
Weesss…!
Tiba-tiba perempuan yang agresif sekali itu melesat dari tempatnya. Tubuhnya melayang bagaikan seekor burung cendrawasih menerabas semak dedaunan pohon itu.
Dalam waktu singkat ia sudah ada di tengah tanah putih itu dengan sikap menantang Dardanila. Pandu Puber terbengong bagaikan patung yang teperangah melihat hantu lewat pakai bikini.
“Aku datang, Dardanila! Tantanganmu kian memanaskan kupingku!” seru gadis itu yang membuat Pandu Puber menggumam gemetar.
“Jadi…gadis itu adalah….adalah Ratu Peri Sore? Oh, dia sendiri yang ternyata orang yang kucari. Tapi….tapi kenapa malah kuberi kesan mesra? Waaah…kacau nih kalau gini! Kacau sekali deh! Aku harus bersikap bagaimana?”
Yang bisa dilakukan oleh Pendekar Ganjen hanya garuk-garuk kepala menyadari kebodo hannya. Ia terlalu mengutamakan sentuhan keromantisan dari pada mengutamakan sikap waspada dan curiganya.
“Heaaat…!” Dardanila menyerang dengan jurus putaran tangannya yang membuat tubuh melompat dan berputar sambil lakukan tendangan ke arah wajah Ratu Peri Sore.
Wuusss…!
Tendangan itu tidak mengenai sasaran, tapi rupanya telapak kaki Dardanila keluarkan gelombang panas dari tenaga dalamnya. Gelombang panas itu menerjang Ratu Peri Sore. Tapi dengan cepat mulut sang Ratu meniupkan hawa dingin pembeku darah.
Fuiiih…!
Blaaarrr…!
Hawa panas dan dingin bertemu, terjadilah gelombang ledak yang tinggi. Kedua perempuan itu sama-sama terpental mundur, tapi Dardanila lebih parah, ia terbanting-banting di tanah dalam terpentalnya, sedangkan Ratu Peri Sore hanya melayang mundur sekitar dua tombak dan tubuhnya melengkung ke belakang. Ketika ia menapakkan kakinya ke tanah, ia masih mampu berdiri dengan tegak. Dardanila bangkit dan mendapatkan wajahnya babak belur, memar membiru dan sakit di pinggangnya.
Sreek…!
Sepotong ranting kering sedikit bengkok disambar oleh Dardanila. Ranting itu panjangnya satu hasta, kebetulan mempunyai ujung yang runcing akibat patah.
“Kutusuk ubun-ubunnya pakai ranting kayu ini!” geram Dardanila membatin.
Tapi untuk sementara ia lepaskan dulu pukulan bercahaya merah terputus-putus masing-masing selebar mata pisau.
Cap, cap, cap, cap, cap…!
Ratu Peri Sore hanya menggerakkan tangannya dengan gemulai dari bawah ke atas, bagai orang meyilakan tamu untuk masuk ke rumahnya. Tapi gerakan tangan seperti itu menghasilkan lempengan sinar biru setinggi tubuhnya dan menghalang bagaikan dinding bercahaya.
Blaar…!
Jlegaaar…!
Pendekar Ganjen hampir jatuh lagi karena guncangan kuat yang ditimbulkan oleh ledakan maha dahsyat itu. Dua-tiga pohon tumbang pula di kejauhan sana. Pohon yang digunakan sembunyi oleh Pandu Puber itupun hampir saja ikut tumbang. Sang pendekar terpaksa bergelayutan karena kakinya sudah tak menyentuh dahan. Tapi ia segera betulkan kembali letak posisi kakinya.
“Bagaimana, ya? Kalau kuserang, dia terlanjur membuatku bergairah. Kalau tidak kuserang, dia telanjur membuat kakekku tak bisa menjelma sebagai sosok yang bisa dipegang? Wah, aku jadi merasa serba salah kalau begini!”
__ADS_1
Tak heran jika Pendekar Ganjen jadi serba salah sebab secara jujur hatinya mengakui, permainan lidah dan bibir Ratu Peri Sore lebih menarik ketimbang Dardanila. Kecupan Ratu Peri Sore dapat mempercepat Pendekar Ganjen terbakarnya hasrat bercinta ketimbang kecupan Dardanila.
“Tidak! Aku tidak boleh tergiur oleh keadaan seperti itu! Ratu Peri Sore bukan manusia. Mahluk baik-baikpun bukan! Aku tak boleh hanyut oleh kemesraannya. Dia harus kumusnahkan! Amanat kakek harus kuutamakan!”
Kutilang Manja dan Peluh Selayang datang bersama Loan Besi. Mereka segera disergap oleh anak buah Ratu Peri Sore. Tapi mereka bertiga sama-sama angkat tangan sedada, artinya mereka tak akan menyerang. Peluh Selayang berkata kepada enam anak buah Ratu Peri Sore yang mengurung mereka,
“Kami hanya ingin melihat saja! Tenang. Tenang saja!”
Pada saat itu, tampak Dardanila sedang melompat dalam gerakan salto. Lompatannya cukup tinggi melintasi atas kepala Ratu Peri Sore. Serta merta begitu sampai di atas kepala lawan ia menukik dan menusukkan ranting berujung lancip itu.
wuuuttt…!
Ubun-ubun sang Ratu Peri Sore yang dijadikan sasaran utama. Tetapi telapak tangan sang Ratu Peri Sore segera menghadang dan hunjaman ranting itu kenai telapak tangannya.
Trakk…!
Ranting ditangkap, disentakkan dan patah.
Sementara telapak tangan itu bagaikan membesi, tak mampu ditembus oleh keruncingan kayu kering tersebut. Padahal Dardanila sudah kerahkan tenaga dalam dan disalurkan melalui ranting tersebut. Keruncingan serta kekuatan ranting menyerupai ujung tombak. Namun nyatanya masih bisa dipatahkan oleh tangan Ratu Peri Sore.
Dardanila mendarat di belakang Ratu Peri Sore. Sang Ratu segera sentakkan jari telunjuknya sambil berkelebat berbalik arah.
Claapp…!
Deess…!
“Aahg…!”
Dardanila terpental sambil terpekik. Lalu ia jatuh terpuruk tak berdaya. Napasnya terengah-engah tapi sekujur tubuhnya bagaikan tak bertulang sama sekali. Jatuhnya pun tidak terkapar, tidak tengkurap, seperti orang duduk yang terkulai lemas.
“Jurus ‘Penumbuk Tulang’ tak ada yang bisa menandinginya, Dardanila!” kata Ratu Peri Sore membiarkan angin bertiup menyingkap jubahnya sehingga kondisi tubuhnya bagaikan sengaja dibiarkan terbuka dihembus angin. Lalu setelah melangkah dua tindak mendekati Dardanila, sang Ratu Peri Sore serukan suaranya lagi.
“Kau boleh bangga bisa lolos dari racun ‘Tua Bangka’ ku itu Dardanila! Tapi kali ini tak akan bisa lolos dari sinar ‘Rajang Raga’ ku ini!
Hiaaat…!”
Dardanila ingin dirajang dengan sinar yang akan melesat dari sepuluh jari tangan Ratu Peri Sore. Tetapi sebelum sinar itu tampak melesat, dari atas pohon melesat sinar putih perak yang mengarah ke tangan sang Ratu Peri Sore.
Zlaaapp…!
Kecepatan gerakan sinar putih perak dari jurus ‘Inti Dewa’-nya Pendekar Ganjen hampir saja memotong kedua tangan Ratu Peri Sore. Untung gerak refleks sang Ratu Peri Sore cukup tajam, ia tarik diri ke belakang dalam satu lompatan mundur dengan cepat.
Wuutt…!
__ADS_1
Akibatnya sinar putih perak itu menghantam tanah putih di sisi lain.
Jlegaarr…!
Bumi bergetar dan tanah tersebut menyembur ke udara dengan ganasnya. Tempat mendaratnya sinar putih perak itu menjadi lubang besar tak beraturan yang muat untuk mengubur dua puluh jenazah sekaligus.
“Gila…?!” gumam Ratu Peri Sore melihat kehebatan sinar putih perak itu. Ia segera memandang ke arah atas pohon tempat datangnya sinar tadi. Tapi saat itu ia justru melihat sesosok tubuh ungu melesat dari pohon dan bersalto beberapa kali sampai akhirnya mendarat di tanah Kapur Gaib. Caranya mendaratkan kedua kaki tak terdengar dan tak bergetar, sehingga sang Ratu Peri Sore segera menyimpulkan orang yang baru datang itu adalah orang berilmu tinggi.
Hanya saja sang Ratu Peri Sore agak menyesal karena yang hadir di hadapannya ternyata adalah Pendekar Ganjen, Pandu Puber yang melenakan gairahnya tadi. Ratu Peri Sore agak grogi dan sempat bingung menentukan sikap.
“Apa maksudmu menghalangi serangan pamungkasku tadi, Pandu? Membela Dardanila atau menyuruhku bersabar dan meninggalkannya? Aku lebih setuju jika kau menghendaki aku pergi dari sini bersamamu, karena kita masih punya kencan yang tertangguhkan tadi. Kita lunasi bersama-sama, Pandu. Oke?”
“Oke, oke….oke, oke…!” gerutu Pandu Puber dengan bersungut-sungut. Tapi tetap kelihatan ganteng walau mulutnya meruncing menggemaskan.
“Aku tidak tahu kalau kau adalah Ratu Peri Sore. Kalau kutahu kau adalah perempuan yang kucari-cari, maka tak akan kuberikan segenggam kemesraanku yang lebih layak diberikan kepada perempuan lain!”
Ratu Peri Sore panas hati, tapi ditahannya pakai payung kesabaran biar tak terlalu panas. Ia sengaja sunggingkan senyum ramah dan kerlingan mata menggoda. Iapun bekata dengan suara lembut.
“Aku tahu hasratmu sudah menggebu-gebu ingin menikmati kehangatanku, Pandu Puber! Ayolah, kita pergi saja dari sini!”
“Aku tidak merasa bercumbu denganmu!” tegas Pandu Puber.
“Tak mungkin. Kau pasti mengharapkannya,” seraya Ratu Peri Sore mendekati Pandu Puber. Yang didekati diam saja.
Dardanila yang terkulai lemas tapi masih sadar itu berusaha berseru,
“Menjauh! Jauhi dia! Jauhi….! Pandu, jauhi dia!”
Pendekar Ganjen mundur tiga tindak. Ratu Peri Sore sedikit tampak kecewa.
“Pandu, jangan turuti bujukan perempuan ****** itu! Dia tak bisa memberikan keindahan yang mampu kuberikan padamu. Datang dan peluklah aku, Pandu!”
“Tidak mau!” tegas Pandu. Ia melangkah berkeliling seakan siap menyerang perempuan itu. Tapi hatinya masih diliputi oleh kebimbangan, karena sebenarnya ia tak ingin berlaku kasar dan brutal, lebih-lebih terhadap seorang wanita.
Pada saat itu, terdengar suara merdu Ratu Peri Sore melantunkan tembang yang berirama mesra.
Kudekap hatimu dan kau dekap hatiku
Kita menyatu di dalam kalbu
Kita bercumbu penuh alunan cinta suci
Ingin kunikmati hangat tubuhmu
__ADS_1
Kuresapkan di hati…