
Pandu Puber lari ke arah Ki Panut Palipuh. saat itu tangan kiri lepaskan pukulan tenaga dalam tanpa sinar.
Wuuukk...!
Beehg!
“Uuhg...!” Mayat Melambai tersentak mundur dengan badan melengkung dan wajah menahan sakit.
Kalau tidak ditangkap Jabang Demit ia sudah jatuh terkapar.
Ki Panut Palipuh mendorong kepala Pandu Puber dengan sentakkan kegemasan.
“Kubilang lari kok malah mendekati mereka! Guuoblok!"
"Uuuh...!” bocah yang disodok kepalanya dengan telunjuk itu tersentak hampir jatuh. Tapi bocah itu hanya menyingkir pelan-pelan sambil bersungut-sungut dan melirik dongkol.
“Ke parat betul kau, Panut Palipuh! Hiaaah...!”
Mayat Melambai menyerang dengan kapaknya. Satu lompatan mengarah kepada kakek berjubah biru itu. Kapaknya berkrelebat menebas kepala sang kakek.
Wuungg...!
Traakk....!
Kapak itu terhenti sebelum melintasi kepala karena dihadang oleh tongkat hitam. Tongkat berujung cabang itu menahan gerakan kapak yang ditekan dengan disaluri tenaga dalam. Ternyata tongkat itupun beraliran tenaga dalam tinggi.
Mereka saling kerahkan tenaga dalam hingga tubuh mereka bergetar dan pertemuan tongkat dengan kapak itu mengepulkan asap putih samar-samar.
Pada waktu itu, Jabang Demit segera berkelebat menangkap Pandu Puber. Bocah itu menjerit,
“Nggak mau.....! Nggak mau...! Jijik...!”
Wuuut...!
Jabang Demit berhasil menyambar tubuh bocah kecil itu, langsung diraih dalam gendongannya.
Pandu Puber meronta-ronta sambil berteriak.
“Jijik...! Jijik...! Nggak mau...!”
Tangannya bergerak-gerak menghantam wajah Jabang Demit beberapa kali.
Plak, plok, plak, plok, plak, plok....!
“Lepaskan! Lepaskan aku! Geli....geli....!” teriaknya meronta-ronta.
Jabang Demit segera melepaskan dengan cara membuang bocah itu.
Weerrr...!
Pandu Puber jatuh terduduk di pasir.
Buuuhg....!
Sedangkan Jabang Demit langsung duduk di gundukan batu setinggi pantatnya.
“Hiaaah...!”
Mayat Melambai menyentakkan kakinya untuk menendang pinggang Ki Panut Palipuh. Tapi kaki Ki Panut Palipuh menyongsongnya sehingga mereka beradu tendangan berkekuatan tenaga dalam tinggi.
Duaarr...!
Mereka terpental karena telapak kaki mereka yang beradu itu memercikkan nyala sinar merah dan menimbulkan gelombang hentakan cukup kuat.
Mayat Melambai jatuh terduduk dan segera bangkit lagi, sedangkan Ki Panut Palipuh hanya terhuyung-huyung ke belakang, lalu tegak kembali denan tongkatnya.
“Jabang Demit...?!” Mayat Melambai terkejut, matanya melebar hampir lompat keluar seperti kelereng mau lepas dari mulut bocah.
“Jabang Demit?! Kenapa kau?! Hei...? Kenapa bisa jadi begini?!”
Ki Panut Palipuh ikut-ikutan terbengong seperti kerbau ompong. Rasa heran tubuh dengan subur di hati kakek berjubah biru itu. Bagaimana tak heran jika melihat wajah lonjong seperti timun suri itu tiba-tiba berubah bengkak seperti labu siam?
Jabang Demit tak bisa bicara karena menahan sakit. Tulang pipinya bengkak dan membiru, seprti habis dihantam dengan palu besi.
Jidatnya juga membengkak besar sebelah kanan. Biru matang, bahkan tampak empuk seperti mangga golek mau busuk. Mulutnya juga bengkak membiru, bibirnya melepuh besar. bahkan bibir bawahnya pecah.
Giginya ada yang rontok dua, sehingga saat menyeringai ia tampak ompong. Pelipis kanannya seperti habis dibenturkan ke pilar beton beberapa kali. Bukan hanya bengkak namun juga lecet-lecet.
Matanya yang kecil menjadi lebih kecil lagi karena tulang matanya ikut membengkak besar. Praktis wajah Jabang Demit menjadi dua kali lebih besardari bentuk aslinya.
Pembengkakan itu terjadi tidak merata, sehingga wajah itu berkesan pletat-pletot.
__ADS_1
“Jabang Demit, katakan apa sebabnya wajahmu jadi bonyok dan simpang siur begini, hah?! Siapa yang melakukannya?! Siapa?!”
Jabang Demit tak bisa bicara karena kebesaran bibir.Tapi tangannya menuding ke arah Pandu Puber yang berdiri di samping gugusan batu karang dengan menundukkan kepala, antara takut dan benci.
“Bocah cilik itu?! Hanya bocah sekecil itu kau bisa dibuatnya seperti ubi raksasa begini?! Ah, yang benar aja, Bang....!” ujar Mayat Melambai tak percaya.
Ia tak melihat kala Jabang Demit menggendong Pandu Puber dan anak itu meronta sambil memukul-mukul wajah Jabang Demit.
Rupanya pukulan itu punya kekuatan hebat tersendiri yang mampu membuat wajah Jabang Demit menjadi seperti kentang rebus.
Ki Panut Palipuh sendiri tak percaya kalau Jabang Demit rusak parah gara-gara bocah sekecil Pandu Puber. Ki Panut Palipuh hanya pandangi bocah itu, dan sengaja membiarkan Mayat Melambai menghampiri si bocah.
“Benar kau yang mengacak-acak wajah temanku itu, hah?!” bentak Mayat Melambai kepada Pandu.
Karena bocah itu diam saja dan menunduk, Mayat Melambai terpaksa jongkok di depan Pandu Puber.
“Hei, dengar! Jawab pertanyaanku! Benar kau yang membuat wajah temanku jadi bonyok begitu, hah?!”
“Benar!” jawabnya menyentak dengan wajah tampak memendam kebencian.
“Anak se tan kau, ya! Hihh....!”
Wuutt...!
Tangan Mayat Melambai berkelebat menampar wajah Pandu Puber.
Ploook...!
Wajah cilik itu telak sekali terkena tamparan. Tapi tubuh sang bocah hanya guncang ke kiri, lalu tagak lagi.
Bocah itu tidak menangis, tapi malahan memandang dengan berani. Ki Panut Palipuh sengaja membiarkan karena menjadi semakin kagum melihat keberanian bocah itu.
“Kenapa kau rusak wajah temanku itu, hah?! kenapa?!” bentak Mayat Melambai.
Wajahnya yang tepat ada di depan Pandu Puber itu segera ditabok dengan seenaknya.
Plook...!
Lalu bocah itu lari ke tempat lain dengan ketakutan. Ia bersembunyi di balik gundukan batu lainnya.
Mayat Melambai diam mematung begitu terkena tabokan tangan si bocah. Tubuhnya gemetar karena menahan rasa sakit.
Ki Panut Palipuh terbelalak. Rupanya tabokan tangan bocah itu membekas hitam di wajah lebar Mayat Melambai.
“Aaaoowww...! Panasss...! Panasss...!” ia berlari ke tepi pantai dan menghamburkan diri,menceburkan wajah ke permukaan air laut.
Jooosss...!
“Uuuaaowww...!” ia menjerit semakin keras karena rasa perih tidak tertahankan lagi. Luka bakar terkena air garam, ya tentu saja perihnya setinggi langit. Dasar guuoblok!
Akibatnya wajah itu kian memborok dan menjijikkan. Mayat Melambai kebingungan, salah tingkah sendiri, tak tahu harus mengatasi rasa sakit dengan apa.
“Uuuh...! Uuuh...! Aauuhh...! Jabang Demit, cepat pergi dari sini! Ada anak se tan! Cepat pergi....! Aaauuh...!”
Jabang Demit tak bisa bilang apa-apa, ternyata kepalanya makin membengkak. Lebih besar lagi dari tadi. Bahkan jalannya meraba-raba karena matanya tertutup tulang dan kulit kelopak yang membengkak.
Dua ekor kuda berlari meninggalkan pantai. Ki Panut Palipuh diam terpaku memandangi kepergian orang-orang yang mengincar kepalanya itu. Kakek tua tersebut masih terheran-heran dan nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Maka, sesaat kemudian ia mendekati Pandu Puber yang sudah muncul dari tempat persembunyiannya di balik sebongkah batu besar. Pandu Puber masih cemberut, seakan takut disalahkan oleh Ki Panut Palipuh.
“Bagaimana mungkin kau bisa membuat mereka lari terbirit-birit? Mereka orang-orang bayaran sang Adipati yang ilmunya tidak rendah. Mereka kebal dengan pukulan bertenaga dalam. Kalau toh luka tidak sampai begitu. Tapi kau…..? Kau hanya sekali tabok saja bisa bikin wajah si Mayat Melambai menjadi memborok bagitu? Siapa kau sebenarnya, Nak!”
Pandu Puber diam menunduk, mulutnya runcing karena cemberut. Sikapnya seakan mewakili batinnya yang tak mau disalahkan.
Ki Panut Palipuh segera meraih kedua tangan Pandu Puber. Telapak tangan itu diperiksanya. Ki Panut Palipuh terbelalak. Ternyata telapak tangan bocah itu tidak mempunyai garis sedikitpun, kecuali hanya pada bagian ruas-ruas jari saja.
Telapak tangan itu mulus tanpa lipatan apapun, seperti permukaan paha perawan. Putih dan lembut. Selembut kulit bayi. Telapak tangan Ki Panut Palipuh juga lembut seperti kulit bayi, tapi bayi gorila.
“Tangannya tak bergaris?! Kehebatan inikah yang membuat wajah Mayat Melambai sekali tabok langsung bonyok?!” pikir Ki Panut Palipuh.
Tiba-tiba dari arah hutan pantai terdengar suara seruan memanggil.
“Guru…..! Guru….!”
Ki Panut Palipuh berpaling, Pandu Puber segera angkat wajah dan memandang ke arah orang yang berseru.
Ternyata seorang gadis berpakaian kuning dengan ikat pinggang merah, rambutnya dikepang dua. Cantik dan mungil. Usianya sekitar dua puluh tahun.
“Mirah Duri….? Ada apa kau kemari?!” Ki Panut Palipuh agak tegang karena gadis itu berlari-lari dengan wajah tegang.
“Guru, orang-orang Rampok Tulang menyerang ke perguruan! Mereka mencari guru. Katanya mereka akan penggal kepala Guru untuk mendapatkan hadiah dari sang Adipati Sihombreng!”
__ADS_1
“Bagaimana dengan yang lain?”
“Yang lain lari entah pada ke mana, tak mau pada kasih alamat, Guru! Yang jelas, perguruan kita sudah diobrak-abrik oleh orang-orang Rampok Tulang!”
Pandu Puber yang tertarik dengan kehadiran gadis cantik itu ikut bertanya,
"Yang dirampok tulangnya siapa, Yu?”
“Tulangnya mbahmu!” sentak Mirah Duri.
“Kok mbahku dibawa-bawa….” Gumam Pandu tak berani bertanya lagi.
“Guru, aduuh…. Bagaimana sih? Mereka mengamuk dengan brutal! Mereka mencari Guru. Mereka memperkirakan Guru ada di pantai. Aku takut kalau mereka datang ke mari dan bertemu dengan Guru….!”
Mirah Duri menghentak-hentakkan kaki menandakan kemanjaannya terhadap sang Guru.
“Aku memang sedang diburu oleh sang Adipati. Dia sangat benci padaku dan menyimpan dendam kesumat tak ada habisnya.”
“Kenapa bisa begitu sih?” cemas Mirah Duri.
“Aku membunuh ayahnya dalam suatu pertarungan antar perguruan. Sihombreng waktu itu masih kecil, dan belum tahu bahwa pertarungan itu semata-mata menjaga citra dan martabat perguruan. Setelah dia berhasil menjabat sebagai adipati, dendamnya itu tercurahkan kepadaku. Diperintahkanlah beberapa pembunuh bayaran untuk menangkapku atau memenggal kepalaku. Barang siapa bisa membawa pulang kepalaku akan mendapat hadiah sejumlah emas permata dan uang yang tidak sedikit jumlahnya.”
“Kalau begitu, Guru harus sembunyi! Jangan kembali ke perguruan karena pasti akan banyak orang mencari Guru untuk memenggal kepala Guru!”
“Aku harus menghadapi kenyataan ini, Mirah Duri!”
“Tidak. Tidak! Guru tidak boleh ke sana. Guru harus sembunyi! Tentunya yang mencari Guru bukan orang berilmu rendah saja. Guru harus bersembunyi!”
“Sembunyi ke mana?!”
Pandu Puber menyahut,
“Ke rumahku saja, Ki!”
“Memangnya kau punya rumah?” ejek Mirah Duri.
“Punya dong! Apa dikiranya aku anak celeng, kok nggak punya rumah?!”
“Rumahmu di mana?”
“Di puncak gunung!” jawab Pandu Puber dengan nada bangga.
“Gunung apa? Di sini banyak gunung!”
Pandu Puber melengos.
“Yang jelas bukan gunungmu. Itu gunung ayahku!”
“Memangnya ayahmu punya gunung!”
“Punya! Sebelum aku lahir, Ayah sudah membeli
gunung dua.”
“Bohong!” sentak Mirah Duri yang masih kekanan-kanakan.
“Nggak percaya ya sudah. Tanyakan saja pada ibuku.”
Pandu bersungut-sungut.
Ki Panut Palipuh bertanya,
“Pandu Puber, di puncak gunung apa kau tinggal bersama kedua orangtuamu itu?”
“Di Gunung Ismaya!”
“Hahh…?!”
Ki Panut Palipuh terkejut, matanya memandang murid perempuannya yang manja dan centil itu.
Mirah Duri juga terperanjat mendengar jawaban Pandu Puber. Tapi ia segera tak percaya.
“Jangan hiraukan jawaban bocah gendeng itu, Guru! Kusarankan Guru minta perlindungan kepada Nyai Kandagi Suri, bekas istri Guru dulu itu!”
“Gengsi, ah…” gumam Ki Panut Palipuh.
“Demi keselamatan Guru, lupakan dulu soal gengsi! Kalau Guru nekat hadapi mereka, ya kalau Guru menang, kalau ternyata Guru kalah dan mati, bagaimana?”
“Kamu kok malah nyumpahin aku mati?”
“Maksudku kalau Guru kalah, lalu tewas, maka Guru tak bisa mewariskan seluruh ilmu kepada para murid. Lalu siapa nanti yang akan meneruskan dan mengembangkan aliran silat “Cakar Mega” ?”
__ADS_1
Ki Panut Palipuh diam termenung. Hatinya membatin,
“Benar juga…. Kalau aku mati, aliran “Cakar Mega” tak ada yang meneruskan. Tapi, haruskan aku bersembunyi di balik jubah bekas istriku Kandagi Suri itu? Gengsi nggak ya?”