
Jika Ratu Geladak mengutus dua orangnya untuk mengusir Nyai Sirih Dewi dari Bukit Bara, tentu saja orang itu adalah orang pilihan.
Ilmunya tidak tanggung-tanggung. Percuma saja dong kalau kelas ilmu utusan itu sebatas kelas kambing congek, ngapain ditugaskan mengusir Nyai Sirih Dewi? Mendingan diutus mengusir ayam saja. Iya, kan?
Tetapi petugas penggusuran itu ternyata kalah sama Yuda Lelana. Bukannya mengusir Nyai Sirih Dewi tapi justru diusir Yuda Lelana. Malu nggak malu deh, mereka pulang dengan babak belur.
Bahkan Kebo Tumang kehilangan telinga kirinya yang sudah pasti akan tetanus begitu sampai di tempat.
Keberhasilan Yuda Lelana mengusir dua utusan Ratu Geladak Hitam membuat Nyai Sirih Dewi dan murid-muridnya semakin salut dan menaruh simpati besar kepada si anak muda ganteng itu.
Sekalipun berpenampilan kumal, tapi Yuda Lelana sempat dikagumi beberapa murid wanita, termasuk Kutilang Manja dan Peluh Selayang.
Peluh Selayang tak jadi minggat dari perguruan itu, karena Yuda Lelana menginap di sana.
Nyai Sirih Dewi sendiri selalu memohon agar Yuda Lelana jangan tergesa-gesa pulang karena belum disuguhi minuman dan kue-kue kecil. Di samping itu Nyai Sirih Dewi juga tertarik ingin pelajari ilmunya Yuda Lelana yang aneh dan fantastis itu.
Dari menginap semalam menjadi dua malam, dua malam menjadi dua minggu, dua minggu menjadi dua bulan, pokoknya Yuda akhirnya melantur dan tinggal di Perguruan Sekar Bumi sampai berbulan-bulan.
Pikirnya, mumpung dapat kesempatan menginap gratis, dapat pelayanan memuaskan, kenapa tidak dimanfaatkan untuk tinggal lebih lama lagi?
Bahkan belakangan ini Yuda Lelana diangkat sebagai Guru Pembimbing yang bertugas mengarahkan para murid dalam mempermainkan jurus-jurus kelas tinggi.
Banyak variasi jurus yang diajarkan oleh Yuda kepada mereka, dan pada umumnya variasi jurus itu membuat gerakan mereka lebih indah lagi serta kekuatan tenaga dalam mereka bertambah lebih besar.
Sekalipun demikian, Yuda belum menurunkan ilmunya kepada siapa pun. Apa yang diajarkan kepada mereka hanya semata-mata pengembangan dari jurus yang diajarkan Nyai Sirih Dewi sebelumnya.
Sejak Yuda tinggal di Perguruan Sekar Bumi, pihak pengganggu selalu berhasil diusirnya. Bahkan orangnya Ratu Geladak Hitam tak berani mendekat lagi.
Tapi mereka masih mondar-mandir dari kejauhan, memantau keadaan di perguruan tersebut, menunggu kelengahan, mengharap kepergian Yuda Lelana.
Jika Yuda pergi, berarti kekuatan di Perguruan Sekar Bumi berkurang, maka saat itulah orang-orang Geladak Hitam akan menyerang.
Tapi repotnya, Yuda tidak mau pergi-pergi. Sekalinya pergi hanya buang hajat di sungai, sebentar kemudian balik lagi. Hal ini membuat orang-orang Geladak Hitam repot menyerang Nyai Sirih Dewi. Sampai-sampai sang Ratu sendiri akhirnya ikut mengintai Perguruan Sekar Bumi dari kejauhan.
"Masa' orang bertampang kusut seperti itu kau bilang ganteng sih?"
"Maaf, Gusti Ratu..., yang itu sih bukan Yuda Lelana. Orang itu adalah Sugana, penjaga gerbang."
"Ooo... lalu, yang namanya Yuda Lelana itu yang mana?"
"Belum kelihatan, Gusti Ratu. Mungkin sedang rujakan dengan Kutilang Manja."
"Malam-malam begini rujakan? Rujak apa yang mereka buat?"
"Yah, mungkin... mungkin rujak bibir, Gusti Ratu!" jawab petugas mata-mata yang sudah berhari-hari mengintai kegiatan di perguruan itu dari atas pohon.
Sang Ratu yang malam itu ikut mengintai bertanya dengan nada pelan,
"Apakah kau sering melihat anak muda itu makan rujak bibir dengan Kutilang Manja?"
"Belum pernah sih. Cuma, kayaknya anak muda itu naksir Kutilang Manja. Saya sering lihat mereka berduaan, mojok di sudut pekarangan belakang."
"Apa saja yang mereka lakukan di sana?"
"Mana saya tahu, habis tempatnya gelap sih."
Ratu Geladak Hitam tarik napas. Dongkol juga mendengar cerita itu.
Semakin sengit membayangkan wajah Yuda Lelana yang baru berupa reka-reka saja, karena sang Ratu memang belum pernah bertemu dengan Yuda Lelana.
Akibatnya, sang Ratu penasaran sekali. Baik penasaran kepada Yuda, juga penasaran kepada kekuatan Perguruan Sekar Bumi. Hatinya membatin,
"Tinggal perguruan ini yang sukar digusur. Alot juga mereka. Mungkin mereka butuh pesangon beberapa nyawa! Hmmm... sebaiknya besok kutemui saja Nyai Sirih Dewi dan kugunakan siasat pamungkasku untuk menaklukkan dia!"
Tiba-tiba sang pengintai berkata,
"Gusti, Gusti..., itu dia yang namanya Yuda Lelana!"
"Yang bawa-bawa sapu lidi itu?"
"Bukan. Itu sih petugas kebersihan. Itu tuh... yang sedang jalan-jalan di samping bangunan utama bersama Peluh Selayang!"
"Ooo... itu," gumam sang Ratu lirih sekali, bagaikan menghayati betul apa yang kini telah diketahui.
"Hmmm... tak begitu jelas sih, tapi menurutku anak muda itu biasa-biasa saja. Cuma... kenapa dia berduaan dengan Peluh Selayang? Kau bilang tadi, dia sering mojok sama Kutilang Manja?"
"Nggak tahu deh, apa maunya anak muda itu. Kadang-kadang memang saya lihat dia mojok sama cewek lainnya. Kayaknya dia laris di dalam sana. Banyak yang suka padanya."
Memang begitulah Yuda. Kadang tampak bersama Kutilang Manja, kadang juga tampak bersama Peluh Selayang atau gadis lainnya.
Nyai Sirih Dewi sering menegur Yuda Lelana secara baik-baik.
"Kalau kau jatuh cinta, jatuhlah kepada satu orang saja. Jangan setiap murid perempuanku kau jatuhi cinta, nanti akibatnya bisa kacau-balau!"
"Aku tidak jatuh cinta kepada siapa pun kok, Nyai."
"Tapi aku sering melihatmu mojok dengan mereka secara berganti-gantian."
"Ah, itu sih hanya sekadar mojok saja, Nyai. Tukar pikiran dan tukar pengalaman saja."
"Pengalaman yang bagaimana...?" sindir sang Nyai.
"Pengalaman bercinta? Atau pengalaman bersilat lidah?"
Yuda tertawa kecil, malu-malu,
"Itu kan hanya sekadar seni memojok saja. Tapi bukan berarti kami saling jatuh cinta kok."
"Yuda, terus terang saja, Kutilang Manja sudah berkata jujur padaku."
"Soal apa, Nyai?"
"Dia naksir kamu!" jawab Nyai Sirih Dewi nyeplos saja.
"Ah, jangan gitulah, Nyai...,"
Yuda Lelana pringas-pringis tak enak hati.
"Kutilang Manja sering sakit hati kalau melihat kau jalan dengan Peluh Selayang atau gadis lainnya. Dia bicara apa adanya padaku, Yuda. Dia sangat mengharapkan pengertianmu."
"Aku belum berpikir ke arah situ, Nyai. Aku malah sedang bingung memikirkan ketuaanku yang datang dengan cepat ini."
__ADS_1
"Kau belum kelihatan tua, Yuda. Kau masih pantas punya istri."
"Ya memang sih. Biar rambutku sudah beruban memang masih pantas punya istri, tapi kawin dalam usia tua itu merupakan sesuatu yang mendatangkan rasa malu, Nyai. Aku sedang berpikir bagaimana mencegah proses ketuaanku yang datang dengan cepat ini."
"Aku punya mantera pengawet muda! Kalau kau mau akan kuajarkan bagaimana membaca mantera pengawet muda itu."
"Kenapa tidak kau gunakan sendiri supaya kau tetap awet muda, Nyai?"
"Mantera itu sudah nggak mempan untuk diriku."
"Kenapa bisa begitu, Nyai?"
"Karena mantera itu sudah bosan membuatku awet muda," jawab sang Nyai seenaknya saja.
Yuda Lelana hanya tertawa kecil, tidak begitu menanggapi kata-kata sang Nyai yang dianggap hanya sekadar kata-kata iseng saja.
Tapi pikirannya lebih menfokus kepada Kutilang Manja. Apa benar KutilangManja jatuh cinta padanya?
Sebenarnya Yuda tidak keberatan kalau harus menerima dan membalas cinta Kutilang Manja, tapi dia tak mau percintaan itu berlanjut ke jenjang perkawinan. Sebab dia punya cita-cita sendiri untuk mengawini seseorang.
Bukan Kutilang Manja yang menjadi sasaran perkawinannya, melainkan seseorang yang dapat mengubah dirinya kembali menjadi dewa dan bersemayam di kayangan.
"Kalau aku diam di perguruan ini terus, aku tak akan bertemu dengan calon istriku," pikir Yuda Lelana.
"Aku harus pergi dari sini, mengembara entah ke mana, sampai aku bertemu dengan calon istriku dan segera bikin anak, supaya aku bisa cepat-cepat diakui sebagai dewa lagi. Tapi, gimana ya...? Kalau perguruan ini kutinggalkan, kasihan juga. Mereka pasti akan diserang oleh pihak Ratu Geladak Hitam. Akhirnya mereka akan digusur dan entah mau mengungsi ke mana?"
Tentu saja Yuda punya kecemasan seperti itu. Soalnya Nyai Sirih Dewi berkata kepadanya,
"Dardanila berilmu tinggi. Secara jujur kuakui, ilmunya tak sebanding dengan ilmuku. Kalau dia datang kemari dan mengamuk, aku akan kewalahan melayaninya. Bisa-bisa aku mati di tangannya. Walau begitu, aku memang tak takut mati demi mempertahankan Bukit Bara ini. Yang kupikirkan cuma nasib murid-muridku jika kutinggal mati nantinya. Bagaimana nasib mereka jika tanpa aku dan tak bisa bertahan di sini?"
Kata-kata itu yang membuat Yuda Lelana prihatin terhadap nasib Perguruan Sekar Bumi jika tanpa dirinya. Niatnya untuk meninggalkan perguruan itu selalu dipikir-pikir sampai kadang-kadang ia tertidur karena lelahnya berpikir.
Karena menurut pendapat Yuda, sampai kapan pun Ratu Geladak Hitam tetap akan mengincar tanah perguruan tersebut.
"Mengapa begitu?" tanya sang Nyai.
"Mengapa Dardanila bernafsu sekali untuk menguasai tanah di Bukit Bara ini? Apa yang membuatnya sampai penasaran begitu?"
"Karena sesungguhnya di Bukit Bara ini terdapat tambang emas!"
"Hahh...?!"
Nyai Sirih Dewi terkejut, matanya membelalak tak takut kena panah. Ia tertegun beberapa saat, mencoba mempercayai kata-kata Yuda.
"Apa benar begitu, Yuda?"
"Benar, Nyai. Getaran nadiku mengisyaratkan adanya setumpuk harta yang terpendam di dasar bukit ini, persis di bawah tanah perguruan ini! Sukmaku pernah keluyuran malam-malam dan menemukan cahaya gemerlapan warna kuning di dasar bukit. Ternyata cahaya itulah tambang emas yang perlu digali dan dimasak sedikit. Memang masih kotor, tapi jika kita memasaknya maka akan terlihat kemilau emasnya dalam tiap lapisan tanah."
"Edan!" sentak sang Nyai.
"Dikasih tahu ada tambang emas kok malah ngatain aku edan?!"
"Maksudku, kenapa baru sekarang aku mengetahuinya? Padahal aku sudah bertahun-tahun menempati Bukit Bara ini. Dardanila baru beberapa tahun berkuasa di daerah muara sungai. Itu pun karena ia terdampar di sana ketika kapalnya diserang badai."
"Dardanila tahu, karena ia perhatikan air sungai yang mengandung warna kuning samar-samar itu. Warna kuning tersebut bukan karena belerang atau larutan lumpur, melainkan karena larutan tanah berkadar emas."
Kabar itulah yang membuat Nyai Sirih Dewi mengurung diri di dalam kamar semadinya sampai beberapa hari ini. Ia bermaksud meminta petunjuk dewa tentang bagaimana caranya mengatasi masalahnya terutama tentang serangan Ratu Geladak Hitam dan hilangnya Kitab Jayabadra.
Sampai saat itu ia belum tahu bahwa belakangan ini ia sudah bergaul dengan dewa yang menjelma menjadi manusia tampan itu.
Semadi sang Nyai terpaksa dibangunkan oleh Kutilang Manja. Nyai Sirih Dewi keluar dari kamar semadi dengan agak sewot.
"Ngapain sih mengganggu semadiku? Aku belum ketemu dewa nih!"
"Maaf, Guru. Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan Guru."
"Siapa?"
"Ratu Geladak Hitam sendiri yang datang!"
"Wah, kacau deh kalau begini?" gumamnya tegang.
"Yuda ke mana?"
"Memancing ikan di sungai. Sejak tadi pagi belum pulang."
"Wah, makin kacau nih! Susul dia dan suruh dia pulang. Kasih tahu kalau kita dalam bahaya!"
"Saya sudah mencoba mencarinya tadi, sebelum ada tamu datang, tapi ia tidak saya temukan, Guru!"
"Jangan-jangan anak itu dimakan buaya sungai?" gumamnya dalam ketegangan yang menggelisahkan.
"Sebaiknya Guru temui dulu Dardanila itu supaya tidak menjadi berang dan membuat beberapa murid menjadi sasaran kemarahannya."
"Berapa orang kekuatannya?"
"Mereka cuma sebelas orang kok, Nyai."
"Sebelas orang?! Itu sih sangat bahaya!" bentak Nyai Sirih Dewi.
"Dardanila datang sendirian saja sudah berbahaya, apalagi dengan kesepuluh pengawalnya. Waaah... kacau deh! Kacau bener kalau begini!"
Nyai Sirih Dewi mondar-mandir. Belum-belum sudah ciut nyali.
Masalahnya Yuda tidak ada di tempat, jadi ia deg-degan sekali. Kalau Yuda ada di tempat sih bisa tenang-tenang saja, sebab ia sangat yakin dengan kekuatan Yuda.
Pikiran Nyai Sirih Dewi bercabang-cabang antara Dardanila dan Yuda Lelana.
"Aku cemas sekali, takutnya Yuda dimakan buaya sungai?!"
"Mana mungkin buaya makan buaya, Guru?!" ujar Kutilang Manja dengan wajah cemberut.
"Husy, jangan ngomong begitu. Yuda bukan buaya!"
"Memang sih, bukan buaya tapi komodo!" tambah Kutilang Manja makin cemberut kesal karena sikap Yuda yang sering menclok sana, menclok sini, ganti teman ngobrol.
Rasa cemburu itu dimuntahkan dalam bentuk ejekan di depan sang Guru. Padahal sang Guru sedang bingung mengatasi kedatangan Dardanila.
Peluh Selayang muncul dengan terburu-buru.
"Guru, cepatlah keluar! Yuda sudah datang dan sekarang sedang berhadapan dengan Ratu Geladak Hitam."
__ADS_1
"Hah...?! Sudah datang?! Syukur, syukur...!"
Nyai Sirih Dewi mengelus dada sendiri merasa lega. Wajahnya cerah kembali, dan ia langsung bergegas menuju pekarangan depan, menembus keluar melalui pintu gerbang yang memang sudah dibuka oleh petugasnya.
Dan di sana dilihatnya Yuda Lelana sedang bicara dengan Ratu Geladak Hitam yang masih diam di atas punggung kuda. Sepuluh anak buahnya, termasuk Adu Polo, mengelilinginya bagai mengurung pertemuan tersebut. Mereka sudah siap dengan senjata masing-masing.
Ratu Geladak Hitam ternyata seorang wanita yang cantik jelita. Usianya seperti masih sekitar tiga puluh tahunan. Yah, lewat sedikitlah. Yang jelas rupanya masih semarak ayu.
Matanya sedikit nakal, namun indah. Hidungnya bangir, bibirnya sensual. Dadanya, wah.... Pokoknya bikin lelaki berkepala nyut-nyutan kalau kelamaan memandang dadanya. Sebab bisa digetok dari belakang oleh pengawainya.
Lehernya termasuk jenjang, putih mulus tanpa ******. Ia mengenakan kalung permata bersusun dua. Dengan rambut disanggul rapi sisa rambut ngelewer ke samping kanan kiri berbentuk spiral, ia tampak anggun dan berwibawa.
Pakaian hijau yang membalut tubuh sexy-nya itu dibungkus dengan kain jubah dari bahan sutera warna merah jambu. Segar dan menggairahkan, sama dengan bentuk bibirnya yang, iiih... enak dikecup deh rasanya.
Yuda bergidik membayangkan bibir itu. Hatinya gemas dan geregetan. Kalau saja giginya bisa mulur maju, ia akan gigit bibir itu dari tempatnya berdiri.
Mata Yuda tak mau berkedip, dan ternyata mata Ratu Geladak Hitam juga tidak mau berkedip. Mereka saling pandang beberapa saat dengan kecamuk hati masing-masing.
Para pengawalnya sempat bingung, mengapa ratunya menjadi terpaku bagaikan patung bernyawa?
Seorang murid Nyai Sirih Dewi keluar dan tergesa-gesa ingin ikut ambil bagian dalam penjagaan ketat di depan gerbang. Larinya terlalu cepat hingga sukar direm dan akhirnya menabrak Yuda Lelana.
Bruuus...!
"Gendeng kamu ini?! Ada orang masih bengong ditabrak saja!"
"Maaf, maaf... Tuan Yuda," kata murid itu sambil mundur dan ambil posisi berjajar dengan teman-temannya.
Saat itulah adu pandang mereka terhenti, ketermenungan sang Ratu pun menjadi buyar. Lalu, terdengar suaranya menyapa dengan wibawa dipaksakan.
"Kaukah yang bernama Yuda Lelana?"
"Begitulah kira-kira," jawab Yuda Lelana sambil sunggingkan senyum tipis.
Tapi tiba-tiba ia harus berkelebat cepat karena seorang anak buah sang Ratu melemparkan tombaknya dari arah samping kiri.
Wuuut...!
Teeb...!
Tombak itu disambar oleh tangan kiri Yuda sambil badannya sedikit melengkung ke belakang. Secara tak langsung Yuda telah pamerkan ketangkasannya di depan sang Ratu. Bahkan kali ini jempol kirinya menekan tombak itu dan,
traak...!
Tombak tersebut patah dengan sentakan jempolnya. Ratu Geladak Hitam memandangnya dengan diam, menyimpan rasa kagum terhadap kemampuan Yuda; menangkap dan mematahkan tombak memakai satu tangan. Tangan kiri, lagi!
Seorang anak buahnya yang ada di sebelah kirinya juga ingin lemparkan pisau ke arah Yuda, tapi tangan kiri sang Ratu yang bergelang kerincing tujuh biji itu diangkat.
Gemerincing suara gelang membuat orang itu tak jadi lemparkan pisaunya. Kejap berikutnya, Nyai Sirih Dewi muncul di belakang Yuda bersama Peluh Selayang dan Kutilang Manja.
"Pantas kau sekarang betah tinggal di tempatmu ini, karena kau punya mainan baru yang tentunya mengasyikkan, Sirih Dewi!" ujar sang Ratu menyindir dengan senyum sinisnya.
"Aku tak jelas maksud bicaramu, Dardanila!" kata sang Nyai dengan tenang.
"Tak perlu diperjelas. Yang perlu kau mengerti adalah perintahku yang terakhir kali ini; kau harus cepat pergi dan tinggalkan perguruanmu ini. Aku tak peduli kau sudah lama atau baru saja menempati tanah ini, yang pasti kau harus segera pindah ke tempat lain! Bukit ini dalam wilayah kekuasaanku; Ratu Geladak Hitam!"
Sambil masih berdiri di belakang Yuda, Nyai Sirih Dewi berseru,
"Apa pun perintahmu aku tak perlu tunduk! Kau pikir siapa dirimu sehingga berani memerintahkan begitu, hah?!"
"Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, Sirih Dewi!"
"Aku tahu! Aku cukup tahu siapa dirimu, Dardanila. Kau seorang ratu sesat yang hidup di Pulau Iblis, dan dikalahkan oleh Raja Kala Bopak sehingga kau lari dari Pulau Iblis dan hidupmu bertahun-tahun hanya di atas geladak kapal bangkai. Karena kapal itu kini pecah dihantam ombak badai, maka kau tak punya tempat tinggal lagi, lalu kau ingin menguasai bukit ini! Aku pun tahu kau punya ilmu yang yaaah... lumayan tinggilah," kata sang Nyai berkesan menyepelekan.
Lanjutnya lagi,
"Ilmumu itu yang membuat kau masih tampak muda, tak ada yang tahu kalau usiamu sendiri sebenarnya sebaya denganku, sekitar delapan puluh tahun!"
"Tutup mulutmu, Se tan!" bentak Ratu Geladak Hitam sambil matanya melirik sekilas ke arah Yuda Lelana.
Rupanya ia tak suka rahasia itu diketahui oleh Yuda Lelana.
"Kau tak perlu banyak bicara tentang diriku, Sirih Dewi! Yang perlukau lakukan adalah minggat dari tempat ini, bila perlu sekarang juga!"
"Aku tidak akan pergi ke mana pun!" tegas Nyai Sirih Dewi.
Wajah cantik sang Ratu tampak memerah pertanda menahan amarah.
"Sirih Dewi, ini peringatan terakhir dariku!" katanya, lalu ia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk tinggalkan tempat ini dengan seruan tertahan,
"Jalan...!"
Mereka berbalik arah dan saling meninggalkan tempat. Tapi di kejauhan mata sang Ratu sempat berteriak dari sana sambil berpaling ke belakang.
"Sirih Dewi! Kalau kau tak mau tinggalkan tempat ini, kau tidak akan dapatkan Kitab Jayabadramu lagi selamanya! Tapi jika kau mau tinggalkan tempat ini, suruh anak muda itu mengambil kitab pusakamu ke tempatku!"
"Jahanaaam...!" geram Nyai Sirih Dewi dengan bergegas ingin mengejar.
Tangan Yuda segera mencekal lengan sang Nyai, menahan gerakan murkanya.
"Jangan sekarang, Nyai!"
"Dia harus kuhajar habis, karena ternyata orangnya itulah yang mencuri Kitab Jayabadra sebagai sanderanya!"
Kutilang Manja dan Peluh Selayang juga tampak gusar. Yuda Lelana menenangkan mereka dengan berkata,
"Jangan terpancing emosi. Kalem saja. Kalem...!"
"Bagaimana bisa kalem kalau Kitab Pusaka itu ternyata ada di tangannya?!" sentak Kutilang Manja.
Nyai Sirih Dewi berkata dalam geram,
"Aku harus bisa mengambil kitab itu lagi tanpa harus pergi dari Bukit Bara!"
"Biar aku yang mengambilnya ke sana, Nyai!" kata Yuda Lelana.
"Jangan! Kau tak boleh ke sana!" tukas Kutilang Manja.
"Dia pandai menjerat hati lelaki."
"Tenang saja, Kutilang Manja," kata Yuda.
__ADS_1
"Dia tak akan menjeratku karena hatinya tadi sudah terjerat sendiri olehku."
"Uuh...! Dasar buaya!" geram Kutilang Manja, lalu bergegas masuk.