Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Ki Loan Besi


__ADS_3

Kabut putih mulai merayapi bumi. Seakan keluar dari tiap celah tanah yang dipijak Yuda Lelana dan Kumala Murti. Kabut itu makin lama makin menebal.


Loan Besi memandang penuh keheranan. Hatinya membatin, “Itu kabut beneran atau dry-ice, kok semburannya agak aneh?”


Ternyata kabut yang kian menebal itu mengangkat telapak kaki Yuda Lelana dan Murti Kumala. Kedua orang itu makin lama semakin naik, tapi gerakannya sangat pelan. Sang Ayah segera berkata


“Pandu, jangan sedih dan jangan loyo! Kau bukan wayang golek, makanya jangan loyo! Tegak berdiri dan hadapi kenyataan dengan tegar!”


Pandu Puber bagaikan tergugah semangatnya, tercambuk jiwanya. Ia segera menegakkan sikap berdirinya. Dadanya sedikit terbusung, napasnya tertarik panjang-panjang, tapi tak sampai putus.


“Jangan cengeng anakku! Ada masa pertemuan, ada masa perpisahan pula. Dapat suguhan atau tidak, seorang tamu harus tetap pulang. Dan Ayah inilah tamu yang sudah dapat banyak suguhan dari bumi. Satu suguhan terpaksa Ayah bawa pulang sebagai oleh-oleh masyarakat kayangan. Suguhan itu adalah ibumu!”


“Anakku,” kata sang ibu.


“Benar apa kata ayahmu itu. jaga dirimu baik-baik. Jangan menjadi cengeng karena perpisahan ini. Kelak kita akan punya masa-masa reuni sendiri! Selamat tinggal, Pandu anakku…..jangan menangis….. jangan, Nak….!”


“Siapa yang menangis?” bisik ayah Pandu Puber.


“Matanya sudah merah tuh.”


“Itu karena dia begadang semalaman. Ngobrol denganku.”


Kabut tebal mulai mengangkat mereka berdua. Posisi berdiri mereka sebatas perut Pandu Puber. Sang Pendekar Romantis masih tetap tegakkan badan, tabahkan hati, pandangi kepergian kedua orang tuanya dengan tegas dan tegar. Tak ada tangis, tak ada air mata.


Sang Ayah kembali berkata,


“Ingat, Pandu… kau akan menyusul kami ke kayangan jika menikah dengan seorang bidadari. Karena itu, jaga dirimu, jangan sampai kau nikah dengan perempuan biasa. Kalau hanya sekadar ‘cuci mata’ saja tak apa. Tapi jangan sampai menikah. Dan ingat pula, siapapun yang manjadi pelayanmu atau gurumu nanti, maka dia punya free-pass untuk naik ke kayangan, hidup di sana bersama para dewa-dewi. Karena itu, hati-hatilah memilih pelayan atau guru, jangan sembarang orang kau jadikan pelayan atau gurumu! Supaya kelak kau tidak menjadi malu jika gurumu bikin masalah di kayangan. Ingat itu, Pandu…!”


“Aku akan ingat, Ayah…!” kata Pandu tegas sampai mendongak, karena ayah dan ibunya sudah semakin tinggi, sebatas lehernya. Kabut tebal itu membentuk mega yang menopang kaki kedua orang tua Pandu Puber.


“Satu lagi pesan Ibu, Nak…”


“Apa pesan itu, Bu!”


“Jangan lupa….sekali lagi jangan lupa….jemuran diangkat sebelum hujan turun, ya?”


“Baik, Ibu. Selamat jalan Ayah dan Ibu, selamat berpisah, sampai bertemu lagi…!” melambai-lambaikan tangan. Kedua orang tuanya membalas dengan tubuh makin naik lagi. Sang Ibu menangis, tapi sang Ayah berkata pelan.


“Jangan menangis! Nanti dia pingsan. Tersenyumlah… ayo, tersenyum…!”


Sang Ibu memaksakan diri untuk tersenyum walau kaku. Air matanya dibendung di tepian kelopak mata. Pandu Puber sendiri hampir saja menitikkan air mata karena kedukaannya. Tapi ia masih mampu menahan tangis itu di dalam hati, sehingga hatinya menjadi kembung karena penuh air yang menggenang. Ayahnya berseru ketika mereka lebih tinggi lagi,


“Jangan lupa, Ayah menjemur nasi kerak di atas genteng, nanti diangkat ya…?!”


“Baik, Ayah….! Ibu, nanti kalau sudah sampai sana sering-sering kirim surat, ya?!” seru Pandu menghibur diri. Asap tebal membentuk gumpalan mega itu tiba-tiba memancarkan sinar putih terang menyilaukan.


Sinar putih itu membungkus tubuh Yuda Lelana dan istrinya. Pandu Puber tak bisa melihat sosok kedua orang tuanya lagi karena silaunya. Dan tiba-tiba, dari langit mundul sinar biru membias ke arah sinar putih terang itu. Sinar itu bagaikan menyembur membentuk jalur tersendiri yang membuat gumpalan asap bercahaya itu tersedot masuk ke jalur sinar biru bening tersebut.

__ADS_1


Sang matahari redupkan cahayanya, seakan takut melihat sinar biru bening yang merupakan cahaya kekuatan sinar pandangan mata para dewa di kayangan. Rupanya para dewa pun membukakan pintu masuk menuju kayangan dan menyambut kepulangan Yuda Lelana alias Batara Kama dengan upacara adat sesuai tradisi para dewa. Taburan bunga warna-warni yang harum semerbak memenuhi alam kedewaan menyambut kedatangan Batara Kama dan istri. Tarian adat disiapkan pula, pawai para bidadari yang lengkap dengan drumband nya juga memeriahkan kedatangan Batara Kama. Di mana-mana terpasang spanduk bertuliskan “Welcome Batara


Kama and Bojonya.”


Pandu Puber tidak bisa melihat kemeriahan sambutan para dewa itu. Tapi mata hatinya bagaikan bisa merasakan kebahagiaan dan suka-cita yang terjadi di lingkungan para dewa. Senyum pemuda tampan itu mekar dalam lambaian tangan yang belum juga usai, sampai sinar biru itu lenyap dan matahari mulai bersinar terang lagi Pandu Puber masih melambaikan tangan. Duka di hati berganti suka-cita yang tak terlukiskan.


Tapi tidak demikian sang pengintai Loan Besi menangis terisak-isak karena terharu melihat perpisahan anak dengan kedua orang tuanya itu. Loan Besi tak bisa menahan isak tangisnya, sehingga terdengar sampai di telinga Pendekar Romantis. Tentu saja sang pendekar jadi heran dan berkerut dahi. Hatinya membatin,


“Aku seperti mendengar suara desis ular naga. Hmm… rupanya ada ular naga di sekitar sini?”


Pandu Puber segera mencari dengan mata melirik tegang dan langkahnya tak terdengar. Ia menuju ke sumber suara. Akhirnya ia temukan sesosok tubuh tua berjubah kuning sedang berlutut dan tersengguk-sengguk karena tangis. Pendekar Ganjen kian heran melihat orang itu menangis. Maka disapanya dengan pelan dan penuh hati-hati, seperti mendekati seekor singa sedang bertelur.


“Mengapa kau menangis, Ki?” tanya Pandu Puber setelah dalam jarak dekat.


Loan Besi kian tersengguk-sengguk waktu melihat wajah bocah yang ditinggal pergi kedua orang tuanya itu. Alisnya yang turun bagaikan kain melengkung ke bawah membuat wajah itu tak punya gairah untuk dipandang. Tapi Pandu Puber paksakan diri untuk memandang dan menyapa kembali.


“Mengapa kau menangis, Ki? Apakah kau terharu karena melihat kepergian ayah dan ibuku?”


“Oooh…!” Loan Besi yang tua hanya bisa bilang ‘oh’ sambil menggeleng.


“Atau… karena kau kasihan melihat ayah dan ibuku pergi?”


“Ak…aku…aku….oooh…” kembali Loan Besi gelengkan kepala dan tak bisa memberikan jawaban apa-apa. Ia tertunduk lagi dan kian terisak-isak.


“Mungkin…..mungkin karena kau merasa kasihan kepadaku yang kini menjadi anak yatim piatu, Ki?”


“Habis kenapa kau menangis di sini?”


“Kakiku…. disengat kalajengking!” jawabnya parau, membuat Pendekar Romantis terbelalak sambil menahan geli. Dan dilihatnya kaki itu bengkak. Jempol kaki Pak Tua itu membiru serta lebih besar dari jempol kaki yang satunya.


“Yang mana jempol aslinya sih? Ini kaki kok jempol semua bagini sih?” pikir Pandu Puber. Lalu ia berkata,


“Luruskan kakimu, biar kusembuhkan racun sengatan kalajengking itu!”


“Ba…baik…!” Loan Besi bergerak pelan-pelan. Kedua tangannya bertumpu di tanah, satu lututnya juga menapak di tanah, dalam keadaan nungging begitu kaki kanannya diluruskan. Kaki itulah yang tersengat kalajengking.


Plok…!


Pandu Puber menepuk pantat Loan Besi.


“Nggak usah pakai nungging begitu. Duduk saja dan luruskan kakimu!”


“O, iya. Maaf, aku….aku grogi…!”


Loan Besi duduk, kedua kakinya diluruskan. Pandu Puber menangkap jempol yang bengkak itu dan meremasnya kuat-kuat hingga darah muncrat dari luka sengat.


“Wuaaadooow…!” teriak Loan Besi kesakitan.

__ADS_1


“Edan kamu ini! Edan…!”


“Aku mencoba mengobatimu, Ki. Jangan diedan-edankan!”


“Jempol bengkak sakitnya nggak ketulungan malah diremas seenaknya saja! Memangnya buah duku?!”


“Racun itu harus dikeluarkan supaya tidak membusukkan darah dagingmu!”


“Iya, tapi jangan asal remas begitu saja dong!” sentak Loan Besi.


“Biar darahnya keluar, dan racunnya terbawa keluar juga!”


“Sudah, sudah…! Tak usah kau jamah! Aku bisa obati lukaku sendiri dengan hawa saktiku!”


“Lho, punya hawa sakti segala toh?”


“Kau pikir aku gelandangan kecil?! Eh, biar tua-tua begini aku adalah Ketua Perguruan Pengembara Sakti!”


“O, maaf! Maafkan aku, Ki!” Pandu menampakkan hormatnya.


“Anak buahku lebih dari seribu orang!”


“Wah, wah, wah… hebat sekali? Lalu, kenapa kau sendirian? Mana anak buahmu, Ki?”


“Ya pada pergi mengembara semua!”


“Ooo….boleh kutahu namamu?”


“Namaku Loan Besi!”


“O, namaku Pandu Puber, Ki Loan Besi.”


“Apa….?! Ki Loan Besi? Memangnya aku timbangan?!” tokoh tua itu marah dan tak suka dipanggil Ki Loan Besi.


Tapi kemarahan itu hanya ditertawakan Pandu Puber.


“Apakah kau tadi melihat perpisahanku dengan ayah dan ibuku, Ki?”


“Ti…tidak. Eh, anu…iya, memang tidak!” jawab Loan Besi.


“Aku tersesat di hutan ini. Lalu tersengat kalajengking dan tak bisa teruskan perjalanan untuk sesaat. Tapi…tak apa. Aku bisa sembuhkan sendiri luka ini. Kau tak perlu ikut campur, sebab…”


“Sampai ketemu lagi, Ki Loan Besi!” kata memotong.


Zlaapp…!


Pandu Puber pergi dengan begitu cepatnya karena pergunakan jurus ‘Angin Jantan’. Loan Besi yang masih bicara hanya bisa terbengong melompong penuh kagum melihat kecepatan gerak anak muda tampan itu.

__ADS_1


__ADS_2