
Hari masih pagi. Di ufuk Timur mulai tampak sinar matahari yang kemerah-merahan. Alam pun mulai terjaga dari tidurnya. Burung-burung berkicau indah. Di kejau-han terlihat sebuah bayangan hitam yang melesat cepat! Bayangan Itu berlari semakin dekat, diringi kepulan debu. Rupanya bayangan itu adalah seekor kuda, yang ditung-gangi dua orang lelaki.
Lelaki yang mengendalikan kuda, berumur lima puluh tahun. Wajahnya nampak lebih tua dari usia yang sebenarnya. Sepertinya banyak mengalami tekanan berat dalam hidupnya. Sedangkan orang yang memboncengnya, berusia lebih kurang delapan tahun.
Meski terlihat kotor dan penuh debu, namun jelas bahwa anak ini memiliki paras yang tampan. Tarikan bibirnya yang begitu kuat, Suatu tanda bahwa anak ini mempunyai kemauan keras. Hanya saja, pada saat itu wajahnya nampak murung. Raut kesedihan tergambar di wajahnya. Mereka terus memacu kudanya memasuki sebuah hutan yang sangat lebat. Setelah menoleh sekilas ke bela-kang, orang tua itu segera menggeprakkan kakinya ke perut kuda hingga binatang itu mempercepat larinya. Mereka memasuki hutan semakin ke dalam.
Setelah cukup lama menerobos rimbunan dedaunan, maka tibalah mereka pada sebuah tempat yang agak lapang. Di bawah sebuah pohon besar, mereka beristi-rahat melepaskan lelah.
"Paman. Sudah hampir sebulan kita menghindari orang-orang jahat itu. Lalu, kemanakah tujuan kita sebenarnya, Paman?" Tiba-tiba anak itu bertanya kepada si Orang Tua.
"Entahlah, Tuan Muda. Paman sendiri tidak tahu. Tapi bagi Paman tidak menjadi masalah. Ke mana pun kita akan pergi dan di mana pun kita akan tinggal, yang penting Tuan Muda selamat!" Ujar orang tua itu dengan suara parau.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara melengking tinggi, seperti suara tangisan. Orang tua itu tersentak kaget, dan mulai meneliti keadaan disekitarnya. Dahinya berkerut bagaikan sedang mengingat-ingat sesuatu. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, bagaikan barisan raksasa yang mengepung mereka.
Kembali lengkingan itu terdengar. Kali ini dibarengi suara rintihan yang panjang dan menyayat. Angin dingin bertiup keras menerpa tubuh mereka yang menggigil keras. Anak kecil itu semakin erat memeluk tubuh si Orang Tua. Sementara wajah si Orang Tua pelahan-lahan memucat, Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Dadanya berdebar keras, dan otot-otot tubuhnya mene-gang!
"Hut..., hut... tan Ran... du..., Apusss!?" Ucap orang tua itu terputus-putus. Bibirnya bergetar dan otot-otot tubuhnya semakin menegang. Tangannya yang gemetar berusaha menyentuh gagang pedang yang tergantung di pinggang kirinya.
"Tempat apakah ini, Paman? Rasanya menyeramkan sekali?" Tanya anak kecil itu. Meski wajahnya pucat, namun suaranya tenang. Memang anak itu belum tahu apa-apa. Lain halnya dengan orang tua itu. Dia segera teringat cerita-cerita yang pernah didengar sebelumnya dari orang persilatan,
maupun dari para pemburu. Hutan Randu Apus atau yang dikenal juga sebagai Hutan Iblis Menangis, adalah sebuah hutan yang di-anggap keramat! Orang yang pernah datang ke hutan itu jangan harap dapat kembali pulang! Mereka lenyap tanpa bekas. Menurut orang-orang desa sekitar, mereka dimangsa oleh Iblis Menangis yang tinggal di hutan itu.
Dulu, pernah beberapa orang yang dikenal sebagai jagoan-jagoan desa sekitar, berkumpul dan memasuki hutan ini. Niat mereka adalah untuk membunuh iblis penghuni Hutan Randu Apus. Namun mereka pun lenyap bagai ditelan bumi! Itulah cerita-cerita yang pernah didengar oleh orang tua tersebut.
"Paman! Paman Wira Tama! Ada apa, Paman? Paman, kenapa?" Anak kecil itu mengguncang-guncang tubuh orang tua yang ternyata bernama Wira Tama sambil berteriak-teriak.
Wira Tama tersadar dari lamunannya. Dicobanya untuk tersenyum, namun yang tampak adalah seringai kengerian.
__ADS_1
"Ah.... Tidak ada apa-apa, Tuan Muda! Tempat ini sangat cocok untuk persembunyian. Kita akan aman di sini!" Jawab Wira Tama menghibur.
"Sebaiknya, sekarang kita mencari tempat untuk nanti malam."
Anak kecil itu ternyata anak Paksi Buana. Dia berhasil diselamatkan pembantunya yang bernama Wira Tama. Sudah hampir satu bulan mereka melarikan diri karena dikejar-kejar murid-murid si Tiga Iblis Gunung Tandur. Sampai akhirnya mereka tersesat di Hutan Randu Apus.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Bias-bias sinarnya pun telah menerobos rimbunnya dedaunan pepohonan. Hutan Randu Apus. Udara di dalam hutan pelahan-lahan mulai hangat.
Sementara itu, Wira Tama dan anak Paksi Buana yang bemama Panji, mulai menerobos masuk ke dalam hutan untuk mencari tempat bermalam nanti.
Tiba-tiba terdengar sebuah raungan dahsyat, yang bergema menggetarkan hutan tersebut Keduanya tersentak mundur dengan wajah pucat! Dada mereka berguncang keras. Bahkan Panji sampai jatuh terduduk, karena lututnya mendadak lemas!
"Suara apakah itu, Paman?" Tanyanya sambil berusaha untuk bangkit.
"Entahlah, Tuan Muda. Suara itu terlalu besar untuk seekor harimau!" Jawab Wira Tama, yang sudah mencabut pedangnya.
Raungan tersebut, kembali bergema. Kali ini bahkan lebih keras, hingga mereka terdorong beberapa langkah dan jatuh berhimpitan. Tubuh keduanya gemetar hebat. Belum lagi hilang rasa terkejut, didepan mereka telah muncul seekor harimau yang sangat besar!
*
Paman Wira Tama dan Panji hanya mampu terpaku, dengan tubuh gemetar. Harimau Itu memang sangat besar dan kelihatannya kuat sekali. Tubuhnya satu setengah kali lebih besar daripada harimau biasa. Panjangnya hampir mencapai dua batang tombak! Binatang raja hutan itu mengaum buas, memperlihatkan taring-taring yang besar dan tajam bagai mata pisau.
Wira Tama bangkit lalu memungut pedangnya yang terlepas dari genggamannya. Dicobanya untuk menenangkan diri. Jalan napasnya diatur pelahan-lahan. Dia kini telah siap melindungi majikan kecilnya dengan taruhan nyawa.
Sementara Panji yang belum hilang rasa terkejutnya, masih terduduk lemas. Tiba-tiba ia tersentak, setelah teringat akan nasihat yang selalu ditanamkan ayahnya. Nasihat itu berisi, apabila dihantui perasaan cemas, tegang, maupun takut, maka jalan napas harus diatur guna mengendorkan urat-urat yang tegang.
Nasihat itu ditanamkan untuk membentuk jiwa pendekar dalam diri Panji. Dan kini anak itu mencoba menerapkan nasihat ayahnya. Pelahan-lahan mulai dirasakan kebenaran ucapan ayahnya Itu. Setelah hatinya terasa agak tenang, ia pun bangkit dan berlindung di balik sebuah pohon yang agak jauh dari harimau Itu.
__ADS_1
Sementara harimau ganas itu kelihatan mengambil ancang-ancang, Tiba-tiba dengan dibarengi raungan yang dahsyat, harimau itu menerkam Wira Tama. Kuku-kukunya yang tajam dan kuat itu, siap menyobek tubuh mangsanya. Namun demikian, Wira Tama bukanlah orang lemah. Meskipun hanya seorang pelayan, ia pun tidak buta akan ilmu olah kanuragan. Sebagai orang kepercayaan keluarga Paksi Buana, dia pun dibekali kepandaian yang tidak ringan.
Maka ketika harimau itu menerkam ke arahnya, dia pun segera berkelit dengan jurus 'Naga Malas'. Tubuhnya menggeliat ke kiri, sehingga luput dari serangan harimau yang kelihatan lapar itu. Melihat terkamannya dapat dielakkan, si Raja Hutan tampaknya marah bukan main! Dengan meraung murka, ia kembali menerjang.
Mungkin si Raja Hutan itu menerka bahwa calon korbannya kali ini bukan orang sembarangan. Buktinya, terkamannya kali ini pun tidak kepalang tanggung. la melesat dengan kecepatan tinggi, sementara kedua cakarnya kali ini diarahkan ke kepala calon korbannya.
Menghadapi terkaman itu, Wira Tama segera meIenting tinggi melewati kepala harimau. Pada saat yang tepat, pedangnya berkelebat dengan kecepatan penuh menebas leher si Raja Hutan, yang berada di bawahnya itu.
Buk!
Terdengar suara seperti batang besi yang dibenturkan dengan kuatnya ke gumpalan karet. Wira Tama bersalto beberapa kali di udara, untuk menjauhi sang harimau. Kakinya mendarat dengan ringan beberapa tombak di belakang tubuh harimau itu. Tangannya dirasakan nyeri sekali. Tidak disangka kalau tubuh harimau itu begitu keras! Hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman tangannya.
"Gila! Sungguh luar biasa harimau ini! Sampai-sampai pedangku pun tak mampu melukai tubuhnya! Aneh?!" keluhnya sedikit khawatir.
Kecemasan mulai terbayang di wajahnya. Sementara harimau itu sudah menerjang kembali dengan dahsyatnya. Tubuhnya melesat bagaikan kilat disertai raungan panjang, yang bergema ke seluruh penjuru hutan. Wira Tama yang masih terpaku di tempatnya, menjadi kalang kabut. Karena tahu-tahu saja kedua cakar harimau hampir menyentuh tubuhnya. Dengan gugup, digerakkan pedangnya secara mendatar menyambut terkaman Raja Hutan itu seraya melompat ke samping kiri.
Namun terlambat, Wira Tama masih kalah cepat dengan harimau itu. Pedangnya terlempar entah ke mana, sedangkan tubuhnya melambung tinggi terkena sambaran kaki kanan binatang itu.
"Aaakh...!"
Terdengar jerit kesakitan yang merobek kesunyian Hutan Randu Apus. Orang tua malang itu terbanting keras ke bumi. Dari luka yang menganga di dadanya, merigalir cairan merah yang masih segar. Belum lagi ia dapat bangkit, harimau itu telah menerkam kembali. Tanpa ada suara lagi, pelayan yang setia dari Paksi Buana itu tewas. Tubuhnya tak berbentuk lagi.
Panji yang menyaksikan kejadian itu, menjadi terguncang hatinya. Ingatannya terbayang kembali pada wajah kedua orang tuanya yang sangat menyayanginya itu, yang kini telah tiada. Tewas di tangan orang orang jahat yang menyerbu padepokan milik ayahnya. Satu persatu terbayang di benaknya, wajah-wajah orang jahat yang telah membunuh ayah dan ibunya. Tanpa terasa, mengalir dua tetes air matanya. Namun demikian cepat dihapusnya air mata itu dengan punggung tangannya. Terngiang kembali kata-kata ayahnya.
"Panji..., seorang lelaki sejati ridak akan menangis betapapun berat beban yang dideritanya. Yang pantas mengeluarkan air mata hanyalah wanita!" Itulah yang selalu dikatakan Paksi Buana kepada anaknya.
Dengan menggertakkan gigi, Panji segera keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak ada lagi rasa takut dalam dirinya. Satu satunya orang yang menjadi tempatnya berlindung, telah pula tewas diterkam harimau buas itu.
__ADS_1