan sebelumnya. Hutan di situ menjadi bergetar. Dua pohon tumbang sebelah timur. Dahan-dahan banyak yang retak maupun pecah karena terkena getaran gelombang ledak yang berdaya sentak sangat tinggi itu.


Tubuh Peluh Selayang sendiri terpental lagi, mirip boneka dari kain berisi kapas yang dilemparkan seenaknya, sedangkan tubuh Kutilang Manja juga terbang melayang tak tentu gerak, lalu jatuh terbanting membentur gugusan tanah yang jaraknya delapan langkah dari tempatnya berdiri.


Yuda Lelana segera melompat dan bergerak cepat melebihi gerakan rusa.


Wuuut...!


Tahu-tahu ia berada di samping Peluh Selayang. Keadaan Peluh Selayang semakin parah. Matanya terbeliak-beliak hampir mau terbalik. Lukanya sangat berbahaya. Dalam keadaan terkapar ia berusaha menghirup napas dari mulutnya. Mulut itu tercengap-cengap mirip mulut ikan mujair mencari gelembung hawa.


"Kasihan perempuan ini," Yuda Lelana membatin,


"Napasnya tinggal sedikit. Nyawanya sudah ada di ubun-ubun. Padahal dia belum tentu bersalah. Hmm...! Dia harus segera kutolong sebelum menjadi korban salah paham. Aku yakin dia tidak bersalah. Jika ia memang punya jurus 'Lumbung Petaka' pasti sudah digunakan untuk melawan Kutilang Manja!"


Kemudian dengan mengeraskan dua jari tangan kanannya, Yuda Lelana menunjuk ke arah dada Peluh Selayang.


Ujung jari itu keluarkan sinar putih bening bagaikan kaca.


Sllaaap...!


Juurrssss...!


Sinar itu menghantam ulu hati, menembus beberapa kejap, lalu padam seketika.


Zluub...!


Itulah jurus para dewa yang sering digunakan untuk pengobatan, namanya jurus 'Hawa Bening', yang mampu sembuhkan luka dalam waktu amat singkat.


Di seberang sana, Kutilang Manja terpukau melihat kehadiran pemuda berpakaian kumal itu. Lebih terpukul lagi setelah melihat Peluh Selayang mulai bisa bernapas longgar setelah mendapati tikaman sinar sebening kaca itu.


Namun keadaannya yang juga merasakan panas di dada itu membuatnya lemah dan jatuh terduduk kembali.


Yuda Lelana segera menghampirinya untuk memberikan pertolongan, karena ia dapat melihat kelemahan fisik Kutilang Manja yang cukup membahayakan keselamatannya.


"Mau apa kau kemari?!" Kutilang Manja sempat memaksakan diri membentak kehadiran Yuda Lelana.


"Kau terluka, Nona Cantik. Kau bisa mati kalau tak segera tertolong. Jantungmu mengalami pembengkakan. Pembuluh darahmu bisa pecah. Paru-parumu bisa hangus dan kering. Ususmu bisa kusut dan...."

__ADS_1


"Cukup! Lakukan saja apa yang kau lakukan. Aku... aku makin tak kuat. Uuhg...!" Kutilang Manja tersentak dan dari mulutnya keluar darah kental berwarna hitam kemerah-merahan.


__ADS_2