
Agak sulit juga menjelaskan kepada Mirah Duri yang menanyakan siapa gadis cantik jelmaan si Dukun Lelang itu?
Mulanya Mirah Duri menyangka gadis cantik itu adalah Ratu Peri Sore. Tetapi hati kecilnya sendiri sempat bimbang, karena sang hati kecil itu mengakui bahwa sekalipun Ratu Peri Sore wanita paling cantik menurut pandangan Mirah Duri, namun kenyataannya masih kalah cantik dibandingkan wanita jelmaan nenek kempot tadi.
“Dia penghuni alam lain,” hanya itu jawaban Pandu Puber ketika ditanya.
“Sejenis setan atau peri, begitu?” desak Mirah Duri.
“Entahlah, sebaiknya jangan bicara soal wanita itu. Aku bingung.”
Tentu saja bingung, sebab di depan gadis seperti Mirah Duri, Pendekar Romantis sangat kikuk mengatakan bahwa Dian Ayu Dayen adalah bidadari yang bakal menjadi istrinya.
Hanya kepada bidadari itulah Pendekar Romantis diizinkan kawin oleh ayahnya. Perkawinannya dengan Dian Ayu Dayen itulah yang akan membawa mereka ke kayangan.
“Rupanya dia membayang-bayangiku selalu,” pikir Pendekar Romantis dalam renungannya.
“Dia pernah bilang, ‘Carilah aku di antara kecantikan-kecantikan yang menyebar di sekelilingmu. Aku ada di antara mereka’. Rupanya dengan cara seperti itulah aku diuji untuk membedakan mana yang calon istri mana yang calon korban cinta. Ah, unik sekali percintaan warga kayangan itu. Tapi secara jujur kuakui, dia memang cantik dan sangat menggairahkan semangatku. Tapi alangkah sukarnya memperoleh dirinya? Oke deh, kalau memang dia jodohku, tetap harus kukejar bagaimanapun caranya. Masa’ iya Pendekar Ganjen tak mampu menaklukkan bidadari secantik dia? Hmmm…. Awas nanti kalau berhasil ku tangkap, habislah kau punya bibir, Non!”
Tiba-tiba terdengar suara sapaan orang dalam merintih,
“Hoi, hoi….tolong dong kakiku ini! Uuh…! Sakitnya bukan main nih!”
Loan Besi ternyata semakin tak bisa jalan. Bagaimana mau jalan kalau salah satu kakinya membengkak seperti kaki gajah. Jangankan disentuh, tertiup angin saja sakitnya sampai ke ubun-ubun. Anehnya luka seperti itu tidak berhasil disembuhkan dengan hawa murni Loan Besi sendiri.
Pendekar Ganjen mendekati Loan Besi, lalu menggunakan jurus ‘Hawa Bening’ untuk sembuhkan luka itu. dalam waktu sekejap saja kaki yang membengkak sebesar kaki gajah itu mulai mengempis. Warna biru busuknya pudar sedikit demi sedikit.
“Lain kali jangan mengaku-aku sebagai guruku. Kau akan kena celaka sendiri jika masih mengaku sebagai guruku. Bukan aku yang mencelakakan kamu, tapi orang lain yang akan membuat celaka Ki Loan Besi!”
“Pandu Puber, betapapun tingginya ilmumu, kau masih membutuhkan seorang pembimbing. Ilmumu akan menjadi sempurna lagi jika ditambah dengan kesaktianku. Sebab ilmu kesaktianku ini tak ada duanya. Ampuh sekali!”
Mirah Duri tertawa kecil.
__ADS_1
“Kalau memang ampuh kenapa tak bisa kalahkan Dukun Lelang?”
“Ada beberapa jurus yang kulupa. Tapi sekarang sudah ingat lagi. Andai sekarang Dukun Lelang itu muncul lagi dalam wujud apapun, pasti akan kuhajar habis sampai meratap-ratap minta ampun padaku.”
Pendekar Romantis tersenyum tipis.
“Sudahlah Ki Loan Besi…. Sebaiknya pergilah mencari murid lainnya. Jangan memaksaku untuk menjadi muridmu. Aku masih belum membutuhkan guru untuk saat ini. Mungkin kelak, pada suatu hari, bila aku membutuhkan guru kau akan ku panggil.”
“Kalau kau tak membutuhkan guru, baiklah. Tapi kau membutuhkan pelayan, Pendekar Romantis. Ambillah aku sebagai pelayanmu. Tak ada ruginya, kok. Nggak dibayar juga nggak apa-apa, asal diberi makan enak setiap hari serta dapat fasilitas rumah pribadi dan perabotnya lengkap.”
Merasa sulit menolak desakan Loan Besi, akhirnya Pandu Puber berkata,
“Begini saja, tangkaplah hidup-hidup Dukun Lelang tadi, maka kau akan kujadikan pelayanku, Ki Loan Besi!”
“Benar nih….?!” Loan Besi bersemangat.
“Ya, benar! Sudah sana pergi, cari Dukun Lelang dan tangkap dia lalu hadapkan padaku!”
“Baik, aku pamit, calon murid!” dan Loan Besi pun melesat meninggalkan tempat dengan penuh semangat.
“Biar sampai jebol udelmu nggak bakalan kau bisa menangkap bidadari secantik Dian Ayu Dayen. Kau pikir ilmunya cetek?”
Pendekar Ganjen kembalikan perhatiannya kepada Mirah Duri. Senyumnya mekar sepanjang tatapan wajahnya. Mirah Duri buang muka karena tak mau dibuat shock oleh daya pesona yang menggundahkan hati itu. Buru-buru gadis itu mengalihkan suasana dengan menceritakan pertarungan antara Kala Bopak dan Ratu Peri Sore.
Duka di hati Pandu Puber membias di permukaan wajah tampannya. Terbayang wajah sang kakek semasa gemar bercanda dengannya. Duka itu nyaris membuat Pendekar Ganjen kehilangan ganjennya.
Bayangan mimpinya di gubuk tengah sawah muncul kembali. Baru sekarang sang Pendekar Ganjen mengetahui apa arti mimpinya kala itu.
“Pedang Siluman….?! O, ya….dulu seingatku kakek pernah sebut-sebut nama Pedang Siluman,” kata PanduPuber sambil mengingat-ingat masa lalunya.
“Tepuk pahamu satu kali, dan pedang itu akan muncul dari kakimu itu!” tutur Mirah Duri mengajari cara mengambil pedang tersebut.
__ADS_1
“Apa benar begitu?” pikir Pandu agak sangsi.
Tapi kemudian ia buktikan kata-kata Mirah Duri itu dengan menapak paha kirinya satu kali.
Plak….!
Pandu pandangi kaki kirinya, tapi tak muncul pedang atau senjata apa-apa.
“Bukan kaki kiri, tapi kaki kanan!” Mirah Duri menjelaskan.
Plak…!
Paha kanan ditepak.
Zlaapp…!
Tiba-tiba tangan Pandu Puber menggenggam pedang warna kuning emas berhias bentuk jatung hati. Mata pedang masih terbenam di kaki itu. Pandu Puber terperanjat girang, lalu mencabut pedang itu pelan-pelan sekali. Tampak mata pedang bagaikan keluar dari kulit dan daging kaki tersebut.
Seellp…!
Wuuttt…!
Pedang tercabut seluruhnya. Mata pedang memancarkan sinar ungu yang mengagumkan mata si pemiliknya sendiri.
Wajah duka Pandu Puber lenyap, yang ada hanyalah wajah berseri-seri memandang pedang tersebut. Senyum kebanggaan pun mekar pula di bibir Mirah Duri. Dia merasa bersyukur karena pejelasannya ternyata memang ada buktinya.
“Megah sekali pedang ini!” ujar Pandu Puber seakan bicara pada diri sendiri. Mirah Duri menjawab,
“Itulah kakekmu Raja Jin Kala Bopak!”
Lalu hati Pandu mulai disentuh keharuan lagi. Ia menyapa pedang itu,
__ADS_1
“Kek….! Apakah kau bisa mendengar suaraku, Kek?” Lalu terdengar jawaban dalam bentuk suara membisik, hanya Pandu sendiri yang mendengarnya, sama seperti suara membisik dari Dian Ayu Dayen yang tidak bisa didengar oleh orang lain tadi.
“Aku mendengar suaramu, Cucuku!”