
Ombak laut bergulung-gulung menuju pantai. Terlihat sesosok tubuh tua berdiri sendirian di tepi pantai. Matanya memandang ke arah laut. Mungkin juga ia sedang terheran-heran melihat air sebanyak itu, sebab biasanya yang dilihat hanya air sebatas di ember.
Tak seorangpun tahu apa sebabnya tokoh tua itu berdiri di pantai sendirian. Yang jelas ia diam tak bergerak sejak tadi. Tongkatnya menancap di pasir pantai. Jubah birunya melambai-lambai bagaikan robekan layar perahu.
Rambutnya yang putih rata seperti jambul kuda itu diikat dengan ikat kepala warna hitam. Jenggotnya tipis, kira-kira hanya dua puluh empat lembar. Kumisnya ikut-ikutan tipis, entah berapa banyak tak sempat ada yang menghitungnya.
Tubuhnya kurus, mungkin sering puasa atau memang nggak pernah punya beras, entahlah! Matanya agak kecil, tapi tajam memandang. Setajam-tajamnya tak setajam ujung bambu runcing.
Kakek jubah biru bertongkat hitam itu hanya menarik napas, karena memang menarik napas mudah dilakukan daripada menarik becak. Hatinya sempat berdecak heran.
Rupanya ia melihat bocah kecil berusia delapan tahun bermain selancar di atas gulungan ombak besar. Papan selancar yang digunakan adalah pelepah daun pisang muda. Bocah bercelana ungu dan berompi pendek ungu pula itu tampak gembira sekali. Tubuhnya melayang-layang mengikuti irama ombak sambil berdiri di atas pelepah daun pisang.
Rupanya sang kakek merasa lebih tertarik dengan tontonan itu ketimbang harus nonton atraksi lumba-lumba.
“Bocah gendeng!” belum-belum sudah mema ki.
“Anak se tan mana dia sehingga mampu bermain ombak di atas selembar daun pisang?!”
Bocah berusia delapan tahun dengan rambut lebat agak panjang berteriak kegiangan. Ombak melambungkan dirinya.
“Yihuuuu…..! Hiaaaah…..! Asyiiikkk….!”
Kakek jubah biru hanya geleng-geleng kepala sebentar. Tapi ia masih diam memandang bocah itu dengan segepok kata di dalam hatinya.
“Daun pisang itu tidak robek sedikitpun, tidak tenggelam walau dipakai berdiri. Apakah bocah itu punya ilmu peringan tubuh? Jika benar begitu, alangkah hebatnya dia? Masih kecil sudah bisa berdiri di atas daun pisang, apalagi kalau sudah besar nanti, mungkin bisa berdiri di atas daun jendela!”
Tokoh tua itu manggut-manggut sebagai pernyataan kagumnya. sebentar kemudian matanya terkesiap agak kaget. Ombak datang lebih besar dan lebih kencang lagi.
Bocah itu masih berdiri di atas gulungan ombak beralaskan daun pisang. tapi kini sang ombak melemparkan bocah itu hingga sang bocah melayang terpisah dari daun pisang. Mungkin sang ombak jengkel sejak tadi diinjak-injak seorang bocah, dianggap sang bocah tak tahu sopan santun. Maka terbuanglah bocah itu dan jatuh di pantai berpasir putih.
“Waaaaoooow.....!”
Buuuhg....!
Tubuh kecil itu terbanting dalam keadaan terlentang.
Sang kakek merasa cemas. Hatinya membatin,
“Wah, mati tuh anak! Setidaknya gegar otak! Jatuhnya dari keadaan yang cukup tinggi.
terbantingnya keras sekali. Celaka. Dia tidak bergerak-gerak. Aku harus segera menolongnya!”
Kakek bertongkat hitam segera mendekat. jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri. Ia menggunakan gerak bertenaga peringan tubuh, sehingga dalam sekelebatan sang kakek sudah tiba di samping bocah bandel itu.
Ternyata bocah itu dalam keadaan matanya terbuka. Melotot tak berkedip. Sang kakek tampak cemas memperhatikannya.
Bocah itu bicara bagai orang kesurupan. Pelan dan datar.
“Aku terbang.....terbang tinggi....! Apakah aku mimpi? Oh, ya.... aku mimpi. Mimpi bertemu kodok laut. Hiii.... menyeramkan. Besar sekali! Rupanya kodok laut itu punya jenggot dan kumis putih.....?”
Sang kakek menepuk-nepuk pipi bocah itu.
Pluk, pluk, pluk.....
“Hei, hei.....sadar. Yang kau lihat ini aku, manusia. Bukan kodok laut!”
Bocah itu sadar dan segera bangkit terluruk. Matanya mempertegas penglihatannya ke arah sang kakek.
“O, iya.....manusia,” gumamnya serius sekali.
Sang kakek menggerutu,
“Sialan! Aku disangkanya kodok laut. Konyol juga bocah ini?! Kalau tak ingat masih kecil, sudah kutampar dia!”
Bocah itu bergegas bangkit, lalu berlari mendekati perairan laut. Sang kakek segera berseru,
“Hoi, mau ke mana kau?”
“Main ombak luncur lagi!” serunya.
Ia tak menoleh sedikitpun. Seakan cuek saja terhadap sang kakek.
Sementara sang kakek penuh kecemasan melihat bocah itu mendekati pelepah daun pisang yang terdampar di pantai juga. Ia tak ingin bocah itu main selancar lagi, sebab menurut perhitungannya permainan itu cukup berbahaya untuk bocah seusia anak itu. maka daun pisang tersebut segera dihantam dengan pukulan jarak jauhnya bersinar merah sebesar lidi.
Claap....!
Braass....!
__ADS_1
Daun pisang itu robek. Karena robeknya kecil-kecil maka dikatakan daun pisang itu hancur.
Bocah berompi ungu kaget dan kecewa. Ia memandang ke arah sang kakek yang sedang bergerak mendekati sambil bawa-bawa tongkat seperti seorang penggembala. Mungkin saja dia memang seorang penggembala ikan di laut.
“Kenapa daun pisangku kau hancurkan, Pak Tua!” protes sang bocah dengan cemberut.
“Dasar orang tua sirik!” gerutunya tambah bersungut-sungut.
“Apakah kau tak jera dilemparkan ombak sekeras itu?! Kepalamu bisa pecah kalau tadi terbentur karang!”
“Pecah ya beli lagi!” jawab sang bocah bersungut-sungut juga.
“Nak, kalau orang mengalami pecah kepala, tidak akan bisa diganti dengan yang baru. Orang itu pasti akan mati, sebab kepalanya pecah.”
“Ah, masa’.....?! Coba kau beri contohnya kalau pecah kepala, Aku ingin lihat apakah kau mati atau tidak!”
“Oooo....bocah gendeng!” gerutu sang kakek.
Dengan suara direndahkan sang kakek bertanya lagi,
“Siapa namamu, Nak?”
“Namamu sendiri siapa, Pak Tua?”
Kakek berambut putih pendek itu tarik napas melihat kebandelan sang bocah. Ia menahan rasa jengkel dengan menatap ke arah lain sebentar. Setelah dirasakan memperoleh kesabaran, iapun kembali memandangi bocah itu.
“Kau bisa memanggilku Ki Panut Palipuh.”
“Siapa? Ki Parut Melepuh?”
“Ki Panut Pelipuh! Budek!” sentaknya jengkel.
“Ooo... namamu Ki Panut Palipuh Budek? Aneh sekali nama itu?”
“Budeknya nggak dipakai!” sentak sang kakek makin kesal hatinya.
Sang bocah tertawa cekikikan. Sang kakek cemberut dan buang muka.
“Tapi namamu lebih indah Ki Parut Melepuh kok, Pak Tua. Mudah diingat.”
“Terserah kaulah!” geramnya sambil cemberut.
“Namaku Pandu,” jawab sang bocah.
“Pandu Puber!”
Ki Panut Palipuh menatap ke arah dada sang bocah. Baru sadar ia bahwa di dada bocah itu ada tato gambar bunga mawar merah dengan tangkai dan daun dua helai warna biru tinta.
Tentunya karena waktu itu belum ada tinta, maka warna biru itu pasti terbuat dari getah singkong racun. Bagitu menurut perkiraan Ki Panut Palipuh. Ia membatin kata,
"Kecil-kecil sudah bertato.....!”
Gambar bunga mawar itu dulu waktu bayi masih menguncup, sekarang sedikit mekar, namun belum melebar semuanya. Ki Panut Palipuh tidak tahu kalau bocah itu adalah anak Yuda Lelana dengan Murti Kumala, putri raja jin yang bermukim di Pulau Iblis.
“Pandu Puber,” kata Ki Panut Palipuh,
“Kuperhatikan sejak tadi kau sudah sangat lama bermain. Apakah kau tidak takut dimarahi orangtuamu? Sebaiknya kau lekas pulang, pasti ayah dan ibumu mencarimu, Nak!”
“Kau sendiri kenapa tidak pulang, Ki Parut Melepuh? Kuperhatikan sejak tadi kau memandangiku bermain ombak luncur. Apakah kau tidak takut dimarahi oleh istrimu, Pak Tua?”
“Kecil-kecil pandai ngomong juga kau ini?”
“Habis, Ki Parut Melepuh tua-tua juga masih pintar ngomong sih.”
“Wah, wah, wah.....!” Ki Panut Palipuh geleng-geleng kepala, merasa kewalahan menasehati bocah itu. sang bocah juga geleng-geleng kepala dan ikut berkata,
“Wah, wah, wah....!”
Dari arah barat muncul dua orang menunggang kuda. Mereka menuju ke arah Pandu Puber dan Ki Panut Palipuh. derap suara kaki kuda memancing perhatian mereka berdua. Ki Panut Palipuh terkesiap sesaat.
“Gawat! Mereka akhirnya menemukanku juga di sini!” pikir Ki Panut Palipuh.
Maka ia segera berkata pada Pandu Puber,
“Cepat pergi! Cari tempat sembunyi yang aman. Cepat......cepat.....!” sambil mendorong-dorong Pandu Puber.
“Ngapain pergi?! Aku mau lihat kuda kok! Di tempatku tak ada kuda.”
__ADS_1
“Tapi.....tapi mereka orang jahat. Mereka mau menyerangku. Nanti kau ikut-ikutan diserangnya! Lekas pergi sana.”
“Nggak mau!” bocah itu ngotot.
“Aku mau lihat kuda!”
Di puncak Gunung Isamaya si bocah tinggal bersama kedua orang tuanya. Tentu saja di sana tidak ada kuda.
Seekor kuda malas mendaki sampai ke puncak gunung yang tinggi itu. Risiko patah tulang dan masuk jurang membuat para kuda enggan bercita-cita ingin ke puncak gunung itu.
Makanya bocah bandel itu kegirangan melihat kuda datang. Seumur hidupnya baru tiga kali itu ia melihat binatang yang bernama kuda.
Ki Panut Palipuh segera tinggalkan bocah itu, menyongsong kehadiran dua orang berpakaian serba hitam. Pikirnya, seandainya terjadi apa-apa biar jauh dari sang bocah, jadi sang bocah luput dari salah sasaran. Tapi ternyata Pandu Puber justru mengikuti Ki Panut Palipuh dengan rasa ingin tahu tentang kuda.
Ki Panut Palipuh tak sempat mengusir, karena jaraknya dengan dua penunggang kuda itu sudah cukup dekat. Konsentrasi Ki Panut Palipuh lebih dititik beratkan kepada mereka berdua.
“Akhirnya kita bertemu juga, Ki Panut Palipuh!” ujar salah seorang penunggang kuda yang berambut abu-abu panjang sebatas punggung.
Rambutnya itu diikat dengan tali putih, dikuncir ke balakang. Wajah orang itu cukup angker, karena punya alis naik, kumis melengkung ke bawah, jengot gersang alias tak ada.
Wajahnya lonjong seperti timun suri. Matanya kecil berkesan bengis. Senjatanya golok di pinggang kiri.
“Rupanya kau masih penasaran padaku, Jabang
Demit!” Orang yang di sampingnya menyahut,
“Sebelum kepalamu terpenggal kami tetap memburumu, Panut Palipuh!”
Orang yang bicara agak kasar itu berpakaian hitam-hitam juga. Usianya agak muda dari Jabang Demit. Tanpa kumis, tanpa jenggot, tanpa alis, sehingga wajahnya seram tapi lucu. Rambutnya pendek berwarna hitam, jidatnya lebar sehingga seperti batok depan. Matanya bulat sehingga seperti kacang atom raksasa. Tubuhnya lebih gemuk dari Jabang Demit. Ia bersenjata kapak lebar bergagang panjang. Kapak itu putih berkilauan terkena pantulan sinar matahari.
Tentu saja tajamnya bukan hanya bisa untuk mencukur jengot tapi juga bisa untuk mencukur kepala manusia. Ujung kapak itu runcing seperti mata tombak. orang itu berjuluk si Mayat Melambai, karena wajahnya lebar tanpa kumis, jenggot dan alis itu mirip wajah mayat.
“Mayat Melambai, kau mendesakku untuk menghabisi nyawamu! Jangan salahkan tongkatku kalau sampai membuat kepalamu remuk seketika!”
Wuuut...! Wuuut...!
Jleg, jleg...!
Kedua orang itu melompat turun dari punggung kuda.
Jabang Demit yang berusia sekitar enam puluh tahun dan berbadan lebih kurus dari Mayat Melambai itu mendekati Ki Panut Palipuh, berhenti dalam jarak lima langkah. Tangannya mulai memegang gagang goloknya, tapi belum mencabut sang golok.
“Panut Palipuh, sekali lagi kuingatkan, lebih baik kau menyerah dan kuserahkan kepada sang Adipati, daripada kepalamu saja yang kuserahkan!”
“Kali ini kami tidak main-main, Panut Palipuh!” timpal si Mayat Melambai.
Ki Panut Palipuh hanya sunggingkan senyum sinis. Matanya sempat melirik ke arah Pandu Puber. Bocah itu mendekati kuda dan mengamati-amati dengan tersenyum-senyum girang. Sejenak kemudian ia berlari menemui si Mayat Melambai dan mengguncang-guncang lengan orang itu sambil berkata,
“Paman, Paman.... kudamu itu jantan apa betina?”
“Diam kau!” bentak si Mayat Melambai.
“Yaaa.... gitu aja marah,” ujar Pandu Puber.
“Akukan cuma ingin tahu, kudamu jantan atau betina. Sebab sejak tadi melirikku terus!”
Plakk.....!
Mayat Melambai mengibaskan tangannya, menampar wajah Pandu Puber. Tamparan itu kena di wajah dan membuat Pandu Puber terpental jatuh. Tapi bocah itu tidak mengaduh atau meringis kesakitan. Ia hanya menggigit bibir dan segera berdiri lagi.
“Apakah itu cucumu, Panut Palipuh?!” hardik Mayat Melambai.
“Bukan!” jawab Ki Panut Palipuh tegas.
“Jangan libatkan anak itu!”
Jabang Demit menyeringai kegirangan bagaikan mendapat ide baru. Ia berkata kepada Mayat Melambai,
“Tangkap bocah itu, biar si tua peot mau dipenggal atau diserahkan kepada sang Adipati!”
Mayat Melambai ragu dan mendesah,
“Ah, dia cuma anak-anak!”
“Hei, biar dia anak-anak tapi bisa buat pemancing kelemahan si Panut Palipuh! Kau mau hadiah besar nggak sih?!”
“Kuingatkan sekali lagi, jangan libatkan anak itu!” sentak Ki Panut Palipuh.
__ADS_1
Tetapi rupanya Mayat Melambai segera tertarik dengan ide barunya Jabang Demit. maka ia segera bergerak menyambar Pandu Puber.
Wuuuttt...!