
Kalau saja Pandu Puber tahu, dia akan terbengong-bengong. Kalau saja orangtuanya tahu, mereka akan terheran-heran. Suatu yang di luar dugaan terjadi gara-gara ulah sang bocah nekat yang ingin membebaskan Mirah Duri.
Daun pare pemberian Pandu Puber ternyata benar-benar sembuhkan penyakit sang Permaisuri. Siang minum air rebusan daun pare sesuai petunjuk Pandu, sorenya sang Permaisuri sehat dan badannya merasa segar bugar. Tidak lemas lagi, tidak muntah-muntah lagi, bahkan makannya banyak. Sampai-sampai suaminya sendiri bergidik melihat makannya sang Permaisuri. Tentu saja sang Adipati Sihombreng memuji-muji Pandu Puber di depan siapa saja.
“Bocah itu benar-benar membawa keberuntungan! Kalau tak ada dia, istriku tak akan sesehat ini dalam waktu singkat. Dia dan Tabib Teh Kolak memang pantas kuberi perhargaan tinggi. Sayang di mana mereka berada, aku tak tahu!”
Dewi Widuri juga menemui keberuntungan besar setelah diusir dari istana kadipaten. Di perjalanan ia bertemu dengan rombongan Raja Muda Purwanegara yang sedang berburu. Sang raja yang masih single itu terpikat oleh Dewi Widuri. Tanpa banyak basa-basi lagi, Dewi Widuri dibawa ke istana Kerajaan Singosani. Selanjutnya Dewi Widuri dipersunting oleh Raja Muda Purwanegara, dan jadilah ia seorang Permaisuri yang bahagia hidupnya. Proses perkawinan itu sangat cepat, sampai-sampai Dewi Widuri sendiri merasa seperti mimpi tanpa konsep.
Lalu bagaimana dengan Wirya Kenduri?
Oh, ia juga punya nasib yang sama dengan Dewi Widuri. Juru taman itu pulang ke rumahnya, di kaki Bukit Lumas. Anaknya ternyata sedang hendak dilamar oleh Pangeran Tambala dari Negeri Tanah Manca. Pangeran Tumbala adalah pewaris penguasa Negeri Tanah Manca yang kaya raya dan subur makmur itu. Perkawinan tersebut membuat Wirya Kenduri diangkat menjadi kepala rumah tangga negeri tersebut, sejajar dengan para pejabat istana lainnya. Praktis Wirya Kenduri menjadi OKB alias Orang Kaya Baru yang hidupnya serba mewah dan glamour. Ia sangat beruntung dan merasa kehadiran bicah nekat itu telah merubah jalan hidupnya. Seandainya bocah nekat itu tidak menghadap Adipati Sihombreng, mungkin Ki Wirya Kenduri tidak akan menjadi OKB tapi tetap menjadi BKO alias Baru Kaya Orang.
Lalu tentang Mirah Duri sendiri?
Wah, tuh cewek punya keberuntungan ganda. Pertama bebas dari penjara kadipaten. Kedua, setelah memberikan ciuman di pipi bocah nekat itu, ia langsung diserang musuh lamanya yang bernama Cukilakila. Tapi orang yang bernama Cukilakila menjadi gemetar ketika mengetahui Mirah Duri dibantu oleh Pandu Puber.
“Ternyata kau ada di pihaknya, Nak?” Kata Cukilakila yang berusia sekitar empat puluh tahun itu.
“Ya, aku ada di pihak Mirah Duri, Paman!” tegas Pandu Puber.
“Maafkan Paman, Nak. Paman tidak tahu dan belum mengerti dengan pasti siapa Mirah Duri sebenarnya. Setahu Paman dulu dia menyerang Paman dan membuat Paman jatuh ke jurang. Untung tak mengalami cidera berat. Tapi Paman masih penasaran, ingin membalas kekalahan Paman pada Mirah Duri.”
“Paman harus melawanku kalau mau melawan Yu Mirah!”
“Tidak. Paman tidak berani. Maafkan Paman sekali lagi, Nak!”
Melihat Cukilakila ketakutan, Mirah Duri merasa heran, lalu bertanya kepada Pandu Puber,
“Ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan dia?”
“Paman Cukilakila adalah perajurit kakekku yang bertugas menjadi mata-mata bagi siapa saja yang ingin menyerang Pulau Iblis! Sudah tiga kali ia ditugaskan menjemputku dari Gunung Ismaya untuk dibawa ke Pulau Iblis saat kakek rindu padaku.”
Keberuntungan ketiga bagi Mirah Duri, ia segera dibawa ke Pulau Iblis dan bertemu dengan gurunya Ki Panut Palipuh. Alangkah senang hati Mirah Duri melihat gurunya masih selamat. Sang Gurupun sangat gembira melihat muridnya bebas dari ancaman maut Adipati Sihombreng.
__ADS_1
Keuntungan keempat bagi Mirah Duri Raja Jin Kala Bopak, kakek Pandu itu, berkenan mengangkat Mirah Duri untuk menjadi pegawai istananya yang bertugas mengatur para pelayan, sekaligus menjadi petugas penerima tamu yang akan menghadap Raja Kala Bopak. Penghasilannya menjadi berganda. Pokoknya bahagia sekali masa depan Mirah Duri semasa Pulau Iblis belum ditenggelamkan para dewa.
Sedangkan Pandu Puber sendiri begitu pulang ke rumah dihajar habis oleh ibunya. Bahkan distrap tidak diberi makan selama sehari penuh. Bocah itu menderita, tapi punya rasa bangga bisa menolong Mirah Duri. Pahanya memang menjadi biru-biru karena dicubiti ibunya. Namun rasa sakit itu tidak dirasakan karena bayangan indah dicium Mirah Duri masih membekas di hatinya. Bocah itupun tidak merasa sakit hati oleh hajaran ibunya, karena memang ia sudah siap untuk dihajar sehingga berani lompat jendela malam hari.
Hal-hal seperti itu banyak dilakukan Pandu Puber sampai ibunya kewalahan memikirkan bagaimana cara mengurangi kenakalan sang anak supaya tidak sebegitu bandelnya.
Sampai usia sepuluh tahun, Pandu Puber masih sering bertindak yang mencemaskan hati ibunya. Sang Ayah tidak pernah merasa cemas, karena sang Ayah tahu betul kapasitas kemampuan anaknya dalam melakukan sesuatu yang dianggap bahaya bagi anak seusia itu.
“Dihajar bolak-balik nggak pernah kapoknya tuh anak,” gerutu sang Ibu kepada sang Ayah menjelang tidur malam.
“Aku bisa tertekan kalau begini caranya! Cobalah kau bertindak menghajarnya, Papi! Jangan hanya cengar-cengir saja kalau lihat anakmu kuhajar! Aku capek menghajarnya!”
“Lha apa kita perlu menyewa orang khusus untuk menghajarnya?” kata Yuda Lelana dengan kalem. Masih tanpa emosi, selayaknya seorang yang punya kesabaran tinggi.
“Ya nggak gitu maksudku!” Murti Kumala cemeberut.
“Sekali-kali kau turun tangan dong, biar anakmu nggak sebandel itu. Kalau tahu itu anak bakal jadi anak bandel aku ngak mau kawin sama kamu!”
Yuda Lelana tertawa dalam gumam,
“Uuh…! Ngaco!” dengus Murti Kumala sambil buang muka. Tidurnya memunggungi sang suami. Yuda Lelana tertawa kecil, lalu memeluk istrinya dari belakang sambil mencium tengkuk sang istri yang cantik itu. Yuda Lelana berkata setelah sang istri mengibaskan ciuman itu, tapi tetap diam ketika dipeluk dari belakang.
“Namanya saja anak, bandel itu wajar. Toh bandelnya tidak kepada kita. Kebandelannya akibat darah kependekaran yang tumbuh dalam jiwanya. Nanti kalau anakmu nggak bandel, diam saja nggak ada suaranya, kau jadi kebingungan. Dikira tuh anak kena sawan celeng? Giliran anaknya bandel, mengeluh dan uring-uringan terus. Kalau sudah begitu yang rugi siapa? Kan diri sendiri juga. Dan lagi…..”
Yuda Lelana tak jadi lanjutkan ucapannya. Susah payah ia menyusun kata untuk memberi pengertian kepada istrinya, ternyata sang istri sudah tertidur dengan dengkuran halus. Yuda Lelana menggerutu dalam hati sambil menghela napas dalam-dalam.
“Yaaah…libur lagi deh malam ini?!” Iapun hanya bisa garuk-garuk kepala sambil menekan rasa kesal di hatinya.
Yuda Lelana segera terbayang tingkah laku anak tunggalnya itu. Jiwa kependekaran begitu besar tertanam dan berkembang dalam diri anak itu. Pada usia tiga belas tahun saja sang anak sudah berani melawan Ketua Perampok Tulang yang bernama si Cacah Rusuk. Konon orang ganas itu dibuat lari tunggang langgang oleh Pandu Puber dan tak berani muncul di rimba persilatan sampai beberapa waktu lamanya.
Adipati Sihombreng sendiri sejak tahu siapa Pandu Puber tak berani mengejar-ngejar Ki Panut Palipuh lagi. Sebutan Pandu sebagai ‘cucu raja jin’ membuat Adipati Sihombreng ngeper mendekati Ki Panut Palipuh karena ia tahu orang itu bersahabat akrab dengan Pandu Puber.
Selain merasa berhutang budi kepada Pandu Puber, Adipati Sihombreng sendiri juga tak berani ambil resiko lebih berbahaya lagi jika ia nekat mengejar Ki Panut Palipuh.
__ADS_1
Mendengar sepak terjang anaknya, Yuda Lelana hanya geleng-geleng kepala.
“Anak itu benar-benar nggak punya rasa takut kepada siapapun? Aku sendiri nggak sangka lho kalau bakalan punya anak yang memiliki keberanian senekat itu?” pikir Yuda Lelana. Bagaimana tidak dikatakan nekat keberanian Pandu Puber itu, jika dalam usia lima belas tahun berani melawan tokoh tua yang bergelar Sikat Neraka. Yuda Lelana dan Murti Kumala hanya mendengar cerita pertarungan tersebut dari mulut Cukilakila yang saat itu juga mendapat cerita dari salah satu anak buah Sikat Neraka.
Orang yang bernama Sikat Neraka adalah tokoh tua aliran hitam yang berdarah dingin. Bahkan di rimba persilatan ia dikenal sebagai salah satu dari sekian banyak orang sakti yang menjadi guru untuk aliran hitam. Bagi Sikat Neraka, membunuh itu sudah merupakan kegemaran setiap harinya. Sama seperti orang yang sudah kecanduan olah raga jogging setiap paginya. Sehari saja tidak jogging, badan terasa pegal-pegal.
Demikian juga Sikat Neraka, sehari saja tidak membunuh orang, tulang-tulangnya jadi ngilu dan urat-uratnya pegal. Sikat Neraka tak pernah pandang bulu dalam membantai lawannya. Bayipun kalau perlu disikatnya habis. Seorang nenek tua renta pun tak segan-segan ditebas dengan golok lebarnya jika macam-macam kepadanya. Sikat Neraka mempunyai kawanan perampok sendiri yang beroperasi di wilayah utara. Biasanya ia tampil sebagai Ketua Kapal Bajak Laut. Sebuah kapal yang sedang berlayar di wilayah laut utara, jika melihat kapal hitam berlayar marah gambar tengkorak berjambul, pasti
para awak kapal titu akan gemetaran semua. Sebab mereka tahu kapal berlayar merah dengan gambar hitam membentuk wajah tengkorak berjambul itu adalah Kapal Bajak Laut Sikat Neraka. Kapal apapun yang berpapasan dengan Kapal Bajak Sikat Neraka tak pernah ada yang selamat. Jika awak kapalnya ada yang hidup itu suatu keberuntungan besar bagi kapal tersebut. Karena Sikat Neraka dalam membajak kapal tak pernah menyisakan nyawa para penumpang kapal yang dibajak. Di laut dia berjaya, di daratpun Sikat Neraka terkenal sebagai perampok berdarah beku. Siapa saja yang dirampoknya tak pernah ada yang selamat. Bukan harta saja yang dirampasnya, tapi nyawa pun ikut dirampas. Karena itu, tak heran jika nama Sikat Neraka menjadi nama yang ditakuti orang.
Seandainya kala itu Murti Kumala mendengar Pandu Puber akan bertarung dengan Sikat Neraka, pasti dia akan lari lebih dulu mencari anaknya dan membawanya pulang lalu dihajar habis-habisan. Tapi cerita yang dituturkan Cukilakila itu didengar oleh Yuda Lelana dan Murti Kumala setelah peristiwa pertarungan tersebut selesai dilakukan Pandu Puber yang baru berusia lima belas tahun. Yuda Lelana dan Murti Kumala hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil menunggu anaknya pulang untuk dimarahi.
Kisahnya diawali dari perkenalan Pandu Puber dengan seorang gadis putri saudagar kaya yang bernama Lila Anggraeni. Gadis ini usianya sedikit lebih tua dari Pandu, sekitar tujuh belas tahun. Cantik sekali dan sexi-nya bukan main.
Lila Anggraeni mempunya bodi yang penuh tantangan bercumbu bagi setiap laki-laki. Yang membuat gadis itu kian tambah manis adalah tahi lalat di atas bibir, sebelah kiri. Kecil sih, tapi manfaatnya sangat besar sekali bagi daya tarik kecantikannya. Ditambah lagi rambutnya lurus lemas sebatas pundak dan diponi depannya. Hidungnya mancung mirip hidung cewek bule. Matanya indah, bibirnya sensual dan dada sendiri sangat wow. Dada itu bisa bikin mata lelaki terbelalak seketika dan bingung mengedipkannya kembali. Apalagi pakaian yang dikenakan Lila Anggraeni sangat seronok. Baju atasnya kain tipis warna cokla tua mengkilap, seperti dari bahan satin. Potongan bajunya itu tanpa lengan, bagian depannya dikancingkan dengan satu tali pengikat yang sekali tarik akan terbuka byaak…!
Sedangkan bagian dalam baju itu tidak ada lapisan kain apa-apa lagi. Padahal belahan kain baju itu cukup lebar, sehingga nyaris separo bukitnya tampak menantang dengan mulusnya. Baju itu diikat dengan angkin sederhana warna putih. Celananya ketat, dari bahan kain sejenis beludru. Warnanya coklat muda, tinggi sebatas betis. Sebagian betisnya tampak mulus. Putih tanpa cacat. Ia gadis yang tergolong tinggi, tapi sesuai dengan kesekalan tubuhnya.
Awal perjumpaan dengan Pandu Puber ditandai dengan gemuruh suara kaki kuda berlari kencang dan sang kuda meringkik-ringkik. Di sela ringkikkan itu, terdengar pula suara jeritan yang memanjang.
“Tolooooong…! Toloooong…!”
Pandu Puber yang sedang menuruni bukit mendengar suara itu. Ia paling getol jika mendengar suara perempuan menjerit. Tanpa menunggu pertimbangan ini itu, Pandu Puber langsung saja lari ke arah datangnya suara tersebut.
Tak perduli bajunya yang ungu itu tersangkut duri dan robek sedikit, Pandu Puber segera hadir ke sisi tebing berjurang curam. Ia berdiri di ketinggian tempat. Matanya memandang ke arah timur, melihat dengan jelasmunculnya seekor kuda yang berlari dengan binal. Di atas kuda ada cewek kece. Cewek itu ketakutan. Rupanya ia tak bisa hentikan lari sang kuda. Ia ketakutan. Apalagi sang kuda sesekali mengangkat kedua kaki depannya sambil meringkik liar. Sang gadis nyaris jatuh terlempar dari punggung kuda.
Pada saat kuda berlari lagi dengan gerakan liar, Pandu Puber segera melompat dari ketinggian dan menghadang langkah sang kuda. Sang gadis semakin ketakutan melihat anak muda belasan tahun berdiri di depannya sementara sang kuda tak bisa dihentikan dari larinya.
“Awaaas…! Minggir…! Minggiiir…!” teriak gadis itu. tapi Pandu Puber tak mau minggir, malah bersikap menghadang laju sang kuda. Sang gadis takut kalau kudanya menabrak pemuda remaja itu, sehingga ia berteriak makin keras. Pandu Puber segera menggerakkan tangannya ke atas. Satu tangan kanan yang diangkat ke atas itu ditarik turun pelan-pelan dengan jari-jari megar. Tangan kirinya ada di dada dalam keadaan telapak tangan terbuka ke samping dan tegak ke atas. Setelah tangan kanan yang diturunkan itu mendekati dada, kedua tangannya segera didorong ke depan dengan pelan-pelan penuh tenaga. Sang kuda yang berjarak tujuh langkah darinya itu segera mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik keras.
“Iieeehhhk…!”
Gelombang tenaga dalam berhawa sejuk tersalur lepas dari kedua tangan Pandu Puber. Gelombang itu tak bisa dilihat kecuali dirasakan oleh sang kuda. Sang kuda mengibaskan kepalanya, dan hentikan langkahnya.
__ADS_1
Pandu Puber masih luruskan dua tangan ke depan. Gelombang hawa salju masih menyembur dari kedua telapak tangannya. Jurus itu bernama jurus ‘Hati Damai’.