
Angin aneh menerpa alam sekitar Pulau Iblis. Seperti diceritakan di depan tadi, Pulau Iblis merupakan wilayah kekuasaan raja jin yang bernama Kala Bopak, ayah, yang berarti mertuanya Batara Kama sekaligus kakeknya Pendekar Ganjen. Orangnya tinggi, besar, wajahnya menyeramkan karena serba besar sampai pada giginya pun besar-besar. Kepalanya gundul berkuncir segepok melengkung ke belakang. Untung ditutup dengan mahkota sehingga tak kelihatan gundul total.
Sekalipun dia adalah raja jin, tapi sejak menikah dengan mendiang ibunya Murti Kumala, ia mengurangi sifat-sifat jahatnya, sejak punya cucu, ia malah menjadi jin yang baik hati. Suka menasehati orang, walau kadang dirinya sendiri kurang sehat. Gemar menolong orang walau ia sendiri sering mengharapkan balasannya. Rajin menabung supaya tua beruntung, katanya.
Kala Bopak bukan jin sembarang jin. Jin gembel pun bukan. Jin murahan juga bukan. Kesaktiannya sudah tentu sangat tinggi. Kalau tak tinggi, tak akan menjadi raja jin. Mungkin hanya menjadi raja singa.
Ia mempunyai anak buah atau perajurit jin juga. Tapi jin yang sudah menjelma menjadi manusia. Walau demikian, ciri-ciri jin masih ada pada mereka; tubuh tinggi, besar, sangar dan punya kekuatan besar juga. Peristiwa hancurnya sebuah gunung berapi beberapa tahun silam melibatkan beberapa nama anak buah Kala Bopak, yaitu sebagai jin yang menjadi korban bencana alam meletusnya gunung tersebut. Bukan sebagai jin yang menghancurkan gunung.
Nama Kala Bopak sendiri cukup dikenal di kalangan para tokoh tingkat tinggi. Pulau Iblis sendiri awalnya milik Ratu Geladak Hitam. Ia diserang Kala Bopak dan kalah, lalu hidup mengembara di lautan dengan kapalnya, dan terdampar di pantai utara, lalu hidup sebagai kelompok masyarakat sendiri yang kini berdamai dengan Nyai Sirih Dewi sebagai pemilik Bukit Bara, karena di sana terdapat tambang emas.
Setelah Pulau Iblis dikuasai Raja Kala Bopak, dibangunlah Istana yang maha megah. Dulu istana itu pernah dibuat hancur karena pertarungan Kala Bopak dengan Yuda Lelana, sebelum akhirnya diangkat sebagai menantunya dengan amat terpaksa. Di dalam istana itu, tentu saja dihuni oleh para jin, dari pelayannya sampai kokinya, jin semua.
Tapi ada dua orang yang statusnya bukan jin melainkan manusia. Mereka adalah Ki Panut Palipuh dan muridnya yang bernama Mirah Duri. Gadis ini dulu pernah diselamatkan Pandu Puber saat ditawan Adipati Sihombreng, yaitu ketika Pandu Puber masih berusia anak-anak. Ki Panut Palipuh bisa mendarat di Pulau Iblis karena mendapat suaka perlindungan dari Kala Bopak atas kejaran dendam Adipati Sihombreng. Biar mereka beda status, tapi Ki Panut Palipuh adalah sahabat baik Kala Bopak. Jadi sang guru itu ditampung dengan suka rela oleh Kala Bopak, bahkan ia dan muridnya sekarang dijadikan pejabat istana Pulau Iblis.
Angin aneh yang bertiup di Pulau Iblis itu membuat Raja Kala Bopak menjadi gelisah. Indera keenamnya mengatakan, ada sesuatu yang terjadi dan akan dihadapi. Indera ketujuhnya menggiring alam pikirannya kepada wajah putri tunggalnya yang semata wayang itu; Murti Kumala.
“Ada apa dengan anakku, ya?” pikirnya saat duduk di singgasana. Ia melamun sambil terbengong sampai tak sadar ada lalat masuk ke mulutnya dan keluar lagi dengan bangga karena pernah masuk mulut jin dengan selamat.
Kegelisahan hatinya itu menelorkan ide untuk segera pergi ke Gunung Ismaya. Biasanya ia menengok anak, menantu dan cucunya sendirian, tapi kali ini ia ingin mengajak Mirah Duri untuk pergi ke puncak Gunung Ismaya. Entah kenapa tiba-tiba hati kecil jin besar itu berkeinginan begitu. Apakah mungkin selama ini ia sering memandangi wajah Mirah Duri yang cantik dan berandai-andai tak beres dalam hatinya? Atau karena ada getaran gaib yang menyuruhnya membawa serta si gadis cantik yang pernah kasih sun sama Pandu Puber itu? Tak jelas alasan hati Kala Bopak, pokoknya dia ingin didampingi oleh murid Ki Panut Palipuh itu.
“Kali ini, tugasmu sebagai public relation dan kepala pelayan kau limpahkan dulu kepada pegawai lainnya,” kata Kala Bopak kepada Mirah Duri.
“Kau ikut aku ke Gunung Ismaya.”
“Baik, Paduka!” jawab Mirah Duri menghormat.
Karena biar wajah Kala Bopak seperti semprong kapal bertenaga kayu bakar, tapi ia adalah raja yang patut dihormati. Hidup matinya Mirah Duri terletak di ujung lidah Kala Bopak. Bukan berarti Kala Bopak berlidah kapak, tapi karena satu kali keluarkan perintah dapat memenggal kepala Mirah Duri.
“Aku ingin kau mengenakan pakaian serba putih,” kata Kala Bopak.
“Kenapa begitu, Paduka?”
“Entahlah. Aku sendiri tak tahu kenapa aku berkeinginan seperti itu? Pokoknya pakai saja pakaian serba putih, akupun mau ganti jubah putih.”
“Saya tidak punya pakaian putih, Paduka.”
“Seprai saja deh! Seprai kasur kau lilitkan di tubuhmu kan jadi pakaian serba putih. Kalau tak ada seprai, perban juga boleh.”
“Perban itu apa, Paduka?”
“Perban itu Perawan Bantingan!” jawab Kala Bopak dengan jengkel karena ditanyai terus.
Mirah Duri tersenyum-senyum geli. Kala Bopak berkata lagi.
“Apa saja yang serba putih, pakailah! Jangan banyak tanya!”
Kepergian Kala Bopak dengan Mirah Duri atas seizin Ki Panut Palipuh. Sekalipun Kala Bopak seorang raja, tapi ia menghargai nilai persahabatannya dengan Ki Panut Palipuh. Maka iapun berkata,
“Panut Palipuh, aku mau ajak muridmu menengok cucuku Pandu Puber. Apakah kau keberatan?”
__ADS_1
“Tidak! Asal kau jangan macam-macam sama muridku. Dia masih perawan!”
“Itu tidak mungkin tejadi kalau tak kepepet sekali, Panut Palipuh. Aku masih menghargai nilai persahabatan kita. Hanya karena merusak satu perawan bisa-bisa nilai persahabatan yang kita rintis selama ini menjadi hancur. Itu tidak baik! Jangan sekali-kali begitu, ya?!”
“Lho, aku tadi mengingatkan kamu. Kok sekarang kamu ganti mengingatkan aku? Kalau mau pergi ya pergilah sana. Kebetulan belakangan ini Mirah Duri sering bicara tentang Pandu Puber padaku. Rupanya ia menyimpan kangen pada Pandu Puber cucumu itu, Kala Bopak!”
“Kangen bagaimana? Mirah Duri dan Pandu Puber usianya jauh berbeda lho! Jangan kangen yang nggak-nggak dia!”
“Usia memang jauh berbeda, tapi Mirah Duri tetap awet muda dan cantik, kan?”
“Iya. Itu juga karena kuberi ilmu awet muda padanya. Kalau tidak, ia sudah jadi perempuan tua! Cuma, aku nggak suka kalau Mirah Duri naksir cucuku.”
“Alasannya apa? Toh mereka berlainan jenis?”
“Oke deh. Naksir saja boleh, tapi jangan sampai kawin. Sebab cucuku itu calon dewa. Dia harus kawin dengan bidadari supaya bisa hidup di kayangan. Apalagi cucuku sekarang adalah seorang pendekar, dia tidak kuizinkan jatuh cinta kepada sembarang wanita!” Kala Bopak membanggakan cucunya.
“Itu urusan pribadi mereka masing-masing, Kala Bopak. Kau tak boleh ikut campur. Sekadar memberi saran kepada cucumu sih boleh-boleh saja tapi tidak boleh memvonis konsep hidupnya!”
“Hmmm… begitu, ya? Oke, deh… itu masalah nanti. Kita bisa bicarakan setelah aku pulang dari Gunung Ismaya!”
“Berangkatlah dan jaga diri baik-baik, tak lupa jaga juga muridku itu!”
Mirah Duri tak bisa mengenakan pakaian serba putih yang dikehendaki Kala Bopak, karena semua seprai putih sedang dicuci dan belum kering. Hanya Kala Bopak yang menukar pakaiannya. Jubah hitam diganti jubah putih. Semua pakaian dan assesoris diganti serba putih. Karena kulitnya hitam, maka Kala Bopak jadi seperti pinsil alis dibungkus kapas.
“Kita terbang, Mirah Duri!”
“Jangan, Paduka. Saya takut kalau dibawa terbang. Kita naik taksi online saja.”
“Tapi saya tak bisa terbang, Paduka.”
“Naik di punggungku, pegangan kuncirku!”
“Ogah, ah!”
“Kenapa?”
“Nanti kalau ada orang melihat, disangkanya saya sedang naik onta!”
“Eh, ini rajamu, ya? Jangan kau samakan dengan onta!” hardik Kala Bopak.
Akhirnya diputuskan untuk menggunakan jalur gaib. Maksudnya jalur gaib adalah perjalanan melintasi alam gaib agar mudah sampai tujuan. Apa bisa? Bisa dong! Kala Bopak kan raja jin, kalau nggak bisa melintasi jalur gaib sama juga bohong, kan? Tapi bagaimana dengan Mirah Duri, yang sampai sekarang masih sering bersikap manja dan kekanak-kanakan itu? Diakan bukan keluarga jin, tidak punya kekuatan menembus jalur gaib? O, itu soal mudah selama ia berada di sebelah Kala Bopak. Raja jin yang bermata lebar dan berkulit wajah hitam tebal seperti terpal itu menebarkan jubah putihnya, menyelubungi Mirah Duri.
Wuuusss…!
Saat itu asap menebar. Mirah Duri terbatuk-batuk dalam selimut jubah putih lebar itu.
“Saya sesak napas, Paduka!” katanya.
“Diam lu! Kita sedang memasuki jalur gaib nih!Jangan banyak omong nanti ada orang dengan suara tanpa rupa dia bisa pingsan terkencing-kencing!”
__ADS_1
“Tapi jubah ini baunya tujuh rupa, Paduka!”
“Memang sudah bertahun-tahun tidak dicuci. Tak usah mengeluh, terima saja apa adanya, Mirah Duri.”
“Kepala saya pusing, Paduka.”
“Cerewet lu! Tahan sebentar, itu cuma bau keringatku saja!”
“Tapi…”
Buhhg…! Blaaamm…!
“Apa itu?!”
Kala Bopak dan Mirah Duri keluar dari jalur gaib. Nah, luh…! Kenapa bisa keluar dari jalur gaib? Suatu kekuatan gaib menghantam mereka dan membuat mereka terpental jatuh di alam nyata.
Tubuh besar Kala Bopak yang jatuh ke alam nyata itu membentur dinding bukit cadas dan menggetarkan bukit itu, menimbulkan suara gema menggelegar. Untung saja Mirah Duri tidak kejatuhan badan Kala Bopak. Kalau saja sampai kejatuhan tubuh hitam besar berperut buncit itu, maka tubuh sekal dan sexy milik Mirah Duri itu kontan akan menjadi kempes dan gepeng seperti sele pisang yang dijual di toko online itu. Terpental jauh dari tubuh Kala Bopak adalah suatu keberuntungan besar bagi Mirah Duri.
“Biarlah punggungku terasa remuk, tapi aku masih bisa bernapas. Dari pada harus ketiban tubuh Kala Bopak, aku akan kebingungan mencari di mana letak napasku,” pikir Mirah Duri sambil menggeliat pelan-pelan berusaha untuk bangkit dari jatuhnya.
Mirah Duri pejamkan mata sejenak, menahan napasnya beberapa saat, lalu disalurkanlah hawa murni di daerah punggung, sehingga rasa sakit di punggungnya itu mulai berkurang.
Raja Kala Bopak mengumpat dengan sebaris makian yang tak jelas karena suaranya menggelegar menggetarkan pepohonan dan bebatuan sekelilingnya. Yang jelas, Mirah Duri segera kerutkan dahi melihat sesosok tubuh asing yang berdiri dalam jarak delapan langkah dari Kala Bopak.
“Monyet gabuk! Rupanya kau yang mengganggu perjalananku, Ratu Peri Sore!”
Mirah Duri terperangah.
“Rupanya perempuan cantik itulah yang bernama Ratu Peri Sore?! Ya, ampuuun…? Alangkah cantiknya dia! Tak pantas menggunakan julukan Ratu Peri. Tapi, apa yang pernah diceritakan Guru memang benar. Ratu penguasa para peri yang munculnya tiap sore sampai menjelang fajar itu ternyata memang benar-benar memiliki rupa tercantik di dunia.”
Memang dulu Ki Panut Palipuh pernah bercerita kepada murid-muridnya, bahwa kecantikan yang tertinggi di dunia adalah kecantikan milik Ratu Peri Sore. Perempuan itu adalah benar-benar seorang ratu di kalangan para peri. Sore hari dia sudah muncul lebih dulu, lalu membagi tugas kepada para pengikutnya untuk lakukan kegiatan malam.
Ratu Peri Sore konon jarang muncul siang hari kalau tidak ada masalah amat penting. Konon Ratu Peri Sore bersemayam di Hutan Kulit Setan. Letak hutan itu, kabar-kabarnya, ada di bukit tepi laut, yang bernama Bukit Tengkuk Hantu, tepatnya sisi lereng timur bukit itu. Ratu Peri Sore selain cantik juga berpakaian sexy sekali. Jubah tipis warna biru transparan. Jubah itu mempunyai belahan dada lebar, dan tak punya pelapis apa-apa lagi di balik jubah tipis transparan itu, jadi ‘perabotnya’ dapat terlihat samar-samar dan mempunyai daya goda luar biasa besarnya. Rambutnya teriap panjang sepunggung, bagian atas dijepit mahkota kecil. Jubah berlengan panjang itu terbuka lepas bagian depannya, sedangkan tubuh dari pusar ke bawah dibungkus celana longgar sekali mirip kain dari bahan sangat transparan, sehingga ‘perabotnya’pun juga tampak samar-samar. Celana mirip kain itu berwarna merah jambu, punya kancing tali memanjang dari tengah pusar ke bawah. Satu kali sentak tali itu akan lepas dan plos….kain merah jambu itu akan terbuka bebas. Sang ratu juga memakai perhiasan lengkap, tapi tidak dalam ukuran berlebihan.
Mirah Duri tak berani mendekat, karena ia tahu perempuan itu sangat berbahaya dan ilmunya tinggi. Mirah Duri hanya memperhatikan dari suatu tempat yang tersembunyi. Jantungnya berdebar takut, namun penasaran ingin melihat apa yang dilakukan raja jin dalam berhadapan dengan Ratu Peri Sore itu.
“Maaf, aku mengganggu perjalananmu, Kala Bopak. Kau harus menyelesaikan urusan masa lalu denganku yang waktu itu tertangguhkan!” kata Ratu Peri Sore dengan suaranya yang merdu dan tenang bagaikan air sendang bening.
“Masih belum kapok juga kau, hah?! Kau tetap ingin menguasai negeri alam gaib dan menundukkan rakyat jin dalam penguasaanku?!”
“Perkaranya sudah berubah, Kala Bopak!”
“Berubah bagaimana? Dasar Peri plin-plan!”
“Aku harus menebus kekalahanku waktu lalu. Kau hampir saja membuat aku tak bisa menjelma dengan raga berjasad kasar! Orang bisa menyentuhku dan aku bisa menyentuhmu. Sekarang ganti kau yang akan kubuat mati, tak bisa berjasad kasar lagi seperti saat ini!”
“Monyong jeber! Hati-hati bicara di depanku, Peri Sore!”
“Mengapa harus hati-hati? Kau pikir aku takut melawanmu lagi? Hmm…!” Ratu Peri Sore sunggingkan senyum sinis, berjalan menyamping tiga tindak. Raja jin diam saja, pandangi wanita super cantik itu dengan mata ganas. Ratu Peri Sore kembali perdengarkan suaranya yang pantas untuk suara penyanyi kroncong itu.
__ADS_1
“Satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Kala Bopak! Kutahu kau sekarang punya cucu yang bergelar Pendekar Ganjen. Kutahu cucumu itu tampan, gagah dan perkasa. Dia akan kulebur dalam hatiku dan kujadikan suamiku sepanjang kebosananku belum tiba!”