Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Bertemu Jodoh Bidadari


__ADS_3

Dalam pertarungan Pandu Puber dengan Hantu Cobgkak yang terkesiap


"Padahal selama ini jurus itu tak pernah ada yang bisa menghindarinya. kalau yang pernah menangkisnya memang ada, tapi biasanya jebol pula pertahanannya. Cuma, yang bisa menghindari sinar itu baru bocah songong ini! Hebat sekali dia?! Coba dengan jurus lainnya yang tak penah gagal kugunakan melumpuhkan lawan, apa dia juga bisa menghadapinya?”


Hantu Congkak semakin penasaran. Tongkatnya segera berkelebat, berdiri tegak tanpa bungkuk sedikitpun. Tongkat itu berkelebat memutari kepala. Lalu tiba-tiba kakinya ditarik ke belakang merendah, tongkatnya dihantamkan ke depan, sejajar dengan lehernya.


Wuutt...!


Slaapp...!


Sinar hijau menyembur dari ujung kepala tongkat berbentuk kepala monyet itu. sinar hijau itu menyebar bagaikan ratusan jarum kecil-kecil. Sifatnya menyergap lawan.


Tetapi Pandu Puber tiba-tiba bergerak sendiri tanpa kehendak pikirannya. Ia rendahkan kaki, rapatkan telapak tangan, dan telapak tangan itu menyodok ke depan dalam keadaan terbuka ujungnya.


Woosss...!


Ujung telapak tangan seperti mulut naga yang menyemburkan api berkobar besar. Api itu membakar sinar hijau berbentuk seperti ratusan jarum.


Zrrraaakkk...! Suara aneh terdengar saat kobaran api membakar sinar itu. Kejap kemudian terdengar lagi bunyi ledakan menggelegar lebih dahsyat dari yang tadi.


Bleggaarr...!


Bumi bagaikan dilanda gempa dari kedalaman dasarnya. Pohon-pohon tumbang ke sana-sini berserakan. Hempasan gelombang dari daya ledak dahsyat itu membuat alam sekelilingnya menjadi porak poranda dalam waktu sekejap. Tubuh Pandu Puber terpental dan terguling-guling masuk ke semak belukar.


Srook...!


Tapi tubuh Hantu Congkak terlempar terbang ke belakang, kepalanya sempat membentur dahan pohon yang mau tumbang.


Duuhg...!


Dahan itu patah seketika. Tubuh Hantu Congkak jatuh dalam keadaan mata terbeliak-beliak bagai orang sedang sekarat.


Bruukk...!


“Se tan alas! Badanku dibuat remuk olehnya!” geram hati Hantu Congkak. Mulutnya melelehkan darah, demikian pula hidungnya. Darah itu kental warna hitam, itu pertanda ludahnya sudah dicampuri luka dalam yang berbahaya. menyadari hal itu, Hantu Congkak yang masih bisa berdiri walau tertatih-tatih itu segear memungut tongkatnya kembali.


Pandu Puber keluar dari semak belukar. Kepalanya dikibaskan karena merasa sedikit pusing. Tapi tak ada luka luar maupun luka dalam pada dirinya. Ia hanya tertegun sejenak membayangkan gerakan yang dilakukan tanpa kesadarannya itu. Hatinya segera membatin,


“Jurus edan apa lagi itu tadi? Aku tak tahu namanya! Hmm... tapi supaya mudah kuingat, sebaiknya kunamakan jurus ‘Naga Bangkis’. Ya, itu lebih cocok!”

__ADS_1


Hantu Congkak masih penasaran. Dia ingin membalas lukanya. Maka jurus maut dan aneh berikutnya digunakan menyerang Pandu Puber. Tongkatnya kali ini dilemparkan.


Wuuttt...!


Tongkat itu melayang cepat dalam keadaan berdiri. Dari mulut kepala monyet di ujung tongkat keluar sinar warna warni mengarah kepada Pandu Puber. Sinar itu berkelok-kelok dan gerakannya sangat liar, bagaikan tak tentu arah. Tapi pada dasarnya tertuju ke arah Pandu.


Pemuda tampan itu sempat bergerak bingung menghindarinya. Dan diluar dugaan, tiba-tiba segumpal asap turun dari atas pohon.


Suuut...! Wuusss...!


Asap putih itu bagaikan membentengi Pandu Puber dari jarak dua langkah di depannya. Sinar warna-warni dari mulut ukiran monyet itu masuk ke dalam asap tebal setinggi manusia, bahkan lebih. Tongkat tersebut juga ikut tertelan ke dalam gumpalan asap putih tebal.


Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh di dalam gumpalan asap. Suara letupan bercampur dengan suara derak kayu patah.


Tar, krak, tuus, krak, prak, taar....turr....krak, prak, dor, der, dur!


Lalu hening. Kurang dari sekedipan mata, tiba-tiba sinar warna-warni itu bergabung dengan patahan kayu yang membentuk bulatan bola, dan terlempar dari daalm gumpalan asap tersebut ke arah Hantu Congkak.


Wuuukk...!


Pandu Puber yang merasa heran tujuh turunan itu segera melompat ke samping asap. Ia mencoba pandangi asap itu untuk menembus kedalamannya tapi tidak berhasil melihat apa-apa. Sedangkan Hantu Congkak segera lompat ke atas.


Dan bola yang terbuat dari gumpalan sinar warna-warni serta patahan tongkat hitamnya itu menghantam sebuah pohon besar yang tadi tak jadi tumbang.


Blaapp...!


Suara letusan sangat pelan. cahaya warna-warni terpancar lebar dan cepat hilang saat menyentuh pohon. Tubuh Hantu Congkak turun dari udara. Kaget melihat pohon yang terhantam bola aneh itu lenyap tak berbekas. Sisa akarnya pun tak ada. Yang tertinggal hanya bentuk tanah acak-acakan bagaikan pohon tadi tercabut dengan raksasa.


“Edan lagi ilmunya?!” gumam Hantu Congkak.


“Ilmu asap apa yang dipakai anak se tan itu?! Waah...tongkatku?! Celaka! Tongkatku menjadi serpihan kecil-kecil begini...?!”


Hantu Congkak memperhatikan serpihan kayu hitam yang ada disekitar bekas pohon berdiri. Bulu kuduknya jadi merinding, tubuh tuanya pun bergidik.


“Kalau kulayani, bisa-bisa aku lenyap tak berbekas seperti pohon itu! Sebaiknya aku kabur saja, mumpung tak ada orang yang melihat kekalahanku.”


Hantu Congkak segera hempiri tubuh Sikat Neraka. Ia bermaksud membawa lari tubuh adik perguruannya itu. Tapi setelah diperiksanya sejenak, ternyata Sikat Neraka sudah malas bernapas alias mati. Hantu Congkak makin panik, akhirnya cepat-cepat pergi dengan gerakannya yang mirip menghilang dari pandangan mata itu.


Slaap...! Bras, bras, bras....!

__ADS_1


Suara tubuh Hantu Congkak berlari cepat menerjang semak belukar.


Pandu Puber ingin mengejarnya, namun tiba-tiba terdengar suara berseru,


“Biarkan ia lari! Ia pasti kapok berhadapan denganmu!”


Pemuda tampan berpaling ke belakang untuk memandang si pemilik suara merdu itu. Dan mata pemuda itu terpana beberapa saat, karena yang dilihatnya adalah seorang wanita muda cantik jelita. Pakaiannya serba putih, namun mempunyai hiasan bunga mawar kecil terselip di sela gundukan dadanya. Bunga itu bunga sungguhan. Masih segar dan menyebarkan bau harum mawar yang agak berbeda dengan mawar biasanya. Aromanya lebih lembut dan melenakankalbu, seakan menciptakan sejuta keindahan di dalam hati.


Wanita muda itu rambutnya disanggul rapi, tapi sebagian rambut meriap ke samping. Tak banyak, tapi kelihatan indah sekali. Bagaikan seni rias rambut yang biasa dipakai oleh para putri raja. Wajah wanita cantik itu tiada duanya. Baru sekarang Pandu Puber melihat kecantikan yang begitu agung dan berkharisma tinggi. Hidungnya langsing mancung, bibirnya berbentuk indah sekali, tampak basah seperti habis berenang. Tapi segar dan menggairahkan.


Wanita itu sunggingkan senyum kecil. Ada lesung pipitnya yang menambah keindahan raut wajah berkulit putih mulus itu. Pandu Puber sempat gemetar ketika wanita itu melangkah pelan meninggalkan tempatnya berdiri yang tadi dipakai berdiam oleh gumpalan asap putih. Rupanya gadis itulah yang tadi berbentuk gumpalan asap putih itu.


Dalam jarak empat langkah dari Pandu, gadis itu hentikan langkah. Pandu Puber masih belum bisa bicara karena gadis itulah yang beberapa hari ini ditemuinya di alam mimpi. Wajahnya, pakaiannya, bunga mawarnya, persis semua dengan yang muncul di alam mimpi Pandu.


“Sekarang kita bertemu bukan di dalam mimpi,” ucap gadis itu bersuara lembut dan merdu.


“Dian...Ayu... Dayen...?” ucap Pandu Puber terpatah-patah karena deg-degan. Lidahnya sukar sekali digerakkan. Ia segera menelan ludah, lalu segala yang di mulut menjadi lemas, kecuali giginya. Detak jantungnya tak sekeas sebelum menelan ludah. Tapi mtanya masih memandang penuh rasa kagum dan amat terpesona.


“Kaukah.....Bidadari Dian Ayu Dayen?!” tanya Pandu Puber.


“Tak salah dugaanmu, Pandu. Akulah sang penguasa kecantikan itu! Aku hanya ingin sampaikan pesan padamu, jangan nakal seperti bapakmu! Kalau kau nakal kau tak bisa tinggal di kayangan bersamaku.”


“Aku tak akan seperti Ayah. Aku bukan pemuda mata keranjang. Memang hidupku ingin kucurahkan untuk mengabdi kepada hati seorang wanita, tapi wanita itu tak lain adalah dirimu, Dian Ayu!” sambil Pandu Puber mendekat pelan-pelan. matanya memandang dalam kelembutan. Suaranya sedikit mendesah bernada gombal.


“Tak kubiarkan kau pergi meninggalkan sukmaku, Dian Ayu! Aku tak mau mati dalam bayangan pelukanmu.”


Dian Ayu Dayen mundur dengan senyum.


“Rayuanmu romantis sekali, Kasih. Tapi belum saatnya kita bertemu dalam satu genggaman. Carilah aku dalam kecantikan-kecantikan yang menyebar di sekelilingmu. Aku ada di antara mereka. Cabutlah bunga mawar ini dari dadaku, dan kau akan kurengut dalam pelukanku selama-lamanya.”


Setelah berkata demikian, Dian Ayu Dayen mengangkat tangan kanannya dalam keadaan telapak tangan terbuka. Tangan terangkat lurus, dan seberkas sinar melesat dari tengah telapak tangan. Sinar merah itu melesat ke langit, lalu menyebar menjadi percikan bunga api yang membentuk setangkai bunga mawar indah.


Syaarrpp...!


Pandu Puber terpesona melihat keindahan bentuk bunga mawar di langit dalam susunan tata cahaya merah. Matanya tak berkedip memandang ke sana. Namun ketika cahaya berbentuk bunga mawar itu lenyap, Pandu Puber kehilangan seraut wajah cantik. Dian Ayu Dayen lenyap bagai ditelan bumi. Sang bidadari pergi tinggalkan dirinya. Hanya semerbak aroma mawar lembut yang tercium dan membekas di lubang hidung Pandu Puber.


“Dian...?! Dian Ayuuu...!” panggilnya sambil memandang ke sana-sini. Yang dicari tak ada, bahkan menjawabpun tidak. Pandu Puber mengeluh kecewa. Ia duduk melemas di atas sebatang kayu pohon yang tadi tumbang itu.


“Kemana perginya?” pikir Pandu Puber.

__ADS_1


“Ke mana aku harus mencarinya? Oh, bunga mawar itu...ya, aku harus bisa mencabut bunga mawar di dadanya, agar aku jatuh ke dalam pelukannya. Oh, Dian Ayu.... ke mana aku harus mencarimu, Sayang....?!”


__ADS_2