Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Dian Ayu Dayen Cemburu


__ADS_3

Cahaya merah besar menyebar terang, lalu redup bersama hilangnya suara ledakan tersebut. Bumi bergetar biasa, tak menumbangkan pohon.


Tapi mata si Dukun Lelang cepat berpaling ke arahnya datangnya sinar merah. Pandu pun segera memandang ke arah yang sama.


Ternyata Loan Besi ada di sana, berjalan santai mendekati mereka dengan menggenggam tongkat putih lengkung sebagai tongkat gembala. Arah yang dituju adalah si Dukun Lelang. Ia menoleh sebentar ke arah Pandu mirip koboy menyapa sahabatnya,


“Urusi gadis itu, yang tua biar kurus sendiri, Nak!”


“Kebetulan deh,” pikir Pandu Puber, lalu segera merebahkan tubuh Mirah Duri di rerumputan yang teduh olah dedaunan pohon rindang.


Jari tengah tangan kanan Pandu mengeras tegak, jari yang lain terlipat. Sinar putih bening melesat dari ujung jari itu, tepat kenai ulu hati Mirah Duri. Jurus ‘Hawa Bening’ warisan dari ayahnya memang ampuh untuk sembuhkan luka apapun. Sinar bening seperti kaca itu hanya sekejap ‘menembak’ ulu hati Mirah Duri, dan si gadis pun segera siuman dalam waktu dua helaan napas.


Sementara itu, Loan Besi dan Dukun Lelang saling berhadapan dalam jarak lima langkah. Mata si Dukun Lelang memandang tajam penuh kebencian, sedangkan yang dipandang hanya cengar-cengir sok kalem.


“Dugaanku tak akan salah, semasa mudanya kau pasti gadis yang cantik, Dukun Lelang. Benar kan?”


“Dari mana kau tahu?”


“Bibirmu biar keriputan dan sedikit masuk ke dalam, tapi masih memancarkan daya pesona tersendiri bagi mata tuaku yang rada rabun ini.”


“Yang kutanyakan, dari mana kau tahu namaku Dukun Lelang?”


“Ooo… itu? He, he, he, he… Aku tadi mendengar muridku menyebutmu Dukun Lelang. Muridku itu tak pernah bohong, jadi aku percaya bahwa namamu Dukun Lelang. Apa mau diganti Timbul Jaya?”


“Hmm…! Kau pikir aku kendaraaan angkutan umum sejenis kapal?” Dukun Lelang melangkah hampir mengelilingi lagi. Ia bertanya,


“Siapa kau?”


“Namaku Loan Besi. Pandu Puber itu muridku!”


“O, jadi kau gurunya? Dan tidak terima kalau muridmu menerima ganjaran atas kelancangannya mau sembuhkan gadis itu?”


“Benar! Aku tidak bisa diam saja. Sebagai gurunya, matipun kujalani demi membela muridku!” jawab Loan Besi agak keras, memancing perhatian Pandu Puber.


Sang pemuda tampan segera memandang Loan Besi dengan heran dan rada-rada kaget.


“Sialan! Ngaku-ngaku guruku segala? Mau apa sebenarnya Ki Loan Besi itu?” gerutu Pandu Puber merasa tak suka dengan kata-kata Loan Besi.


Tapi rasa tak sukanya ditekan dalam hati, tak mau dilontarkan berbentuk protes di depan Dukun Lelang. Bagaimanapun Pandu merasa, tanpa kejelian Loan Besi dirinya akan menderita racun seperti yang dialami Mirah Duri.


“Oh… kenapa aku ini?” gumam Mirah Duri ketika sadari dirinya berbaring di rerumputan, sedangkan Pandu berdiri satu lutut di sampingnya.


“Pandu, kau… kau telah… telah menodaiku? Oh, jadi…. jadi kau telah menodaiku di sini? O, Panduuu…. Kenapa saat aku pingsan melakukan? Kau banci, licik, tidak tahu….”


Mulut Mirah Duri langsung dibekap oleh tangan Pandu Puber.


“Jangan berprasangka buruk! Aku tidak menodaimu, Yu! Kau kena senjata beracun dan aku baru saja sembuhkan dirimu! Enak saja ngatain orang menodai….” Pandu Puber bersungut-sungut jengkel. Rasa jengkelnya segera terhibur ketika perhatiannya terpusat kembali kepada Loan Besi dan Dukun Lelang.


Suara dua tokoh tua itulah yang membuat Mirah Duri segera menyadari bahwa mereka tidak hanya berdua. Ia cepat bangkit dan perhatikan ke arah dua tokoh tua itu.


“Siapa mereka, Pandu?”


“Yang nenek peot itu adalah orang yang menyerangmu dari belakang dan membuatmu tak sadarkan diri saat kucium, Yu. Sedangkan yang lelaki tua itu, entahlah aku tak tahu, dia mengaku Ketua Partai Pengembara dan….”


“Loan Besi kalau tak salah,” sahut Mirah Duri segera mengenali tokoh itu.


“Ya sudah kalau kau sudah mengenalnya, tak perlu kujelaskan lagi.”


“Tokoh tua berjubah kuning berambut kribo abu-abu, tak ada lain kecuali Loan Besi!”


“Memang benar sih, cuma….dia mengaku sebagai guruku di depan Dukun Lelang. Aku tak suka caranya begitu!”


“Dukun Lelang? Satu manteranya berapa duit?”


“Mana aku tahu? Kau pikir aku makelar mantera? Nenek itu yang mengaku sebagai Dukun Lelang, Yu. Aku tak tahu dari mana asalnya.”


“Aku juga baru melihatnya kali ini,” gumam Mirah Duri sambil mencoba bangkit, ternyata bisa berdiri tegak. Badannya tidak lemas lagi, tapi justru merasa segar, seperti tak pernah luka, atau seperti habis bangun tidur.


“Aneh,” katanya lagi seperti bicara sendiri.

__ADS_1


“Guru tak pernah ceritakan ada tokoh tua wanita yang bernama Dukun Lelang. Sepertinya dia tokoh baru lahir dari gua pertapaannya setelah bertahun-tahun mendekam di dalam gua!”


“Dia bilang, kau pernah membunuh muridnya, makanya dia ingin balas dendam padamu?”


“Muridnya?! Hmm…. Siapa muridnya yang kubunuh?” Mirah Duri heran sekali dan bingung mengingat-ingat lawan yang pernah dibunuhnya tapi punya guru bernama Dukun Lelang.


Pada saat mereka berbisik-bisik itulah, Loan Besi dan Dukun Lelang mulai saling menantang. Dukun Lelang bicara lebih dulu,


“Kusarankan kalau memang anak muda yang kau bilang bernama Pandu Puber itu muridmu, segeralah kau bawa pergi. Jangan ikut campur urusanku dengan gadis itu, supaya dia panjang umur dan kau sendiri panjang usia!”


“O, kau mengancam muridku? Nanti dulu, Sayang…. Sebelum kau berhadapan dengan muridku, hadapi dulu gurunya!” Loan Besi tepuk dada.


Dukun Lelang juga menggenggam tongkat. Tongkatnya segera disentakkan ke tanah dengan pelan, tapi gerakannya cepat.


Dug…!


Dan tiba-tiba Loan Besi terpental bagai ada yang melemparkan ke atas dengan kekuatan tinggi.


Wuuttt!


“Lho, lhooo…?!” Loan Besi bingung. Ia segera menguasai diri tapi seperti ada hawa angin yang memutar balikkan tubuhnya.


Wuuussst….! Weess…!


Dan akhirnya ia bagaikan dibanting dari atas dengan sentakan kuat.


Buuurk…!


“Uuhhg…!”


Loan Besi menyeringai kesakitan. Rusuknya membentur sebongkah batu. Napasnya jadi sesak. Kalau hanya membentur biasa sih tak akan membuatnya menyeringai kesakitan. Tapi benturan itu agaknya disertai hentakan tenaga dalam yang rasa-rasanya datang dari atas langit. Rusuk itu seperti mengalami patah di dua tempat.


“Celeng Ganjen!” ma kinya.


“Kubalas kau, Dukun Lelang! Hiaah…!” Loan Besi berkelebat menyambar tubuh lawan dengan tongkat siap disabetkan. Tapi tongkat itu dihadang tongkatnya Dukun Lelang. Posisi tubuh Dukun Lelang miring ke kiri sambil hindari terjangan kaki Loan Besi.


Rupanya tongkat mereka saling diisi tenaga dalam cukup tinggi. Benturan tongkat dengan tongkat hasilkan ledakan kilat yang menyentakkan gelombang besar. Tubuh Loan Besi terpelanting saat ingin mendarat akibat hembusan gelombang sentak yang kuat tadi.


Nenek yang tubuhnya ceking dari Loan Besi justru tegak berdiri bagai tak terguncangkan sedikitpun oleh gelombang ledak. Ia dapat berdiri dengan tenang dan memperhatikan Loan Besi terpelanting hampir jatuh.


“Kepa rat!” geram Loan Besi sambil tegak dan kokoh kembali.


“Satu jurus lagi kau memaksaku menyerang, kau celaka!” ancam Dukun Lelang.


Loan Besi tak takut. Ia bahkan melemparkan tongkatnya seperti melemparkan tombak. Tongkat itu menyala merah seluruhnya bagaikan besi terbakar.


Wuuttt…!


Dukun Lelang menghantam dengan tongkatnya dari samping.


Traakk…!


Blaamm!


Ledakan mengagetkan terjadi kembali. Tapi tongkat yang menyala merah itu berputar dengan cepat bagaikan baling-baling, bergerak menuju Loan Besi. Tentu saja Loan Besi kaget dan kebingungan menangkap kembali tongkatnya. Akhirnya ia sentakkan kaki, melenting di udara. Tapi gerakannya terlambat. Kakinya sudah lebih dulu disambar tongkatnya sendiri pada saat melompat ke atas.


Dess…!


“Waoow…!” pekikan si jubah kuning sangat keras. Ia jatuh di samping tongkatnya yang telah kembali ke wujud semula. Ia mengerang kesakitan dan memegangi betis kirinya.


Ternyata dalam waktu singkat betis itu membengkak biru, makin lama semakin besar dan terasa sakit sekali bagi Loan Besi.


“Itu hanya hajaran ringan saja,” kata Dukun Lelang.


“Agaknya kau perlu diberi pelajaran sedikit berat lagi asal tak sampai mati. Nih, terimalah jurus ‘Naga Tongkat Seribu’.” Ucap Dukun Lelang, kemudian lemparkan tongkatnya dengan satu hentakan suara,


“Haah…!”


Wuutt…!

__ADS_1


Tongkat yang melayang di udara menuju ke tubuh Loan Besi itu memancarkan cahaya pendar-pendar warna hijau muda.


Melihat keadaan itu, Pandu Puber menjadi cemas akan keselamatan Loan Besi. Maka serta merta Pandu lepaskan jurus ‘Sepasang Sayap Cinta’. Dua jari di masing-masing tempat cepat mengeras, menempel di pelipis sekilas, lalu disentakkan ke depan.


Clap, clap!


Dua larik sinar keluar dari ujung jari dan menghantam tongkat bercahaya hijau pendar-pendar itu.


Taakk…! Blaammm….!


Tongkat menjadi hancur, serpihannya tak tahu menyebar ke mana saja. Pandu Puber segera melangkah maju dengan gagah, sementara Dukun Lelang diam memandang dengan mata sangar. Orang biasa dipandang begitu akan jatuh lumpuh karena ketakutan. Tapi Pandu tidak, ia justru makin mendekati nenek kurus itu dengan tenang tapi penuh kepastian.


“Sekarang kau berhadapan denganku, Nini Dukun Lelang!” kata Pandu Puber.


“Aku yang mewakili Yu Mirah. Jika kau ingin balas dendam dengan Yu Mirah, hadapilah aku. Itu sama saja kau berhadapan dengan Yu Mirah!”


Gadis yang ditunjuk-tunjuk Pandu Puber masih diam di bawah pohon. Karena tadi sebelum Pandu maju dekati nenek kempot itu, ia sudah berbisik agar Mirah Duri jangan ke mana-mana. Ia akan hadapi nenek kurus itu.


“Apakah kau sudah cukup ilmu sehingga berani mewakili gadis itu untuk melawanku?” tanya Dukun Lelang dengan sombongkan diri.


“Kurasa…..aku yakin akan unggul melawanmu!”


“Kau tak sayang pada ketampananmu jika sampai jurusku menghancurkan wajah tampanmu itu?!”


“Aku hanya menyesal jika Yu Mirah kau lukai lagi!”


“Hmmm…!” senyum itu sinis sekali.


“Apakah dia kekasihmu?”


“Memang bukan, tapi…”


“Kau mencintainya?”


“Mengapa kau tanyakan hal itu?”


“Jawablah!”


Pandu Puber melirik ke arah Mirah Duri. Dari tempat Mirah Duri percakapan itu terdengar samar-samar. Kadang timbul kadang tenggelam. Setelah melirik Mirah Duri sebentar Pandu menjawab dengan suara pelan.


“Dia hanya sahabat, lebih dari itu, dia sudah kuanggap saudaraku sendiri!”


“Aku tak yakin dengan jawabanmu. Buktikan dengan mengadu telapak tangan kita. Kalau kau jujur, kau dapat membuatku tumbang. Sebaliknya, kalau kau tak jujur, dadamu akan jebol oleh jurus ‘Tapak Gaib’-ku ini.”


Pandu Puber ingin ucapkan sesuatu, tapi tiba-tiba Dukun Lelang menerjang dengan cepat. Telapak tangannya siap dihantamkan. Maka Pandupun segera melompat maju dan mengadu telapak tangan kirinya dengan telapak tangan si Dukun Lelang.


Wuuttt…!


Plak, blegaarr…!


Cahaya hijau membias lepas dan lebar. Dentuman menggema mengguncang alam sekitar mereka.


Dukun Lelang terlempar jauh, sekitar sepuluh tombak lebih. Ia jatuh di depan semak-semak, terpelanting mirip kardus dibuang begitu saja.


Sedangkan Pendekar Ganjen tetap diam di tempatnya, hanya bergerak setengah langkah ke belakang pada saat mendarat dari lompatannya.


Mirah Duri tersenyum lega melihat kekuatan Pandu Puber lebih tinggi dari si Dukun Lelang. Sementara itu, Loan Besi memandangi pertarungan itu dengan wajah masih menyeringai dan mengerang lirih, karena mata kakinya semakin besar lagi dan mulai membiru matang.


Dengan cepat Dukun Lelang bangkit ketika Pandu Puber menghampirinya. Tiba-tiba Dukun Lelang bergerak mundur seperti orang terbang, dan hinggap di atas barisan ilalang semak. Tubuhnya memancarkan cahaya hijau muda yang bening tapi menyilaukan. Cahaya itu segera lenyap.


Pandu Puber dan yang lainnya terbelalak bengong. Nenek kurus peot berubah menjadi gadis cantik berpakaian serba putih, halus dan lembut. Rambutnya disanggul sebagian. Hidungnya mancung. Di dadanya ada bunga mawar hidup bersama tangkainya yang menyelinap di belahan dada putih mulus itu. Ia tersenyum, dan tampak lesung pipitnya kian menambah cantik paras ayunya.


Pandu Puber berdebar dan bergumam,


“Dian Ayu Dayen….?" Terdengar suara lembut bagai membisik tepat di samping telinga Pandu.


“Aku hanya sekadar mengingatkan dirimu, Pandu! Maafkan aku. Kejarlah aku, cabut bunga mawarku ini, dan kau akan kubenamkan dalam pelukanku selama-lamanya.” Dian Ayu Dayen, sang bidadari penguasa kecantikan itu ternyata hanya tampakkan diri sebentar. Lalu berubah menjadi asap setelah tangannya menyentak ke langit, melesat sinar merah yang kemudian membias lebar di angkasa membentuk bunga mawar merah yang indah.


Pandu Puber terpesona dan hanya bisa memandang bengong ke angkasa. Saat itulah Bidadari Dian Ayu Dayen lenyap bagai ditelan asap yang terbang di hembus angin siang.

__ADS_1


__ADS_2