
Tiga orang utusan dari Pulau Iblis nyaris menghancurkan benteng Geladak Hitam. Hebat juga? Hanya tiga orang saja bisa bikln Geladak Hitam morat-marit, apalagi kalau enam orang? Mungkin benteng Geladak Hitam bisa didongkel dan diusung ke lautan sana!
"Satu orang Pulau Iblis sama dengan delapan orang Geladak Hitam," kata Dardanila mengakui kehebatan lawannya.
Yuda geleng-geleng kepala.
"Padahal satu orang Geladak Hitam sama dengan dua orang Perguruan Sekar Bumi, ya? Berarti satu orang Pulau Iblis sama dengan enam belas orang Perguruan Sekar Bumi? Wow... luar biasa kuatnya perbandingan itu."
"Itulah sebabnya aku tak berani mengejar mereka ke Pulau Iblis. Ilmukusama dengan sesendok garam di lautan bagi Raja Kala Bopak. Tiga orang seperti aku baru bisa menandingi anak buah Raja Kala Bopak yang kelas rendah. Bisa kau bayangkan alangkah saktinya Raja Kala Bopak itu."
"Tunggu, tunggu... kubayangkan dulu!"
Tiga hari lamanya Yuda Lelana tinggal di benteng Geladak Hitam. Ia banyak membicarakan tentang Pulau Iblis dan Raja Kala Bopak, dan Ratu Geladak Hitam tak segan-segan menceritakan kekuatan yang ada disana.
Pengalaman Dardanila diserang orang-orangnya Raja Kala Bopak membuat perempuan tua yang awet muda itu menjadi jera jika mendengar nama Raja Kala Bopak. Baginya sesuatu yang sangat beruntung jika ia bisa terdampar dan mendirikan benteng di muara itu ketimbang harus menjadi buronan Raja Kala Bopak.
"Teropong batin Raja Kala Bopak sangat kuat, khususnya jika ia ingin mengenali pusaka-pusaka dan kitab-kitab penting yang dimiliki seseorang. Salah-salah orang yang berhadapan dengannya dapat buta mendadak jika kekuatan saktinya meluncur lewat
pandangan mata," tutur Ratu Geladak Hitam.
Yuda Lelana hanya manggut-manggut tanpa ada rasa kagum dan takut sedikit pun. Pada akhir percakapan, Yuda Lelana mengatakan,
"Bagaimanapun kau harus tanggung jawab atas kitab itu. Kau yang mencurinya dari tangan Nyai Sirih Dewi, kau pula yang harus mengambil kembali kitab tersebut dari tangan Raja Kala Bopak."
"Wah, mendingan aku tarung sama Nyai Sirih Dewi sampai mati deh, daripada harus mengambil kitab itudari tangan Raja Kala Bopak!"
"Mengapa begitu?"
"Sudah kubilang berulang kali, Raja Kala Bopak itu sangat sakti. Aku tak mungkin bisa mengalahkannya. Kalau aku datang ke sana, sama saja aku menggali liang kuburku sendiri!"
"Kalau aku yang mendampingimu ke sana, bagaimana?"
"Ah, percuma!" keluh Ratu Geladak Hitam.
"Sama saja buang-buang nyawa tampan. Daripada nyawamu kau buang di sana dengan percuma, mendingan kita manfaatkan untuk merajut keindahan dalam pelukan."
Yuda Lelana hanya tarik napas tak pedulikan senyuman nakal Dardanila.
Seorang penjaga gerbang menemui Ratu Geladak Hitam dengan membungkuk-bungkuk penuh rasa takut. Sang Ratu menatap dengan pandangan tak suka, karena merasa terganggu oleh kehadiran orang itu.
Hatinya sedikit dongkol, karena baru saja sang Ratu mau mencium pipi Yuda, tahu-tahu penjaga gerbang datang dengan terbatuk-batuk dipaksakan.
"Ada perlu apa kau kemari, hah?" gerutu sang Ratu dengan bersungut-sungut.
"Hanya menyampaikan pesan seorang tamu, Gusti Ratu."
"Katakan, aku lagi nggak mau terima tamu!"
"Tamu itu mendesak ingin bertemu, Gusti."
"Ngotot amat sih tamu itu? Siapa orangnya?"
"Nyai Sirih Dewi dan dua murid gadisnya, Gusti!"
"Hah...?l" sang Ratu agak terperanjat, langsung beradu pandang dengan Yuda Lelana.
Apa persoalannya sudah dapat ditebak oleh sang Ratu dan Yuda. Pasti berkaitan dengan Kitab Jayabadra.
"Kau harus menemuinya dan mengatakan yang sebenarnya," kata Yuda.
Perintah itu bagaikan mempunyai kekuatan magis. Sang Ratu tidak dapat menolaknya. Maka ia pun segera menemui Nyai Sirih Dewi yang datang bersama Kutilang Manja dan Peluh Selayang.
Mereka diterima di ruang paseban yang belum selesai diperbaiki. Sisi kiri atapnya masih keropos dan tampak hangus bekas terbakar.
"Ada dua hal yang harus kuminta darimu, Dardanila; kitab dan Yuda!" kata Nyai Sirih Dewi dengan tegas.
Wajahnya menampakkan amarah yang dipendam, demikian pula Peluh Selayang dan Kutilang Manja.
Mulut manis Kutilang Manja jadi seperti tunggir ayam, bersungut-sungut cemberut sambil sesekali melirik Yuda Lelana.
Yang dilirik hanya senyum-senyum saja, tapi segera merenggang jarak dengan Dardanila, karena posisinya yang berdekatan dengan Dardanila tidak disukai oleh Kutilang Manja dan gurunya.
"Soal Yuda, itu terserah anaknya. Apakah dia mau kau bawa pulang ke perguruanmu atau tidak, atau dia kerasan tinggal di sini dalam pelukanku atau tidak, itu terserah yang bersangkutan!"
Bibir Kutilang Manja makin runcing kayak pensil habis diserut. Bahkan terdengar suara gerutunya yang samar-samar,
"Pantas betah, dikeremin terus sih! Dasar buaya cap dodol!"
"Ssst...! Kamu ini ngapain sih, pakai menggerutu kayak gitu segala. Tenang sajalah, tenang...!" bisik Peluh Selayang.
"Aku aja tenang kok, cuma dada mau meledak juga dengar dia sering dipeluk sama perempuan itu!"
"Gue nggak kuat menderita begini!."
"Gue juga nggak kuat. Ntar kita keroyok aja perempuan itu. Kita bikin rujak bebeg biar kapok!"
Sang Guru menyergah,
"Ini apa-apaan slh kok pada kasak-kusuk sendiri?! Kasih kesempatan padaku untuk bicara baik-baik dulu dengannya. Kalau memang dia nggak bisa diajak bicara baik-baik, baru kita hajar bareng-bareng!"
Suara kasak-kusuk itu hilang.
Yuda Lelana hanya tersenyum karena telinganya menangkap suara kasak-kusuk itu. Ia malahan melangkah mendekati Kutilang Manja, tapi Kutilang Manja bergeser plndah ke samping gurunya, seakan ogah dideketin cowok kumal yang bikin hati panas-dingin itu.
Dardanila dan Yuda segera menceritakan peristiwa kedatangan tiga utusan dari Pulau Iblis. Nyai Sirih Dewi semula mau tidak percaya. Tapi dengan melihat atap yang masih hangus dan beberapa bangunan yang belum selesai diperbaiki, akhirnya ia percaya juga bahwa kitab itu dibawa lari oleh tiga utusan dari Pulau Iblis.
"Kau harus bertanggung jawab merebut kembali kitabku itu, Dardanila! Jika tidak, aku akan bikin perhitungan denganmu secara pribadi!" kata Nyai Sirih Dewi dengan hati gundah.
"Aku bersedia bikin perhitungan denganmu sekarang juga, daripada kau paksa aku menemui Raja Kala Bopak! Sekarang apa maumu akan kulayani!"
__ADS_1
"Sabar, sabar...!" sela Yuda Lelana. Dengan kalem ia berkata,
"Soal bikin perhitungan itu soal gampang. Sekarang juga, di sini pun, bisa kalian lakukan dengan hasil yang jelas. Tapi soal merebut kitab itu dari tangan Raja Kala Bopak itu yang perlu dipikirkan. Kalian mati di sini, salah satu atau dua-duanya, percuma saja jika kitab itu masih ada di Pulau iblis. Toh kematian kalian di sini tidak membuat kitab itu pulang sendiri?"
"Lalu apa maksudmu?" tanya Nyai Sirih Dewi kepada Yuda yang dicurigai memihak Ratu Geladak Hitam.
"Aku perlu tahu dulu, kira-kira apa yang membuat Raja Kala Bopak menginginkan kitab itu? Coba katakan perkiraanmu, Nyai."
"Kurasa... kurasa dia punya maksud yang sama dengan Dardanila."
Yuda Lelana memandang Dardanila. Ratu cantik yang selera cintanya belum terpenuhi sejak kemarin-kemarin itu segera berkata,
"Kalau aku sih... cuma ingin menjadikan kitab itu sebagai sandera supaya Perguruan Sekar Bumi pindah dari Bukit Bara. Karena... jujur saja kukatakan kepada kalian, di bawah tanah yang dipakai berdirinya Perguruan Sekar Bumi itu tersimpan tambang emas yang mungkin belum banyak diketahui orang."
Nyai Sirih Dewi dan dua murid gadisnya tidak terkejut, karena sebelumnya mereka sudah mendengar dari mulut Yuda Lelana.
Justru sang Ratu yang merasa heran melihat mereka tidak terkejut dan tidak merasa heran.
"Rupanya kalian sudah tahu, ya?" katanya.
"Mungkin jauh-jauh hari sebelum kau mendarat karena terdampar di sini kami sudah mengetahuinya tentang tambang emas itu. Cuma kami tak punya tenaga untuk menggalinya!" kata sang Nyai sedikit sombongkan diri, padahal ia baru tahu beberapa hari yang lalu.
Yuda Lelana berkata,
"Apakah menurutmu tujuan Raja Kala Bopak juga mengarah pada tambang emas itu, Nyai?"
Napas tua yang masih tegar itu dihela panjang-panjang. Setelah memandang ke arah kedua muridnya tanpa reaksi, sang Nyai berkata kepada Yuda,
"Di dalam kitab itu ada satu ilmu yang sukar dipelajari. Aku pernah mencobanya berulang kali tapi justru hampir mati karena tak kuat menahan kekuatan ilmu tersebut."
"Ilmu apa itu?" tanya Ratu Geladak Hitam.
Rasa ingin tahunya membuat ia memandang sang Nyai dengan kepala menyamping.
"Namanya ilmu 'Pintu Tiga Iblis'. Seseorang yang bisa menguasai jurus-jurus 'Pintu Tiga Ibiis' dapat masuk ke dunia gaib; ke alam kematian, ke alam siluman, dan ke alam kayangan, mendekati Sang Hyang Guru Dewa. Jika seseorang bisa mendekati Sang Hyang Guru Dewa, berarti dia mempunyai tempat khusus di kayangan, mempunyai hubungan dekat dengan para dewa, dan mampu menimba ilmu maha sakti dari Sang Hyang Guru Dewa."
Yuda Lelana hanya manggut-manggut sambil menahan senyum dalam hati. Sebab dunia yang dibicarakan sang Nyai itu adalah dunia yang menjadi tempat tinggalnya sebenarnya. Sekalipun begitu, toh Yuda tetap tenang dan berlagak tidak tahu menahu soal alam kekayangan itu.
Sang Nyai teruskan kata,
"Barangkali Raja Kala Bopak ingin pelajari ilmu 'Pintu Tiga Iblis' untuk dapat menembus tiga alam tersebut. Mungkin dia ingin bisa mencapai ke alam kayangan. Tapi mempelajari ilmu 'Pintu Tiga Iblis', adalah hal yang sulit sekali. Baru sampai pintu pertama kita sudah mental dan terluka parah jika tak kuat-kuat tenaga saktinya."
"Pada waktu itu kau ingin menembus sampai ke alam kayangan?" tanya Dardanila dengan antusias sekali.
"Ya. Aku Ingin masuk ke alam para dewa, selain ingin bertemu dengan Sang Hyang Guru Dewa, juga ingin bertemu dengan salah satu dewa yang menurut nenekku adalah dewa tertampan di antara para dewa. Konon ketampanannya melebihi tokoh pewayangan yang bernama Arjuna. Nama dewa itu adalah Batara Kama!"
Sang Ratu manggut-manggut, dua murid sang Nyai menyimak secara sungguh-sungguh karena baru sekarang ia mendengar cerita tentang isi kitab itu.
Sedang kan Yuda Lelana sedikit salah tingkah ketika namanya disebutkan sebagai dewa tertampan melebihi Arjuna. Ia jadi malu sendiri, karenanya ia segera melengos dan lempar pandangan ke tempat orang yang sedang memperbaiki kerusakan sebuah bangunan itu.
"Jika begitu, berarti Raja Kala Bopak memang ingin menembus tiga lapisan gaib itu dengan mempelajari ilmu yang ada dalam kitab kita, Guru!" kata Peluh Selayang.
"Tapi tunggu dulu," potong Dardanila.
"Apakah mungkin Raja Kala Bopak ingin pelajari ilmu itu untuk menembus tiga lapisan alam gaib, sedangkan Kala Bopak sendiri sebenarnya adalah raja jin?"
Weet...!
Kepala Yuda Lelana cepat berpallng memandang Dardanila begitu mendengar kata 'raja jin' disebutkan.
Matanya memandang tajam dengan dahi mulai berkerut. Lalu terdengarlah suaranya bertanya dalam nada ragu,
"Benarkah... benarkah Kala Bopak itu sebenarnya adalah raja jin?"
"Ya. Dia menjelma menjadi manusia karena dia kawin dengan manusia perempuan. Tapi istrinya sekarang sudah mati. Tinggal anak gadisnya yang bernama Murti Kumala. Anak gadisnya itu tak mau ikut bapaknya, sedangkan sang bapak sangat sayang kepada anaknya. Murti Kumala mau hidup bersama bapaknya jika mereka hidup di alam manusia. Maka Raja Jin itu pun menjelma sebagai manusia dengan nama tetap Kala Bopak. Karena ia menjelma menjadi manusia, maka ia membutuhkan tempat. Tempat yang dipilih adalah Pulau Iblis. Dan dia datang bersama pasukannya menggempurku, mengusir kami, lalu mendiami Pulau Iblis. Itulah sebabnya kukatakan padamu, Yuda, bahwa satu orang anak buah Raja Bopak sama dengan delapan orang benteng Geladak Hitam ini. Karena kekuatan yang mereka pakai adalah kekuatan jin!"
Yuda Lelana manggut-manggut dalam renungannya. Ada percakapan yang terjadi antara Nyai Sirih Dewi dengan Ratu Geladak Hitam, tapi Yuda tak mendengar percakapan itu.
Konsentrasinya tertuju pada sebaris kalimat yang pernah dlucapkan oleh Dewa Hakim:
"Batara Kama boleh kembali ke kayangan dan menjadi dewa lagi apabila ia sudah kawin dengan putri raja jin dan mampu menghasilkan keturunan...."
Setelah merenungi kata-kata itu berulang kali, maka Yuda Lelana pun segera berkata kepada Nyai Sirih Dewi,
"Nyai, kau tak perlu cemas. Aku akan merebut kitab itu dari tangan Raja Kala Bopak!"
"Tidak!" sentak Kutilang Manja.
"Kau tidak boleh ke sana! Itu bukan tanggung jawabmu, Yuda!"
"Aku harus ke sana dan berjanji membawa pulang kitab itu asal kalian berdamai. Antara orang Perguruan Sekar Bumi jangan bermusuhan dengan orang benteng Geladak Hitam!"
"Aku tetap tidak setuju!" Kutilang Manja ngotot keras.
"Kau hanya akan menyumbangkan nyawa bagiraja jin itu jika nekat datang ke Pulau Iblis!"
"Tidak, Kutilang! Percayalah padaku, tidak akan terjadi hal yang kau bayangkan itu. Jangan menyerah dulu, Anak Manis," bujuk Yuda Lelanayang membuat Kutilang Manja akhirnya luluh, tundukkan kepala setelah ditatap tajam oleh Yuda.
Tatapan mata Yuda itu mengandung kekuatan mistlk yang mampu meredakan amarah seseorang dan kekerasan hati siapa pun. itulah jurus 'Mata Dewata' yang selalu mengalir dalam diri Yuda Lelana.
"Ratu," katanya kepada Dardanila.
"Kuambil alih tanggung jawabmu merebut kembali kitab itu, tapi kau harus berjanji untuk tidak mengganggu orang Perguruan Sekar Bumi lagi. Jika kau masih ingin mengganggu mereka, kau akan berurusan denganku lebih parah. Dalam sekejap tempat ini bisa kuratakan dengan tanah. Jika kau mau berdamai, itu lebih baik, dan aku akan membantu kalian untuk menggali tambang emas. Hasilnya bisa kalian manfaatkan bersama tanpa keserakahan."
Sang Ratu diam tak berkata karena terpaku mendengar kata-kata itu dan terpukau menerima tatapan mata Yuda.
Nyai Sirih Dewi juga ditatapnya, dan saat itu Yuda bertanya,
"Apakah kau keberatan untuk berdamai, Nyai?"
__ADS_1
Setelah diam beberapa saat, barulah sang Nyai menjawab,
"Tidak!"
"Bagaimana dengan kau, Ratu?"
"Hmmm... hmmm... ya, baiklah. Aku akan turuti kata-katamu!"
"Nah, jika begitu... aku akan berangkat ke Pulau Iblis sekarang juga."
"Tunggu, kuperintahkan anak buahku untuk mempersiapkan kapal dan pengawalnya," kata Dardanila.
"Tak perlu serepot itu, Ratu. Aku akan berangkat sendiri."
Yuda Lelana tempelkan kedua telapak tangannya di dada. Berdirinya lurus dan tegak. Tiba-tiba,
claaap...!
Ia berubah menjadi sinar terang yang menyilaukan, membuat mereka tersentak mundur sambil menyilangkan lengan di atas kepala, menahan silaunya sinar putih itu. Dan ketka sinar putih itu lenyap, sosok Yuda Lelana yang kumal pun lenyap tak berbekas.
"Dia hilang...?!" sentak KutilangManja.
Mereka terbelalak dan terbengong. Lebih terbengong lagi setelah melihat atap ruang paseban yang rusak hangus itu ternyata telah berubah menjadi seperti semula.
Bangunan yang sedang dlperbaiki itu tiba-tiba utuh kembali tanpa cacat sedikit pun. Keadaan yang porak poranda, bekas sisa kebakaran, menjadi mulus bagaikan tak pernah terjadi peristiwa maut di situ.
"Siapa sebenarnya bocah kumal itu?!" gumam Ratu Geladak Hitam.
Rasa kagum, heran, takjub, takut, sungkan, semua bergumul menjadi satu di dalam hati setiap manusia yang ada di situ.
Hal yang mengejutkan sekali adalah munculnya para korban yang telah dimakamkan akibat pertarungan dengan tiga orang utusan Pulau Iblis itu.
Sang Ratu tidak bicara sedikit pun melihat mereka datang dalam keadaan segar bugar tanpa luka sedikit pun.
Bahkan tangan Adu Polo yang buntung itu menjadi pulih seperti sediakala. Utuh tanpa luka, kecuali tiga panu yang di lengannya dari dulu itu.
Telinga Kebo Tumang sendiri menjadi seperti semula, seperti tak pernah terpotong oleh kekuatan dahsyat tangan Yuda Lelana.
"Gusti, Gusti... telinga saya tumbuh lagi! Lihat... telinga saya tumbuh lagi," teriak Kebo Tumang yang berlari mendekati ratunya dengan gembira. Ia tak sadar memamerkan kegembiraannya itu kepada Kutilang Manja,
"Telingaku tumbuh lagi. Lihatlah...! Tumbuh lagi, kan?"
Kutilang Manja bersungut-sungut,
"Tumbuh lagi, tumbuh lagi..., memangnya batang singkong?"
Lalu terdengar suara Nyai Sirih Dewi yang telah sadar dari rasa shocknya.
"Firasatku mengatakan, Yuda Lelana itu sebenarnya adalah dewa...."
"Dewa...?!" ucap mereka dengan kompak, seperti paduan suara.
Ratu Geladak Hitam segera berlutut di tempat Yuda berdiri tadi. Bekasnya dicium penuh hormat dan rasa takut.
Peluh Selayang ikut-ikutan berlutut, mencium lantai tempat berdiri Yuda tadi. Kutilang Manja bahkan sempat menangis dengan tubuh gemetar dan berucap lirih,
"Ampunilah saya yang telah berani menaruh hati padamu, Sang Hyang Dewa Yuda...."
Hal itu dilakukan Kutilang Manja karena gurunya sendiri berlutut dan bersujud di depan bekas tempat Yuda berdiri dan menghilang.
Kebo Tumang dan Adu Polo serta anak buah Dardanila lainnya juga ikut bersujud seperti ratunya tadi.
Tiba-tiba kejadian aneh dialami oleh mereka. Seluruh ruangan paseban bercahaya putih menyilaukan, tapi tidak sakit dipandang mata. Tiang-tiangnya, dinding-dindingnya, atapnya, semua bercahaya berbinar-binar.
Cahaya itu menghadirkan hawa sejuk yang enak dirasakan di hati. Hawa sejuk itu bagaikan menyapu seluruh kebencian, kecemburuan, kedongkolan bahkan dendam pun enyap bagai tak berbekas sama sekali di hati mereka.
Yang mereka rasakan hanyalah kedamaian, ketenangan, dan perasaan bahagia tak jelas maknanya. Perasaan bahagia itu mengharukan sekali, hingga mereka saling menitikkan air mata, tak peduli pria maupun wanita yang ada di ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar suara Yuda Lelana yang amat dikenali oleh mereka. Suara itu berkata,
"Aku sudah sampai di Pulau Iblis, tapi... entah nyasar atau tidak nih? Kok keadaannya sepi-sepi saja? Apakah karena aku masih berada di pantainya? Ratu, apa ciri-ciri Pulau Iblis?"
Tiba-tiba mulut sang Ratu menjawab sendiri,
"Tiga pohon kelapa kipas."
Suara menggema itu terdengar lagi,
"Oh, kalau begitu aku tak salah alamat. Aku melihat tiga pohon kelapa kipas. Buahnya berjejer-jejer. Baiklah, aku akan pergi ke pedalaman mencari istana si Bopak. Damailah kalian bersama!"
Setelah suara itu hilang, cahaya pendar-pendar menyilaukan itu pun lenyap. Tapi mereka terkejut ketika melihat beberapa anak buah mengurung tempat itu dengan mata terbelalak. Kebo Tumang berseru kepada
mereka,
"Hei, mengapa kalian mengurung kami dengan senjata lengkap?"
"Tuan Kebo... tempat ini tadi kosong, kami mencarinya dengan siaga perang! Tapi tahu-tahu ruang paseban ini muncul kembali. Padahal tadi kami lihat ruang paseban hilang tak berbekas!"
Orang yang ada di dalam ruang paseban tak bisa bicara sepatah kata pun. Mereka saling tertegun hingga Kebo Tumang membubarkan anak buahnya.
Lalu terdengar suara Nyai Sirih Dewi berkata kepada Dardanila,
"Peristiwa ajaib ini tak mungkin kulupakan sepanjang hidupku! Kita telah dibawa ke dalam suasana kedamaian yang sejati. Dan ini merupakan keberuntungan kita bersama yang belum tentu bisa dialami oleh orang lain."
"Memang," kata sang Ratu.
"Sekarang yang ada dalam pikiranku adalah, bagaimana dengan nasib Raja Kala Bopak Itu? Dapatkah Dewa Yuda Lelana mengalahkan kekuatan jin yang ada pada Raja Kala Bopak?"
"Dia berjanji akan datang lagi membawakan kitab itu. Kita tunggu saja hasilnya," kata Nyai Sirih Dewi dengan suara rendah, tanpa nada permusuhan.
__ADS_1