Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Mencari Kelemahan Ratu Peri


__ADS_3

Hati Pendekar Romantis sempat rasakan penyesalan cukup dalam setelah tuntutan batinnya tersalurkan bagai curahan air mancur di tengah kolam. Gemericik membawakan irama kedamaian. Tapi kedamaian di hati itulah yang segera berubah menjadi penyesalan yang menjengkelkan.


“Breng sek betul air kolam itu, bikin aku jadi budak cintanya Dardanila! Kalau tahu begitu aku tak mau cuci muka dengan air kolam itu! Tapi….. ya sudahlah. Toh segalanya sudah terlanjur, sudah terbuang tuntas, tak mungkin kutarik kembali. Ini juga karena kesalahanku, ceroboh dan kurang hati-hati dalam bertindak.”


Beda lagi dengan pendapat hati wanita bermata ****** itu,


“Luar biasa indahnya bercinta dengan Pendekar Ganjen. Kalau saja tiap saat dia mau cuci muka dengan air kolamku, atau tanpa menyentuh air kolam mau seperti tadi, wow….! Mungkin aku tak akan sempat menikmati sarapan hari ini sampai sarapan besok pagi. Dia lain daripada yang lain! Sampai sekarang tubuhku masih merasa seperti disusuri oleh ciuman hangatnya. Duhaai… seumur hidup baru sekarang kurasakan sebentuk kebahagiaan yang begitu panjang. Memang tak sia-sia dia bergelar Pendekar Ganjen. Sesuai sekali dengan kebolehannya bersilat lidah!”


Tanpa sadar, racun cinta telah membekas di hati dan jiwa Dardanila. Ia tak tahu, bahkan Pandu sendiri tak tahu bahwa siapapun yang merasakan kehangatan pribadi Pendekar Ganjen, ia akan menjadi lengket sepanjang masa, karena semburan kehangatan cinta pemuda itu mempunyai racun kodrati dari kekuatan kedewaannya, yaitu racun ‘Pemikat Surga’, suatu kekuatan racun di dalam darah kejantanan anak blasteran Dewa dan Jin.


Racun itu akan membuat wanita yang pernah merasakannya tak bisa berpisah dari Pandu dan hasratnya selalu bergelora. Wanita itu akan senantiasa membutuhkan semburan kehangatan cinta dari Pandu Puber, dan bisa mati TBC kalau tidak terlayani kehendaknya. Wanita seperti itu akan mudah tersentuh dan terbakar gairahnya jika bayangan Pendekar Ganjen muncul dalam ingatan.


Kelihatannya memang bahagia, menyenangkan, melegakan, tapi sebenarnya justru membahayakan bagi pihak wanitanya. Jika hanya membayangkan wajah Pandu Puber saja bisa terbakar gairahnya, apalagi jika melihatnya langsung walau dalam jarak jauh, semakin mudah terbakar hasrat bercintanya. Perempuan seperti itu akhirnya akan menderita ‘gila kencan’ yang tak pernah mau menerima lelaki lain, kecuali Pendekar Ganjen.


Oke, itu masalah Dardanila sendiri. Itu risiko perempuan yang gemar menjebak lelaki dengan air kolam kemesraan. Tak perlu dihiraukan lagi. Yang penting bagaimana caranya kalahkan Ratu Peri Sore jika benar perempuan siluman itu tak bisa dibunuh? Ini yang perlu dipikirkan dan dibicarakan.


“Menghantamnya tepat di ubun-ubun!” kata Dardanila kala mereka berembuk di ruang pertemuan bertiang delapan itu.


“Dari mana kau tahu kalau kelemahannya ada di ubun-ubun?” tanya Kutilang Manja yang sudah seperti teman sendiri terhadap Ratu Geladak Hitam.


“Saat kuserang dari atas, ia kaget dan buru-buru menadahkan kedua telapak tangannya di atas ubun-ubun. Jadi ia sangat melindungi ubun-ubunnya!”


“Kalau begitu kita berangkat sekarang saja ke tanah Kapur Gaib!” ujar Pendekar Ganjen tak sabar lagi.


Tapi Ratu Geladak Hitam yang terkenal galak kepada lawan itu jusrtu berpikir beberapa saat. Agaknya sekarang ia harus berhitung dulu sampai dua belas kali jika harus berhadapan dengan lawan seberat Ratu Peri Sore itu.


Ada beberapa hal yang dipertimbangkan dalam hatinya,


“Pertarungan ini bersifat untung-untungan. Kalau dia sadar bahwa aku sudah mengetahui kelemahannya, maka ia akan menjaga kelemahan itu sekuat tenaga dan menggunakan jurus-jurus handalnya agar sekali gebrak aku binasa. Kalau aku binasa, oh…..di akhirat belum tentu ada lelaki seperti Pandu. Belum tentu juga Pandu mau menyusulku ke alam kubur. Tapi kalau Pandu sendiri yang maju menghadapi si kuntilanak ****** itu, waah….. bisa-bisa Pandu kalah mental. Ratu Peri Sore kudengar punya ajian yang bernama ‘Syair Cumbu Sukma’. Kalau Pandu sampai kena ‘Syair Cumbu Sukma’, alamak…..mampuslah aku! Dia pasti akan meninggalkan aku dan lari ke dalam pelukan Peri Kuntilanak itu!”


Dardanila jengkel sendiri memikirkan kerawanan itu. Sedangkan dirinya merasa mulai berat jika harus berpisah dari Pendekar Ganjen. Sekarang juga baru membayangkan si Pendekar Ganjen jatuh dalam pelukan Ratu Peri Sore, gundah hati Dardanila membakar gairah untuk menikmati kembali kehangatan cinta sang pendekar perkasa itu.


Akhirnya Dardanila memutuskan,


“Kita tangguhkan dulu beberapa saat. Jangan menyerangnya saat-saat sekarang.”


“Apa alasannya?” tuntut Pendekar Ganjen.

__ADS_1


“Tunggu informasi dari mata-mata yang kutugaskan menyusup di sekitar tanah Kapur Gaib.”


“Bagaimana kalau mata-mata yang kau tugaskan itu tertangkap dan dibunuhnya? Kita akan kehabisan waktu!”


Peluh Selayang menyambar kata,


“Aku setuju pendapat Pandu. Kita berangkat sekarang juga. Tak perlu menunggu kedatangan mata-mata.”


“Banyak hal yang sudah kita tahu tentang Ratu Peri Sore itu,” ujar Kutilang Manja bersifat mendukung pendapat Peluh Selayang.


“Kita sudah cukup punya bekal yang dapat dipakai untuk menghancurkan Peri kep arat itu!”


Dardanila gelisah. Ada dua kegelisahan yang mencekam hatinya. Pertama kegelisahan tentang keselamatan Pendekar Ganjen, kedua kegelisahan tentang gairah cintanya yang merasa bagaikan dikipas-kipas terus selama berdekatan dengan Pandu Puber. Kegelisahan itu berubah menjadi kecemasan. Kecemasan kian meningkat menjadi ketakutan. Ketakutan melontarkan suatu keputusan yang bersifat egois.


“Tunggu sampai satu malam lagi!”


“Tidak, aku akan berangkat sekarang juga!”


“Pandu!”


“Aku tak bisa menunda waktu! Kurasakan sekarang ini ada firasat yang menyuruhku berangkat ke tanah Kapur Gaib. Kemenangan sudah kurasakan ada di tanganku! Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini!”


Wuuuttt…!


Jleeggg!


Dardanila berkelebat mendahului langkah Pandu, lalu diam menghadang langkah sang pendekar beranting satu yang menambah kesan fantastis dalam bercintanya.


“Kubilang jangan berangkat sekarang, Pandu! Aku punya firasat tidak baik untuk keselamatan jiwamu!”


“Aku harus berangkat sekarang!” tegas Pandu tak mau mengalah.


“Percayalah padaku, Pandu! Jangan sekarang!”


Tiba-tiba Pandu Puber bergerak cepat ke arah lain, kemudian menuju ke arah pintu gerbang. Dardanila berseru bagai luapan amarah yang terlontar dalam kepanikannya.


“Pandu…! Berhenti kau! Heii….! Panduuu…!”

__ADS_1


Pemuda itu tak mau hiraukan seruan Dardanila. Dengan jengkel sekali Dardanila tetap mengejar Pandu Puber. Ia menggunakan jurus peringan tubuh saat mengejar hingga bisa berlari cepat dalam sekelebat. Tapi Pandu Puber gunakan gerak ‘Angin Jantan’ yang ternyata lebih cepat dari gerakan Dardanila.


“Lekas kita susul mereka, jangan sampai terjadi pertarungan di jalan!” kata Peluh Selayang kepada Kutilang Manja. Maka keduanya benar-benar lari menyusul Pandu dan Dardanila.


Pengejaran Dardanila menemui jalan buntu. Bukan karena ia kehilangan jejak Pandu, tapi karena Ki Loan Besi tahu-tahu muncul di hadapan Dardanila, merentangkan kedua tangannya seperti anak kecil main gobak-sodor. Wajahnya menyeringai memuakkan, membuat Dardanila menggeram gemas sekali.


“Muka beton! Ngapain menghadangku, hah?!” sentak Dardanila yang sudah cukup kenal dengan tokoh yang satu ini.


“Aku tahu kau mengejar Pandu Puber, bukan?!”


“Memang benar! Apa urusanmu?”


“O, urusanku cukup penting. Aku calon gurunya, jadi aku tak ingin calon muridku celaka di tanganmu, Dardanila Sayang…..!”


“Puih! Kau benar-benar memancing kemarahanku, Loan Besi! Hiaaah…!”


Ratu Geladak Hitam menerjang Loan Besi dengan satu lompatan seperti kelelawar menghantam nyamuk.


Wuutt…!


Brusss…!


Buuhg…!


Tubuh Loan Besi terbuang ke belakang karena satu tendangan kaki Dardanila masuk mengganjal tenggorokannya. Padahal tadi Loan Besi sudah kibaskan tongkatnya yang mampu berkelebat cepat tak terlihat. Namun masih saja ia kecolongan gerak, sehinga tongkat tidak kenai sasaran tapi kaki lawan menendang tenggorokannya.


“Hooek…!”


Biasa deh kalau udah gitu. Muntah darah.


Kesempatan itu dipakai Dardanila untuk menghajar Loan Besi lagi dengan pukulan jarak jauh tanpa sinar.


Wuutt…!


Beehg…!


Blaar…!

__ADS_1


Loan Besi masih sempat lepaskan pukulan menangkis bertenaga dalam juga. Akibatnya dentum ledakan menggema dan Loan Besi makin terseret menjauhi tempat jatuhnya. Ia terguling-guling karena hempasan angin ledakan tadi. Sedangkan Ratu Geladak Hitam hanya terpelanting mundur tiga tindak lalu segera berdiri tegak lagi.


__ADS_2