Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Menyembuhkan Ratu Geladak Hitam


__ADS_3

Rasa ingin tahu kelemahan Ratu Peri Sore membuat Pandu akhirnya mengalah. Ia tak mau bersitegang karena sumpah serapah Dardanila tadi.


Tentu saja kata-kata Pandu yang menyatakan kesanggupannya melenyapkan racun ‘Tua Bangka’ membuat hati Dardanila bersemangat lagi dan wajah kempotnya berseri-seri.


Pandu Puber segera dibawanya ke ruang bawah tanah, sebuah ruang semadi dan peristirahatan Dardanila yang tersembunyi. Dulu, Yuda Lelana pun pernah dibawanya ke ruang bawah tanah yang mempunyai kolam berair mancur di tengah itu. Ruangan tersebut tetap terawat rapi dan menimbulkan kesan magis tersendiri bagi orang yang tinggal di dalamnya.


Hanya Dardanila dan Pandu yang masuk ke ruangan tersebut. Memang tidak semua tamu dibawa ke sana oleh Ratu Geladak Hitam. Hanya tamu khususnya yang diajak ke ruang tersebut. Buat Dardanila, Pandu adalah tamu khusus dan istimewa, sehingga pemuda itu dibiarkannya memandangi ruangan itu dengan bebas, bersikap seenaknya seperti tempatnya sendiri.


“Apakah ayahmu pernah cerita tentang ruangan lain?”


“Sepintas,” jawab Pandu.


“Tapi ayah tidak sebutkan kalau ruangan ini punya hawa yang nyaman. Ayah hanya bilang Ratu Geladak Hitam punya tempat rahasia di bawah tanah.”


“Hanya itu?”


“Ya. Apakah ayahku pernah masuk ke mari?”


“Belum. Tapi aku pernah ceritakan tempat ini padanya,” jawab Dardanila berbohong dengan maksud yang amat peribadi.


“Boleh aku numpang cuci muka di sini?”


“Silahkan!” kata Ratu Geladak Hitam dengan suara tuanya.


“Kalau kau mau mandi pun boleh, asal jangan bersama pakaianmu.”


Terkekeh sendiri sang Ratu Geladak Hitam, sementara Pandu Puber hanya sunggingkan senyum kecil. Lalu ia membasuh wajahnya dengan air kolam tersebut karena udara panas selama di pantai membuatnya tak tahan merasakan wajah berkeringat.


Dardanila hanya perhatikan saja sambil senyum-senyum.


“Bagaimana caramu mengobatiku nanti?” tanya Dardanila setelah Pandu selesai cuci muka dengan air kolam tersebut. Di sela gemericik suara air mancur di tengah kolam, Pandu Puber berkata.


“Baringkan tubuhmu di ranjang batu itu. Jika merasa kantuk dan ingin tidur, nikmati saja. Jangan ditentang.”


Tubuh tua berkeriput segera naik ke pembaringan batu marmer yang dilapisi semacam kasur empuk dan nyaman. Napasnya terengah-engah, padahal hanya jalan dari tepi kolam ke pembaringan dan naik ke atas pembaringan itu. Sepertinya pekerjaan tersebut amat melelahkan bagi napas tua Dardanila.


“Sial? Kenapa perasaanku jadi gelisah begini, ya?” pikir Pandu secara diam-diam.


“Wah, ada yang nggak beres nih! Jangan-jangan Ratu Peri Sore muncul di sini?! Kalau begitu aku harus buru-buru sembuhkan Dardanila dulu!”

__ADS_1


Sinar bening putih seperti kaca memancar dari jari tengah Pandu Puber. Sinar itu berjalan dari kening Dardanila sampai ke dada, dan terus menyusuri sampai ke perut, bahkan kedua kaki Dardanila ikut disusuri sinar tersebut. Mata perempuan tua itu terpejam, tangan terkulai lemas di samping.


Cara pengobatan seperti itu belum pernah dilakukan oleh Pendekar Ganjen. Tapi apa yang dilakukannya seperti ada yang menggerakkan sendiri. Bahkan tadi ia sempat menduga bahwa Ratu Geladak Hitam akan tertidur, padahal selama ini tak ada pasien yang tertidur jika mendapat pengobatan dari jurus ‘Hawa Bening’-nya. Toh nyatanya Dardanila benar-benar tertidur seperti apa kata Pandu Puber tadi.


“Sial, kok benar-benar tidur, ya?!” pikir Pandu Puber.


“Ah, mumpung ia tidur, kuperiksa dulu seluruh ruangan ini!”


Pandu Puber si Pendekar Ganjen memperhatikan tiap benda yang ada di ruangan itu. makin lama langkahnya makin ke arah lorong menuju ke tangga. Tapi ia tertarik dengan lorong lain sebelum membelok ke arah tangga ke luar. Lorong itu mempunyai penerangan obor yang berjarak renggang, tidak serapat jarak obor di lorong menuju ruang berkolam bening itu.


Zzzz…!


Tiba-tiba Pandu Puber mendengar suara desis seekor ular. Gerakan tubuhnya sangat refleks, cepat balikkan badan dan ternyata ia sudah dihadang oleh seekor ular besar jenis piton. Ular itu adalah peliharaan Dardanila untuk menjebak lawan yang salah masuk. Ular berkulit hitam kecoklatan dengan bentuk loreng yang bermotif indah itu memancarkan pandangan matanya dengan ganas. Mulutnya terbuka sambil sesekali semburkan hawa racun yang ditangkis Pandu Puber dengan kibasan tangan berangin cukup besar.


Wuuukk…!


Zzzz…!


“Lho, ada lagi?!” Pandu Puber terperanjat karena di belakangnyapun ada seekor ular jenis piton juga berbadan lebih besar lagi dan tampak ganas. Agaknya ular yang baru saja muncul di belakang Pandu itu berjenis lelaki. Ular itu tampak lebih ganas dan ingin marah kepada Pandu.


“O, ceritanya kamu cemburu, gitu? Amit-amit deh! Aku nggak bakalan merayu betinamu, tahu?!”


Zzzz…!


Wuuukkk…!


Uap itu terusir dan menyebar ke dinding lorong. Mata Pandu terbelalak tegang melihat dinding lorong menjadi hangus akibat terkena uap beracun itu.


“Wah, kayaknya sih bukan ular sembarang ular nih! Kalau nggak segera dibereskan, bisa-bisa aku jadi santapan mereka berdua!” kata Pandu membatin.


Kedua ular dari arah itu bergerak pelan-pelan mendekati Pendekar Ganjen, seakan menunggu peluang bagus untuk menyerang.


Melihat si jantan bergerak lebih cepat dan beberapa kali menyemburkan uap racun yang dapat menghanguskan dinding batu itu, tangan Pandu Puber segera bergerak menyentak ke depan.


Wuutt…!


Claapp…!


Sinar putih perak melesat dari tangan itu. Jurus ‘Inti Dewa’ digunakan dengan cepat dan refleks sekali. Sinar putih itu menghantam kepala si jantan dan….daar! Kepala ular hancur bersama badannya menjadi serpihan serat- serat pendek seperti abon.

__ADS_1


Melihat si jantan dihancurkan, ular betina marah. Ia maju melompat bagaikan terbang menyerang Pandu dengan badan gemuk dan kepala besarnya.


Wuuss…


Pendekar Ganjen tak punya kesempatan untuk menghindar ke samping kanan-kiri. Ia hanya melompat mundur tiga tindak menghindari serangan ular aneh tersebut. Kilatan cahaya putih perak dipergunakan lagi oleh Pandu Puber.


Claapp…. Duarr…!


Dinding lorong guncang lagi, tapi tak keras. Kepala ular betina hancur bersama badannya menjadi serat-serat serupa abon daging ular. Dinding lorong menjadi merah karena percikan darah kedua ular tersebut.


Pandu Puber segera keluar dari lorong itu dan kembali ke ruang luas berkolam. Ia mencuci lengannya yang terkena percikan darah ular amis. Selesai mencuci tangannya, mata Pendekar Romantis menjadi terperanjat memandang ke arah pembaringan.


Tubuh yang ada di atas pembaringan ternyata sudah bukan lagi tubuh tua peot dan kempot. Tubuh yang ada di pembaringan adalah tubuh sekal berwajah cantik jelita. Dada montok menantang, kulitnya putih mulus, bibirnya sangat sensual dan bulu matanya cukup lentik. Pendekar Ganjen bagaikan terpaku di tempat memperhatikan sosok muda Dardanila yang telah terbebas dari racun ‘Tua Bangka’ itu.


“Gila! Rupanya ini wajah dan kecantikan Dardanila sebelum terkena racun? Wow….! Macan juga perempuan itu. oh, dadaku bergemuruh makin cepat.”


Pandu Puber mulai melangkah dekati ranjang dengan pelan-pelan. Matanya masih tak berkedip dan sedikit lebar dari biasanya. Dadanya semakin terasa bergemuruh hingga menggetarkan tubuh. Ada tuntutan batin yang mendesak amat kuat dan ingin menjebol kepala jika tak dituruti.


Tiba-tiba sebelum Pendekar Ganjen mencapai ranjang itu, Dardanila terbangun. Lalu segera sadari keadaan dirinya yang telah pulih kembali itu. Ia tampak gembira. Ia tertawa-tawa kecil sambil meraba wajahnya sendiri untuk meyakinkan kecantikannya yang sudah dua bulan sirna itu. Ditatapnya Pandu dan iapun berkata,


“Aku telah kembali cantik seperti sebelum terkena racun itu! Aku cantik, bukan?!”


Pandu malah jadi panik sendiri dalam mengangguk-angguk.


“Iyy…iya…iya cantik sekali. Hmm….wah iya….cantik juga ya?”


Mata datar Pandu mengingatkan Dardanila saat si tampan itu mencuci muka dengan air kolam.


“Dia telah terjerat oleh kekuatan mesra air kolamku. Dia tak tahu kalau air kolam itu akan membuat lelaki manapun yang menyentuhnya akan bergairah padaku dan menuruti apa perintahku selama belum tercurahkan hasrat kejantanannya. Oh, benar-benar hari ini aku menikmati keberuntungan yang berlipat ganda…!” ujarnya di dalam hati.


“Pandu, cepat mendekat ke mari!” perintah sang Ratu.


Pandu tidak menolak. Pandu mendekat dengan terburu- buru. Perempuan itu masih duduk di tepi pembaringan. Menatap dengan bayangan sinar cinta yang menggelora, sedangkan sinar mata Pandu semakin menampakkan hasrat bercumbu yang menggebu-gebu.


“Cium lututku, Pandu…!”


Perintah itu benar-benar dilaksanakan oleh Pandu Puber. Dengan pelan disingkapkan kain jubah tipis itu dan pelapis tubuh sebatas betis itu. Diciumnya lutut Dardanila.


“Lepaskan semuanya, Pandu.” Bisiknya meminta, dan Pandu patuh kepada perintah itu karena terperangkap kekuatan gaib dari air kolam. Apa saja yang diperintahkan Dardanila dikerjakan oleh Pandu tak memikirkan harga dirinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2