
Senyum keharuan mekar jelas-jelas di bibir Pandu karena mendengar suara kakeknya. Ia menatap Mirah Duri dan bertanya,
“Apakah kau mendengar suara Kakek?”
“Tidak,” jawab Mirah Duri setelah mempertajam telinganya dengan berkerut dahi dan sedikit memiringkan kepala.
“Tapi aku mendengarnya, Yu Mirah! Aku mendengar jawaban Kakek!” Pandu tampak berapi-api tanda begitu girangnya bisa mendengar suara sang kakek.
“Kek, bicaralah lagi padaku!”
“Kau memang mendengar suaraku, Cu. Hanya kau yang mendengar. Orang lain tak bisa mendengarnya.”
“Berteriaklah, Kek! Teriak yang keras biar Yu Mirah mendengar suaramu!”
“Cucu kurang ajar, kakeknya disuruh teriak-teriak! Nggak mau!”
“Yaah, Kakek….. Sekali saja, Kek. Biar Yu Mirah lega dan ikut gembira! Ayo, berteriaklah sekeras-kerasnya, Kek!”
“Dasar bocah bandel. Biar aku teriak sampai mulutku robek tetap saja tak ada yang mendengarnya kecuali dirimu sendiri. Sebab tali ikatan batin yang ada hanya antara kau dan aku. Sudah, masukkan lagi aku ke dalam kakimu! Cari si Ratu Peri Sore di Hutan Kulit Setan, balaskan kekalahanku kepadanya!”
“Baik, Kek! Aku akan menuju ke Hutan Kulit Setan!” Setelah bicara begitu, ujung pedang bagaikan ditusukkan ke atas lutut samping. Tak ada rasa sakit yang diderita ketika mata pedang ungu itu masuk ke kaki. Yang dirasakan hanya hawa sejuk, dan untuk selanjutnya pedangpun lenyap tersimpan rapat dan aman di kaki kanan Pandu Puber.
“Ku dengar kau akan menuju ke Hutan Kulit Setan, Pandu?”
“Ya, aku harus balaskan kekalahan Kakek. Dia yang suruh aku temui Ratu Peri Sore!”
Wajah Mirah Duri sempat terlihat cemas.
“Hati-hati, dia sendiri sedang mencarimu untuk dijadikan suaminya.”
“Jangan takut, Yu. Aku tak akan tergoda oleh kecantikannya. Sebaiknya Yu Mirah pulang ke Pulau Iblis dan mengabarkan hal ini kepada para penghuni Pulau Iblis, terutama kepada gurumu Ki Parut Melepuh!”
“Ki Panut Palipuh!” ralat Mirah Duri agak jengkel.
“Lagi-lagi kau menyebut nama guruku Parut Melepuh! Gundulmu itu yang diparut sampai melepuh?!”
Pandu tertawa kecil.
“Sejak dulu, sejak kita bertemu saat aku berusia delapan tahunan, aku sudah terbiasa memanggil gurumu Ki Parut Melepuh. Jadi sukar lagi bagiku untuk menyebutnya dengan benar.”
__ADS_1
“Masa bodo, ah!” ujar Mirah Duri yang bersungut-sungut, kemudian merekapun berpisah.
Mirah Duri pulang ke Pulau Iblis. Pandu Puber menuju ke Bukit Tengkuk Hantu, karena di lereng timur bukit itulah terdapat Hutan Kulit Setan.
Jalan terpendek menuju ke sana adalah melewati pesisir utara. Pandu Puber menyusuri pantai sampai berlari cepat menggunakan jurus ‘Angin Jantan’-nya. Di luar dugaan arah yang dituju itu bakalan melewati wilayah kekuasaan Ratu Geladak Hitam. Tak heran ketika ia tiba di perbatasan Benteng Geladak Hitam, ia dicegat oleh dua orang penjaga perbatasan. Karena dicegat, mau tak mau Pendekar Ganjen hentikan langkahnya.
“Tak tahukah kau bahwa tak seorangpun diizinkan memasuki wilayah Benteng Geladak Hitam?!” ujar penjaga perbatasan yang berpakaian coklat muda dan bersenjata tombak bermata kapak dua sisi itu.
“Apakah…..apakah ini wilayah Benteng Geladak Hitam?”
“Benar, Nak,” jawab si baju coklat yang suaranya sedikit serak karena usianya sudah mencapai sekitar lima puluh tahun, tapi masih tegar dan sigap.
“Benteng Geladak Hitam?!” gumam Pandu sambil mengingat-ingat,
“Sepertinya Ayah penah ceritakan tentang Benteng Geladak Hitam. Kalau tidak salah di sini ada penguasanya yang bernama Dardanila dan berjuluk Ratu Geladak Hitam?”
Penjaga yang satunya, berpakaian serba hitam dengan senjata golok lebar berhias benang rumbai-rumbai merah di ujung gagangnya itu segera berkata,
“Sebaiknya pergilah dari wilayah kami. Kami sedang tidak menerima tamu siapapun! Jangan memaksa kami berbuat kasar, Anak Muda.”
Pendekar Ganjen masih tenang. Sikapnya tidak bermusuhan.
“Aku sekedar numpang lewat saja.”
“Aku…..aku kenal dengan penguasa Benteng Geladak Hitam. Kalau boleh aku akan menemui Ratu Geladak Hitam yang bernama Dardanila untuk meminta izin melintasi tempat ini!”
Kedua penjaga saling pandang mendengar nama Dardanila disebut-sebut oleh anak muda yang belum dikenalnya itu. Akhirnya si baju coklat berkata,
“Kami tidak bisa menuruti permintaan. Gusti ratu kami pun tidak bakalan mau menemuimu, Anak Muda.”
“Kenapa? Apa sebabnya?”
“Kau tak perlu tahu!” jawab yang bersenjata golok lebar itu.
“Katakan dulu padanya, siapa tahu dia mau bertemu denganku!”
“Jangan memaksa!” bentak si baju hitam dengan mata melebar. Biar usianya labih muda tapi wibawanya sama tuanya dengan berbaju coklat.
“Kalau kau tak mau pergi dari wilayah kami, terpaksa kami pergunakan senjata untuk bicara!”
__ADS_1
“Apakah senjatamu mampu melukaiku, Paman?”
“Kurang ajar! Hoaaah….!” Bentak si baju hitam sambil melompat dengan ganas dan menyabetkan golok besarnya ke perut Pandu Puber.
Wuuutt…!
Dengan sentakan mundur sedikit melengkung, sabetan golok lebar itu bisa dihindari oleh Pendekar Romantis. Si baju hitam penasaran karena sabetannya meleset, maka ia menyerang lagi dengan tebasan dari atas ke bawah.
Wuuutt…!
Slaapp….!
Kedua tangan Pendekar Romantis dirapatkan di depan wajah, dan tebasan golok lebar dari atas ke bawah itu ditangkapnya dengan dua telapak tangan tanpa garis itu. Golok tersebut terjepit di antara dua telapak tangan. Lalu dengan satu kali sentakan bertenaga dalam tinggi, golok itu dipatahkan dengan mudah.
Traakkk…!
“Edan…?!” bengong pemiliknya melihat golok lebarnya bisa patah dalam satu sentakan. Sedangkan sisa patahannya masih terjepit di tangan anak muda yang tampan itu. Orang berbaju hitam mundur dengan wajah tegang.
“Maju….” Katanya kepada si baju coklat.
“Nggak, ah! senjataku ini masih belum lunas dari masa kreditnya. Kalau ikut-ikutan dipatahkan, wah…….rugi besar aku! Agaknya bocah ini bukan bocah sembarangan. Kita tak boleh keras kepala.”
“Majulah dulu, biar senjatamu sama-sama patah!”
“Nggak mau!” orang berbaju coklat itu justru mundur. Ia bukan takut terluka, tapi takut kalau senjatanya yang masih mengkilap dan tampak baru itu ikut-ikutan patah seperti golok tersebut.
“Paman berdua, aku bicara baik-baik pada kalian dan ingin bertemu Ratu Geladak Hitam dengan baik-baik pula. Kumohon jangan bikin perkara denganku, Paman. Kita sama-sama tak ada yang mau dirugikan, bukan?” kata Pandu dengan bahasa yang enak dan berkesan cuek. Rambutnya yang pendek depan dan panjang belakang itu dikibaskan sebentar memakai tangannya.
“Hmm… hmmm… kami sebenarnya tak diizinkan untuk menerima tamu siapapun, sebab Gusti Ratu sedang sakit.”
“Sakit? Sakit apa?”
“Terkena racun ‘Tua Bangka’. Wajahnya berubah buruk dan tua.”
“Milik siapa racun itu?”
“Yang jelas bukan milikku,” sahut si baju coklat.
Baju hitam menjawab pula,
__ADS_1
“Racun ‘Tua Bangka’ adalah milik Ratu Peri Sore. Ratu kami bertarung dengan Ratu Peri Sore beberapa waktu yang lalu, dan….”
“Sudahlah, bawa aku secepatnya pada ratumu!” desak Pandu tak sabar.