Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Meminta Hadiah


__ADS_3

Bocah nekad itu sampai di kadipaten. Pada mulanya anak itu clingak clinguk penuh keheranan dan kekaguman melihat bangunan-bangunan indah di kawasan kadipaten. Maklum, selama hidup di puncak gunung yang dilihat hanya pohon. Iamemandangi tiang bendera yang ada di tengah alun-alun itu sambil hatinya membatin


“Pohon apa ini namanya, ya? Kok nggak ada daunnya? Kalau berbuah, buahnya kayak apa ya?” kebetulan tiang bendera itu sedang tidak dipakai untuk mengibarkan bendera.


Di pinggiran alun-alun terpasang panji-panji kadipaten berkeliling. Terbuat dari kain panjang digantungkan pada tiang bambu. Bocah nekat itu membatin lagi


“Orang kadipaten ini gila-gila, ya? Jemur angkin saja sampai segini banyaknya? Apa tak punya jemuran di belakang rumah mereka?”


Akhirnya Pandu Puber dekati pintu gerbang istana kadipaten. Ia diam sesaat mencari akal bagaimana caranya bisa masuk ke sana. Apa alasannya jika harus menjawab pertanyaan penjaga gerbang?


Pandu Puber urungkan niat mendekati pintu gerbang kadipaten. Ia diam di bawah pohon teduh beberapa saat. Mencoba berpikir mencari cara untuk masuk ke benteng istana. Pada saat itu dari gerbang benteng tampak dua lelaki tua keluar dari dalam benteng. Dua lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu berjalan menuju ke arah selatan, melewati jalanan depan Pandu Puber. bocah usia delapan tahun itu memperhatikan orang tersebut tanpa mengerti apa sebabnya memperhatikan orang itu.


Rasa tertarik untuk memperhatikan mungkin disebabkan karena kedua orang itu berpakaian mewah dan indah. Hiasan benang emas dan kerlip-kerlip di pakaian itulah yang mengundang minat Pandu untuk mengaguminya. Tanpa disengaja Pandu ternyata mendengar percakapan mereka.


“Lha iya, sakit kayak gitu kok dianggap enteng! Sang Adipati salah juga. Kalau tahu permaisuri sudah sering berkeringat dingin dan muntah-muntah, mestinya beliau segera tanggap dong. Itu tandanya sang permaisuri sedang hamil.”


“Lho, mulanya kan dianggap masuk angin biasa?”


“Tapi masuk angin kok terus-terusan? Apa anginnya bandel nggak mau keluar-keluar? Kalau sudah sampai pingsan-pingsan begini baru kelabakan. Tak urung yang repot kita juga, disuruh mencari tabib dalam waktu sehari!”


“Tapi menurutku sang permaisuri belum tentu hamil muda. Mungkin memang benar-benar menderita sakit. Cuma sakitnya apa itukan belum jelas?”


“Sudahlah, nggak perlu diperdebatkan. Yang penting tugas kita mencari tabib. Yang kita pikirkan tabib mana yang mujarab? Sebab kalau tabib yang kita bawa nggak mujarab, Kanjeng Adipati bisa marah sama kita-kita orang!”


Percakapan itu menjauh sebab kedua orang tersebut segera membelok di tikungan jalan. Bocah nekat itu berpikir sesaat.


“Tabib….? Permaisuri sakit? Hmm….. enaknya aku pura-pura jadi tabib. Ah, tapi aku masih kecil sih. Pasti nggak dipercaya jadi tabib. Hmm….. o, ya….begini saja! Aku punya akal.” Pandu Puber pergi sebentar. Ia mencari beberapa lembar daun. Kebetulan yang didapat daun pare yang tumbuh di samping rumah penduduk. Delapan daun pare itu dibawanya. Nekat betul anak itu. Ia dekati penjaga pintu gerbang dan berkata dengan wajah polos.


“Kang, aku mau menghadap Kenjeng Adipati.”


“Husy! Sembarangan saja. Anak kecil sepertimu tak diizinkan menghadap Kanjeng Adipati!” kata penjaga sebelah kiri. Penjaga yang sebelah kanan segera berkata pula.


“Badan kumal dan kotor begitu mau menghadap Kanjeng Adipati? Bisa dicambuk dua belas kali kau, Jang!”


“Namaku bukan Ujang, namaku Pandu Puber, Kang!” protes bocah itu.


“Mau Pandu Puber apa Pandu Puser, terserah! Yang penting kau tidak kami izinkan untuk masuk!”


“Aku diutus kok, Kang.”


“Diutus oleh siapa?”


“Oleh seorang tabib sakti bernama….. bernama…..” Pandu Puber mengarang-ngarang nama.


“O, ya….namanya Tabib Teh Kolak.”


“Siapa….?” Penjaga sebelah kanan tertawa kecil. “Teh Kolak? Kok namanya aneh sekali?”


“Aku nggak tahu, Kang. Pokoknya dia ngakunya bernama Tabib Teh Kolak, asalnya dari Laut Merah.”


“Laut Merah di negeri Cina sana?”


“Iya, kali! Aku sendiri nggak tahu Laut Merah itu di mana,” kata Pandu asal sebut nama laut dan ternyata diartikan nama laut di negeri Cina. Padahal di negeri Cina belum tentu ada laut yang bernama Laut Merah.


“Eyang Tabib itu menemuiku ketika aku menggembala kambing, Kang. Dia minta tolong padaku. Katanya dia merasakan sakit sekujur badannya. Setelah dia bertapa, ternyata rasa sakit itu datang dari Permaisuri di kadipaten ini. Lalu karena dia ada keperluan di tempat lain, dia minta tolong padaku untuk menyerahkan obat kepada Kanjeng Adipati. Obat ini harus diminum oleh Gusti Permaisuri.”


“Mana obatnya?”


“Lha ini…. yang kupegang ini!”


“Cuma daun saja?”


“Iya. Pokoknya dia cuma kasih aku daun ini dan disuruh serahkan Kanjeng Adipati!”


Penjaga sebelah kanan berkata kepada penjaga sebelah kiri


“Berarti tabib itu cukup sakti, dia bisa tahu kalau Gusti Permaisuri kita sedang sakit. Hebat juga ilmu si tabib itu, ya?”


“Iya! Tapi bagaimana dengan anak ini? Apa diizinkan masuk?”


Penjaga yang satunya berkata kepada Pandu,


“Kalau begitu begini saja, Dik….. Berikan daun itu kepadaku nanti akan kusampaikan kepada Kanjeng Adipati. Pasti akan segera diborehkan ke tubuh Gusti Permaisuri Kadarwati!”

__ADS_1


“Wah, nggak bisa begitu, Kang. Pesan Eyang Tabib, daun ini harus kuserahkan sendiri kepada Kanjeng Adipati, lalu aku harus memberitahukan bagaimana cara mengobati Gusti Permaisuri memakai daun ini.”


“Daun apa sih itu?” tanya penjaga yang satunya.


“Kata Eyang Tabib… daun ini namanya daun Tapak Peri.”


“Ah, kayaknya daun pare deh?”


“Memang daun Tapak Peri mirip sekali daun pare,” kata bocah itu pintar saja menghindari kecurigaan.


“Kamu jangan bohong lho! Kalau bohong kamu bisa diserahkan kepada Dokoh Darah lho!”


“Dokoh Darah itu siapa?”


“Algojo yang bertugas menghajar tiap penjahat yang masuk kadipaten!”


“Yaaah…. Kalau kalian nggak percaya, ya sudah. Aku pulang saja!” Pandu berlagak ingin pergi, penjaga berseru,


“Tunggu, tunggu….!”


Langkah Pandu Puber sengaja dihentikan tapi berlagak cuek, hanya menengok saja dan berkata,


“Aku harus mengurus kambing-kambingku, Kang! Nggak punya waktu untuk ngobrol sama kamu. Kalau kamu nggak percaya padaku, daun ini kubuang saja, walau konon carinya sampai ke puncak Gunung Krakatau!”


“Eeeh, eh….tunggu dulu! Hmm…. iya deh, kamu boleh masuk. Mari kuantarkan, Dik!” kata penjaga sebelah kiri. Lalu, Pandu Puber diantar menghadap Adipati Sihombreng. Adipati itu ternyata masih muda. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Andaikata lewat ya lewat sedikit. Mungkin karena makannya terjamin dan kehidupannya makmur, ditunjang dengan pakaian serba mewah, makanya wajahnya tampak masih muda, berkumis tipis. Sorot matanya menandakan dirinya orang egois, tapi tidak cukup cerdas. Ia sedikir angkuh, terlihat dari cara memandangnya yang selalu mengangkat dagu sedikit.


Sebetulnya menghadap sang Adipati tidak sembarangan orang bisa. Dan tidak setiap tamu berkenan ditemui oleh sang Adipati. Apalagi hanya seorang bocah sekumal Pandu Puber. tetapi karena kabar yang diterima sang Adipati adalah tentang bocah yang diutus seorang tabib sakti untuk bawakan obat buat Permaisuri, maka mau tak mau sang Adipati menerima Pandu di serambi paseban.


“Eyang Tabib wanti-wanti agar saya diharuskan bicara berdua saja dengan Kanjeng Adipati,” kata Pandu Puber.


Setelah dipertimbangkan sesaat, Adipati menyuruh orang-orangnya meninggalkan tempat itu. Tapi para pengawal tetap menjaga dari kejauhan.


“Jelaskan maksudmu!” kata sang Adipati.


“Eyang Tabib Teh Kolak menangis saat menemui saya, Kanjeng.”


“Kenapa?”


“Tabib Teh Kolak bilang begitu?!”


“Benar, Kanjeng. Makanya dia mengutus saya menyampaikan obat yang terbuat dari daun Tapak Peri ini. Kalau saya terlambat memberikan daun itu, katanya Gusti Permaisuri akan menemui ajalnya. Jadi saya diwanti-wanti agar cepat sampai sini!”


Diam-diam sang Adipati masih punya kecurigaan yang meragukan pendapatnya. Lalu ia berkata


“Apakah kau yakin kalau orang itu seorang tabib?”


“Entah tabib entah orang sakti, pokoknya dia mengaku bernama Tabib Teh Kolak, Kanjeng. Malahan dia tanya pada saya, apakah istri Raja di sini bernama Kadarwati? Saya bilang bahwa saya tidak tahu, sebab saya belum pernah kenalan sama Gusti Permaisuri.”


“Ya, ya…. Memang benar!” jawab sang Adipati mulai heran dan terpengaruh. Padahal Pandu tahu nama istri Adipati dari percakapannya dengan penjaga gerbang tadi. Ia mencatat di otaknya nama Kadarwati yang disebutkan penjaga tadi.


“Terus, dia bilang apa lagi?”


“Hmm…anu… Eyang Tabib bilang juga, daun ini jangan sampai disentuh oleh tangan seseorang yang bernama Dokoh Darah, khasiat daun bisa hilang sebab orang yang berama Dokoh Darah adalah orang yang tidak jujur. Saya bilang, di kadipaten tidak ada yang bernama Dokoh Darah. Orang kadipaten terutama para petugas istana, pasti namanya bagus-bagus. Tapi Eyang Tabib tetap ngotot, katanya di istana ada yang bernama Dokoh Darah.”


“Iya. Benar itu! Memang ada! Dia penjaga penjara!”


“Oooo…” Pandu Puber manggut-manggut dengan wajah polosnya. Dalam hati ia ingin tertawa melihat sang Adipati percaya betul dengan ucapannya. Padahal nama Dokoh Darah itu juga dikenal Pandu dari mulut si penjaga pintu gerbang tadi.


“Saya nggak tahu kalau di sini ada yang bernama Dokoh Darah. Maafkan saya, Kanjeng.”


“Ya, ya…tak apa. Aku maklum karena kau memang tak pernah masuk kemari. Tapi aku kagum dengan orang itu. jelas dia bukan sekedar seorang tabib saja, pasti dia seorang petapa sakti juga. Kalau bukan orang sakti, tak mungkin dia bisa sebutkan nama istriku dan nama kepala penjara di sini.”


“Ngakunya sih dia pernah bertapa di puncak Gunung Krakatau, Kanjeng.”


“Ooo…pantas!” sang Adipati manggut-manggut.


“Terus bagaimana lagi?”


“Daun ini harus segera diminum Gusti Permaisuri. Caranya dengan direbus, airnya jangan banyak-banyak, begitu mendidih langsung dituang ke dalam mangkok. Setelah dingin diminumkan.” Pandu Puber menyerahkan daun itu. Adipati tampak gembira, yakin betul daun itu berkhasiat tinggi untuk penyembuhan.


“Cuman delapan lembar, ya?”


“Betul, Kanjeng. Katanya delapan lembar itu melambangkan delapan penjuru angin. Ah, saya nggak ngerti maksudnya. Pokoknya cuma itu yang saya dapat dari Tabib The Kolak. O, ya… dalam merebus daun ini, katanya harus dibubuhi merica lembut dua jimpit, dan garam tiga jimpit. Airnya dua mangkok. Cara merebusnya tidak boleh dilakukan oleh orang lain, harus kanjeng sendiri. Sebab kata Tabib Teh Kolak, jamu itu akan mujarab kalau direbus oleh suami orang yang sakit.”

__ADS_1


“Ya, ya, ya….akan kulakukan sendiri supaya lebih cespleng!” katanya.


“Lalu apa lagi pesennya?”


“O,ya…. Tabib Teh Kolak berpesan, kalau sekiranya di sini ada orang yang namanya pakai Duri, harus segera diusir. Entah pelayan, entah perajurit, atau pegawai tinggi istana, kalau namanya pakai Duri, harus diusir dan tidak boleh tinggal di kadipaten. Sebab katanya orang yang pakai nama Duri itulah penyebab datangnya penyakit. Nantinya akan menyebar menjadi wabah penyakit. Kalau orangnya dibunuh, malah bisa menyebarkan penyakit lebih ganas lagi. Jadi, Eyang Tabib hanya berpesan orang yang namanya pakai Duri harus diusir dari kadipaten dan tidak boleh tinggal di kadipaten lagi, itu kalau Kanjeng ingin warganya selamat dari penyakit berbahaya.”


Kelebihan bicara Pandu Puber dalam batas usia sekecil itu membuat sang Adipati semakin yakin. Bahkan sang Adipati beranggapan


“Anak ini sepertinya bukan bicara dalam kesadarannya. Pasti ada roh gaib yang memakai raganya untuk bicara sendiri. Mungkin roh sakti sang tabib sendiri.”


Pandu segera berkata,


“Saya rasa sudah cukup keperluan saya, Kanjeng. Semua pesan Eyang Tabib Teh Kolak sudah saya sampaikan. Saya mohon pamit.”


“Tunggu, tunggu…!” sang Adipati menahan langkah Pandu.


“Kalau yang pakai nama Duri harus diusir, ya?”


“Betul, Kanjeng. Tak perduli itu pejabat istana atau perajurit biasa, harus cepat-cepat diusir sejauh-jauhnya.”


“Di sini yang pakai nama Duri ada dua, Dewi Widuri keponakanku sendiri. Lalu….. Wirya Kenduri, juru tamanku.”


“Lho….kata Eyang Tabib ada tiga? Kok cuma dua?”


“O, ya…yang satu lagi tawananku, namanya Mirah Duri. Tapi…” Adipati sempat bimbang sebentar. Pandu Puber berdebar-debar, lalu berkata.


“Pokoknya kalau Kanjeng mau selamat seluruh rakyatnya ya harus mengusir nama-nama itu!”


“Ya deh! Dari pada rakyatku diserang wabah penyakit yang diawali dari istriku, lebih baik aku melakukan pesan Eyang Tabib Teh Kolak itu!”


“Kalau begitu, saya permisi, Kanjeng!”


“Tunggu sebentar!” Adipati mengambil uang dalam kantong kain kecil.


“Ini kuberi uang untuk jajan di jalan.”


“Wah, terima kasih, Kanjeng. Eyang Tabib melarang saya menerima upah dalam tugas ini. Kalau saya terima upah, saya sendiri bisa jadi sakit seperti Gusti Permaisuri.”


“Ooo…begitu, ya sudah kalau memang begitu pesan Eyang Tabib!” sang Adipati tambah yakin lagi.


Maka tiga nama yang memakai Duri tadi diusir dari istana. Bahkan diarak beberapa perajurit agar keluar dari batas wilayah kadipaten. Tentu saja hal itu sempat mendapat gugatan dari dua nama yang tidak bersalah itu, Wirya Kenduri dan Dewi Widuri. Mereka protes mengecam keputusan sang Adipati. Tapi bagi Mirah Duri hal itu sangat


menguntungkan. Mirah Duri sendiri heran, siapa anak kecil yang membawa kabar seperti itu. Ia hanya mendengar cerita selintas tentang sang bocah yang datang membawa pesan seorang tabib. Tetapi ketika ia bergegas melarikan diri dari batas wilayah kadipaten, tiba-tiba langkahnya terhenti karena kemunculan Pandu Puber dari balik pohon. Bocah itu langsung nyengir dan berkata.


“Naah… sudah beres kan?”


“Hei, kau… kau bocah yang bersama guruku itu, kan?”


“Betul. Aku yang bernama Pandu Puber, Yu! Aku mendengar kau ditawan di kadipaten dari kakekku. Sekarang gurumu ada di rumah kakekku. Lalu aku berusaha membebaskanmu biar tidak ditukar nyawa Ki Parut Melepuh!”


“Ja…jadi kau yang datang ke kadipaten dan menyampaikan kabar dari seorang tabib sakti itu?”


“Betul. Habis aku tidak punya cara lain untuk melepaskan dirimu, Yu! Kalau melawan orang sekadipaten ya belum tentu menang.”


“Ya jelas, nggak bakalan menang!”


“Makanya aku pakai cara seperti itu. Tapi…kasihan juga ya, dua orang yang pakai nama Duri itu jadi ikut-ikutan diusir. Kupikir cuma kamu yang bernama Duri sih. Nggak tahunya ada dua orang lagi.”


Mirah Duri geleng-geleng kepala.


"Wah, wah, wah… kau ini akalnya ada-ada saja, Pandu!”


“Yang penting bisa membebaskan kamu, Yu! Aku nggak suka kalau kamu dijadikan sandera dan ditukar dengan nyawa gurumu. Kamu kan nggak salah.”


“Memang. Dan…aku patut berterima kasih padamu, Pandu.”


“Kasih hadiah dong!”


“Baik. Akan kuberi hadiah. Kau minta hadiah apa?”


“Sun…!” sambil sodorkan pipinya.


“Hahh…?!” Mirah Duri kaget dan tertegun bengong.

__ADS_1


__ADS_2