Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Mimpi Yang Aneh


__ADS_3

Tokoh tua berjubah kuning berjalan dengan mata liar mirip maling. Ia kehilangan jejak Pandu Puber. Padahal ia ingin bicara baik-baik dengan anak dewa itu. Rupanya tokoh tua berjubah kuning yang marah dipanggil Ki Loan Besi itu ingin memanfaatkan keadaan Pandu Puber yang tanpa guru. Apa yang didengarnya dari pesan Yuda Lelana sebelum diangkat ke kayangan mengilhami hasratnya untuk menjadi guru sang Pendekar Ganjen itu.


“Kalau aku bisa menjadi gurunya, maka aku bisa hidup di kayangan bersama para dewa. Wow… alangkah kerennya hidup di kayangan bersama para dewa. Setidaknya namaku tercatat sebagai manusia terhormat di mata para dewa. Rasa-rasanya tak ada ruginya kalau semua ilmuku kuturunkan kepada bocah itu, toh imbalannya sangat menguntungkan!”


Begitu pikiran sang kakek berambut kribo warna putih abu-abu. Sayangnya ia sudah dua hari mondar-mandir di sekitar lereng Gunung Ismaya tidak bisa menemukan Pandu Puber.


Loan Besi tak mau mencari ke puncak gunung, sebab arah kepergian Pandu Puber ke bawah, menuju kaki gunung itu.


Memang benar sih, Pandu tidak menuju puncak, sebab ia bermaksud ingin pergi ke kotaraja menengok Lila sambil mau pinjam perahu untuk menyeberang ke Pulau Iblis. Ia ingin kasih kabar kepada kakeknya, Kala Bopak, tentang keberangkatan ayah dan ibunya ke kayangan.


Pandu Puber belum tahu bahwa sang kakek sudah dikalahkan oleh Ratu Peri Sore.


Hanya saja, ketika ia bermalam di sebuah gubuk tengah sawah milik petani, pada saat ia tertidur bayang-bayang wajah Kala Bopak, kakeknya itu, muncul di dalam mimpinya. Sang kakek seolah-olah berpakaian serba ungu dan bercahaya. Dalam mimpi itu, Kala Bopak seakan bicara kepada Pandu.


“Hai, Cu…….apa kabar? Kakek sekarang sudah nggak bisa ketemu kamu dalam wujud nyata. Soalnya kakek sudah tak berjasad lagi.”


“Kenapa bisa begitu, kek?”


“Tentunya ada sebabnya. Kalau diceritakan terlalu panjang, bisa-bisa kau tidur dua hari dua malam baru bangun. Yang jelas, sekarang kau hidup bersama kakek. Aku ada di kaki kananmu.”


“Maksudnya bagaimana, Kek?”


“Carilah sendiri. Namanya saja mimpi, masa’ harus jelas sekali sih?”


Setelah bicara begitu, Pandu Puber terbangun dalam sentakan kecil. Oh, ternyata ia berada di tengah sawah dan di tengah malam. Pandu Puber merenungkan mimpinya. Sayang ia tak punya buku primbon tafsir mimpi, karena kala itu buku tersebut belum diterbitkan, akibatnya Pandu Puber jengkel tak bisa mengartikan mimpinya. Maka persoalan mimpi itu pun ditinggal tidur kembali. Hatinya sempat berkata sendiri.


“Siapa tahu nanti ketemu kakek lagi. Akan kudesak agar memberitahu apa maksud kata-katanya itu. Percuma punya Kakek kalau hanya bikin pusing cucunya saja!”


Pandu Puber tak berhasil temui kakeknya lagi dalam tidur babak keduanya. Tapi ia tetap cuek, tak mau perdulikan mimpi yang dianggapnya bunga kerinduan kepada sang kakek itu.


Tidurnya yang seri kedua itu membuat Pandu begitu nyenyak sampai bangun kesiangan. Ketika ia bangun, astaga…. Sudah dikerumuni masyarakat desa yang ingin bercocok tanam menggarap sawah. Ada yang lelaki, ada yang perempuan, ada yang tua dan ada pula yang muda. Pandu Puber merasa malu dijadikan tontonan. Ia hanya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala, lalu melangkah meninggalkan gubuk tengah sawah sambil berjalan terbungkuk-bungkuk melintasi depan mereka.


“Mas Pendekar….!” Seru seorang gadis desa berkebaya merah tua.


“Ini saya bawakan lontong sayur buat sarapan!”


“Wah, tak usah repot-repot, Yu. Saya cuma numpang tidur di gubuk ini kok. Nggak keleleran kurang makan.”


“Saya tahu. Tapi saya senang kalau bisa kasih sesuatu yang berharga untuk situ. Makanlah. Ini lontong sayur buatan Ibu saya sendiri lho.”


“Tidak, ah! Terima kasih. Hmmm… kalau bisa dibungkus saja deh!”


Akhirnya Pandu Puber pergi sambil membawa sebungkus lontong sayur. Mereka menertawakan. Ada yang berkata,


“Pura-pura tidak mau, eeh… nggak tahunya malah minta dibungkuskan. Tapi dasar pendekar ganteng, pantes-pantes saja membawa bungkusan lontong sayur. Tetap saja kelihatan ganteng.”


“Jadi, anak muda itu toh yang disebut-sebut Pendekar Ganjen yang tinggal di puncak gunung kita itu?”

__ADS_1


“Lha iyalah…! Memangnya yang mana lagi yang ganteng kalau bukan dia!”


“Wah, kalau tahu begitu tadi kubawakan jeruk purut buat pencuci mulutnya sehabis makan lontong sayur,” ujar gadis berkebaya biru tapi berbadan gemuk. Senyumnya melambangkan senyum terpikat yang penuh kekaguman.


“Pencuci mulut kok jeruk purut? Jeruk sunkis dong!”


“Jeruk sunkis itu yang kayak apa?”


“Itu lho….yang….yang….ya pokoknya yang sunkis. Wong aku ya cuma ikut-ikutan orang ngomong sunkis gitu kok!”


Percakapan mereka tidak didengar lagi oleh Pandu Puber. Pendekar Ganjen itu telah jauh dari persawahan, jauh dari pedesaan, menuju ke arah kotaraja.


Tetapi perjalanannya terhenti karena melihat seorang gadis berpakaian kuning dan rambutnya dikepang dua sedang melintasi tepian hutan. Pandu Puber hafal betul wajah cantik itu adalah milik Mirah Duri.


“Hiaaat…!” teriak Pandu Puber membuat Mirah Duri terperanjat kaget dan segera balik badan, pasang kuda-kuda siap serang. Begitu yang dilihatnya adalah pemuda ganteng mirip orang bule beranting satu, Mirah Duri segera kendurkan ketegangannya. Lepaskan kuda-kudanya, dan terlontar gerutuan kecelenya.


“Kampret Ganjen! Pakai teriak-teriak segala. Jangan bikin aku jantungan, nanti kalau aku mati mendadak kau rugi lho!”


Pandu Puber tertawa, dan tawa itu menghadirkan sejuta keindahan yang menawan hati. Tapi Mirah Duri hanya bisa mendesah dalam hatinya.


“Ah, sayang dia cucu dari mendiang raja jin, aku tak berani mendekatinya karena sudah diwanti-wanti tak boleh terlibat urusan skandal cinta dengannya. Kalau aku nekat, roh Raja Kala Bopak bisa menyedot nyawaku lewat ubun-ubun!”


“Manis sekali kau hari ini, Yu Mirah,” kata Pandu Puber dengan suaranya yang lembut, serius sekali. Bagaikan ungkapan dari lubuk hati. Padahal hanya sekadar ungkapan dari ujung lidahnya yang gemar memuji wanita. Yang dipuji makin berdebar-debar, cuping hidungnya pun megar.


Tak jauh dari tempat Pandu berdiri ada semak belukar mawar putih. Disambarnya setangkai bunga sebesar jempol jarinya itu. Didekatinya Mirah Duri yang diam dengan deg-degan menahan debar-debar keindahan. Lalu, Pandu Puber menyematkan setangkai bunga putih itu di atas telinga kanan Mirah Duri.


“Ben…benar…benarkah apa katamu itu, Pan…. Pan… Pandu?” Mirah Duri jadi grogi. Ia jadi salting juga ketika Pandu Puber anggukkan kepala dengan senyum kian mendekat.


“Jang…. Jang…. Oh, jangan…. Jangan, Pandu.”


“Aku hanya ingin meyakinkan apakah wajahmu mulus tanpa tahi lalat atau ada tahi lalatnya. Tak mau ngapa-ngapain kok.”


“Ooh… syukurlah. Kukira kau ingin menciumku. Aku sudah takut saja. Soalnya aku sudah….”


Cuup…!


Tiba-tiba pipi Mirah Duri dicium olah Pandu Puber. Kontan darah Mirah Duri bagaikan muncrat. Uratnya bagaikan putus. Tubuh lemas. Tulangnya seperti dari tepung terigu. Mirah Duri tertegun mematung di tempat dengan pandangan mata hampa. Matanya itu tak berkedip walau ditertawakan oleh Pandu.


“Apakah…. Apakah aku habis disambar petir?” ucapnya lirih dan datar.


Pandu Puber kian tertawa kalem.


“Apakah ada petir yang tampan?”


“Nggak tahu…. Badanku…. Badanku jadi lemas sekali. Ooh…. Ooh…!”


“Yu Mirah….! Yuu…! Hei, kenapa kau ini? Yu Mirah…?!”

__ADS_1


Pandu menjadi tegang dan kebingungan. Wajah Mirah Duri pucat, badannya pun terkulai dan hampir saja jatuh kalau tak segera ditangkap oleh tangan Pandu. Dan ternyata Mirah Duri pingsan dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar pura-pura.


“Edan gadis ini! Dicium saja pingsan, apalagi di… gitukan? Maksudnya dipeluk dan digigit bibirnya! Wah, kok wajahnya makin membiru begini? Lho…?!”


Pandu Puber terkejut melihat punggung Mirah Duri berdarah sedikit. Ternyata ada logam segitiga warna putih metalik yang besarnya seukuran tutup botol. Segitiga itu menancap di punggung separo bagian. Pandu Puber segera mencabutnya. Seeet…!


“Astaga…?! Rupanya dia pingsan karena ada yang melemparnya dengan senjata rahasia?! Kenapa aku tak sempat melihat gerakan benda ini saat meluncur ke punggung Yu Mirah, ya? Wah, berarti pemilik senjata ini pasti orang berilmu tinggi?! Wah… di mana ia bersembunyi?”


Pandu Puber mencari dengan pandangan mata sejenak. Pertimbangannya mengatakan, ia lebih penting sembuhkan luka berbahaya Mirah Duri lebih dulu dari pada mencari pemilik senjata rahasia beracun gawat itu. Maka, iapun segera membaringkan Mirah Duri ke tempat teduh.


Saat ia membawa tubuh Mirah Duri di tempat teduh itulah, dari arah kiri, muncul sesosok tubuh tua renta. Seorang nenek berambut putih awut-awutan dengan jubah hitam dan tongkat abu-abu keluar dari balik gugusan batu. Caranya dengan menghantam gugusan batu itu dari seberang sana.


Praakk…!


Batu terbelah dan tampaklah sosoknya yang keriput dan kurus kering itu.


“Letakkan gadis itu atau kulepaskan satu lagi senjata ‘Segitiga Maut’-ku untukmu, Anak Muda?!” ancam sang nenek kempot dengan suaranya masih terdengar lantang dan cempreng. Mata cekungnya menatap Pandu dengan serius. Tajam, bagai penuh nafsu untuk membunuh.


“Siapa kau dan mengapa menyerang Yu Mirah?!”


“Mirah punya urusan pribadi denganku! Muridku pernah dibunuhnya, dan aku membalaskan kematian muridku! Jadi kumohon, letakkan gadis itu dan jangan kau tolong. Biarkan dia mati menebus nyawa muridku!”


“Tapi…..tapi aku belum tahu siapa kau, Nenek Licik?!”


“Namaku cukup kondang, jika kau dengar nama Dukun Lelang, itulah aku!” jawab sang nenek sambil melangkah mendekati dan berhenti dalam jarak lima tindak di depan Pandu Puber yang masih menopang tubuh Mirah Duri.


“Aku baru tahu namamu, Dukun Lelang. Hmm… aneh juga namamu,” Pandu Puber tersenyum tipis, walau hatinya was-was karena wajah Mirah Duri kini memucat. Warna biru di bibirnya kian jelas.


“Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak meletakkan gadis ini?”


“Akan kukirim satu lagi ‘Segitiga Maut’-ku, seperti janjiku tadi!”


Pandu Puber agak bimbang.


“Kalau kuturuti kemauan Dukun Lelang, bisa mati Yu Mirah dalam beberapa waktu lagi. Racun itu rupanya ganas juga? Tapi kalau nekat kubawa ke tempat teduh dan kuobati, hmmm… dia pasti akan menyerangku dan aku tak bisa mengelak karena membawa Yu Mirah. Ah, tapi nekat sajalah! Kalau perlu kugunakan jurus ‘Jempol Syahdu’ untuk melawannya!”


Tepat ketika Pandu Puber melompat menuju ke tempat teduh dengan membopong tubuh Mirah Duri, nenek peot itu melepaskan senjata rahasinya bagaimana menebarkan uang recehan.


Slaast!


Tak kentara gerakan logam putih mengkilat itu melesat ke arah Pandu.


Tapi rupanya ada sepasang mata tajam yang entah kebetulan atau memang disengaja melihat gerakan benda logam mengkilat itu. Orang tersebut cepat-cepat ulurkan tangan ke depan, dan dari jari tengahnya keluarkan sinar merah semacam garis lurus sinar laser.


Claapp…!


Sinar itu tepat mengenai benda yang melesat tersebut.

__ADS_1


Duaarr…!


__ADS_2