Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Lahirnya Pandu Puber


__ADS_3

Ilmu kedewaan Yuda Lelana sangat mampu mengimbangi ilmu jin mereka.


Yuda Lelana juga mampu menghilang dalam sekejap dan bertarung dengan mereka di alam gaib.


Tahu-tahu mereka terlempar ke alam nyata dalam keadaan babak belur. Ada yang hidungnya somplak, ada yang tangannya patah, ada pula yang giginya rontok bagian depan, dan yang jelas hal itu menimbulkan kehebohan yang memancing perhatian Raja Kala Bopak.


"Ada apa itu di luar?!" tanyanya kepada pengawal istana.


"Seorang tamu mengamuk, Paduka!"


"Apa maksudnya datang-datang mengamuk?"


"Ingin menghadap Paduka tapi kami cegah."


"Hmmm! Biarkan dia menghadapku, aku ingin jajal ilmunya yang sok-sokan itu! Suruh dia masuk!"


Tiga belas prajurit jin bonyok semua melawan Yuda Lelana.


Akhirnya pertarungan itu dihentikan. Yuda Lelana dibawa masuk ke istana dan menghadap Raja Kala Bopak yang kupingnya sudah naik, wajahnya semburat merah karena menahan marah.


Sebentar-sebentar terdengar suara gemeretak menggema, itulah saatnya raja jin menggeletukkan giginya.


Krak, krrrruk, kraak, kriuuuk...!


"Gila! Menggeletukkan gigi apa makan tulang kambing tuh?" pikir Yuda Lelana dengan santai sekali.


Seakan ketegangan yang menyeramkan di sekelilingnya dicuekin begitu saja. Ia tetap berdiri di depan Raja Kala Bopak yang matanya melotot lebar nyaris lompat keluar.


"Apa maksudmu bikin keributan di wilayahku, hah?!" bentak Raja Kala Bopak.


"Aku ingin melamar anakmu; Murti Kumala."


"Apa...?! Edan!" sentak Raja Kala Bopak.


Sentakan itu membuat pilar bergetar dan salah satu sisi dinding retak.


"Hei, manusia kumal!" katanya penuh geram kemarahan.


"Tidak tahukah kau bahwa Murti Kumala adalah anak semata sapi bagi diriku?! Biar jelek-jelek aku ini raja! Raja Jin!" sambil menepuk dada sendiri.


Buuhg, buhg, bung...!


"Kalau anak raja jin apa tak boleh dilamar?" kata Yuda Lelana tetap kalem.


"Apa yang kau andalkan sih, sehingga kau berani melamar anakku?! Apa?!"


"Yang kuandalkan hanya cinta dan kesetiaan yang kumiliki. Semuanya akan kuberikan kepada anakmu, Raja!"


"Gombal!" bentaknya, kembali menggetarkan pilar-pilar besar.


"Anakku tidak butuh cinta semata. Keberanianmu melamar anakku sama saja keberanianmu menantangku! Kusarankan pulanglah dan jangan mencoba melamar anakku untuk yang kedua kalinya!"


"Aku tidak mau pulang sebelum memboyong anakmu!"


"Dasar wedus ku rap! Panglima Morang...! Remukkan tulangnya!" teriak Raja Kala Bopak, dan sang Panglima pun datang, langsung menendang pemuda yang tingginya hanya sebatas ulu hati si panglima itu.


Wuukkk...! Weees...!


Yuda Lelana terpental jauh.


Padahal tidak terkena tendangan itu. Baru terkena anginnya. Dia sampai terguling-guling keluar istana. Wajahnya bercampur dengan tanah berdebu. Tapi Yuda tak merasa jera. Ia segera bangkit dengan tarik napas dalam-dalam. Hatinya sempat membatin,


"Gila! Anginnya saja sudah membuat tubuhku terpental, apalagi jika terkena tendangannya. Itu pun baru panglimanya, belum rajanya sendiri!"


Sebuah suara tak terlihat wujud orangnya terdengar bagaikan berbisik di telinga Yuda Lelana. Suara itu dikenal sebagai suara Begawan Dewa Gesang, Ayahnya!.


"Jangan mundur! Maju terus, Anakku! Hajar dia dalam satu gebrakan saja! Jangan lama-lama, supaya kau cepat kembali ke kayangan. Aku membantumu, Nak!"


Panglima Morang yang rambutnya panjang, berwajah seram dan bertaring, segera lompat keluar dari istana dan menerjang Yuda Lelana.


"Heeeeaaaahhhh...!" suara teriakannya memekakkan telinga karena keras sekali.


Tapi Yuda tidak merasa gentar sedikit pun. Ia segera merapatkan telapak tangannya. Kedua telapak tangan yang merapat di dada itu segera disentakkan ke arah Pangiima Morang.


Wuuut...!


Dari telapak tangan itu keluar selarik sinar warna putih perak. Bentuknya panjang, lurus, kaku.


Zlaaab...!

__ADS_1


Sinar itu menghantam tubuh besar Panglima Morang yang sedang melompat di udara. Cepat sekali gerakan sinar, sehingga Panglima Morang tak sempat menghindar. Tapi dadanya segera bersinar merah membara. Dada itulah yang dihantam sinar putihnya Yuda Lelana.


Blegaarrr...!


Suara ledakan dahsyat sekali menggelegar bagai memenuhi seluruh bumi. Tanah bergetar keras, bangunan istana ada yang retak terutama bagian atap. Bangunan lainnya sempat roboh. Tembok benteng istana jebol sebelah timur. Pintu gerbang yang kokoh pun pecah akibat gelombang ledakan dahsyat tadi.


Semua masyarakat jin kaget dan menjadi tegang. Pilar istana roboh satu, yang sebelah kanan dekat dapur. Tangga teras istana retak nyaris terbelah.


Panglima Morang terkapar di atas pohon besar, tersangkut di sana tak bergerak. Tapi suara erangannya terdengar samar-samar.


Tubuhnya yang hitam menjadi putih karena kulitnya terkelupas saat terkena hantaman sinar putih perak tadi. Sinar itulah yang dinamakan sinar pukulan 'Inti Dewa'.


Kalau orang biasa kena sinar itu, habis sudah. Bukan hanya mati, tapi malah sulit dikubur karena menjadi serpihan-serpihan kecil seperti serat abon.


Raja Kala Bopak merinding melihat panglimanya tersangkut di atas pohon besar tanpa daya lagi. Ia segera dekati Yuda Lelana dan memandang dengan mata menjadi merah.


"Kurang ajar! Kau mampu membuat panglimaku tumbang begitu, ya?! Sekarang kau berhadapan denganku! Kalau kau bisa kalahkan aku, kau boleh kawini putriku itu! Tapi kalau kau kalah, kau harus rela mati di tanganku!"


Murti Kumala yang muncul dari istana mendengar ucapan itu. Wajahnya tampak cemas, karena ia tahu persis kesaktian ayahnya sangat besar.


Selama ini tak pernah ada manusia yang bisa menandingi kesaktian ayahnya. Diam-diam Murti Kumala berharap agar ayahnya kalah tapi jangan sampai mati.


Sorot mata sendunya yang memandang ke arah Yuda diterima pemuda itu sebagai sorot mata mohon pengertian akan sifat ayahnya yang buas itu. Yuda Lelana paham dengan bahasa mata itu.


"Yuda Lelana...! Terimalah jurus 'Pelebur Nyawa' ini!" teriak Raja Kala Bopak.


Claaap...!


Tiba-tiba dari kedua mata Raja Kala Bopak keluar sinar terang warna merah. Sinar itu berbentuk bulat sebesar genggaman tangan bayi. Melesat cepat sepasang berjajar, menghantam tubuh Yuda Lelana.


Jurus 'Pelebur Nyawa' adalah jurus andalan Raja Kala Bopak yang mampu membuat raga manusia menjadi bubur seketika jika terkena salah satu dari sepasang sinar merah itu.


Tetapi Yuda Lelana juga mempunyai jurus tandingan yang dimiliki oleh setiap dewa di kayangan. Jurus itu bernama jurus 'Surya Pamungkas'.


Bentuknya sinar ungu sebesar lidi, panjangnya tiga jengkal. Melesat dari kedua mata Yuda Lelana. Sinar ungu itu begitu melesat langsung berputar cepat, makin lama semakin besar, memercikkan bunga api warna merah.


Woos, wooos, woos, woos...!


Sinar-sinar itu akhirnya bertabrakan di pertengahan jarak.


Buuumm...!


Hampir semua yang ada di sekitar situ terjungkal jatuh karena ledakan maha dahsyat itu. Tanah bagaikan dijungkir balikkan. Istana ambruk. Pilar-pilarnya pecah.


Untung Murti Kumala cepat melompat keluar dari serambi istana sehingga selamat. Tapi ikut terpelanting sampai ke pintu gerbang.


Ledakan maha dahsyat itu membuat langit merah membara. Kilatan petir menyambar-nyambar. Seolah-olah langit ingin retak menjadi beberapa bagian.


Matahari langsung surutkan sinarnya. Awan hitam tebal menutup permukaan matahari. Air laut muncrat dalam pergolakannya, tingginya melebihi pohon kelapa, nyaris menelan Pulau Iblis.


Pohon-pohon tumbang, lebih dari sepuluh pohon. Bangunan-bangunan rusak berat. Pulau itu sendiri bagaikan hendak dijungkir balikkan oleh suatu kekuatan dahsyat dari dasar laut.


Gema ledakan maha dahsyat cukup lama, seakan menyebar seluruh permukaan bumi. Padahal gelombang hentakan dahsyat itu mencapai lapisan alam ketiga, mengguncangkan kayangan, sehingga para dewa dibuat tunggang langgang.


Para bidadari jejeritan, membuat suasana gempar dan heboh di kayangan. Tapi mereka segera maklum, karena mereka tahu sang mantan dewa sedang adu kesaktian dengan raja jin yang sekama ini sukar dikalahkan oleh manusia sesakti apa pun.


Hutan di sekitar tempat itu terbakar. Apinya membubung tinggi. Pulau Iblis bagaikan dilanda kiamat.


Pulau-pulau lainnya pun demikian. Gelombang getaran maha dahsyat itu terbawa angin sehingga mencipta bencana di mana-mana. Tanggul sungai jebol, lereng pegunungan longsor. Hewan-hewan menjadi liar, berlarian tak punya tujuan.


Pokoknya mengerikan sekali akibat adu kesaktian jin dengan dewa itu.


Raja Kala Bopak terkapar dalam keadaan pakaian rusak total. Tercabik-cabik bagai dirajang puluhan cakar singa ganas. Tubuhnya telentang di pantai, jauh dari istana. Yang menemukan prajurit penjaga pantai, yang kala itu hampir saja tersapu ombak besar.


Keadaan Raja Kala Bopak tak sadarkan diri selama tiga hari. Itu masih untung. Jika dia bukan berilmu tinggi, pasti tubuhnya akan menyebar menjadi serpihan-serpihan yang sulit dikumpulkan kembali.


Yuda Lelana sendiri juga terpental keluar dari benteng istana, sempat menabrak sisa tembok benteng dan tembok itu akhirnya jebol juga. Yuda dalam keadaan terkulai lemas. Wajahnya memar membiru. Mulutnya berdarah. Matanya bengkak. Pakaiannya semakin compang-camping.


Maklum, pertarungan tenaga maha sakti yang terjadi kontak langsung kepada pelakunya lebih memberatkan beban si pelaku itu sendiri. Yang terkena angin hentakannya saja bisa parah, apalagi yang melakukan kontak langsung adu kesaktian.


Tapi itu masih untung. Biasanya lawan yang terkena jurus 'Pelebur Nyawa' milik Raja Kala Bopak langsung menjadi cair, kental, seperti bubur.


Raja Kala Bopak sempat pingsan tiga hari, tapi Yuda Lelana hari itu juga bisa bangkit dan berjalan sempoyongan mencari kekasihnya; Murti


Kumala.


Sang putri sendiri keadaannya juga menderita. Dadanya terasa panas, tulang-tulangnya bagaikan remuk. Untung Yuda Lelana segera dapat salurkan hawa murni untuk sembuhkan luka beratnya sendiri, setelah itu baru menyembuhkan Murti Kumala dengan jurus 'Hawa Bering' yang ajaib itu.


Ketika Raja Kala Bopak sadar dari pingsannya, langsung disembuhkan oleh Yuda Lelana. Tapi anak muda bengal itu mencoba menantangnya lagi. Raja Kala Bopak hanya bilang,

__ADS_1


"Aku tak sanggup! Lebih baik kalian menikah secepatnya, lalu pergi dari Pulau iblis dan jangan kelihatan aku lagi, supaya di antara kita tidak ada yang saling membunuh!"


"Ayah merestui perkawinanku dengan Yuda Lelana?!"


"Mau nggak mau merestui juga!" jawab Raja Kala Bopak dengan pasrah.


"Tapi aku tidak suka dengan calon suamimu itu! Dia telah mengalahkan aku. Aku tidak suka! Makanya, habis kawin nanti, kalian langsung minggat dan cari tempat sendiri untuk berbulan madu. Jangan temui aku lagi. Kalau kau rindu, kau saja yang datang temui aku. Suamimu jangan diajak!"


Perkawinan Yuda Lelana dengan Murti Kumala berlangsung cukup meriah. Kebanyakan yang datang menghadiri perkawinan itu para jin dengan berbagai macam rupa dan bentuknya.


Perkawinan itu dilakukan setelah Yuda berhasil meminta kembali Kitab Jayabadra dan diserahkan kepada Nyai Sirih Dewi. Kutilang Manja tak berani lagi menampakkan cintanya karena ia takut dikutuk sang dewa yang menjelma manusia.


Yuda Lelana mendapat tempat untuk berbulan madu. Ia membangun gubuk sederhana di Puncak Gunung Ismaya. Pengertian gubuk di sini sebenarnya adalah sebuah bangunan menyerupai candi yang terbuat dari susunan batu tanpa perekat.


Orang awam akan merasa heran, bagaimana mungkin seseorang membangun candi atau bangunan rumah menyerupai candi di puncak gunung, sedangkan batu-batunya cukup besar, puncak itu pun cukup tinggi. Bagaimana para kuli mengangkat batu-batuan besar itu?


Masyarakat jin dikerahkan oleh Raja Kala Bopak. Rakyat jin dan warga siluman itulah yang membangun candi tersebut dalam tempo hanya satu malam. Fantastis sekali, tapi memang begitulah jika raja jin bekerja.


Kepindahan mereka dari Pulau Iblis ke Puncak Ismaya juga tidak melalui jalan darat atau laut, melalui jalan udara. Menembus lapisan dimensi dengan kekuatan gaib, sepasang mempelai itu mampu pindah tempat dalam satu kedipan mata.


*


Sembilan bulan kemudian, Murti Kumala melahirkan seorang bayi. Proses kelahiran bayi itu tidak keluar begitu saja. Sejak tujuh hari tujuh malam sudah diawali dengan datangnya hujan tanpa henti. Tanah longsor terjadi di sekitar lereng gunung itu.


Pada saat sang jabang bayi hendak nongol dari rahim sang ibu, hujan deras disertai dengan amukan badai cukup dahsyat. Lebih dari tiga puluh pohon tumbang, puluhan batu menggelinding dari ketinggian, kilatan cahaya petir ikut menghujani gunung itu.


Badai mengamuk hanya di puncak gunung, sedangkan di kaki Gunung Ismaya hanya terjadi angin kencang biasa-biasa saja. Bahkan hujannya tak terlalu lebat.


Kabut pun hadir membungkus puncak Gunung Ismaya. Tebal sekali, seperti selimut domba. Yuda Lelana sudah memanggil seorang dukun bayi untuk menolong kelahiran sang jabang bayi. Tapi dukun bayi itu tersesat di perjalanan. Terpaksa ia kembali lagi ke rumahnya menunggu hujan badai reda.


Tapi sang hujan tiada kunjung reda juga, bahkan semakin deras. Puncak Gunung Ismaya bagai lenyap ditelan langit. Kilatan cahaya biru menggelegar menyambar-nyambar puncak gunung itu.


Akhirnya, suara tangis bayi itu pun terdengar melengking tinggi. Seakan ingin mengalahkan deru badai dan ledakan guntur di sana-sini. Tangis sang bayi menggetarkan dinding-dinding batu, seolah-olah bangunan candi itu akan runtuh karena getaran suara si jabang bayi. Bahkan dari puncak hingga kaki gunung terjadi getaran hebat, sepertinya gunung itu akan meletus atau tumbang entah ke mana.


Rumah-rumah penduduk di kaki gunung ikut bergetar, gentengnya melorot dan pada pecah. Hewan-hewan ternak saling menjerit ketakutan, ada yang sampai lepas dari kandangnya dan mengamuk di sana-sini.


Bayi itu adalah bayi lelaki. Tali pusarnya digunting oleh dua jari sang ayah, tanpa senjata apa pun. Yuda Lelana tampak gembira sekali ketika berhasil menolong kelahiran anaknya sendiri. Tapi beberapa saat kemudian ia menjadi lemas, terpuruk sambil memeluk bayi itu.


Murti Kumala terpaksa mengambil alih sang jabang bayi dan memeriksanya. Murti Kumala agak terkejut, karena bayi itu ternyata tidak mempunyai garis tangan sedikit pun.


Lebih terkejut lagi setelah mengetahui dada sang bayi mempunyai noda tato bergambar setangkai bunga mawar merah kuncup.


"Suamiku, apakah tato di dada anak kita ini yang membuatmu lemas?"


Yuda Lelana menjawab dengan gelengan kepala, setelah bangkit merayap dan duduk di tepi pembaringan baru berkata,


"Kekuatanku telah hilang! Semua ilmuku telah menitis ke kayangan atau... entahlah. Aku tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya." Yuda Lelana terengah-engah.


Sang bayi masih menjerit dalam tangisnya. Baru


berhenti setelah disusui oleh sang ibu. Bayi itu tampak riang, ceria, mulutnya lahap sekali menikmati air susu sang ibu.


"Ilmuku sudah menitis ke dalam ragamu, Nak! Jaga dan pelihara baik-baik. Kau harus menjadi pemandu kebenaran dan keadilan. Karena itu kunamakan dirimu: Pandu Puber.


Artinya 'Puber': Punya Keberanian!


Kalau mau menjadi pemandu kebenaran dan keadilan harus punya keberanian! Keberanian menentang si angkara murka, keberanian melawan tindakan sesat, juga keberanian mengakui kesalahan diri sendiri."


"Kau ngomong sama siapa? Bocah


baru lahir kok diajak ngomong," kata Murti Kumala.


Tiba-tiba sang jabang bayi melepas nenennya. Mata bayi itu bisa terbuka jelas-jelas.


Ini suatu keanehan, karena biasanya bayi baru lahir tak bisa membuka mata. Mata itu memandangi ibunya, ada senyum tipis di bibir mungil sang bayi yang sewajarnya tak bisa tersenyum. Sang ibu mulai tegang dan terheran-heran.


Tangan sang bayi bergerak-gerak menepuk-nepuk air minumnya yang ada di dada sang ibu. Ia bagaikan bermain 'tempat minuman' tersebut. Ia tampak girang, sehingga sang ibu yang memandangi dadanya ditepuk-tepuk sang anak menjadi sedikit cemas. Ia berkata kepada suaminya,


"Gawat anakmu ini! Masih kecil sudah senang bermain 'tempat minumnya', bagaimana kalau sudah besar nanti?"


"Mudah-mudahan gerakan itu hanya suatu kebetulan saja. Jangan terbawa menjadi kebiasaan sampai dewasa. Kasihan para gadis yang kasmaran padanya," ujar Yuda Lelana sambil tersenyum-senyum.


"Jangan-jangan kebiasaanmu menurun pada anak ini?"


"Kebiasaan yang mana?"


"Kebiasaan romantismu!" jawab Murti Kumala agak ketus. Yuda menjadi tertawa pelan. Tapi dalam hatinya bertanya-tanya,


"Jika seluruh ilmuku menitis kepadanya, apakah anak ini kelak juga akan ikut-ikutan suka merayu wanita? Wah, kacau juga kalau dia begitu...."

__ADS_1


Hujan pun berhenti, badai reda, petir sembunyikan diri, kabut sirna dan alam menjadi terang. Seakan mereka takut dengan kemunculan sang jabang bayi yang kelak akan melanglang buana, menembus belantara persilatan dan cinta.


__ADS_2