Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Pedang Siluman Beraksi


__ADS_3

Suara bening, lembut, enak didengar, syair yang menggelitik jiwa, membuat Pandu Puber mulai tambah gelisah. Pandangannya tak mau lepas dari raut wajah Ratu Peri Sore, kadang menyusuri sampai ke betis.


Sementara itu, Dardanila menjadi cemas sekali dan berseru,


“Tutup telingamu, Pandu! Dia melepaskan jurus ‘Syair Cumbu Sukma'. Lekas tutup telingamu dan tinggalkan tempat ini. Panduuu…!” Dardanila masih punya kekuatan untuk berteriak walau tak seberapa keras.


Ratu Peri Sore makin meninggikan suaranya, melengking tapi masih tetap enak didengar. Merdu dan lembut, seakan membelai kekerasan hati, meneduhkan kepanasan jiwa yang menyimpan dendam dan amarah.


Bahkan labih parah lagi, syair dan suara tembang itu mengoda gairah bercinta dalam seribu bayangan cumbu.


Begadang jangan begadang


Kalau tiada artinya


Begadang boleh saja


Kalau ada perlunya


Kalau terlalu banyak begadang


Muka pucat karena darah berkurang


Bila sering kena angin malam


Segala penyakit akan mudah datang


Darilah itu sayangi badan


Jangan begadang setiap malam


Jantung Pendekar Ganjen semakin bergemuruh lagi. Keringat dinginnya mulai keluar karena menahan gejolak hasrat yang menuntut jiwa. Batinnya menggapai ingin meraih harapan yang tak terpenuhi. Pandu Puber rasakan ada sesuatu yang berontak dalam dirinya dan membawa langkah kaki mendekati Ratu Peri Sore.


Perempuan itu makin merentangkan kedua tangannya dan meliuk-liukkan pinggang, seakan menunggu kedatangan tubuh Pandu Puber. Wajah sang Ratu Peri Sore pun tampak penuh gelora cinta. Lidahnya menjilati bibir sendiri dengan sesekali melontarkan keluh lirih. Matanya mulai sayu bagai tak sabar menunggu jamahan bibir Pandu Puber.


“Celaka! Kekuatan gaib ‘Syair Cumbu Sukma’ telah merasuk dalam jiwa Pandu!” bisik Kutilang Manja kepada Peluh Selayang.


“Pandu tak bisa menghindari kekuatan gaib syair itu. Lepaskan jurusmu ke atas, biar kutembak dengan jurusku dan timbulkan ledakan yang menghentak kesadaran Pandu.


“Lekas…! Lekas, Pandu sudah mulai ingin memeluknya!”


Kutilang Manja melepaskan sinar kuning melesat di langit. Peluh Selayang segera menghantam sinar kuningnya, Kutilang Manja dengan cahaya merah membara dari telapak tangannya. Maka meledaklah benturan itu dengan keras.


Blegaaarrr…!


Ledakan dahsyat itu mengguncangkan alam sekeliling. Kesadaran Pandu diperolehnya kembali akibat kejutan keras atas suara ledakan tadi. Kekuatan gaib yang telah merasuk dalam jiwa dan alam pikirannya terlepas lagi. Dan hal itu membuat Pandu Puber buru-buru tarik diri ke belakang.


“Mo nyet! Minta dibelah dua perempuan itu!” geramnya sambil memandang Kutilang Manja dan Peluh Selayang. Ia baru ingin lepaskan pukulan berbahayanya untuk Kutilang Manja dan Peluh Selayang. tetapi tiba-tiba Pandu Puber berseru memanggil.


“Arlina…!”


Dengan spontan Ratu Peri Sore bepaling ke arah Pandu, langsung ingatannya tertuju kepada cumbuan mesra di atas pohon. Ratu Peri Sore pandangi Pandu dan tak jadi lepaskan pukulan ke arah dua murid mendiang Nyai Sirih Dewi.


“Kau pikir hanya kau sendiri yang punya ajian tembang seperti itu? Coba kau terima ilmu ‘Tembang Keramat’ warisan ibuku ini…!”


Pandu Puber segera lantunkan suaranya yang juga merdu dan empuk, enak di dengar. Syairnya terdengar jelas tiap suku kata.

__ADS_1


Surti remaja anak bapak kades


Dan si Tejo jejaka baru aja mudik


Berdua saling mencinta sejak lulus SD


Hingga kini beranjak gede


Surti sumringah arjunanya pulang


Tiga tahun berpisah nyari dana di kota


Mereka melepas rindu dipematang sawah


Hingga malam selimuti desa


Kekuatan ilmu ‘Tembang Keramat’ ternyata dalam getaran suara Pandu Puber. Syairnya asal-asalan, tapi daya getarnya membuat Ratu Peri Sore menjadi terbakar gairah bercumbu. Meluap-luap dicekam hasrat.


Repotnya kekuatan ilmu itu melanda pula pada yang lain. Kutilang Manja sendiri sejak tadi serba salah. Peluh Selayang pun gelisah. Para peri anak buah sang Ratu Peri Sore saling peluk tak peduli sama-sama wanita.


Sementara itu, Ki Loan Besi menyingkir mencari tempat sepi, dan entah apa yang dilakukannya di balik semak-semak setinggi tubuhnya itu, Dardanila menangis tertelungkup karena tak bisa menggerakkan tubuhnya sementara hasrat bercumbunya meledak-ledak di dada. Untung saja Pandu Puber tidak melihat tangis perempuan yang dipunggungi itu.


Cinta satu malam


Oh indahnya


Cinta satu malam


Buat kumelayang...


“Hentikan…..! Hentikan….!” Teriak Ratu Peri Sore ketika ia paksakan dirinya untuk keluar dari pengaruh asmara itu. seruan keras yang menggema memudarkan bayangan mesra mereka, sehingga mereka jadi sadar dan malu sendiri-sendiri. Ratu Peri Sore segera membentak Pandu Puber karena merasa dirinya telah dipermainkan. Ia marah sekali kepada pemuda tampan itu.


“Sekarang apa maumu sebenarnya, hah?! Kau permainkan perasaanku sebegini rendahnya! Aku tak bisa beramah-ramah lagi padamu, Pandu Puber! Terimalah ini jurus ‘Keringat Matahari’-ku untukmu!


Hiaaat…!”


Claaapp…!


Pandu Puber tiba-tiba diserang sinar bintik-bintik kuning emas. Sebenarnya bukan sinar, tapi butiran lembut yang berkerilap sehingga mirip sinar bintik-bintik kuning emas. Pandu Puber segera sentakkan kakinya dan tubuhnya pun melesat ke atas dan bersalto dua kali ke arah depan. Kini ia justru berada di atas kepala Ratu Peri Sore.


“Hiaaat…!” Pandu menukik dan dari ujung jarinya melesat sinar merah hasil dari jurus ‘Sepasang Sayap Cinta’.


Zlaaap…!


Dengan sentakan spontan tangan Ratu Peri Sore melepaskan sinar hijau dari telapak tangan yang ditengadahkan ke kepala.


Blaarrr…!


Sinar itu meledak dan membuat tubuh Pandu Puber terpental tinggi melayang-layang bagai tak sadarkan diri. Sedangkan Ratu Peri Sore sendiri terjungkal oleh hentakan gelombang ledak tersebut.


Brrus…!


Ia tersungkur dan jubahnya menyingkap sampai di kepala. Yang senang Loan Besi, matanya langsung terbuka,


byaak…!

__ADS_1


Tapi begitu melihat Pandu Puber jatuh seperti nangka busuk, Ki Loan Besi buru-buru pejamkan mata.


Buuhg…!


“Pecah deh kepalanya! Remuk tulang-tulangnya. Ooh… nasib, nasib…. mau punya murid yang bisa membawa ke kayangan saja belum-belum si murid sudah remuk duluan,” kata Ki Loan Besi dengan mata tetap terpejam. Tapi ketika dibuka kembali, ternyata Pandu Puber masih mampu berdiri walau dengan wajah menyeringai menahan sakit.


“Habisi dia, Pandu! Habisi…..!”


Dardanila gemas dan memberi semangat pada Pandu Puber agar tidak loyo. Sementara itu, Kutilang Manja dan Peluh Selayang juga turut berseru,


“Cepat serang, Pandu! Jangan tunggu dia bangkit! Serang terus!”


“Pakai tenaga jarak jauh saja! Lepaskan sinar perakmu tadi!”


Ki Loan Besi ikut berseru pula,


“Hancurkan dia dengan jurus andalanmu, Nak! Eyang guru ada di sini nih…! Jangan malu-maluin dong! Mana jurus andalanmu! Ayo, lepaskan! Maju terus. Satu langkah lagi! Ya, terus….. satu, dua, satu….!”


“Hei, Paman ini nyuruh orang menyerang apa kasih aba-aba orang baris?” hardik Peluh Selayang.


“Hajar dong, Pandu. Hajar…!” seru salah satu anak buah Ratu Peri Sore. Orang itu malahan ditampol mulutnya oleh temannya sendiri, sama-sama bertaring juga.


“Kenapa kau malah memberi spirit lawan! Ketua kita dong yang diberi semangat, guwoblok!”


“O, iya…! Maaf, maaf… aku latah sih!”


Pandu Puber segera tarik napas dan kuatkan ototnya. Ratu Peri Sore melesat dengan gerakan berputar tegak lurus sangat cepat. Pandu Puber lompat ke belakang dengan bersalto satu kali. Lalu ketika kedua kakinya mendarat ke bumi, tangan kanannya menepak paha.


Plaakk…!


Claab…!


Pedang Siluman ditarik dari kaki kanannya.


Slaabb…!


Dan sinar ungunya membuat semua mata terbelalak lebar, terbengong-bengong.


“Hiaaat…!”


Pandu Puber segera melompat menyambut kehadiran lawannya. Pedang bersinar ungu itu dikibaskan tiga kali dengan gerakan cepat. Pandu sendiri merasa tak pernah pelajari jurus pedang seperti itu, sehingga ia sempat menyimpan keheranan. Tapi ternyata tiga tebasan pedang itu tak ada yang berhasil mampu ditangkis lawan.


Bet, bet, caarrs…!


Brrrukk…!


Tubuh Ratu Peri Sore jatuh ke bumi. Tapi ia masih bisa bangkit dan pandangi pedang sinar ungu tersebut. Ternyata dadanya terluka oleh tiga sabetan pedang. Luka itu kepulkan asap ungu. Ratu Peri Sore tertawa cekikikan. Lama-lama tawanya hilang dan wajahnya diam terpaku beku.


“Sudah terbalas….sudah terbalas….! Kau memang cucuku yang oke, Pandu!” terdengar suara bergema di telinga Pendekar Ganjen.


Suara itu tak bisa didengar oleh orang lain. Karena suara itu adalah suara dari Pedang Siluman, jelmaan Kala Bopak, sang kakek tercinta. Rupanya sang kakek merasa puas karena bisa menyentuh tubuh Ratu Peri Sore dan membuat sang Ratu Peri Sore pun tumbang. Asap makin mengepul tebal. Lalu segera lenyap dengan hilangnya jasad Ratu Peri Sore. Terdengar suara gema sang Ratu Peri Sore berseru,


“Kau menang anak manis…! Kau menang! Tapi ingat, aku akan menjelma dengan meminjam jasad orang lain untuk membalasmu…!”


Pandu Puber diam dan hanya tersenyum sambil masih memegangi pusaka kebanggaannya : Pedang Siluman!

__ADS_1


__ADS_2