Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Raja Jin Vs Ratu Peri


__ADS_3

“Kepa rat kauuuu….!” gerak Kala Bopak memanjang, membuat pohon-pohon bergetar kembali, daun-daun rontok sebagian.


“Jangan kau sentuh cucuku itu kalau kau ingin murkaku tak membantai habis rakyatmu, Peri Sore!”


“Satu bukti atas kemenanganku nanti adalah menguasai ketampanan dan keperkasaan cucumu; si Pandu Puber itu!”


“Ba bi salto, monyet nung ging, kadal batuk…!Kuremuk-kan seluruh jasad yang ada padamu, Peri Sore! Heeeeaaaahhh…!”


Ya ampuuun…! Suara teriakannya benar-benar menyamai seratus petir meledak bersamaan. Gemuruh menggelegar itu adalah gelombang hentakan suara Kala Bopak yang membuat alam disapu badai. Pohon-pohon tumbang tak beraturan. Batu-batu besar pecah terbelah. Bukit cadas itu pun longsor sebagian. Tanah meretak di sana-sini karena guncangan bumi. Awan hitam bagai keluar dari pori-pori langit. Menggumpal menutupi sinar matahari.


Mirah Duri menutup telinganya kuat-kuat sambil memejamkan mata dan menyeringai kesakitan. Jika tidak begitu, gendang telinganya pasti pecah karena suara teriakan raja jin itu. Tapi sepasang mata yang terpejam kuat itu segera terbuka sedikit untuk melihat apa yang dilakukan Kala Bopak.


Ternyata raja jin itu menyerang Ratu Peri Sore dengan lompatan mengerikan. Mirip seekor kuda nil terbang dan hendak menghantam tubuh mulus yang begitu sexy itu.


Tapi rupanya Ratu Peri Sore sudah siap dengan serangan tersebut. Ia melompat bagaikan terbang, membentangkan kedua tangannya, meluruskan kedua kakinya. Jubahnya berkibar mirip sayap seekor garuda betina. Tubuhnya akan diadu dengan tubuh besarnya Kala Bopak.


Mirah Duri sudah ngeri saja melihat kedua tubuh tak seimbang itu saling meluncur. Tiba-tiba dari mulut Ratu Peri Sore tersembur cahaya merah bagaikan bunga api menebar ke arah tubuh hitam Kala Bopak.


Zrrraab…! Joorrss!


Tangan Kala Bopak menyentak ke depan dan dari telapak tangan itu keluar cahaya kuning menyilaukan seperti emas. Cahaya kuning itulah yang digunakan menangkis semburan bunga api merah ganas dari mulut Ratu Peri Sore.


Jraaabbb…! Aaaauuhhh…!


Blegaarrr…!


“Huaaah…!”


Kala Bopak terpental sambil memekik liar. Bayangkan saja, tubuh sebesar itu terpental tinggi dan melayang-layang, lalu jatuh meniban sebatang pohon yang miring karena tadi mau tumbang tak jadi.


Blaammm…!


Kraakkk…! Brraakk…!


Guncangnya hebat terasa jelas. Bumi bagai ingin tenggelam atau terjungkir balik tak karuan. Ledakan tadi yang membuat alam porak poranda. Ditambah lagi getaran jatuhnya tubuh Kala Bopak seakan kian membuat tanah di sekelilingnya melesak ke dalam. Bukit cadas itu longsor hampir separuh bagian. Salah satu sisi puncaknya menyembur ke atas.


Braaasss…!


Udara menjadi kotor karena badai menerbangkan serpihan tanah cadas.


Mirah Duri sendiri yang jaraknya cukup jauh bisa terpental ke belakang, masuk ke semak-semak dan terkapar di sana. Begitupun tubuh langsing sekal milik Ratu Peri Sore. Tubuh itu melayang-layang akibat daya ledak super dahsyat tadi. Hanya bedanya, Ratu Peri Sore bisa cepat kuasai diri dan mengatur keseimbangan tubuhnya, sehingga ia tidak terhempas seperti Kala Bopak.


Ratu Peri Sore hinggap di salah satu dahan pohon yang belum tumbang tapi sedang meliuk-liuk akibat sisa badai yang menghempas tadi.


“Hik, hik, hi, hi, hi, hi….!”


Tawa sang Ratu Peri Sore mengikik mirip kuntilanak. Dasar ratunya kuntilanak juga, jadi tawanya ya nggak beda jauh dengan kuntilanak. Malahan dia bisa disebut kuntilibu, bukan kuntilanak lagi. Sebab ia juga termasuk ibunya para kuntilanak.

__ADS_1


Kala Bopak menggeram-geram sambil berusaha bangkit, mengguncangkan tanah sekitarnya. Ia tampak terluka akibat adu kekuatan tenaga dalam tadi. Hidungnya keluarkan darah. Darah jin adalah hitam. Mirip aspal panas. Darah itu berasap tipis. Pakaian putihnya ternoda darah hitam. Pakaian itu bolong karena hangus terkena tetesan darah yang ternyata memang panas. Tapi agaknya Kala Bopak tak mau menyerah begitu saja. Ratu Peri Sore dihampirinya.


“Turun kau kalau memang ingin mengadu kesaktian denganku!” bentak raja jin.


“Hiak, hiak, hii… hik, hik, hik, hik…!” tawa sang Ratu Peri Sore berkepanjangan menyakitkan telinga. Ia turun dari ketinggian dengan satu lompatan cepat menuju ke arah Kala Bopak berdiri. Lompatan itu berputar tegak, cepat dan kuat, sehingga tubuhnya bagaikan tonggak melayang berdiri.


Wuuurrrsss…!


Putaran tubuhnya menyebarkan angin panas. Beberapa pohon langsung menjadi layu, bahkan ada yang mengering dan kulit pohon mengelupas secara serempak.


Mirah Duri segera menenggelamkan diri ke dalam rimbunan semak yang ada di belakang tiga pohon berjajar rapat. Kalau tidak begitu ia akan terserang hawa panas yang menyebar itu. Bahkan ilalang di depannya langsung menjadi keriting dihempas gelombang panas yang hebat.


Kala Bopak segera lepaskan jurus ‘Pelebur Nyawa’ andalannya. Sepasang sinar merah masing-masing sekepalan tangan bayi, keluar melesat cepat dari mata besar Kala Bopak.


Zlaarrtb…!


Jurus itu seharusnya membuat tubuh elok Ratu Peri Sore menjadi bubur, mengental dan tentu saja tanpa nyawa.


Tetapi sayang sekali jurus itu tidak bisa mendekati tubuh Ratu Peri Sore yang berputar di udara. Bahkan kedua sinar merah bagai kepalan tangan bayi itu terpental beda arah dan menghantam sisa bukit cadas.


Blaamm…!


Satunya lagi kenai sebuah pohon besar yang kira-kira berjarak dua puluh tombak dari tempat mereka bertempur.


Bluum…! Croot…!


Tubuh sang Ratu Peri Sore masih di udara dalam keadaan memutar begitu cepat, menyebarkan hawa panas. Dan tiba-tiba gerakan tubuhnya turun ke bumi, lalu tampaklah sosok kecantikan diam dengan kaki merentang rendah. Seakan dipamerkan di depan mata Kala Bopak apa yang selama ini diincar oleh kaum lelaki. Dan tiba-tiba ketika mata Kala Bopak terpana sebentar menatap pameran ‘perabot’ olah raganya sang Ratu, tangan kanan perempuan itu menyentak ke depan. Lalu bintik-bintik emas lembut bagaikan tepung mengkilap itu keluar dari telapak tangan, menerjang dada lebar Kala Bopak.


Jraass…!


Suaranya seperti bara api tersiram air.


“Huaahg…!”


Kala Bopak tersentak dengan mata mendelik. Tubuhnya segera berasap. Ia jatuh berlutut dengan tubuh gemetar dan suara menggeram seperti orang kesurupan. Matanya terbeliak-beliak, kulit wajahnya mengendur dan terguncang-guncang. Keadaan itu dilihat jelas oleh Mirah Duri dari tempat persembunyiannya.


Ratu Peri Sore perdengarkan suaranya dengan sikap kalem dan senyum sinis simbol kemenangan.


“Kau tak akan bisa terlepas dari jurus ‘Keringat Matahari’, Kala Bopak. Ragamu akan lenyap, tak akan bisa berwujud diri lagi. Selamanya kau akan menjadi mahluk tanpa jasad. Selamat tinggal, Kala Bopak. Kau tak akan bisa menyentuhku lagi, dan siapapun tak akan bisa kau sentuh! Tiba giliranku untuk menguasai cucumu yang perkasa dan menawan hatiku itu! hi, hi, hi, hi…!”


Ratu Peri Sore sentakkan kaki dan tubuhnya melesat ke atas, naik terus sambil serukan tawa mengikik. Lalu ia berlari melalui pucuk-pucuk dedaunan. Suara tawanya makin lama semakin tak terdengar lagi.


Mirah Duri buru-buru menemui Kala Bopak dan berusaha untuk mengguncang pundak Kala Bopak. Sebab ketika itu sang raja jin tundukkan kepala dengan napas tak tampak terhela, tubuh tak lagi gemetar, asap lenyap, tapi badannya yang hitam telah berubah menjadi kuning emas. Tampak samar-samar dalam pandangan. Kenyataannya tubuh itu ternyata tak bisa disentuh oleh tangan murid Ki Panut Palipuh.


“Paduka…?! Oh, kau tak bisa disentuh, Paduka?!” seru Mirah Duri dengan tegang dan sedih.


Kala Bopak perlahan-lahan angkat wajahnya dalam posisi masih berlutut. Matanya menjadi sayu memandangi Mirah Duri. Sayu dan menyedihkan, mirip orang sedang cacingan.

__ADS_1


“Mirah Duri…” ucapnya lirih sekali, menghiba hati.


“Rupanya inilah firasat yang membuatku ingin mengajakmu dan mengenakan pakaian serba putih. Aku….tak bisa mewujudkan raga lagi. Aku kalah dengan Ratu Peri Sore yang dulu pernah kukalahkan sebelum ia mempunyai jurus ‘Keringat Matahari’ itu.”


“Paduka, jangan putus asa! Ayo, bangkit! Bangkit dan kejar dia, Paduka!”


“Percuma, Mirah Duri. Aku tak bisa menyentuh siapa-siapa lagi. Jasadku telah dileburkan ke alam gaib. Satu-satunya cara untuk bisa disentuh dan menyentuh adalah menggunakan aji silumanku.”


“Ya, ya….gunakan saja! Mari saya bantu, Paduka. Ayo, gunakan aji siluman itu! Hmmm….saya….saya harus bagaimana ini, Paduka?”


“Diam di depanku, jangan mondar-mandir kayak setrikaan begitu!” geram suara bernada sedih itu.


Mirah Duri pun akhirnya berlutut di depan raja jin yang jasadnya semakin tampak membayang.


“Mirah Duri, sampaikan salamku kepada gurumu. Ceritakan semuanya ini kepada Ki Panut Palipuh. Cari dulu cucuku, ingatkan bahwa ia perlu hati-hati dan jangan terbujuk rayuan Ratu Peri Sore! Ia tak boleh kawin dengan Ratu Peri Sore…”


“Ya, ya… saya akan ingatkan. Aku…eh, saya…. Saya akan cari Pandu Puber dan … dan…. apa tadi?”


“Ceritakan…”


“Ya, ceritakan! Saya akan ceritakan. Oh, Paduka saya sedih sekali! Boleh saya menangis?”


“Prajuritku tak boleh menangis!” kata Kala Bopak dengan tegas tapi berkesan lembut, sekalipun masih bersuara besar.


“Ba… baiklah, saya batalkan saja acara menangis saya. Lalu, bagaimana?”


“Ingatkan pula pada Pandu, bahwa aku telah menjelma menjadi Pedang Siluman dan bermukim di kaki kanannya. Dengan cara itulah aku bisa menyentuh tubuh siapa saja dan bisa disentuh oleh cucuku. Katakan kepada Pandu, jika ia ingin menggunakan diriku dalam wujud Pedang Siluman, suruh dia menepak pahanya satu kali, aku akan keluar dalam wujud pedang bercahaya ungu dan ia harus siap menangkapku, lalu menggunakan dengan jurus pedang apapun.”


“Baik, saya akan sampaikan begitu kepadanya, Paduka.”


“Jelaskan pula, Pedang Siluman tak boleh digunakan untuk memotong kukunya. Pedang Siluman bisa memotong benda apa saja, termasuk baja. Dan jika mengenai tubuh lawan, maka lawan akan mati dengan tersenyum atau tertawa. Tawa dan senyum itu adalah milikku. Tak akan ada darah di tubuh lawan, karena luka itu hanya akan keluarkan asap saja. Asap ungu yang indah dipandang mata orang yang tidak buta. Selebihnya, kehebatan itu akan ditemui sendiri oleh Pandu manakala ia pergunakan Pedang Siluman.”


“Ya, saya…. Saya paham. Semuanya akan saya tuturkan kepada Pandu….”


“Nah, kiranya cukup sampai di sini perjumpaan kita. Sampai bertemu di lain kesempatan. Sayonara!”


Zzzz…


Tubuh Kala Bopak keluarkan suara desis yang membuat Mirah Duri mundur ketakutan, disangka mau berubah menjadi naga. Tiba-tiba tubuh Kala Bopak berubah menjadi bias cahaya ungu memancar ke atas.


Zlap!


Cahaya besar itu menciut, sluub…! Dan di tanah telah tergeletak sebilah pedang bercahaya ungu, gagangnya dari emas, ujung gagangnya ada hiasan gambar jantung hati.


Zuueeess…!


Pedang itu melesat sendiri terbang ke angkasa, lalu menghilang dari pandangan mata Mirah Duri. Gadis itu masih tertegun bengong dengan kepala terdongak dan mata tak berkedip.

__ADS_1


“Selamat jalan, Paduka. Semoga kau tidak tersesat masuk ke paha wanita!” ucap batin Mirah Duri dengan serius.


__ADS_2