Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Yuda Lelana tak mau didampingi oleh siapa pun. Masa' jagoan mau melabrak musuh kok harus didampingi seseorang, malu kan?


Makanya Yuda tetap ngotot ketika Nyai Sirih Dewi memerintahkan Kutilang Manja untuk mendampinginya ke Geladak Hitam.


"Kalau ada yang nekat mendampingiku, aku tidak mau pergi ke sana!" ancam Yuda Lelana.


Akhirnya sang Nyai memutuskan untuk menuruti kemauan Yuda. Ia percayakan kitab itu kepada si tampan kumal dengan catatan: "Jika kau terpikat oleh kecantikannya, pulangkan dulu kitab itu selebihnya kau boleh pulang kembali melanjutkan percintaanmu dengan Dardanila!"


"Ah, pikiranmu yang nggak-nggak aja, Nyai. Kalem sajalah!"


Sebenarnya hati Yuda Lelana merasa kikuk, karena sang Nyai bagaikan mengetahui jalan pikirannya.


Diam diam Yuda Lelana memang ingin bertemu lebih dekat lagi dengan Ratu Geladak Hitam. Pertemuan empat mata sangat diharapkan. Karena sifatnya sangat pribadi, maka Yuda menolak keras didampingi oleh siapa pun. Bahkan seekor kuda pun tak mau


dibawanya, takut mengganggu acara tatap muka empat mata itu.


Yuda hanya diantar oleh sang Nyai sampai di tebing, setelah itu dilepas sendirian menuju benteng Geladak Hitam yang tampak dari tebing.


Sampai di benteng Geladak Hitam, Yuda Lelana dibuat kelinci percobaan oleh anak buah Ratu Geladak Hitam. Ia diserang empat orang berkekuatan tenaga dalam tinggi. Kala itu ia masih berada di depan gerbang. Tetapi empat orang tersebut dapat ditumbangkan dalam satu jurus saja.


Hentakan kaki ke bumi membuat keempat orang itu mental ke atas, ada yang kepalanya membentur dahan pohon, ada yang nyangsang di atas pohon, ada yang jatuh kepala duluan, ada pula yang tertancap patahan dahan runcing.


Jurus 'Sentak Bumi'-nya terpaksa digunakan lagi ketika empat orang muncul lagi dari dalam benteng membantu temannya yang sudah tak berdaya. Dengan sekali hentakkan kaki ke bumi, keempat orang itu terpental lagi ke atas dan jatuh dengan kehilangan keseimbangan badan.


Kali ini ada yang meluncur kepala duluan dan masuk ke sebuah kubangan berlumpur.


Jruub...!


Kepala terbenam sampai dada, kakinya masih bergerak-gerak di atas.


Yuda tidak pedulikan keadaan mereka yang menderita akibat jurus 'Sentak Bumi'-nya. Ia langsung masuk ke dalam benteng berbatu hitam. Di sana ia disambut dengan lemparan enam tombak dari arah depan dan samping kanan-kiri. Yuda Lelana tak perlu merasa kaget, karena hal-hal seperti itu sudah diduga sebelumnya.


Zraaab...!


Enam tombak yang melayang cepat ke arahnya itu hanya dihindari dengan melompat ke atas dan bersalto di udara satu kali. Tombak-tombak itu saling berbenturan sendiri ketika tak mendapatkan tempat untuk menancap.


Trak, trak, praak...!


Yuda Lelana melayang turun dengan kakinya menghentak ke kumpulan tombak-tombak tersebut. Dengan kekuatan tenaga dalam terkendali, tombak-tombak yang ditendang itu berbalik ke arah pelemparnya.


Zraaab...!


Mereka kebingungan melihat tombaknya berbalik menyerangnya. Mereka lari tunggang langgang, ada yang tersungkur karena tersandung batu, ada yang nungging karena menghindari kelebatan tombak, ada pula yang menabrak pohon dan akhirnya tombak itu menancap di paha.


Jruuub...!


"Waooow...!"


"Keren!" ada yang menambahkan teriakan itu, entah dari sisi mana, karena pada saat itu Yuda Lelana sibuk menghadapi tujuh orang penyerang bersenjata golok.


Mereka berbadan kekar dan besar. Tapi dengan sekali sentakkan kedua tangan ke samping, cahaya putih menyebar dari tubuh Yuda Lelana ke berbagai arah. Cahaya putih itulah yang membuat tubuh mereka terpental terbang bagaikan dihempas badai super kuat. Ada yang kepalanya bocor karena membentur dinding, ada yang punggungnya patah karena menabrak tiang jati, ada pula yang saling mencaci karena kepalanya beradu dengan kepala teman sendiri.


"Hentikan...!" seru sebuah suara yang mampu membuat semua gerakan terhenti seketika.


Suara itu tak lain adalah suara Ratu Geladak Hitam. Mata Yuda saling beradu pandang dengan mata sang Ratu. Tiga helaan napas kemudian, barulah sang Ratu yang bagai orang terkesima itu mampu perdengarkan suaranya.


"Setelah lima hari aku menunggu, akhirnya kau datang juga!"


Yuda Lelana membalas ucapan tersebut,


"Apakah yang kau tunggu adalah sang ajal yang datang bersama El Maut?"


Ratu Geladak Hitam tersenyum meremehkan.


"Apakah kau datang untuk membunuhku, Anak Muda?"


"Jika terpaksa, mungkin memang begitu. Tapi aku datang dengan maksud baik dan punya tujuan tertentu."


"Apa tujuanmu?"


"Bicara empat mata denganmu, Ratu!"


"Bagaimana kalau aku tidak mau bicara empat mata denganmu?"


"Terpaksa mata kirimu kucolok biar kita bicara tiga mata!" jawab Yuda Lelana seenaknya saja, seakan tak punya rasa takut atau niat hormat sama sekali.


Hal itu membuat pengawal Ratu menjadi tersinggung. Adu Polo yang ada di samping kanan sang Ratu segera lepaskan pukulan tenaga dalam tanpa sinar ke arah Yuda Lelana.


Wuuut...!


Tapi dengan mudah Yuda Lelana menahannya. Tangan kanan dibentangkan di depan dada, pukulan bergelombang panas itu tertangkis dan bagaikan dikembalikan ke arah pemiliknya.


Adu Polo melompat karena hawa panas terasa sedang menyerangnya.


Wuuusss...!


Sang Ratu mengibaskan tangannya bagai membuang bunga, ternyata yang keluar asap putih penahan gelombang hawa panas itu.


Blaaar...!


Ledakan itu timbul karena dua gelombang beradu dan membuat Adu Polo tersentak ke belakang, jatuh terduduk.


Bruuk...!


"Anak ini memang bang saaat...!" teriak Kebo Tumang yang baru saja muncul dan mengetahui tindakan itu.


Ia segera mencabut kapak dua mata berukuran besar yang menjadi senjata andalannya. Tapi baru saja ia ingin bergerak, sang Ratu rentangkan tangannya dan berseru,


"Hentikan, Kebo Tumang!"


"Gggrr...!" Kebo Tumang menggeram jengkel.


"Dia memotong telingaku, Gusti!"


"Toh kamu masih punya telinga yang kanan? Kenapa harus marah? Kalau mau marah, urusannya sama aku!" kata sang Ratu sambil tolak pinggang.


"Wah... kalau... kalau begitu ya sudahlah, saya ke dapur saja jadi juru masak," ujar Kebo Tumang dengan bersungut-sungut menahan kejengkelan.


Ia pun ngeloyor pergi dan dibiarkan oleh Ratu Geladak Hitam. Sang Ratu kembali berkata kepada si tampan kumal itu,


"Apakah kau benar-benar ingin bicara empat mata denganku?"


"Tak perlu kau sangsikan lagi keinginanku, Ratu," jawabnya dengan lembut, diiringi senyum tipis menggetarkan hati.


"Baik. Aku bersedia, tapi tidak di sini. Aku punya tempat sendiri untuk bicara empat mata. Tentunya pembicaraan kita nanti bersifat rahasia, bukan?"

__ADS_1


"Ya, tepat sekali dugaanmu."


"Ikutlah aku!" katanya tegas sekali, lalu sang Ratu melangkah melalui samping ruang paseban.


Yuda Lelana mengikutinya dengan memandang sinis ke sana-sini karena ia pun dipandangi dengan sinis oleh orang-orang sang Ratu.


Ratu Geladak Hitam dan Yuda sampai di taman belakang bangunan utama. Taman itu tertata rapi dan indah. Ada serumpun bambu kuning di pojokan. Bentuk bambu itu menyerupai lorong karena kelebatannya.


Ternyata Yuda dibawa masuk ke lorong bambu yang mempunyai jalan setapak itu.


"Mau ke mana kita, Ratu?"


"Ke mana saja itu urusanku. Kau ikuti saja langkahku," jawabnya tanpa menengok ke belakang.


Oh, ternyata di balik kerimbunan bambu itu ada tangga batu menuju ke bawah tanah. Ratu menuruni tangga batu itu, demikian pula Yuda Lelana. Di ujung bawa tangga batu yang terdiri dari sepuluh baris itu ada lorong gua yang lebarnya sekitar dua tombak. Dinding lorong itu mempunyai obor-obor penerang jalan.


Yuda menyusuri lorong itu, kali ini berdampingan dengan sang Ratu karena jalannya cukup untuk melangkah dua orang berjajar.


"Tempat apa ini sebenarnya?" tanya Yuda sambil memandang sana-sini.


"Tempat rahasia," jawab Ratu Geladak Hitam.


"Di sinilah segala rahasia dibicarakan atau dilakukan."


"Pasti tempat ini kau gunakan untuk bersembunyi dari serangan lawan yang tak mampu kau hadapi."


Ratu Geladak Hitam hanya tersenyum, ia tak memberikan komentar apa-apa. Langkah kakinya tetap tegap, agak cepat, wewangian yang disemprotkan ke pakaian dan tubuhnya tercium jelas oleh hidung Yuda Lelana.


Tapi Yuda tetap tidak mau lontarkan pujian atas keharuman yang lembut dan enak dihirup itu. Matanya masih memandangi tiap dinding penuh waspada, karena ia tak ingin termakan jebakan yang mungkin dipasang pada dinding lorong yang kini telah membelok ke kiri itu.


"Kenapa tidak ke kanan?" tanyanya.


"Lorong yang ke kanan menuju ke sarang ular piton. Aku punya delapan ular piton di sana. Tapi mereka tak akan bisa menyeberang ke lorong kiri ini, karena sudah kubatasi dengan racun yang ditakuti setiap ular."


"Jadi lorong kanan adalah lorong jebakan?"


"Begitulah," jawab sang Ratu dengan singkat.


Lorong yang sedang dilalui Yuda makin lama tampak semakin terang. Di depan sana cahayanya lebih terang lagi. Yuda memandang dengan mata sedikit mengecil untuk melihat ruangan terang yang ada di depannya. Agaknya ruangan terang itulah yang sedang dituju oleh Ratu Geladak Hitam.


Dugaan Yuda ternyata benar juga, ia dibawa ke ruangan terang yang berbentuk lingkaran itu. Cahaya terang datang dari jumlah obor yang semakin banyak. Ruangan itu cukup lebar, karena di tengahnya terdapat kolam berair mancur pendek tapi jernih.


Ruangan itu juga mempunyai tanaman hias pada tepiannya. Berkesan bersih dan punya nilai seni tinggi. Ada lempengan batu di tepi kolam yang menjadi tempat duduk cukup nyaman, karena di atas lempengan batu marmer putih itu terdapat bantalan pelapis yang cukup empuk.


Aroma wangi menyebur kian tajam, karena tanaman bunga yang ada di ruangan tersebut sedang bermekaran. Warnanya bunga dan bentuknya sungguh indah dipandang mata. Pasti tempat itu punya tenaga perawat sendiri yang selalu merapikan keadaan di situ.


Ada meja dari batuan marmer hitam. Di atas meja itu ada tempat anggur dari logam emas, cangkirnya pun dari emas murni berbatu-batu indah. Di samping meja minuman terdapat tempat buah. Keranjang rotan diletakkan di atas meja rendah itu penuh dengan buah-buahan segar.


Tak jauh dari situ ada tempat tidur dari batuan marmer juga yang dilapisi kain empuk serta nyaman. Seprai dan sarung bantalnya dari kain sutera biru muda. Sedangkan di samping ranjang itu terdapat meja rias, lengkap dengan cermin ovalnya dan tempat pedupaan yang terpisah dari meja rias.


"Tempat ini berudara sejuk. Kurasa tempat ini menjadi tempat peristirahatanmu, Ratu!"


"Memang. Tapi juga kugunakan sebagai tempat bertapa atau melakukan suatu kegiatan yang bersifat ritual," jawab Dardanila sambil mendekati meja minuman.


Ia menuang anggur dari teko tinggi langsing bermulut kecil. Ia mengambil cangkir berisi anggur merah, satu untuknya, satu lagi diberikan kepada Yuda Lelana.


"Minumlah sebagai suguhan awal dariku," kata sang Ratu.


"Aku tak biasa minum anggur," kata Yuda Lelana sambil tersenyum indah.


"Coba sedikit, kau akan ketagihan."


Dardanila mengangguk. Ia mengawali minum anggur itu. Yuda Lelana ikut-ikutan meminumnya pula.


Sruup...!


Sedikit, tapi benar-benar dirasakan kenikmatannya, dikecap-kecapnya sebentar, lalu berkata pelan,


"Lumayan juga rasanya. Kurasa anggur ini baru dua tahun kau simpan, jadi belum terlalu tajam menyentuh ujung lidah."


"Kau bilang tak biasa minum anggur, tapi nyatanya kau bisa menilai mutu anggurku dan tebakanmu memang tepat, baru dua tahun kusimpan di tempatnya."


Yuda Lelana tersenyum malu, terjebak omongannya sendiri. Ia tinggalkan sang Ratu, berjalan mengelilingi tempat itu dengan mata memandang penuh perasaan salut terhadap nilai seni yang dibangun di bawah tanah itu.


Sang Ratu ikut mendampinginya karena ia segera mengajukan tanya,


"Apakah menurutmu tempat ini benar-benar nyaman?"


"Bukan hanya nyaman, namun cukup romantis," jawab Yuda.


"Ruangan ini menimbulkan sejuta khayalan indah. Pasti kau menyebarkan kekuatan gaib di tempat ini yang dapat menimbulkan hasrat manusia untuk berandai-andai dalam khayalan indahnya."


"Kau cukup peka terhadap hal-hal seperti itu rupanya. Siapa gurumu, Yuda? Boleh aku tahu?"


"Aku tak punya guru," jawabnya.


"Tak mungkin. Karena kau punya gerakan dan jurus-jurus yang aneh bagiku. Hampir mendekati kesempurnaan dalam gerak. Aku kagum sekali."


Sengaja kata-kata itu tak dikomentari oleh Yuda kecuali hanya senyum tipis menjerat kalbu. Yuda Lelana duduk di bangku dari batu marmer yang dilapisi kain empuk itu. Cangkir emas diletakkan. Sang Ratu ikut-ikutan duduk pula sambil meletakkan cangkir emas di samping cangkirnya Yuda.


"Aku ke sini untuk mengambil Kitab Jayabadra!" kata Yuda dengan tegas.


"Apakah Sirih Dewi sudah berniat pergi dari Bukit Bara?"


"Tidak akan pergi selamanya!"


"Bukankah tempo hari aku berjanji akan memberikan kitab itu jika ia mau pergi dari Bukit Bara?"


"Aku tidak mendengar perjanjianmu dan kalau toh mendengarnya aku tidak mau ikuti perjanjian itu. Boleh atau tidak, Kitab Jayabadra harus kubawa pulang ke Bukit Bara!"


Ketegasan pemuda tampan yang kumal itu justru ditertawakan oleh Dardanila. Tawanya lirih, berkesan mengikik geli. Yuda Lelana tetap tenang dan senyumnya tetap menghiasi rupa tampannya. Jarak duduknya yang kurang dari satu jangkauan itu membuat matanya dapat memandang jelas sampai ke pori-pori kulit putih mulus itu.


"Kalau aku tidak mau memberikan kitab itu bagaimana?"


"Aku akan merebutnya!" jawab Yuda Lelana kalem tapi berkesan pasti.


"Kalau aku mempertahankan bagaimana?"


"Aku akan menyerangmu."


"Seranglah sekarang kalau kau berani," ujarnya sambil menyodorkan wajah, seakan menyuruh menampar wajah itu, tapi mulutnya sedikit merekah sehingga artinya menjadi beda lagi.


Bibirnya yang menggemaskan itu diji lati sesaat, hati Yuda Lelana tergelitik melihat lidah itu berkelebat membasahi bibir.


"Jangan begitulah...," katanya dengan lemah, membuat sang Ratu kian menggoda.

__ADS_1


"Seranglah kalau kau berani...," wajah itu makin didekatkan lagi.


Matanya sedikit terpejam. Bibir merekah menantang gairah.


Yuda Lelana memandanginya dengan jantung berdetak-detak. Ia ditantang, tapi ia bingung menyerang.


"Dardanila, kau musuhku. Kau tak boleh begitu."


"Iya. Kau dan aku bermusuhan. Makanya kalau kau mau menyerang silakan! Nih, serang nih...!" bibir itu makin disodorkan.


Dengus napasnya terasa menghangat di wajah Yuda Lelana yang salah tingkah.


"Aku... aku harus menyerangmu bagaimana?"


"Ya, bagaimana sajalah. Terserah! Mau pakai tangan boleh, mau pakai kaki boleh, mau pakai bibir juga boleh."


"Pa... pakai... pakai bibir saja, ya?"


"He'eh...," jawab Ratu GeladakHitam dalam desah.


Yuda Lelana tak kuat ditantang begitu. Maka pelan-pelan ia menempelkan bibirnya ke bibir Dardanila.


Lembut. Hangat. Nikmat. Dan Yuda segera meng ecup bibir itu pelan-pelan. Gerakannya sangat pelan, sehingga setiap sentuhan bagaikan mengalirkan gelombang keindahan ke sekujur tubuh.


Yang disentuh lembut bibir tapi yang dirasakan sampai ke telapak kaki.


"Oh, Yuda...," bisik sang Ratu ketika kecupan lembut itu dilepaskan.


Yuda Lelana tak bisa menolak permintaan itu, maka dilu matnya lagi bibir yang menggemaskan itu.


Celakanya, sang Ratu membalas memberi kan ******* yang tak kalah ganas. Bahkan tangan sang Ratu mulai menari-nari di atas tubuh Yuda Lelana. Jemarinya begitu lincah memainkan irama dangdut mesra.


"Yuda, ooh... mati aku kalau begini," bisik sang Ratu bernada rintih.


Ia jatuh dalam pelukan Yuda Lelana. Ia menggigit dada Yuda dengan lembut, menahan ledakan dahsyat dalam jiwanya.


Kolam di tengah ruangan luas itu mempunyai air mancur. Air kolam boleh mancur tapi Yuda tak boleh mancur.


Jika Yuda menuruti tuntutan batin sang Ratu, ia akan mempunyai risiko yang lebih kusut lagi dalam hidupnya.


Tapi sang Ratu tetap merengek, bahkan berkata,


"Beri aku setengguk anggur, maka akan kuserahkan kitab itu padamu sekarang juga. Oh, aku tak tahan. Beri aku seteguk anggur, Yuda!"


Maka Yuda menyodorkan minuman anggur dari cangkirnya. Sang Ratu merengek.


"Iiih...! Bukan anggur yang itu!" sambil tangannya mencubit lengan Yuda.


Anak muda yang mulai tampak menua itu berlagak ****.


"Habis anggur yang mana?"


"Anggur kemesraanmu. Oooh... Yuda, peluklah aku erat-erat, Sayang...!"


"Akan kupeluk kau, akan kuberikan anggur yang kau pinta, tapi serahkan dulu kitab itu padaku. Aku tak mau tertipu olehmu, Ratu."


"Tidak, aku tidak akan menipumu. Berikanlah, Yuda. Kita akan bertukar pemberian. Kitab itu benar-benar akan kuberikan padamu jika kau telah menuruti dahaga batinku ini!"


Ratu Geladak Hitam mengacungkan dua jarinya sebagai tanda sumpah dalam janjinya.


Tapi Yuda Lelana tetap tidak mau memberikan apa yang diinginkan sang Ratu.


"Aku tak bisa melakukan tugasku sebagai seorang lelaki jika Kitab Jayabadra belum kau berikan padaku. Kitab itu mempunyai mantera yang dapat membangkitkan semangat kejantananku. Jika semangatku sudah tergugah, kau bisa menikmatinya sampai esok pagi."


"Sungguh...?!"


"Sangat sungguh."


"Janji?"


"Janji."


"Kalau nanti kau bohong diapain"


"Dicium tujuh tahun juga nggak apa-apa!" jawab Yuda Lelana makin membuat sang Ratu gemas sekali.


Ia memeluk dan meremas tubuh Yuda kuat-kuat sambil menenggelamkan wajahnya ke leher Yuda.


Kejap berikut ia berkata dengan mendusal-dusalkan ciumannya ke leher dan belakang telinga Yuda,


"Baiklah! Kita ambil dulu kitab itu di ruang tidurku, di atas sana. Tapi... tapi sebaiknya kau tetap di sini saja. Biar aku yang mengambilnya. Secepatnya aku kembali membawa kitab itu dan gelora cinta yang lebih berkobar-kobar lagi."


"Baiklah. Aku menunggu di sini. Lekas ambil kitab itu!"


Pancingan Yuda Lelana kena pada sasaran. Siasat romantisnya melumpuhkan kekerasan hati sang Ratu yang ingin menahan kitab tersebut.


Sang Ratu pergi mengambil kitab, keluar dari ruang bawah tanah tersebut, sedangkan Yuda Lelana masih tinggal sendirian di situ, ia bahkan berbaring dengan santai di atas ranjang berseprai biru lembut itu.


Tak peduli pakaiannya kumal, ia merebah dengan cueknya. Bayangan indah tubuh sang Ratu tanpa busana menari-nari di benak Yuda Lelana.


"Jika memang kitab itu diberikan dan ia mau mengurungkan niatnya untuk tidak mengganggu Nyai Sirih Dewi lagi, tak keberatan aku memberi kehangatan padanya asal saja jangan sampai seperti kolam itu," katanya dalam hati sambil matanya melirik ke kolam bening berair mancur.


Namun beberapa saat kemudian, Yuda Lelana dikejutkan dengan suara gemuruh yang datang dari arah lorong jalan menuju keluar. Yuda melompat dan bersiap siaga.


"Suara ular pitonkah itu? Tapi kenapa bergedebuk? Apakah ular piton bisa lari secara bersama-sama?"


Yuda Lelana mendekati lorong, ternyata segera muncul wajah cantik Dardanila yang tampak tegang dan memucat.


"Ratu?! Ada apa?!" Yuda segera menyambut dengan keheranan tinggi.


"Orang-orang Pulau Iblis menyerangku...!" ia terengah-engah.


"Apa persoalannya?"


Ratu Geladak Hitam meredakan napasnya. Setelah itu baru bisa bercerita.


"Baru saja aku mau menaiki tangga, seorang anak buahku menyusul. Ia jatuh berlumur darah. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia sempat memberitahukan bahwa orang-orang Pulau Iblis menyerang kami. Kitab Jayabadra berhasil diambil dan dibawa lari ke Pulau Iblis."


"Hahhh...?!" Yuda terkejut.


"Kalau tak percaya, cepatlah keluar dari sini! Mereka membakar sebagian bangunan utama, membantai beberapa anak buahku!"


Yuda Lelana penasaran. Ia segera keluar dari ruangan bawah tanah itu. Ternyata apa yang diceritakan sang Ratu memang benar. Mayat bergelim pangan di sana-sini. Bangunan utama masih mengepulkan asap, tapi apinya sudah padam. Adu Polo menemui sang Ratu dalam keadaan tangannya buntung sebelah.


"Kitab itu... di... dibawanya, Gusti...!"

__ADS_1


Bruuuk...!


Adu Polo jatuh pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah.


__ADS_2