
Yuda Lelana diam berpikir. Rupanya Pandu Puber mendengar percakapan itu, dan segera mendekati sang Ayah, lalu berkata.
“Ayah, aku minta izin untuk bebaskan Yu Mirah Duri!”
“Husy! Kamu ini apa-apaan sih, kok ikut campur urusan orang tua saja!” hardik ibunya.
“Soalnya aku kenal dengan Yu Mirah Duri, Ibu. Aku juga kenal dengan Ki Parut Melepuh itu.”
“Panut Palipuh!” Kala Bopak membenarkan.
“Ya. Tapi aku lebih senang memanggilnya Parut Melepuh, Kek!”
“Terserah deh!” Kala Bopak tak mau berdebat dengan cucunya.
“Ayah, aku minta izin sekali ini saja untuk menolong Yu Mirah Duri.”
“Atas dasar apa kau menolong?”
“Yu Mirah Duri tidak bersalah, Ayah. Dia malah dikejar-kejar orang yang disebut Rampok Tulang.”
“Hei, kau tahu nama gerombolan Rampok Tulang segala, Nak?” sahut Kala Bopak agak heran.
“Yu Mirah Duri yang ceritakan tentang orang-orang Rampok Tulang, Kek.” Lalu, bocah itu mendesak ayahnya lagi,
“Izinkan aku ke kadipaten ya, Ayah?”
Sang Ayah diam berpikir. Tapi sang anak berbisik agak keras, didengar oleh ibunya yang ada di belakangnya.
“Ayah, Yu Mirah Duri itu cantik lho….”
“Nah, nah, nah….. mulai ganjen lu ya? Masih anak-anak sudah berpikir soal kecantikan seorang gadis! Dasar anaknya Yuda ganjen!”
“Tapi sama Ibu masih cantik Ibuuu….!” Katanya mengalihkan anggapan.
__ADS_1
Sang Ayah tertawa tanpa suara. Sang kakek juga tertawa dengan mulut dibekap. Ibunya hanya bersungut-sungut tapi tak jadi marah.
“Pandu,” kata Yuda Lelana.
“Kau masih kecil. Belum pantas tampil menjadi sang pembela kebenaran. Walaupun kau punya ilmu titisan dari Ayah, tapi kodratmu belum memungkinkan untuk lakukan cita-citamu itu.”
“Apakah anak kecil tak boleh membela kebenaran?” katanya tengil sekali.
Sang Ayah diam sebentar, memandang mertuanya.
Sang mertua hanya angkat bahu. Artinya, tidak melarang keinginan si bocah, juga tidak menyuruh si bocah lakukan keinginannya. Semua diserahkan kepada sang Ayah.
“Pandu, pada dasarnya memang kebenaran harus dibela. Membela kebenaran perlu ditanamkan sejak usia muda. Tapi…..soal ini Ayah tak bisa tentukan jawabannya. Mintalah izin kepada ibumu saja. Ayah tak mau disalahkan Ibu.”
Pandu Puber segera mendekati ibunya, tapi belum-belum sang Ibu sudah berkata,
“Tidak! Kau tak boleh pergi ke kadipaten!”
“Ibu, aku ingin menjadi anak kebanggaan Ibu. Kalau aku bisa bebaskan Yu Mirah Duri, pasti orang akan bertanya: ‘anak siapa itu, kok pintar sekali?’. Dan aku akan menjawab: ‘aku anak Ibu. Ibuku bernama Murti Kumala. Dia cantik dan bijaksana. Tidak ada perempuan lain yang bisa kalahkan kecantikan Ibuku. Kalau masak pasti enak. Ibuku orang yang rajin. Bangun pagi langsung gosok gigi. Kalau marahpun masih kelihatan cantik’. Nah, kalau sudah begitukan yang dapat nama harum adalah Ibu sendiri…..”
“Hei, kau masih kecil!” tegas Ibunya.
“Kecil-kecil sudah pintar merayu! Dasar anak dewa ganjen lu!”
“Yaaah….sekali ini saja deh, Bu,” bujuk Pandu Puber.
“Tidak! Sekali Ibu bilang tidak, ya tidak! Titik!”
Sang anak yang dipandangi Ayah dan kakeknya segera melapor kepada sang Ayah,
“Ayah…..sudah titik tuh!”
“Ya sudah. Itu keputusan Ibumu!”
__ADS_1
Pandu Puber akhirnya murung. Tak ada keceriaan lagi di wajahnya. Sang Ibu bagaikan tidak perduli.
Bahkan ketika makan malam bersama, sang anak tampak tidak berselera. Diajak bercanda oleh kakeknya pun diam saja.
Sang kakek sempat bicara kepada Murti Kumala dan Yuda Lelana secara diam-diam.
“Anakmu itu penuh keberanian. Kalau tak dipupuk terus, keberaniannya akan hilang dan ia akan menjadi anak banci atau pengecut!”
“Keberaniannya tidak harus berkembang sejak sekarang!” kata Murti Kumala.
“Anak itu masih perlu bimbingan supaya kelak bisa memanfaatkan keberaniannya dengan baik, tidak menjadi liar dan ganas!”
Darah pendekar mengusik jiwa Pandu. Bergolak terus membuatnya susah tidur. Bayangan wajah Ki Panut Palipuh dan Mirah Duri bermunculan dalam ingatannya. Pandu juga bisa mengeluh,
“Kasihan mereka….”
Lewat tengah malam, pergolakan batin bocah itu luar biasa hebatnya. Ia tak tahan lagi memendam keinginan nya. Maka dengan hati-hati iapun keluar lewat jendela.
Gelap malam di luar rumah tak dihiraukan. Udara dingin yang menggigilkan badan tak dipikirkan. Pandu Puber akhirnya melarikan diri dari rumah menuju kedipaten.
Tekadnya hanya satu, membebaskan Mirah Duri dari tawanan sang Adipati Sihombreng. Bagaimana caranya?
Ia sendiri belum tahu. Yang penting ia harus segera ke kadipaten dan melihat suasana di sana.
“Ibu pasti marah padaku. Tapi biarlah aku dihajar Ibu, toh tidak akan sampai mati. Kalau aku bernyanyi kemarahan Ibu reda kembali,” pikir si bocah bandel itu.
“Dari pada aku bebas dari hajaran Ibu tapi Yu Mirah Duri celaka di tangan orang jahat, lebih baik aku dihajar Ibu tapi Yu Mirah Duri selamat. Setelah dia selamat, terserah mau ngapain aku tak perduli lagi. Tapi…..berani menungging mendadak deh, Yu Mirah itu cantik sekali kok. Sumpah! Memang kalau dibandingkan dengan Ibu masih cantik Ibu. Tapi aku lebih suka memandang wajah Yu Mirah sebab dia bukan ibuku. Mau dipandangi apanya saja bebas. Hi, hi, hi, hi….! Kalau aku bisa membebaskan Yu Mirah, aku mau minta hadiah di sun sama dia, ah!”
Gawat tuh anak. Kecil-kecil pikirannya sudah ke arah sun-sunan. Cerdas memang cerdas, tapi kalau sudah sampai memikirkan kecantikan dan sun-sunan itu namanya kelewat cerdas.
Barangkali memang begitulah kodratnya sebagai bocah yang kelak menjadi seorang pendekar; Pendekar Ganjen.
Toh dari kecilpun ia sudah terbiasa merayu ibunya untuk minta ini-itu. Berarti dia punya kelihaian merayu wanita juga. Buat para gadis kayaknya perlu hati-hati juga kalau berhadapan dengan Pendekar Ganjen.
__ADS_1