
Desa Karang Jati yang biasanya selalu ramai dengan kesibukan, kini nampak sunyi. Para pedagang telah menutup kedainya sejak siang tadi. Sementara pedagang lain yang tinggal pun, sudah berkemas pula hendak pulang. Jalan-jalan terlihat lengang dan sunyi. Kalaupun ada yang lewat, hanya satu atau dua orang saja. Itu pun terlihat tergesa-gesa, seakan-akan dibayangi hantu!
Menjelang senja, penduduk telah menutup pintu dan Jendela rapat-rapat, lalu menyuruh anak dan istrinya agar lekas-lekas masuk rumah. Padahal malam belum lagi datang! Namun Desa Karang Jati sudah seperti se-buah pekuburan, sunyi dan mencekam. Rasanya seperti desa mati!
Kesunyian yang mencekam itu tiba-tiba saja dipecahkan oleh derap serombongan kuda. Suaranya seolah-olah bergema ke seluruh penjuru desa. Penduduk yang sudah berada di dalam rumah, semakin tegang dan ketakutan. Bahkan sampai menahan napas, ketika rombongan tersebut lewat di depan rumah mereka. Seakan akan takut suara napasnya terdengar rombongan itu.
Rombongan yang berjumlah kurang lebih dua puluh orang itu, rata-rata berwajah kasar dan bengis. Mereka dipimpin oleh tiga orang berjubah hitam, coklat, dan biru. Yang berjubah hitam bernama Lodra, dan berusia sekitar empat puluh tahun. Raut wajahnya kokoh, dengan bulu-bulu hitam menghiasi pipi dan dagunya. Matanya mencorong tajam, menandakan kalau ia mempunyai tenaga dalam cukup sempurna. Dunia persilatan menjulukinya Iblis Tangan Maut.
Yang berjubah coklat, bernama Badra. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi besar, dengan otot-otot yang menonjol keluar. Ia terlihat kokoh bagaikan batu karang. Sinar matanya liar, memancarkan kebengisan. Di kalangan rimba persilatan, julukannya si Iblis Cambuk Api.
Sedangkan yang berjubah biru, bernama Sudra. Wajahnya cukup bersih dan tampan. Tampak segaris luka melintang di pipi kiri, membuat wajahnya menjadi menakutkan. Tubuhnya tinggi dan agak kurus. Dia berjuluk Iblis Golok Terbang.
Dalam tujuh tahun belakangan ini, mereka telah malang-melintang dalam dunia persilatan. Sepak terjangnya kejam dan ganas, bahkan tidak segan-segan membunuh hanya karena soal sepele. Karena tempat tinggal mereka di Gunung Tandur, orang menjulukinya Tiga Iblis Gunung Tandur.
Rombongan kuda berhenti didepan sebuah rumah yang paling besar dari rumah-rumah lainnya. Seorang laki-taki berusia sekitar enam puluh tahun, tergopoh-gopoh keluar menyambut mereka. Di wajah tuanya terbayang kecemasan.
"Aaah..., Tuan-tuan, ada keperluan apakah gerangan datang ke sini? Barangkali saya dapat membantu?" Tanyanya dengan suara halus.
"Hm...." Orang yang berjubah hitam itu, bergumam kasar.
"Apakah kau kepala desa ini?"
"Be... betul... saya Ki Aji Sena, dan kebetulan, mendapat kepercayaan memimpin desa ini," jawab Ki Aji Sena tersendat.
"Aku ingin bertanya sedikit, dan jangan sekali-sekali berdusta. Jika kau berdusta kami tak segan-segan untuk memusnahkan seluruh desa ini! Tahu!" Ancam orang berjubah hitam yang bemama Lodra.
"Dengar baik-baik.... Tunjukkan di mana rumah orang yang bemama Paksi Buana?" Lanjut Lodra lagi.
"Paksi Buana...," ulang Ki Aji Sena, sambil berpikir keras.
"Maaf, Tuan. Kami tidak mengenal nama itu," jawabnya agak takut-takut.
"Hm... sudah kuduga, kau pasti tidak akan menunjukkannya!" Geram Lodra gusar.
__ADS_1
"Tapi... kami betul-betul tidak mengenalnya, Tuan!" Jawab Ki Aji Sena tegas. Seluruh syaraf-syaraf di tubuh-nya menegang, kontan tenaga dalamnya menyebar ke sekujur tubuhnya untuk melindungi tubuhnya jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Lodra hanya diam, tidak menjawab. la menoleh ke arah rombongan di belakangnya, lalu menganggukkan kepalanya.Tanpa menanti perintah dua kali, orang yang berkepala botak itu segera melompat turun dari kudanya. Wajahnya menyeringai buas, bagai seekor singa yang kelaparan. Dengan satu gerengan keras, orang yang berkepala botak itu segera menerjang Kepala Desa Karang Jati. Tubuhnya meluncur deras dengan cengkeraman yang berbahaya!
Namun sebelum cengkeramannya mengenai sasaran, tiba-tiba empat sosok bayangan melesat dari dalam rumah Ki Aji Sena, dan langsung melemparkan tombak ke arah orang berkepala botak. Sementara Kepala Botak yang tidak menyangka kejadian itu, merasa terkejut. Tapi sebagai seorang yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi dia tidak menjadi panik. Dengan tenang dipapaknya serangan beberapa tombak yang mengarah ke lehernya. Tubuhnya kemudian melenting ke atas mengikuti ayunan tombak tersebut, dan mendarat dengan indah. Tombak itu hanya mengenai tempat kosong.
Sosok empat tubuh yang ternyata adalah pengawal sang kepala desa itu, berdiri tegak di kiri-kanan Ki Aji Sena, yang juga sudah memegang sebatang golok panjang.
Melihat keadaan itu, delapan orang dari rombongan yang dipimpin Lodra segera melompat dari kudanya, langsung menyerang para pengawal Ki Aji Sena. Serangan itu pun segera disambut dengan tidak kalah garangnya oleh pengawal Ki Aji Sena. Sedangkan Ki Aji Sena pun telah menggerakkan golok panjangnya, menerjang orang berkepala botak itu.
Pertempuran seru dan sengit pun berlangsung! Mereka saling serang dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Masing-masing berusaha untuk menguasai lawan secepatnya. Namun sampai sejauh ini, pertempuran terlihat masih berimbang.
Ki Aji Sena bertarung bagai macan luka. Golok panjangnya berkelebatan mencari sasaran dengan suara berdesir. Namun yang dihadapinya kali ini bukanlah orang sembarangan. Orang yang berkepala botak itu, adalah seorang tokoh sesat yang berjuluk Cakar Maut.
Cakar Maut berkelebatan dengan gesit di antara sinar golok. Sesekali tangannya melontarkan pukulan-pukulan yang cukup berbahaya ke tubuh Ki Aji Sena. Sepuluh jurus berlalu cepat. Cakar Maut mulai mendesak lawannya dengan serangan serangan yang mematikan.
Sementara Ki Aji Sena kini terlihat terdesak. Gerakan golok panjangnya semakin tak terarah lagi. Pada satu kesempatan, Ki Aji Sena membabatkan golok panjangnya secara mendatar. Melihat peluang yang baik itu, Cakar Maut segera berputar ke kanan dibarengi dengan tamparan tangan kanannya ke arah pelipis lawan. Ki Aji Sena terkejut melihat kegesitan lawannya itu. Buru-buru dilegoskan kepalanya ke kanan, tetapi terlam-bat. Pukulan tersebut tetap menyerempet bahu kirinya.
Tubuh orang tua itu melintir. Tangan kirinya terasa lumpuh. Ia menyeringai menahan rasa nyeri pada bahunya. Sepertinya sulit untuk digerakkan lagi.
Di arena yang lain, para pengikut si Tiga Iblis Gunung Tandur mulai menguasai keganasan pengawal Ki Aji Sena, yang dengan segala kemampuannya berusaha mematahkan serangan lawannya.
Namun kepandaian lawan kelihatannya rata-rata di atas kepandaian para pengawal sang kepala desa ini. Buktinya, settap serangan mereka selalu dapat dipatahkan anak buah Tiga Iblis Gunung Tandur. Lambat laun para pengawal itu mulai terdesak. Gerakan-gerakannya pun mulai kacau dan tak beraturan. Hingga pada suatu saat, salah seorang pengawal Ki Aji Sena terpelanting roboh. Perutnya sobek terkena hanta-man pedang lawan! Darah pun segera merembes keluar dari perut yang sobek lebar dan dalam itu. Tentu saja dengan kematian pengawal itu, keadaan semakin berbahaya! Terlebih lagi bagi keselamatan Kepala Desa Karang Jati.
Sementara pertarungan antara Ki Aji Sena melawan si Cakar Maut masih berlangsung sengit. Kali ini Ki Aji Sena betul-betul harus kerja keras!Serangannya menggebu-gebu dan susulmenyusul bagai ombak di lautan. Cakar Maut yang melihat lawannya yang sudah terluka itu ternyata masih mampu melancarkan serangan-serangan berbahaya, diam-diam memuji juga dalam hati.
Memang Ki Aji Sena bukanlah tokoh kosong. Kembali lima jurus berlalu. Tiba-tiba Cakar Maut berteriak keras, seraya mulai mengeluarkan jurus andalannya, yakni 'Mencengkeram Batu Karang'. Jurus ini merupakan rangkaian kelima dari jurus 'Cakar Maut' yang sangat hebat akibat yang ditimbulkannya.
Terdengar suara mendesing, ketika tangan kiri Cakar Maut menyambar leher Ki Aji Sena. Laki-laki tua itu pun tak kalah gesitnya. Segera disambut serangan itu dengan tebasan golok panjangnya.
Wusss! Singgg!
Brettt! Brettt!
__ADS_1
"Akh...!"
Ki Aji Sena meraung tinggi, ketika tubuhnya terbanting ke depan sehingga menimbulkan suara keras. Rupanya saat golok panjang Ki Aji Sena membabat tangan si Cakar Maut, tangan laki-laki botak itu berputar cepat dan langsung menjambret lengan Ki Aji Sena yang memegang golok itu. Jambretan tangan itu pun dibarengi dengan sambaran cakar kirinya yang setajam cakar elang.
Tubuh orang tua malang itu kini menggeletak tak berdaya. Dari tangan kanannya yang terluka mengalir darah segar. Luka yang cukup dalam dan memanjang.
Dari dalam rumah besar milik kepala desa itu, dua sosok wanita menghambur keluar, dan langsung bersimpuh di samping tubuh sang kepala desa. Terdengar isak tangis yang menyayat hati dari mulut keduanya.
"Kakang... Kakang Sena... oooh...!" Ratap salah seorang wanita yang cukup tua, terus memanggil-manggil nama sang kepala desa di antara tangisnya. Sedangkan wanita yang seorang lagi hanya menggerung-gerung.
Beberapa saat kemudian, wanita tua itu menoleh dan menatap tajam ke arah si Cakar Maut yang masih berdiri tegak.
"Manusia ib lis! Jaha nam kau! Kejam!" Sosok wanita tua yang ternyata istri kepala desa itu, mema ki Cakar Maut tak habis-habisnya. Sedangkan wanita muda yang ternyata putri kepala desa hanya mampu berdiam diri sambil terus menangis.
Sementara, pertarungan yang lain pun sudah mulai berakhir. Satu persatu pengawal Ki Aji Sena berjatuhan tewas. Darah mengalir membasahi bumi menimbulkan bau anyir yang memualkan. Lodra melompat dari kudanya, lalu menghampiri wanita yang berumur kurang lebih limapuluh tahun itu.
"Hei! Nenek peot! Lihatlah! Suamimu masih hidup. Kalau kau ingin melihatnya hidup terus, jawablah pertanyaanku!" kata Lodra dengan suara dingin.
"Nah! Sekarang tunjukkanlah tempat Paksi Buana kepadaku!" lanjut Lodra.
Dengan wajah bersimbah air mata, wanita tua itu memeriksa tubuh Ki Aji Sena. Orang tua itu ternyata memang masih hidup, dan hanya pingsan. Tapi luka-luka-nya memang cukup parah. Kini dia mulai terlihat siuman. Sejenak mata Ki Aji Sena terbuka seraya memandang wajah istrinya. Bibirnya berusaha untuk tersenyum namun tidak mampu. Wajahnya nampak seperti orang menangis. Ki Aji Sena ternyata samar-samar juga mendengar pertanyaan Lodra. Dan itu membuatnya terkejut.
"Nyai! Jangan kau jawab pertanyaan iblis itu! Karena meskipun kau jawab, iblis itu tetap akan membunuh kita!" Tegas Ki Aji Sena dengan napas memburu.
Wanita tua itu pun jadi ragu untuk menjawab pertanyaan Lodra. Ditatapnya laki-laki berjubah hitam itu dengan wajah bingung.
"Ayo, Nenek tua! Jangan sampai kesabaranku habis!" Lodra semakin tak sabar.
Istri kepala desa itu masih tetap bungkam. Hal ini membuat Lodra makin memuncak kemarahannya. Dia lalu melompat menyambar tubuh Ki Aji Sena, dan diangkatnya tubuh tak berdaya itu ke atas kepala.
"Jawab! Atau kubanting tubuh peot ini!"
"Jangaaan! Aku... Aku akan... Mengatakannya!" Teriak wanita tua itu ketakutan. Dengan suara yang bercampur isaknya, wanita itu akhirnya menunjukkan tempat tinggal Paksi Buana.
__ADS_1