Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Kunjungan Kakek Raja Jin


__ADS_3

Bocah bertato dihajar ibunya. Pantatnya dipukul berkali-kali.


Plak, plok, plak, plok…..!


Masih kurang puas sang Ibu mengambil sandal,


Plok!


“Ampun, Ibu! Ampun…..!”


“Kapok nggak kau, hah? Kapok nggak?! Kalau main nggak ingat waktu, nggak ingat pulang!”


Plook…!


“Ampun, Bu. Aku kapok, Bu!”


Plaak…!


“Main ke mana saja kau, hah? Dua minggu baru pulang?! Bocah apaan kau ini?! Bandel amat sih? Berapa kali Ibu harus menghajarmu supaya kalau main ingat pulang?!”


Tangan sang Ibu meraih telinga dan dipelintirnya telinga itu.


Cuiit!


Sang bocah meringis kesakitan berjinjit-jinjit.


“Ke mana saja kau, hah? Ke mana saja?!”


“Ber….ber….berkelana, Bu!”


Plaak….!


Punggungnya ditabok sang Ibu.


“Mau jadi apa kau ini, hah? Kecil-kecil sudah berlagak berkelana?! Mau jadi apa kau, hah?!”


“Ja….jadi…. jadi pendekar, Bu!”


Plaak…!


Punggung ditabok lagi.


“Pendekar itu tidak bandel! Pendekar itu menurut dengan nasihat orang tua! Ampun nggak kau! Ampun nggak?!”


“Ampun, Bu! Ampun sekali!” kata sang bocah dengan perasaan takut.


Telinga pun dilepas kembali. Sang bocah menundukkan kepala dengan cemberut. Rasa hormat dan takut kepada sang Ibu tetap ada. Ia tak membantah ketika sang Ibu ngomel panjang-lebar.


Sang Ayah, Yuda Lelana, muncul dari depan rumah samping. Tangannya dikebelakangkan. Tampil dengan tenang dan kalem walau rambutnya sudah putih beruban rata karena termakan proses ketuaan yang cepat itu.


Saat itu sang Ibu mengomel dari sumur, sang anak ada di depan pintu samping.


“Anak kok bandelnya kayak bapaknya! Kalau main nggak ingat pulang! Kalau sampai ketukar ayam bagaimana kau, hah? Kalau ada apa-apa siapa yang rugi? Ibu membesarkan kamu bukan untuk menjadi anak yang bandel, tapi supaya kamu menjadi anak yang patuh kepada orang tua! Dasar anak dewa, kalau ngelayap lupa pulang!”


Dan sebaris omelan lagi yang sulit dimengerti orang lain.


Sang Ayah dekati Pandu dan tersenyum, geleng-geleng kepala. Anak itu melirik ayahnya, cemberut. Sang Ayah malah geli, tertawa tanpa suara.


“Makanya, lain kali kalau pergi bermain jangan sampai seminggu baru pulang. Kalau bisa setahun baru pulang!”


“Uuuh…! Ayah!” anak itu bersungut-sungut.


“Nggak apa-apa. Dipukul Ibu anggap saja latihan kekebalan tubuh! Nah, sekarang bikin hati ibumu reda amarahnya!”


“Takut, ah!”


“Ibumu suka kalau mendengar kau menyanyi. Ayo menyanyilah, biar ibumu terhibur dan tidak marah lagi.”


Pandu Puber akhirnya pergi ke sumur, ia naik di atas batu penggilasan tempat mencuci pakaian. Di sana ia bernyanyi dengan suara lantang dan melenggak-lenggok. Lagunya mirip lagu “Aku Anak Sehat”.


Aku anak dewa, tubuhku segar.


Karena ibuku rajin menghajar.

__ADS_1


Sewaktu aku pulang, Ibu langsung mengemplang.


Tanpa perut kenyang, tapi penuh kasih sayang.


Bentuk badanku selalu dipandang, teringat masa ditimang-timang.


Bila aku tak pulang, tangan Ibu melayang.


Tujuh kali di pipi, lima kali di pantat….


Sang Ibu tersenyum. Bangkit dan hampiri Pandu. Suara anak itu ingin mengulangi lagu tadi.


“Aku anak dewa, tubuhku…..”


“Cukup!” bentak sang Ibu.


Suara itupun putus seketika. Wajah ceria surut karena takut. Suara tawa mengikik terdengar di belakang Murti Kumala. Ternyata sang Ayah yang merasa geli melihat perubahan wajah Pandu dalam seketika, hanya satu kali mendengar bentakkan sang ibu, wajah itu langsung berubah seperti kembang kol.


“Dengar, Pandu….! Kalau kau masih bandel lagi, Ibu akan jewer kupingmu sampai putus! Ngerti?!”


“Ngerti, Bu….” Jawab Pandu pelan.


Wuuusss…!


Seketika itu angin berhembus terasa aneh. Yuda Lelana dan Murti Kumala segera tanggap dengan hembusan angin aneh itu. Aroma rempah-rempah mengabar bercampur bau kemenyan.


Mereka berdua segera bergegas ke depan rumah batunya. Ternyata dugaan mereka benar, ada tamu yang datang. Tamu itu tak asing lagi bagi mereka. Tubuhnya tinggi, besar, hitam, berwajah angker, namun cukup akrab dan dekat dengan mereka.


Sang Ibu langsung berseru,


“Panduuu…! Kemarilah, tuh kakekmu datang!”


Pandu Puber girang dan berlari ke depan sambil berseru,


“Kakeeekk…!”


“Hoi, ho, ho, ho, ho…!” Raja Kala Bopak, raja jin yang menjadi ayah Murti Kumala, tertawa terhoho-hoho menyambut larinya sang cucutersayang.


Wuuutt…!


Langsung menclok di dada besar raja jin itu.


Plook…!


“Hoh, hoh, hoh, hoh… sedang apa kau cucuku sayang, hah?”


“Sedang ditimang-timang Ibu, Kek!”


“Bagus. Ibumu memang penuh kasih sayang dalam mendidikmu. Dulu kakek juga sering menimang-nimang ibumu sewaktu ibumu seusia kau!”


“Tapi, Kek…. Kenapa sih kakek betah pakai topeng. Copot dong!”


“Ho, ho, ho, ho….! Ini bukan topeng, Cu. Ini wajah kakek yang asli. Yang memang begini wajah dari sononya. Jangan heran lagi!”


“Amit-amit…..? Apa nggak ada yang lebih jelek lagi, Kek?”


“Hoh, hoh, hoh, hoh… untung kau cucuku, kalau bukan kupelintir kepalamu!”


Raja jin itu walau wajahnya buruk dan menyeramkan, tapi sangat sayang kepada cucunya.


Pandu Puber bagai buah hati yang amat dibanggakan oleh si Raja Kala Bopak. Kadang-kadang bocah itu dicolong, dibawa terbang ke Pulau Iblis dan diajak bermain di sana.


Sikap Raja Kala Bopak yang dulu muak sama Yuda Lelana karena merasa pernah dikalahkan, kini menjadi baik setelah Murti Kumala melahirkan bayi lelaki itu. Entah mengapa sampai bayi itu sekarang berusia delapan tahun, Murti Kumala belum hamil lagi.


Mungkin memang jatahnya hanya dikaruniai satu orang anak saja. Yang jelas, Pandu Puber menjadi buah hati bagi Ayah, Ibu, dan kakeknya.


Sang kakek sering berkunjung ke puncak Gunung Ismaya hanya sekedar kangen kepada cucunya. Kadang jika ia datang oleh-olehnya satu-dua jurus yang segera diajarkan kepada bocah itu.


“Asal datang oleh-olehnya jurus! Sekali-sekali kek datang dengan oleh-oleh jeruk, atau rambutan, mangga atau yang lainnya. Jangan juruuus…. Terus! Mau kau jadikan apa anakku nanti, Ayah?” kata Murti Kumala.


“Jeruk atau makanan lainnya, dalam sekejap bisa habis. Tapi ilmu, sampai masuk ke liang kuburpun tak akan hilang! Bekal yang baik untuk anak adalah ilmu,” kata Kala Bopak yang bersuara gema.


“Ilmu tidak akan habis dimakan rayap. Semakin tua malah semakin hebat. Dan aku ingin anak ini menjadi anak yang hebat!”

__ADS_1


“Ah, nanti kerjanya berantem melulu! Pusing aku ngurusin anak yang suka berantem terus!”


“Berantem demi membela kebenaran kan nggak apa-apa,” sahut Yuda Lelana, bersifat mendukung gagasan mertuanya.


“Kau sendiri sering mengajarkan jurus “Tembang Keramat” apa nggak punya tujuan untuk berantem?”


“Lho, itukan sekadar untuk membela diri saja!” debat Murti Kumala.


Jurus “Tembang Keramat” sering diajarkan oleh Murti Kumala kepada Pandu. Jurus itu dulu diperoleh dari ibunya, yang juga seorang pendekar wanita tapi sudah meninggal ketika Murti Kumala berusia tujuh belas tahun.


Jurus “Tembang Keramat” dikembangkan oleh Kala Bopak sehingga menjadi banyak jenisnya. Pada dasarnya, Murti Kumala cukup bangga mempunyai anak pemberani seperti Pandu Puber. Tapi ia tak ingin Pandu Puber menjadi hanyut dengan kehebatannya dan menyepelekan orang tua.


Karenanya Murti Kumala selalu bersikap seolah-olah tak suka jika Pandu Puber nakal dan konyol. Padahal Murti Kumala tak pernah cemas bila anaknya pergi ke manapun, karena ia tahu seluruh ilmu suaminya yang aslinya adalah dewa itu telah menitis masuk ke dalam raga anaknya.


Tetapi sikap mendidik ibu tetap diterapkan oleh Murti Kumala, supaya sang anak tidak menjadi anak salah asuhan. Itulah sebabnya, walaupun Pandu Puber punya kekuatan tersendiri dalam tubuhnya, tapi ia tetap takut dan hormat kepada orang tua.


Anak itu sangat sayang kepada ayah dan ibunya. Sebenarnya ia bisa saja melawan pukulan ibunya pada saat dihajar seperti tadi. Tapi ia tidak mau, dan bocah itu bisa merasakan bahwa dirinya memang patut dihajar, layak dimarahi dan tak perlu membalas dengan gerakan apapun.


Sekalipun ilmu Yuda Lelana menitis kepada Pandu Puber, jurus “Tembang Keramat” diajarkan oleh Murti Kumala kepada anaknya, jurus-jurus maut lainnya sering diberikan Kala Bopak sebagai oleh-oleh buat sang cucu, tapi mereka bertiga merasa bukan sebagai guru Pandu Puber. Malahan sang Ayah pernah berkata,


“Kelak, kalau kau sudah dewasa, carilah seorang guru yang dapat mengajarkan padamu bagaimana menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Seorang guru itu perlu kau miliki, karena dialah yang akan menjadi tempatmu bertanya ini-itu. Karenanya kau harus mencari guru yang benar-benar serba tahu, yang ilmunya lebih tinggi darimu.”


“Mengapa bukan Ayah saja yang menjadi tempatku bertanya?”


“Ayah akan kembali ke kayangan bersama-sama ibumu jika waktunya telah tiba. Tapi kaupun kelak akan menyusul kami pula di kayangan kalau kau bisa memenuhi syarat-syaratnya!”


Pikiran bocah yang polos itu akhirnya dilontarkan kepada sang kakek ketika hari itu sang kakek datang.


“Kek, benarkah Ayah dan Ibu akan pergi ke kayangan?”


“Benar. Karena ayahmu itu sebenarnya seroang dewa yang bernama Batara Kama. Dulu ayahmu diusir dari kayangan, karena melakukan kesalahan. Dulu kakek juga nggak tahu kalau ayahku itu dewa. Kakek pikir tukang jual kangkung! Eh, begitu tarung sama kakek, ternyata kakek kalah. Pantesan kakek kalah, wong dia itu dewa kok dilawan!”


“Hi, hi, hi…!” anak itu tertawa bangga.


“Tapi kakekkan raja jin? Masa’ kalah sama dewa sih?”


“Raja jin kalau raja jin sesat ya tetap kalah dengan dewa. Tapi sejak ayahmu kawin dengan ibumu, kakek sudah nggak mau jadi jin sesat lagi. Kakek takut kalau dihajar oleh ayahmu.”


“Kek, kalau Ayah dan Ibu naik ke kayangan, lalu aku sama siapa?”


“Jangan takut. Kakek akan mendampingimu sampai kapanpun. Kakek akan merubah diri menjadi sebuah pusaka yang bernama


“Pedang Siluman” dan tempatnya ada di dalam tubuhmu. Kau bisa pergunakan kekuatan kakek kalau kau dalam bahaya yang mendesak.”


“Jadi sekarang kakek ke sini karena mau berubah jadi pedang?”


“Hoh, hoh, hoh, hoh….! Nggak sekarang, Cu. Itu nanti kalau kau sudah dewasa. Sekarang kakek ada urusan dengan ayahmu. Kau bermainlah dulu dengan Ibu, ya? Awas, jangan nakal sama Ibu. Dia anakku lho!”


Urusan penting itu memang segera dibicarakan kepada Yuda Lelana. Tapi tak jauh dari mereka ada Murti Kumala yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka bersama.


Pandu Puber membantu menyiapkan makan siang. Murti Kumala mendengar percakapan ayahnya dengan suaminya.


“Ada sedikit masalah yang ingin kutanyakan kepadamu, Yuda Lelana.”


“Soal apa itu, Mertua?”


“Masalahnya begini,” kata Kala Bopak yang tetap berdiri karena tak ada tempat duduk yang muat untuk tubuhnya yang besar itu.


“Sahabatku seorang manusia, sedang diburu oleh orang banyak. Seorang adipati yang bernama Adipati Sihombreng membuka sayembara, barang siapa bisa menangkap hidup-hidup atau memenggal kepala Ki Panut Palipuh, ia akan diberi hadiah sekotak perhiasan dan sejumlah uang.”


“Atas dasar apa sang Adipati ingin memenggal kepala Ki Panut Palipuh?”


“Dendam turunan. Ayahnya dibunuh oleh Panut Palipuh dalam suatu pertarungan membela perguruan. Jadi, masalahnya adalah masalah antar perguruan. Tidak antar pribadi. Tapi masalah itu diangkat menjadi masalah pribadi oleh Adipati Sihombreng, sehingga ia belum merasa puas dan tenang hidupnya jika belum bisa memenggal kepala Panut Palipuh. Hadiah besar yang dijanjikan itu membuat para tokoh sakti yang haus harta segera tampil memburu Panut Palipuh. Lalu, ia datang ke Pulau Iblis dan meminta bantuanku. Untuk sementara ini aku hanya memberikan suaka padanya. Ia kubiarkan tinggal di Pulau Iblis. Siapa pun yang masuk ke Pulau Iblis dengan alasan mau memenggal kepala Panut Palipuh, tetap akan kutuduh melanggar wilayah kekuasaanku. Aku bisa bertindak.”


“Itu baik, Pak Mertua.”


“Tapi Panut Palipuh minta bantuanku untuk membunuh sang Adipati! Aku bingung memberi jawaban pasti kepadanya. Menurutmu aku harus bagaimana?”


“Jangan menyerang ke kadipaten, Pak Mertua!” kata Yuda Lelana dengan tegas.


“Pancing saja supaya orang kadipaten atau siapapun datang ke Pulau Iblis. Dengan begitu Pak Mertua bisa bertindak apa saja terhadap orang yang melanggar batas wilayah kekuasaan Pak Mertua. Kalau perlu pancing si Adipati itu supaya datang ke Pulau Iblis dengan sendirinya. Pak Mertua bisa sadarkan dia, kalau tak mau disadarkan ya apa boleh buat, terserah mau diapakan itu tergantung kemauan Pak Mertua.”


“Tapi masalahnya sekarang adalah, murid Panut Palipuh yang bernama Mirah Duri ditawan oleh pihak kadipaten, dijadikan sandera untuk memancing kehadiran Panut Palipuh. Gadis itu akan dilepaskan kalau Panut Palipuh menyerahkan diri. Pada dasarnya Panut Palipuh mau pasrah demi keselamatan muridnya itu. Tapi aku melarang, sebab kulihat sifat Adipati Sihombreng itu licik. Panut Palipuh bisa ditangkap dan dibunuh, tapi Mirah Duri belum tentu segera dibebaskan. Bisa-bisa dijadikan bulan-bulanan oleh pihak kadipaten"

__ADS_1


__ADS_2