
Lila Anggraeni tak punya pilihan lain. Ia segera pulang bersama Pandu Puber. Ternyata di rumahnya sedang heboh. Semua orang ribut mencari kemana perginya Lila Anggraeni. Rupanya saat itu sang Ayah sudah pulang dari menjemput tamu agungnya. Sang Ayah malu mengetahui anak gadisnya tidak ada di rumah dan dicari-cari sampai ke kolong ranjangpun tetap tak ada.
Namun ketika Lila Anggraeni tampak datang
menunggang kuda berboncengan dengan seorang pemuda tampan berbaju ungu bintik-bintik seperti embun itu, semua orang dalam rumah keluar ke depan pintu gerbang. Sang tamu pun ikut keluar dan segea menggeletuk giginya melihat Lila Anggraeni naik kuda dan dipeluk dari belakang oleh pemuda beranting satu.
Pandu Puber segera lompat dari punggung kuda sebelum mereka berjarak dekat dengan rombongan tamu dan ayah Lila Anggraeni. Mata sang tamu tetap memandang tajam ke arah Pandu, dan Pandupun menatapnya dengan tak berkedip, namun lebih tampak tenang dari sang tamu.
“Lila...!” seru sang Ayah.
“Apa maksudmu membawa pulang pemuda itu, hah?!”
Pandu Puber yang menyahut,
“Kami saling mencintai dan tak rela jika Lila dikawinkan dengan Pendekar Samurai Cabul itu!” tuding Pandu.
Sang ayah ingin bergerak maju, tapi tangan sang tamu merentang, menahan gerakan tersebut. Lalu, ia sendiri bergerak maju menemui Pandu. Sang ayah menjadi cemas dan sangat malu, karena saat itu banyak orang berkumpul di depan rumahnya karena ingin melihat seorang pendekar yang namanya kesohor dan terkenal sakti itu.
Shoguwara, si pendekar cabul itu, berdiri tegak dengan kaki sedikit merenggang. Orang-orang menyingkir jauh, tak berani dekat-dekat dengan sang pendekar yang sedang marah dan terkenal kecepatan bermain samurai. Pandu Puber pandangi orang itu dengan dada terbusung. Tepat seperti gambaran yang pernah diceritakan ayah Pandu, bahwa Pendekar Samurai Cabul itu berwajah kaku, bengis, matanya menandakan kelicikan yang tersembunyi di balik kesaktiannya. Jidatnya lebar, karena rambutnya dikuncir ke belakang agak tinggi. Sebilah samurai disandang di punggungnya. Baju putihnya yang berlengan panjang itu dirangkapi pakaian semacam rompi panjang warna hitam, sesuai dengan kain penutup kedua kakinya yang juga hitam. Pendekar Samurai Cabul memang masih kelihatan muda dan sedikit punya kegantengan. Usianya berkisar antara tiga puluh tahun, mungkin lebih sedikit. Ia mempunyai mata kecil dan alis naik, berkesan jelas kelicikannya.
“Jauh-jauh aku datang untuk melamar Lila Anggraeni, tahu-tahu kau sudah lebih dulu membawanya lari. Tak tahukah kau siapa diriku ini?”
“Aku tahu siapa kamu, Sobat. Dan inilah yang dikatakan ‘pucuk dicinta ulam tiba’. Niatku untuk datang menemuimu di Tanah Sakura tak perlu harus kutempuh dengan perjalanan melelahkan. Ternyata kita dipertemukan di sini!”
“Jangan banyak mulut! Pergi tinggalkan Lila, atau mati di ujung samuraiku?”
“Aku memilih mati di ujung hati Lila!” jawab Pandu Puber seenaknya. Jawaban itu membuat Pendekar Samurai Cabul menggeram penuh luapan amarah. Matanya meirik sebentar ke sekeliling. Ternyata kabar kedatangannya mau melamar Lila Anggraeni sempat juga didengar para tokoh dunia persilatan, sehingga banyak juga dari para tokoh yang datang dan diam mengelilinginya, seakan menyaksikan pertarungannya dengan Pandu Puber. Sang pendekar semakin bernafsu ingin menampakkan kehebatan ilmunya.
“Sebutkan namamu supaya bisa kucatat dalam buku daftar para korban samuraiku!” kata Pendekar Samurai Cabul.
“Namaku Pandu Puber! Akan kukalahkan kau, dan kurebut gelar kependakaranmu hari ini juga!” kata Pandu tak gentar sedikitpun.
“Ke parat! Heeeaah…!” Pendekar Samurai Cabul melompat dalam gerakan cepat dan lomptan pendek. Pandu Puber pun menyambut lompatan pendek itu dan kedua tangannya mengadu telapak dengan sang pendekar.
Plak…!
Mereka berdiri di tempat, saling melepaskan kekuatan teanga dalam melalui telapak tangan yang diadukan. Tapi keduanya sama-sama tak ada yang terdorong mundur. Bahkan kedua telapak tangan yang saling beradu itu mengepulkan asap putih samar-samar. Tubuh mereka sama-sama mengeras hingga bergetar dari kaki sampai kepala.
__ADS_1
Tiba-tiba, gerakan Pendekar Samurai Cabul sangat tak diduga-duga. Kakinya berkelebat menendang lutut Pandu Puber.
Wuuttt…! Dees…!
“Uuhg…!”
Pandu mengaduh tertahan, ia jatuh berlutut, kekuatannya berkurang, dan tubuhnya terpental karena dorongan tenaga dalam lawan.
Wuuss…! Bruusss…!
Pandu jatuh terpelanting dengan menyeringai. Jauhnya enam langkah dari tempatnya berdiri semula. Pendekar Samurai Cabul melangkah cepat menghampirinya. Tapi Pandu cepat bangkitkan badan dan siap menghadapi lawan.
Di sisi lain, Lila Anggraeni baru saja membuka kedua tangannya yang tadi menutup wajah pada saat Pandu jatuh terpental.
“Pandu Puber! Kuberi kesempatan sekali lagi padamu untuk segera pergi dan tinggalkan Lila Anggraeni! Kalau kesempatan ini kau sia-siakan, kau akan mati penuh penyesalan!”
“Yang ingin kurebut darimu adalah gelar kependekaranmu! Sudah tak pantas tersandang di namamu, Shoguwara!”
“Biadab!” geramnya dengan gigi menggeletuk dan tulang-tulang mengeras.
“Hiaaat…!” Samurai di punggung tahu-tahu sudah tercabut. Gerakan mencabutnya tak sempat dilihat orang. Kini samurai itu digenggam dengan dua tangan. Teracung ke depan. Ia melangkah ke kiri, memutari Pandu.
Kaki Pandu bergerak melebihi kecepatan angin. Ketika tubuhnya berguling masuk ke sela-sela kedua kaki lawan.
Pandupun segera menendang ke atas.
Buuhg…!
Tendangan itu tepat mengenai ‘jimat lelaki’ lawannya.
“Oohg…!” Pendekar Samurai Cabul mendelik seketika, diam dalam gerakan ingin menebaskan samurai dari atas ke bawah. Ketika lawan terpaku karena kesakitan itulah, Pandu Puber segera mengulangi tendangannya yang mengenai tempat semula lagi.
Buueehg…!
“Uuhgg…!” suara pekikan tertahan terdengar dari mulut Shoguwara. Ia terlempar ke belakang, jatuh terjungkal.
Pandu Puber segera bangkit dan bergerak memutar dalam keadaan jongkok. Kakinya membabat pergelangan tangan lawan.
__ADS_1
Plaakk…!
Tendangan kuat bertenaga dalam tinggi membuat senjata samurai itu terlempar lepas dari tangan lawan. Pandu mengeraskan dua jari di masing-masing tangannya. Lalu masing-masing jari ditempelkan ke pelipis kanan-kiri. Kejap berikutnya kedua tangan itu menyentak ke depan bagai melempar pisau secara bersamaan.
Wuuutt…!
Ternyata yang keluar dua sinar merah lurus yang menghantam samurai di tanah. Satu sinar kenai mata samurai, satu lagi kenai gagang samurai.
Claaapp…! Daarr…!
Ledakannya tak seberapa keras, tapi akibatnya senjata samurai panjang itu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Pada saat itu, Shoguwara sudah bangkit dan mau menerkam samurainya. Tapi gerakan tersebut tak jadi karena samurai sudah hancur lebih dulu. Semakin murka wajah sang pendekar berkucir panjang itu. Tapi Pandu Puber sempat terbengong sebentar menyadari jurus yang baru saja digunakan itu. Lalu dalam hatinya ia menamakan jurus itu jurus ‘Sepasang Sayap Cinta’. Entah bagaimana penjabarannya, Pandu tak perduli.
Pendekar Samurai Cabul segera menyerang Pandu kembali dengan lebih ganas. Kali ini ia menggunakan jurus tangan kosongnya, namun punya kekuatan tenaga dalam. Dalam satu lompatan tangannya bergerak ke sana-sini dengan cepat sekali, membingungkan lawannya. Pandu sengaja mundur menjauh untuk hindari jurus itu.
“Haaaiitt…!” Shoguwara bentangkan kedua tangan bagai seekor bangau hendak menggibas mangsa. Kesempatan itu dipergunakan oleh Pandu Puber untuk bergerak cepat menggunakan jurus ‘Angin Jantan’ lagi. Tapi kali ini telapak tangannya mengembang rapat, jari-jarinya mengeras, jempolnya terlipat. Dan tangan itu dihantamkan ke arah ulu hati lawan.
Wuuutt…! Plaakkk…!
Lawan bisa menangkisnya walau pergelangan tangan menjadi ngilu semua.
Plak, plak, plak bleesss…!
“Uuhg…!” Shoguwara tersentak mendelik. Keempat jari Pandu Puber menembus masuk ke dada kanannya yang atas, dekat dengan pundak. Hampir saja kena jantung. Tapi itupun sudah cukup berbahaya. Empat jari tangan menancap hampir seluruh bagian. Mirip sebilah pisau dihunjamkan ke tubuh itu. Ketika dicabut keluar, darahpun menyembur dengan kentalnya.
“Jurus ‘Jantung Hati’,” kata Pandu dalam benaknya menamai jurus itu.
Shoguwara mulai limbung. Darah yang keluar semakin menghitam. Ia terkejut dan berucap tak sadar,
“Racun…?!”
Rupanya tangan Pandu yang mampu menembus dada lawan itu dapat menyebarkan racun melalui ujung-ujung jarinya. Shoguwara tegang sekali. Wajahnya pucat pasi. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera melesat melarikan diri sambil tinggalkan ancaman,
“Aku akan kembali menuntut balas padamu! Akan kurebut kembali gelar kependekaranku, Bang sat!”
Para tokoh silat yang ada di situ tertegun bengong. Mereka terheran-heran melihat seorang pendekar tampan mampu kalahkan Shoguwara tanpa senjata. Maka berita itupun cepat menyebar ke mana-mana. Gelar pendekar telah berhasil direbut Pandu Puber.
Pemuda tampan itu segera berkelebat dan berniat memberitahukan kepada ayahnya bahwa ia telah berhasil menumbangkan Pendekar Samurai Cabul, dan kini ia yang akan menggunakan gelar itu sebagai: Pendekar Ganjen.
__ADS_1
Rasa girangnya membuat Pandu lupa pada Lila Anggraeni yang tertegun bengong memandangi kepergiannya dengan air mata keharuan berlinang di pipi.