
Matahari menjelang sore bagaikan melorot dari langit. Tapi cahayanya masih benderang. Tanah Kapur Gaib terbentang bebas tanpa tanaman, tapi dikurung memakai anyaman bambu setinggi satu perut. Tanah itu letaknya tak seberapa jauh dari bekas bangunan perguruannya Nyai Sirih Dewi. Tapi pada masa lalu, baik Nyai Sirih Dewi maupun murid-muridnya tak ada yang tahu manfaat dataran bertanah putih itu. Hanya Ratu Peri Sore yang tahu manfaat tanah seluas satu kali lapangan bola basket itu.
Tanah itu dijaga oleh wajah-wajah cantik bertaring pendek. Mereka adalah para peri anak buah sang Ratu yang bisa keluar masuk di alam gaib. Rupanya ratu mereka belum hadir di sana. Pandu Puber sendiri tidak mau tampakkan diri melihat gelagat seperti itu. Ia bersembunyi di atas sebuah pohon berdaun rindang, tak seberapa jauh dari tempat bertanah putih itu.
“Kurasa untuk sementara aku bersembunyi di sini dulu. Aman-aman saja kok. Nanti kalau Ratu Peri Sore itu muncul, baru aku keluar dari sini. Ngapain menghadapi anak buahnya yang cuma bikin capek saja itu? Buang-buang tenaga. Giliran ratu mereka datang, aku sudah loyo.”
Tiba-tiba saja suara yang menegur Pandu Puber dari dahan di atasnya lagi.
“Nungguin siapa, Kang?”
“Hahh…?!” Pandu Puber terperanjat saat mendongak ke atas. Ada cewek cantik. Bukan main harumnya bau parfum yang dikenakan. Pandu mendongak pas gadis itu ada di atasnya. Mau tak mau mata Pandu Puber menerobos melalui celah gaun panjang berpotongan jubah. Padahal di balik gaun potongan jubah itu tak ada kain atau benang apapun. Yah, untung nggak untung mata Pandu Puber berhasil menangkap sesuatu yang menyolok mata. Ranting!
Untuk menghindari sebatang ranting yang hampir menyolok matanya itu, Pandu Puber naik satu dahan lagi. Oh, sekarang tampak jelas sekali gadis itu punya kecantikan yang memukau hati dan jiwa. Bukan hanya kecantikannya yang membuat hati lelaki lupa caranya berkedip lagi, tapi karena bentuk badannya yang elok, jubah birunya yang tipis transparan menampakkan tonjolan sekal di bagian dadanya. Wow…! Luar biasa hebringnya. Tipisnya pakaian membuat seluruh ‘perabotnya’ tampak nyata dalam keadaan sedekat itu.
“Serba salah deh kalau gini….” Ucap Pandu Puber dalam hatinya.
“Puas-puasin deh lihatnya, hi, hi, hi, hi…!” gadis itu tertawa lirih.
Pendekar Ganjen jadi malu sendiri. Berlagak memandang ke arah lain, Pandu Puber berkata,
“Tak ada alam yang lebih indah lagi kecuali alam di sekitar sini, ya?”
“He, eh…!” jawab gadis cantik itu.
Rupanya gadis itu sengaja duduk di dahan depan Pandu, hingga jaraknya amat dekat dan berhadapan. Tapi kalau Pandu tidak berdiri, jarak mereka berjauhan. Karena Pandu berdiri dan gadis itu duduk, maka wajah dan tinggi tubuh mereka seakan sejajar.
Jantung Pandu Puber berdetak-detak manakala ia begitu lama pandangi bibir sang gadis dan turun sampai ke dada yang wow itu. Untuk menghilangkan kekikukkan, Pandu Puber ajukan pertanyaan pada sang gadis.
“Ngapain kau ada di sini?”
“Nongkrong aja, Kang.”
“Kamu anak buahnya Ratu Peri Sore, ya?”
Gadis itu gelengkan kepala.
“Nggak kok!”
“Jadi, kamu siapa?”
“Maunya situ siapa?” ia ganti bertanya dalam nada menggoda.
Pendekar Ganjen sempat salah tingkah sendiri.
“Kau pandai membuatku deg-degan. Ah….!”
“Kenapa mendesah? Nggak suka ya kalau kita ketemu di sini?”
“Justru aku menyesal mengapa baru sekarang kita bertemu di sini?”
“O, ya…!” matanya melirik ganjen, menggoda nakal, memberi isyarat untuk lebih cuek lagi.
Pandu Puber kian menelan ludah.
“Namaku Pandu Puber. Namamu siapa?”
“Hmmm… siapa ya?” gadis itu menggoda lagi dalam senyum dan sikapnya. Saat si gadis memandang ke atas bagai ingin mengarang sebuah nama, mata Pendekar Ganjen terarah pada dada si gadis.
__ADS_1
Glek…!
Ludah tertelan lagi.
“Bagaimana kalau kau kuberi nama sendiri?” tanya Pandu Puber.
“Boleh. Kau mau kasih aku nama apaan?”
“Bagai mana kalau namamu kuambil dari ratu kecantikan sejagat : Ganjeniwati!”
“Walaaah… apa nggak ada nama lain toh, Kang, Kang…! Nama kok Ganjeniwati? Nggak sekalian Jalangiwati saja?”
Pandu Puber tersenyum menahan geli. Gadis ini beranikan diri cubit pipi Pandu sambil berkata,
“Mbok jangan jahat-jahat, Kang! Kasih nama kok gitu.”
Taab…!
Tangan itupun ditangkap oleh Pandu biar agak lama menempel di pipinya. Si gadis tak ada gerakan menarik kembali tangannya dari wajah Pendekar Ganjen itu, malah jarinya bermain pelan di pipi Pandu, mengusap-usap sambil beradu pandang dengan mata Pendekar Ganjen.
“Bagaimana kalau namamu Arliana Dewi?”
“Nah, itu baru nama yang bagus. Boleh saja kau panggil aku Arliana Dewi.”
“Nama itu adalah nama yang selalu hadir dalam impianku. Tapi aku tak tahu, siapa pemilik nama itu,” rayu Pendekar Romantis sambil usap-usap tangan si gadis.
Sedangkan jari jemari si gadispun mulai raba bibir Pandu pelan-pelan.
“Apakah kau juga bayangkan wajah dan bodiku dalam mimpimu?”
“O, ya! Itu jelas. Tapi….. kenapa kita ketemu di pohon, ya? Kayak monyet bercinta saja. He he he he…!”
"Ooh…!” ia memekik lirih ketika Pandu sengaja gigit jarinya si gadis yang memainkan bibirnya itu.
“Nakal kamu, ah…!” kata si gadis.
“Kalau berani jangan gigit jariku dong! Gigit yang lain saja.”
“Yang mana?” sambil mata Pandu Puber mengarah ke dada.
“Yang mana saja terserah asal membawaku ke alam mimpi….”
Pandu Puber mendekar, memagut dalam gigitan kecil. Sang gadis berkata dalam desah lirih sekali,
“Nah….itukan ada!”
Dalam batin Pendekar Romantis sempat bertanya,
“Kurasa gadis ini diam-diam menyimpan dendam juga kepada Ratu Peri Sore, tapi dia tak mau jujur padaku. Kurasa dia juga sama denganku, tak mau muncul hadapi anak buah si Ratu Peri Sore sebelum Ratu itu sendiri muncul. Lagaknya sih seperti gadis biasa tanpa ilmu, tapi aku yakin dia punya ilmu tinggi. Kalau tidak berilmu tinggi, tak mungkin gadis berkulit selembut ini bisa naik di atas pohon tinggi begini. Apa dia dibawa burung? Makin nggak mungkin lagi, kan?”
Gadis itu kegirangan. Rupanya ia juga menyukai kemesraan itu.
“Kamu nakal, Pandu. Kamu nakal, aah…! Nakal sekali kamu…!” ucapnya lirih tapi kepala dan rambut Pandu diremas dan diacak-acak semuanya sendiri.
Kalau bukan gadis cantik yang mengacak-acak kepala begitu, sudah pasti akan ditampar delapan kali putaran oleh Pendekar Ganjen. Namun justru gadis itu cantik dan menantang selera, maka Pandu semakin memberikan sentuhan mesra kepada sang gadis. Pohon pun jagi gemetar karena ulah mereka yang mendebarkan hati itu.
“Pandu….!” Bisiknya.
__ADS_1
“Pandu…?!”
“Hmm…?!”
“Ambillah ini,” katanya lalu menyodorkan bibirnya.
Waaah…
Ya habis deh kalau dia berani begitu sama Pandu. Benar-benar dihabisi bibir itu oleh Pendekar Ganjen, sampai-sampai si gadis hampir jatuh terjengkang dari duduknya. Untung segera dipeluk tangan kekar Pandu.
Duaaar….!
Tiba-tiba keduanya hampir saja terpelanting jatuh dari pohon karena mendengar ledakan yang menggetarkan pepohonan. Mereka sama-sama membelalak. Mata mereka tertuju ke tanah Kapur Gaib.
Oh, ternyata di sana terjadi pertarungan antara Dardanila dengan para penjaga tanah tersebut. Dardanila mengamuk di keroyok tiga-empat penyerang sekaligus. Dalam waktu beberapa saat saja anak buah Ratu Peri Sore banyak yang tumbang dan berasap karena terkena pukulan-pukulan maut Dardanila.
“Mana Ratu kalian! Suruh dia menghadapku sekarang juga! Jangan kalian yang maju menyerangku, sia-sia saja!” bentak Dardanila.
Tapi para penjaga di situ masih getol menyerang Dardanila, bahkan ada yang menyeringai dengan menampakkan taringnya yang siap merobek leher Dardanila.
Pandu Puber menggumam,
“Perempuan edan!”
“Siapa sih dia, Kang? Kau kenal denganya, ya?” tanya gadis yang terpaksa hentikan percumbuannya itu, tapi kedua tangannya masih merangkul Pandu dari belakang. Dengan diletakkan di puncak Pandu, bahkan sesekali mengecup leher atau pipi Pandu Puber.
“Dia penguasa Benteng Geladak Hitam, dekat pantai sana! Namanya Dardanila. Apakah kau tidak mengenalnya, Arliana?”
“Nggak tuh,” jawabnya polos.
“Pacarmu ya, Kang?”
“Husy, enak saja! Aku belum punya pacar. Tak pernah bisa jatuh cinta dan semesra ini. begitu ketemu denganmu di sini, aneh sekali, hatiku bergetar dan pintu hatiku seakan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Bias cahaya teduh mulai merambah masuk lewat celah pintu hatiku, Arliana!”
“Tutur katamu romantis sekali, Pandu. Aku yakin kau pasti lebih romantis lagi di peraduan. Betul, kan?”
“Yang jelas asal bersamamu akan lebih gila lagi!”
Mereka tertawa lirih dalam desah. Pandu Puber sedikit palingkan wajah dan gadis itu mencaplok bibir Pandu dengan bersemangat.
Clup…!
Dikunyahnya bibir itu bak permen karet. Pandu merasakan debaran yang lebih indah lagi dari sebelumnya. Tapi sayang si gadis tak mau berlama-lama, sebab kali ini pertarungan di bawah sana timbulkan ledakan lagi yang mengguncangkan pepohonan, merontokkan dedaunan.
Blegaaar…!
“Yang kucari adalah Ratu kalian! Mana diaaa…!”
Dardanila tampak marah sekali walau para pengawal makin bermunculan dari tempat yang tak diketahui pusatnya. Yang lenyappun banyak, tapi yang muncul juga banyak. Dardanila sedikit kewalahan menghadapi keroyokan mereka.
“Ratu Peri Sore…! Hadapi aku, akan kulumat habis sekujur tubuhmu! Ini aku, Dardanila! Racun ‘Tua Bangka’- mu bisa kusingkirkan. Sekarang nyawamu akan kusingkirkan pula, Ratu Peri Sore! Keluar kau…! Aku tahu kau ada di sekitar sini di lapisan alam gaibmu! Keluar kau, Bangkai…!”
Gadis yang habis ******* Pendekar Ganjen itu berkata,
“Kang, kau tunggu dulu sebentar, ya! Jangan kemana-mana. Di sini saja!”
“Kau mau ka mana?”
__ADS_1
“Menghadapi perempuan la cur itu!”