Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Pandu Dewa Indo


__ADS_3

Anak buah Sikat Neraka sendiri yang menyebarkan cerita pertarungan singkat ketuanya dengan bocah kemarin sore bernama Pandu. Mereka menceritakan hal itu di kedai tanpa sadar telah menjatuhkan nama besar si tokoh sesat itu dan membuat nama Pandu mulai direnungkan orang banyak.


Cerita pertarungan itulah yang pada akhirnya sampai ke telinga Yuda Lelana dan Murti Kumala.


“Awas kalau anak itu pulang nanti!” geram Murti Kumala sebagai ibu yang sebenarnya amat sayang pada anaknya. Gara-gara selalu dicekam kecemasan dan kekawatiran akan keselamatan sang anak, akibatnya rasa jengkelnya timbul dalam hati dan membuatnya sering menghajar sang anak.


Yuda Lelana membujuk isterinya dengan sabar


“Anak itu jangan terlalu sering kau marahi hanya gara-gara seperti itu.”


“Kalau sampai kenapa-kenapa bagaimana? Kalau sampai dia cedera siapa yang repot, siapa yang rugi? Apa musuhnya itu yang rugi?”


“Beri semangat pada anakmu untuk menjadi seorang penegak kebenaran dan keadilan. Kau tak perlu cemaskan dirinya, karena sebenarnya kekuatanku dan kekuatanmulah yang menyatu dalam dirinya dan menjadi sang penantang kejahatan! Mestinya kau bangga punya anak berani menentang kejahatan!”


“Ah, kau dan dia memang sama saja. Setali tiga uang!”


“Apa maksudmu?”


“Ya uang-uang juga!” sambil Murti Kumala ngeloyor pergi ke belakang. Tapi dalam hatinya segera membatin,


“Benarkah yang ada pada anak itu adalah kekuatanku juga? Benarkah anak itu mampu tundukkan segala bentuk kejahatan? Oh, tak kusangka anakku bisa jadi pahlawan kebenaran. Biar itu anak nakalnya melebihi anak se tan, tapi ternyata dalam jiwanya tersimpan sifat satria!”


Kesadaran Murti Kumala akan sifat satria sang anak membuatnya tak begitu nyap-nyap ketika sang anak pulang. Memang suaranya menegur lantang, tapi tak sampai turun tangan.


“Ngeluyur terus, Pandu! Tak perlu ingat pulang deh! Pergi terus sana!”


Pandu Puber mendekati ibunya dengan cengar cengir takut.


“Dari mana saja kau?!”


“Dari kotaraja, Bu.”


“Ngapain ke sana? Kotaraja kan jauh?”


“Kalau dekat saya tiap hari datang ke sana, Bu.”


“Perlu apa kau sampai ke kotaraja?”


“Nganterin cewek, Bu!”


“Cewek lagi, cewek lagi…! Kau ini playboy apa pendekar?!”


Pandu Puber malah tertawa. Dasar bocah konyol, kata-kata ibunya sampai membuatnya terpingkal-pingkal geli.


“Kenapa tertawa?!” bentak ibunya saat sang ayah muncul di belakangnya.


Pandu menjawab,


“Ibu ini ada-ada saja. Masa’ anaknya sendiri dikatakan playboy cap semprong? Ah, Ibu….semprong kan tipis, Bu. Kalau kena api bisa hitam kayak wajahnya Kakek Kala Bopak! Ibu ini ngatain anaknya apa ngatai bapaknya sendiri?”


“Dasar bandel kau ini!”


Pandu disabet pakai baju basah yang sedang mau dijemur, tapi sengaja tidak dikenakan, karena sang Ibu sendiri menahan geli. Melihat sang suami ada di situ, Murti Kumala segera berkata kepada Pandu.


“Tuh lihat bapakmu! Kalau mau jadi playboy kayak dia tuh. Cukup satu wanita dan nggak pernah ganti-ganti.” Lalu berkata pelan,


“Nggak tahu juga kalau di belakangku. Mungkin ganti seratus kali.”


“Huuuh…!” Yuda mencibir sewot sambil menahan geli.


Anaknya berkata,


“Kalau aku playboy cap semprong, berarti Ayah playboy cap kerupuk bantat!”


“Kok bisa begitu?” protes sang Ibu.


“Habis kawinnya sama penggorengan sih!”


“Eee, eeehh… kurang ajar kau, ya? Ngatain Ibu seperti penggorengan?!” Murti Kumala mengejar anaknya yang berlari sambil tertawa keliling rumah. Yuda Lelana hanya geleng-geleng kepala di tempat. Menggerutu pelan sendirian.


“Wah, wah, wah… baru sekarang ada penggorengan mengejar semprong teplok! Untung kerupuk bantat tidak ikut-ikut lari…”


Lalu ia tertawa geli tanpa suara. Hatinya merasa damai dan bahagia melihat rumah tangganya tampak harmonis, walau sering terjadi hal-hal yang membuat Murti Kumala ngomel. Tapi Yuda Lelana menyadari bahwa ngomel adalah sebagian dari iman wanita. Wanita yang tidak ngomel menurutnya adalah wanita sariawan.


Menjelang sore sang Ayah terlibat pembicaraan dengan sang anak di samping rumah. Murti Kumala sedang mengangkat jemurannya.


“Tiba-tiba tanganku bergerak sendiri, Ayah” tutur sang anak.


“Lalu dari pergelangan tanganku keluar sinar biru berbetuk piringan, dan sinar itulah yang menghantam sinar kuningnya Sikat Neraka, Ayah!”


“Itu namanya jurus ‘Cakra Biru’” kata Yuda Lelana menjelaskan.


“Benda apapun jika terkena jurus ‘Cakra


Biru’ akan hancur.”


“Tapi tubuh Sikat Neraka tidak hancur, Ayah. Dia hanya luka tercabik-cabik seperti disambar tiga belas petir.”


“Tiga belas atau empat belas? Kamu salah hitung, kali…?!”

__ADS_1


“Tiga belas petir kok, Ayah. Yang satu petir lagi sedang ngangkatin jemuran,” sambil Pandu melirik ibunya. Ibunya melirik sewot. Sang Ayah berkata pelan tapi didengar oleh sang Ibu.


“Kalau yang itu sih bukan petir, tapi gledek!”


“Terus aja ngomongin Ibu, nanti lama-lama Ibu pelintir kepalamu, Pandu!”


“Alaaah… gitu aja marah?!” Pandu merayu mendekati ibunya dari belakang.


“Gitu aja cemberut. Jangan cemberut dong, Bu. Nanti kawat jemuran bisa putus kesodok bibir Ibu!”


“Bodo…!” sentaknya melengos.


Pandu tertawa, lalu memeluk ibunya dari belakang dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Ayahnya mendekat dari belakang dan menepak kepala anaknya.


Plok…!


“Jangan cium dia. Dia istriku!” kata sang Ayah membuat anak dan ibu tertawa geli.


Yuda Lelana berlagak bersungut-sungut cemburu. Tapi begitulah sebenarnya canda Yuda Lelana dalam mengakrabkan hubungan batin antara suami, istri dan anak. Suasana ceria itulah yang membuat Pandu kadang tak tega jika harus pergi tanpa pamit ayah dan ibunya.


Pertumbuhan anak dalam lingkungan keluarga bahagia penuh tawa dan keakraban membuat Pandu Puber seperti masih anak-anak jika dalam lingkungan keluarga. Sekarang usianya sudah tujuh belas tahun. Sudah perjaka dan tampak ganteng. Badannya kelihatan kekar. Tato mawar merah di dada tampak mekar. Sesuai dengan dada yang membusung keras dan berkesan gagah.


Tapi dia masih seperti anak kecil. Masih sering manja kepada ibunya. Masih sering tiduran di pangkuan sang Ibu. Masih sering menciumi ibunya. Masih sering juga menggoda ayah dan ibunya jika sedang bicara dari hati ke hati. Bahkan tidurnya masih campur dengan ayah dan ibunya. Kadang jika ayahnya memeluk sang Ibu, Pandu Puber iri dan ia mendusal di tengah, sehingga menjadi dipeluk sang Ibu dan Ayah. Sikap itu segera disadari oleh pasangan suami istri Yuda Lelana dan Murti Kumala. Mereka menjadi cemas, takut kalau anaknya menjadi cengeng, manja dan tak bisa mandiri. Mereka kawatir kalau-kalau Pandu Puber menjadi pemuda yang selalu merengek pada orangtua dan tidak mempunyai sikap sendiri dalam menentukan langkahnya. Maka pada suatu senja, sang Ayah mengajak anaknya bicara jauh dari rumah. Sebuah pancuran sungai dipilih sebagai tempat pembicaraan mereka. Di sana banyak batu berbongkah-bongkah besarnya. Di antara batu-batu itulah mereka berada dan bicara.


“Kuperhatikan pertumbuhanmu sekarang sudah semakin dewasa, Pandu. Ayah menjadi tua, karena memang proses ketuaan ini lebih cepat daripada manusia biasa. Ayah takut sewaktu-waktu sang Hyang Guru Dewa memanggil dan Ayah harus kembali ke kayangan.”


“Apakah Ibu tetap akan diajak ke kayangan?”


“Ya. Dia menjadi manusia yang berhak tinggal di kayangan, di antara pada dewa, karena ibumu seorang istri yang setia, jujur dan penuh cinta kasih dalam melayani anak dan suaminya. Ibumu terpilih menjadi perempuan suci hati, walau sebenarnya ia anak jin.”


Pandu diam menunduk. Ia menyimak kata-kata ayahnya dengan penuh hikmat. Ketika ia mendongak, ternyata sang Ayah sudah tidak ada di tempat. Sang Ayah ada di atas batu besar. Pandu Puber tak memperhatikan saat sang Ayah memanjat batu itu. maka ia segera menyusul dengan cara menghentakkan kaki, dan tubuhnya melesat ke atas lalu hinggap di batu tersebut.


Wuus…! Jleg!


Sang Ayah langsung berkata.


“Ilmu peringan tubuhmu masih harus kau latih terus. Mestinya kau menapak di batu ini tanpa suara dan tanpa getaran sedikitpun.”


“Aku akan melatihnya terus, Ayah!”


“Bagus!” sang Ayah tersenyum bangga sambil menepuk pundak anaknya yang gagah dan rupawan itu.


“Anak Ayah harus bagus, kan?” senyum Pandu tersungging, sama menawannya dengan senyum Yuda Lelana sebelum menikah dengan Murti Kumala.


“Segala apa yang ada pada Ayah seolah-olah tercurah kepadamu, Pandu. Ilmu Ayah menitis kepadamu, sifat Ayah juga ada padamu, lagak-lagu Ayah juga menurun padamu. Pokoknya kau boleh dikata ‘foto copy’-nya Yuda Lelana. Kalau kau ingin tahu Ayah semasa muda, bercerminlah, dan itulah Ayah semasa muda. Gagah, tegap, konyol, bandel….”


“Tapi gantengnya nggak sama dong. Masih gantengan aku sedikit kan?”


Duug…!


Sang anak tidak menggubris tonjokan itu karena memang tidak terasa. Yuda Lelana bicara serius lagi.


“Pandu, kau harus sudah siap ditinggal Ayah dan Ibu. Kau tak boleh sedih. Karena kelak kau sendiri akan tinggal di kayangan jika kau menikah dengan seorang bidadari. Kau sendiri sebenarnya adalah dewa. Tapi nama kedewaanmu baru bisa kau pakai setelah kau tinggal di kayangan bersama istrimu.”


“Siapa nama dewa untukku sebenarnya, Ayah?”


“Dewa Indo!”


“Apa itu maksud nama Indo, Ayah?”


“Artinya dewa campuran. Darah dewaku bercampur dengan darah jin dan manusia yang ada pada ibumu. Maka jadilah dirimu sebagai Dewa Indo. Tapikalau kau menikah dengan manusia, maka hak kedewaanmu hilang dan kau tak akan bisa masuk kayangan.”


“Ooo…” calon Dewa Indo itu manggut-manggut. Lalu ia segera berkata.


“Tapi, Ayah… belakangan ini aku seperti melihat bayangan seorang gadis cantik berjubah putih. Kadang dia seperti lesat di depanku, kadang seperti mengikutiku dari belakang. Tapi kalau kudekati tak ada, Ayah. Dan aku memimpikan gadis itu tadi malam. Gadis itu mengaku bernama Dian Ayu Dayen!”


“Itulah calon istrimu! Itulah bidadari penguasa kecantikan. Aku kenal dengannya. Dia punya lesung pipit jika tersenyum, kan?”


“Benar, Ayah! Benar sekali!” jawab Pandu dengan berapi-api seperti korek api.


“Hidungnya mancung, matanya membelalak indah, bibirnya seperti kuncup mawar basah dan…wah… pokoknya oke banget deh, Ayah!”


Yuda Lelana manggut-manggut sambil tersenyum tipis.


“Itulah bidadari penguasa kecantikan, Dian Ayu Dayen. Agaknya dialah calon istrimu yang harus kau kejar ke manapun dia pergi. Kau harus bisa menaklukkan hatinya, karena bidadari Dian Ayu Dayen adalah bidadari berhati beku. Tak ada yang bisa meluluhkan hatinya. Tapi menurut kodrat kedewaannya, dia akan mengikuti calon suaminya ke manapun dia pergi. Jika ada lelaki yang dibayang-bayangi Dian Ayu Dayen, maka itu pertanda kebekuan hatinya mulai akan mencair, tinggal kepandaian si lelaki untuk merayu dan menundukkan hatinya. Tentu saja ia tidak akan mudah pasrah dan menyerah kepada rayuan lelaki. Ia akan melawan dengan jurus ‘Hati Beku’-nya.”


“Bagaimana cara meluluhkan hatinya itu, Ayah? Rayuan apa yang harus kugunakan? Beri aku manteranya, Ayah.”


“Kalau Ayah punya manteranya sudah Ayah taklukkan sewaktu ayah belum dibuang ke bumi!” Yuda Lelana.


“Tugasmu adalah mencari cara menaklukkan hatinya. Kau boleh pacaran dengan seribu wanita, tapi pada akhir perjalanan cintamu kau harus kawin dengan Dian Ayu Dayen. Dengan begitu kau bisa berkumpul dengan Ayah dan Ibu di kayangan.”


“Akan kuingat pesan Ayah ini!”


“Dan ingat pula, barang siapa menjadi gurumu atau pelayan setiamu, maka ia akan diangkat ke kayangan juga sebagai manusia yang berhak menikmati kehidupan di sana.”


“Apakah aku masih perlu seorang guru, Ayah?”


“Menuntut ilmu itu tidak ada habisnya sampai manusia ke liang kubur. Jangan kau merasa paling jago walau kau mewarisi ilmu Ayah. Kau masih punya banyak kelemahan, Pandu. Kau membutuhkan seorang guru, walau bukan berarti guru ilmu kanuragan. Falsafah sebuah kehidupan masih perlu kau timba dari seseorang. Pengetahuan lainnya masih kau butuhkan. Ayah, Ibu, kakekmu, itu bukan gurumu! Mereka adalah pembimbingmu.”

__ADS_1


Pandu manggut-manggut lagi dalam sikap berdiri yang gagah.


“Ingat-ingat betul nama jurus-jurus yang Ayah beritahukan itu, Pandu. Kelak jika tanganmu atau tubuhmu bergerak sendiri memainkan jurus baru, berilah nama sendiri jurus itu. Dan….. sebelum Ayah dan Ibu naik ke kayangan Ayah ingin kau mendapat gelar pendekar.”


“Bagaimana caranya?”


“Gelar pendekar saat ini ada di tangan Shoguwara yang bergelar Pendekar Samurai Cabul. Dia adalah tokoh muda tersakti untuk saat ini. namanya ada di dalam deretan teratas dari daftar tokoh-tokoh sakti di rimba persilatan. Kau harus bisa mengalahkan Pendekar Samurai Cabul, sehingga dunia persilatan akan mengakuimu sebagai pendekar baru.”


“Di mana aku bisa menemuinya, Ayah?”


“Di Tanah Sakura. Dia membuka perguruan di sana. Sebenarnya dia tokoh aliran hitam. Tapi kelicikannya membuat orang selalu beranggapan bahsa dia adalah tokoh aliran putih. Dan pengakuannya sebagai pendekar beraliran putih itu tidak ada yang berani membantahnya, karena barang siapa membantah pengakuannya ia akan mati di ujung samurainya.”


“Kalau begitu aku harus pergi ke Tanah Sakura untuk merebut gelar kependekaranya, Ayah!”


“Kurasa memang harus begitu. Tapi katakan kepada ibumu hal yang baik-baik saja. Jangan bilang kalau kau mau bertarung dengan Pendekar Samurai Cabul. Sebab ibumu juga tahu ketenaran nama itu. Nama yang ngetop di kalangan para tokoh tingkat tinggi itu jika disebutkan menimbulkan bayangan ngeri bagi setiap wanita, seperti ibumu. Sebab Shoguwara satu-satunya tokoh berilmu pedang tinggi yang mampu menelanjangi wanita dengan sabetan samurainya tanpa melukai kulit wanita itu sedikitpun.”


“Di mana kelemahan Pendekar Samurai Cabul itu, Ayah!”


Batara Kama yang bernama Yuda Lelana itu diam sebentar. Pandangannya terlempar jauh bagaikan menerawang. Sejenak kemudian barulah terdengar suaranya tanpa menoleh ke arah Pandu Puber.


“Kelemahannya….ada di ‘pusat kejantanannya’. Jangan mengincar bagian tubuh yang lainnya. Incarlah di tempat ‘jimat lelaki’-nya disembunyikan. Hantam dulu bagian itu, baru bagian lainnya.”


“Akan kubayangkan terus bagian kelemahannya itu.”


“Jangan! Jangan kau bayangkan terus-terusan, nanti kau jadi lelaki yang gemar lelaki. Istilah ‘homo des guario des eryana kuzodes anoma’.”


“Apa itu artinya, Ayah?”


“Itu bahasa dewa, artinya lelaki cinta dengan lelaki. Disingkat homo!” lalu dia bergidik sendiri membayangkan seandainya dirinya dipeluk dan dicium seorang lelaki. Bayangan itu segera dihilangkah dan bayangan pertarungan merebut gelar kependekaran yang selalu muncul dalam ingatannya.


Kepada ibunya, Pandu Puber pamit mau ke kotaraja, menengok Lila Anggraeni. Memang ia mau ke sana untuk memberitahukan Lila Anggraeni tentang rencananya menantang Pendekar Samurai Cabul. Tapi sang ibu mempunyai pengertian lain.


“Apakah kau sudah benar-benar jatuh cinta sama gadis itu?”


“Aku… aku hanya berteman saja saja kok, Bu.”


“Jangan bohonglah,” goda ibunya dengan tersenyum-senyum.


“Betul, Bu. Aku hanya bersahabat saja. Nggak pakai perasaan apa-apa.”


“Benar, nggak pakai perasaan apa-apa?”


“Benar! Nggak pakai!”


“Ah, jangan gitulah, Ngai juga pakai!” ujar ibunya menggoda terus.


“Dulu waktu Ibu memandang Ayahmu. Ibu memakai perasaan juga kok. Kau nggak perlu malu lagi sama Ibu. Kau boleh jujur, sebab kau sudah dewasa, Pandu. Dan kalau gadis itu jatuh cinta padamu, Ibu nggak marah. Itu wajar saja terjadi, sebab kau pemuda gagah yang tampan dan menawan hati wanita.”


“Sama Ayah dulu tampan mana. Bu?”


“Waah… kalau ayahmu sih nggak ada tampan-tampannya sedikitpun!” sang Ibu membesarkan hati anaknya.


“Dulu karena gelap saja jadi Ibu sangka ayahmu tampan. Karena waktu Ibu raba wajahnya, Ibu sangka hidungnya mancung, eeh…nggak tahunya giginya yang mancung!”


Pandu tertawa sambil geleng-gelengkan kepala.


“Ibu terlalu jujur….!” Katanya dengan tampak bangga sekali dikatakan lebih tampan dari ayahnya. Pamit ke kotaraja memang ke kotaraja. Tapi sang ayah sempat membisikkan kata yang didengar oleh sang Ibu dan membuat sang Ibu curiga.


“Jangan kaget kalau nanti kau berubah menjadi kupu-kupu perak. Itulah naluri dewamu yang bergerak mempercepat gerak.”


“Aku paham, Ayah! Mohon doa restu darimu, Ayah!”


“Ya. Doa restuku menyertaimu, Nak.”


“Ya, ya…kurestui kalian berdua. Semoga rukun dan bahagia selalu.”


“Jangan berdua, Bu. Aku saja yang direstui!” protes Pandu.


“O, ya. Kau saja yang kurestui,” katanya ibunya menurut. Tapi setelah sang anak pergi, sang Ibu bertanya kepada sang Ayah.


“Mau kemana dia itu sebenarnya? Kok pakai mohon doa restu segala?”


“Mau ke kotaraja,” jawab ayahnya membela sang anak.


“Mau melamar gadis itu?”


“Ah, nggak gitu kok. Cuma sekadar mau pacaran sja.”


Sang Ibu masih sangsi dalam keterbengongan.


“Mau pacaran kok minta doa restu?! Aneh sekali anak itu?!”


Yuda Lelana menuntun istrinya, dibawa masuk ke dalam rumah batu yang menyerupai bangunan candi itu, sambil berkata


“Sudahlah, kita doakan saja supaya dia selamat dan pulang dalam keadaan sehat, tak kurang satu apapun.”


“Kamu lagi….bikin aku pernasaran aja?! Sebenarnya ada apa sih?”


“Nggak ada apa-apa! Aku cuma minta kau mendoakan anakmu supaya selamat dan bisa pulang tanpa penyakit apapun.”

__ADS_1


“Ah, nggak tahulah….! Kamu sama anak selalu kongkalikong!” gerutunya dambil bersungut-sungut.


__ADS_2