
Sepasang mata kecil seperti biji pete muda, mengintip dari balik celah dedaunan. Suara gemuruh air terjun terdengar samar-samar karena jaraknya agak jauh. Tapi dari tempat pengintaiannya bisa terlihat jelas. Sepasang mata tua itu menatap ke arah tiga orang penghuni puncak Gunung Ismaya.
Tiga orang itu adalah seorang pemuda dengan pakaian ungu muda berbintik-bintik putih seperti tetesan embun. Rambutnya punk-rock, depan pendek belakang agak panjang. Pemuda itu berusia sekitar tujuh belas tahun. Memakai anting cepit warna putih metalik, berukuran kecil, di telinga kiri. Sabuknya hitam, celananya yang ungu juga itu bertiras tepiannya. Di dada pemuda itu ada tato gambar bunga mawar merah sedang mekar, tangkainya biru. Tato itulah yang menjadi lambang dan cirinya sebagai Pendekar Ganjen yang bernama Pandu Puber.
Gelar pendekarnya baru saja diperoleh setelah menyelesaikan skripsi pertarungan dengan Pendekar Samurai Cabul. Beberapa tokoh dunia persilatan sempat nonton pertarungan itu, sehingga mereka tahu bahwa orang tertinggi ilmunya untuk saat itu telah ditumbangkan oleh seorang pemuda tampan yang bernama Pandu Puber. Otomatis gelar kependekaran sekarang berpindah ke tangan Pandu Puber. Dan nama Pendekar Ganjen pun mulai menyebar dari mulut ke mulut, dari kuping ke kuping, dari hidung ke hidung, pokoknya dari mana saja berita itu tersiar tanpa iklan segala.
Tapi ada pula pamflet-pamflet tertempel di setiap pohon, gardu ronda, dinding cadas, dinding kedai dan di mana-mana.
Pamflet itu berbunyi;
Pendekar Samurai Cabul telah ditumbangkan.
Sekarang orang tertinggi ilmunya dan layak menjadi pendekar adalah Pandu Puber, bergelar Pendekar Ganjen.
Yang tua diganti yang muda.
Entah siapa yang bikin pamflet tulisan seperti itu, yang jelas bukan pekerjaan Pandu Puber sendiri.
“Anak siapa Pandu Puber itu?”
“Anaknya Kang Yuda Lelana itu lho!”
“Yuda Lelana yang mana?”
“Yang jadi suaminya Mbakyu Murti Kumala. Masa’ nggak tahu sih?”
“Murti Kumala itu yang mana?”
“Yang anaknya raja jin Kala Bopak itu lho! Ah, masa’ nggak ngerti juga? Itu tuh…..yang jadi penguasa Pulau Iblis.”
Kira-kira begitulah percakapan dari mulut ke telinga dan kembali lagi ke mulut. Banyak yang mendengar, menjadikan suasana penasaran, karena banyak yang ingin melihat seperti apa sih Pendekar Romantis yang bernama Pandu Puber itu? Pihak yang paling banyak menyimpan rasa penasaran adalah pihak wanita.
“Yang benar aja….. masa’ ketampanan Shoguwara si Pendekar Samurai Cabul juga dikalahkan oleh ketampanan Pandu Puber?”
“Walaaah… mbok ya berani disamber kucing beranak seribu deh, aku ini lihat sendiri tampangnya. Benar-benar ganteng dan gagah. Kalau berjalan dadanya maju!”
__ADS_1
“Lha kalau dadanya maju lalu pantatnya ada di mana?”
“Ketinggalan di pasar!” jawab yang ngotot dengan kesal.
“Aku nggak bohong kok. Pendekar Ganjen itu gantengnya melebihi Arjuna!”
“Hidungnya bagaimana?”
“Hidungnya mancung, matanya kebiru-biruan, kulitnya bersih, rambutnya antik, pokoknya kayak orang bule deh!”
“Bule itu apa sih?”
“Bule itu Buaiannya Lembut! Pokoknya kalau kamu lihat dari dekat dan dekat sekali, langsung kamu akan muter kayak gangsing!”
“Karena kagumnya sampai begitu?”
“Karena ditampar sama dia!”
“Apa dia galak, kok suka nampar?”
“Ah, jangan-jangan sama bekas pacarku yang mati tergencet kuda lebih ganteng bekas pacarku itu?”
“Mana bisa?! Nggak mungkinlah, Jreng! Itu sama saja ada monyet bisa ngomong! Yang namanya Pendekar Ganjen, baru dilihat dadanya saja sudah bikin jantungmu mpot-mpotan. Dadanya punya tato kembang mawar lho!”
“Masa’ sih?”
“Iya. Kalau bekas pacarmu kan tatonya gambar kembang api!”
“Ih, aku jadi geregetan, pingin lihat dia deh. Yuk, lihat yuk…!”
“Harus ke puncak gunung dulu.”
“Lho, kenapa ke sana? Apa dia penghuni hutan di gunung itu?”
“Iya. Dia tinggal bersama papi dan maminya.”
__ADS_1
“Kalau begitu dia orang hutan dong!”
“Nggak gitu sih. Tapi…..iya juga ya? Habis tinggalnya di hutan sih, maka pantas dibilang orang hutan, ya? Eh, tapi bukan sejenis pamanmu.”
“Apa maksudmu sejenis pamanku?”
“Maksudku, bukan sejenis kingkong!”
Wah, ramai deh pokoknya. Hampir tiap mulut wanita baik yang tua maupun yang muda pada berceloteh tentang Pandu Puber dan ketampanannya. Malahan ada yang sudah tunangan sengaja mencekcokkan diri dengan kekasihnya supaya pisahan. Maksudnya kalau sudah pisahan dia bebas dekatin Pandu Puber. Tapi sayang sang kekasih tak mau memisahkan diri karena butuh tumpangan hidup di masa depannya.
Nah, dari beberapa orang yang penasaran, ada salah seorang yang nekat mendaki Gunung Ismaya. Tapi bukan perempuan. Yang nekat itu seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun. Jadi sudah termasuk tua juga. Cuma karena punya ilmu peringan tubuh seperti kerupuk mekar di penggorengan, maka dia bisa mencapai puncak Gunung Ismaya. Orang itu berpakaian kuning dalam bentuk pakaian jubah, rambutnya kribo tapi beruban tak rata, kumisnya sedikit, hanya di ujung-ujung saja dan tipis. Alisnya abu-abu berbentuk lengkung turun. Orang itu di rimba persilatan dikenal dengan nama Loan Besi. Menurut kamus bahasa kuno, Loan itu artinya otot, besi artinya…. ya besi. Jadi Loan Besi sama dengan Otot Besi. Alias robot!
Tapi…..yah, itu hanya nama julukan saja kok. Biar kelihatan serem, gitu! Maklum, orang zaman dulu kalau bikin nama kan sengaja diserem-seremkan. Apalagi hidup di rimba persilatan kalau namanya tidak diserem-seremkan sering disepelein musuh.
Loan Besi kala itu melihat sendiri Pandu Puber berhadapan dengan kedua orang tuanya Yuda Lelana dan Murti Kumala. O, ya Yuda Lelana itu dewa lho. Swear! Dewa asli yang namanya Batara Kama. Karena dia dituduh melakukan pelecehan cinta, sering mengganggu para bidadari, maka dia diusir dari kayangan. Bisa menjadi dewa lagi kalau sudah kawin dengan putri raja jin dan berhasil punya keturunan. Itu janji para sesepuh kayangan yang punya nama Sepeda : Serikat Pengawas Dewa.
Pada waktu Loan Besi mengintip Pandu Puber, keadaaan wajah Pandu Puber sedang suntuk, murung, kendor, pokoknya dirundung duka. Apa sebab? Sebab sang Ayah sudah mendapat ‘panggilan’ dari Kepala Dinas Kedewaan di kayangan, bahwa masa hukumannya sudah berakhir. Sikap dan tingkah laku Yuda Lelana alias Batara Kama selama menjalani hukuman dinilai baik-baik saja, tidak pernah melakukan usaha meloloskan diri dari penjara bumi tempat pembuangannya itu, bersikap baik, berhati sabar, tidak pernah tersangkut masalah hutang kepada siapa saja, dan tidak pernah mabuk-mabukkan atau menghisap rokok terlarang. Jadi, masa hukuman di bumi dipersingkat, akhirnya diputuskan untuk kembali ke kayangan.
Pertimbangan para dewa itupun berdasarkan pula karena Yuda Lelana atau Batara Kama sudah berhasil memperistri anak jin, sudah berhasil mempunyai keturunan, dan keturunannya sudah berhasil meraih gelar ‘pendekar’ dengan cara berbuat baik, bersikap menolong dan mengalahkan kejahatan. Amal baik seorang anak ternyata berpengaruh juga kepada peringan hukuman sang orang tua. Mungkin kalau anaknya brengsek, suka ngompas sana-sini. Yuda Lelana belum tentu mendapat ‘grasi’ atau pengurangan hukuman.
Karena selama ini, Murti Kumala, sebagai istri Batara Kama, menunjukkan sikap yang baik, setianya tinggi, tidak pernah culas, tidak penah ngutang sana-sini, tidak perdah serong kiri serong kanan, tulus cintanya, murni kasih sayangnya, maka pihak para dewa pun memberi bonus istimewa buat Murti Kumala. Bonus itu adalah izin mengikuti suami hidup di kayangan bersama-sama para dewa-dewi. Jadi, Murti Kumala juga berhak ikut naik ke kayangan, demi menjaga agar sang suami di kayangan jangan colak-colek bidadari lagi. Dengan lain perkataan, Murti Kumala di kayangan menjadi Satprinya Batara Kama. Satpri itu artinya Satpam Pribadi.
“Apakah Ibu tidak bisa tinggal bersamaku di bumi, Ayah?” tanya Pandu Puber yang amat sayang kepada ibunya.
“Anakku,” kata Yuda Lelana dalam masa perpisahan itu.
“Ibumu bisa-bisa saja tinggal di bumi, tapi dia akan kehilangan kesempatan untuk hidup di kayangan bersama para dewa-dewi. Kelak kalau kau akhirnya menikah dengan bidadari yang bernama Dian Ayu Dayen itu, kalian sendiri akan naik ke kayangan dan hidup di sana. Lalu ibumu sama siapa? Kalian tidak bisa membawa Ibu naik ke kayangan sana, sebab tiket kalian hanya dua. Nah, sekarang ini, mumpung Ayah punya tiket dua, maka Ibu akan Ayah ajak naik ke kayangan. Biarlah Ibu dan Ayah berangkat duluan, kau ikut kloter berikutnya saja!”
“Jika memang begitu kehendak Sang Hyang Guru Dewa, silakan Ayah dan Ibu berangkat duluan. Nanti saya menyusul belakangan saja,” ucap Pandu Puber dengan nada suara sedih. Wajahnya kian murung, seperti mau menangis.
Sang Ibu berkata
“Anakku, Pandu…… memang berat bagi Ibu untuk meninggalkan kamu, Nak. Tapi kepergian Ibu ini bukan kepergian yang tanpa arti. Kita masih tetap akan bertemu dan hidup bersama di kayangan nanti. Selain itu, ayahmu ini perlu seorang pendamping dan penjaga kenakalannya. Kalau Ibu tidak ikut ke kayangan, ayahmu jadi playboy lagi di sana, nanti dia diusir lagi dan disuruh kawin sama anak jin lagi. Padahal jin-jin zaman sekarang sudah malas beranak. Jadi tabahkan hatimu, Nak. Tataplah jauh ke depan…..masa depan menunggumu, tanah impian ada di sana, trasnsmigrasilah kau ke dunia seberang….”
“Kok pakai transmigrasi segala?” bisik ayahnya.
__ADS_1
“Maksudnya, pindah dari kehidupan sekarang ke masa kehidupan mendatang. Kalau biasanya Pandu hidup didampingi orang tua, sekarang harus berani hidup sendiri. Kalau biasanya ada kesulitan apa-apa mengadu kepada orang tua, sekarang harus mengaasi kesulitan itu sendiri. Niscaya…… menurut para orang tua, kalau kau berani mandiri berarti kau menuju alam kedewasaan. Transmigrasilah dari masa remaja ke masa dewasa, asal jangan ke masa bodoh!”