
Malam itu, angin bertiup lembut. Bulan yang muncul penuh itu memancarkan sinarnya yang berwarna putih keperakan. Bintang‐bintang pun bertaburan menghiasi wajah sang malam. Sehingga, suasana pada malam purnama itu menjadi semakin cerah.
Namun, keindahan suasana malam itu ternyata tidak menarik perhatian penduduk Desa Ganjar. Sebab, tak seorang pun para penduduk desa itu yang berada di luar rumah. Suasana desa itu menjadi sunyi dan mencekam. Peronda desa pun hanya terlihat beberapa orang saja di gardu jaga. Sedangkan para peronda yang keliling desa hanya empat orang.
Sungguh aneh! Padahal keadaan Desa Ganjar saat itu tengah diliputi ketegangan! Benar‐benar aneh! Waktu sudah lewat tengah malam. Di antara bayangan sinar rembulan, tampak berkelebat sesosok bayangan putih yang berambut meriap. Gerakannya sangat cepat, melalui atap‐atap rumah penduduk. Bayangan putih itu berloncatan dengan ringannya, bagaikan seekor burung besar yang berloncatan dari dahan kedahan. Arah yang dituju ke arah sebelah Barat Desa Ganjar.
Dari ciri‐ciri yang terlihat, jelas kalau bayangan yang berkelebat bagai hantu itu adalah iblis penculik bayi yang telah membuat resah penduduk desa wilayah Barat. Rupanya malam itu ia kembali beraksi di desa yang dipimpin Ki Selangkit.
Iblis penculik bayi itu kelihatan ragu‐ragu sejenak. Kemudian dipalingkan wajahnya ke sekeliling tempat itu. Seolah‐olah merasa curiga dengan keadaan yang sepi itu. Nalurinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, sepertinya iblis itu tidak mempedulikan keadaan desa yang sepi itu. la pun kembali meneruskan larinya ke arah tempat yang ditujunya.
Ketika iblis itu sampai di tempat tujuannya, tampak ia kembali ragu‐ragu. Pandangannya beredar berkeliling. Nalurinya yang hampir menyerupai binatang buas itu, membisikkan ada bahaya besar yang sedang mengintainya. Tapi, bayangan bayi yang masih segar itu telah menghilangkan keragu‐raguannya.
"Oooaaa..., 0ooaaa ... !"
Tiba‐tiba terdengar suara tangis bayi yang keras. Seolah‐olah naluri bayi yang masih suci itu merasakan adanya suatu ancaman yang membuat tidurnya gelisah. la seperti tengah minta pertolongan kepada kedua orang tuanya.
Mendengar tangis bayi, air liur iblis itu berlelehan di bibirnya. Nafsu binatangnya telah terusik untuk segera menyantap si bayi yang terus menerus menangis.
Tanpa, mempedulikan apa yang akan terjadi nanti, iblis itu segera melesat ke atap rumah tempat asal suara tangisan tadi. Dengan hati‐hati, dibukanya atap rumah itu. Sementara air liurnya semakin banyak menetes ketika melihat sesosok tubuh mungil tergeletak di pembaringan.
Sedang sang ibu setengah tertidur di sampingnya sambil mengelus‐elus kepala si bayi untuk menenangkannya.
Mata iblis itu mulai memancarkan sinar yang berwarna kehijauan. Suatu tanda bahwa nafsu si iblis sudah mencapai puncaknya. Tiba‐tiba iblis itu meluncur turun dengan gerakan yang ringan sekali, sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Namun sebelum kaki si iblis menyentuh tanah, mendadak sebuah bayangan menyambutnya dengan sebuah pukulan yang dahsyat! Angin pukulan yang ditimbulkannya membuat jubah luar iblis itu berkibar dengan kuatnya. Kibaran itu memperdengarkan suara gemuruh yang keras!
Betapa terkejutnya iblis penculik bayi itu demi mendapat serangan yang tiba‐tiba. Jelas pukulan yang meluncur datang itu, adalah pukulan maut yang mematikan! Tentu saja iblis itu tidak ingin membiarkan tubuhnya dijadikan sasaran pukulan. Dengan sigap segera digerakkan tangannya memapak pukulan itu.
Duukk!
Terdengar sebuah suara nyaring, bagai dua, batang besi yang dibenturkan keras! Tubuh keduanya, terdorong beberapa langkah ke belakang. Keduanya memperlihatkan rasa kaget yang tak dapat disembunyikan. Ternyata tenaga keduanya berimbang!
Iblis penculik bayi itu merasa terkejut karena kehadiran orang yang sama sekali tidak diduganya. Ternyata nalurinya tidak salah! Nyatanya, kini ia telah berhadapan dengan seorang yang memiliki kepandaian yang tinggi.
Si penyerang itu pun tidak pula kalah terkejutnya. Tidak disangkanya sama sekali kalau kepandaian iblis itu demikian hebat sehingga dalam adu tenaga tadi, telah membuat lengannya terasa nyeri.
Keduanya kembali berhadapan dan saling memandang dalam jarak sepuluh langkah. Sementara di dalam rumah itu telah bermunculan belasan orang lainnya dengan senjata terhunus di tangan mereka.
"Selamatkan bayi itu...!" seru salah seorang dari mereka yang baru datang itu.
"Hai, iblis biadab! Kali ini kau tak mungkin dapat lolos lagi!" seru Ki Selangkit yang tiba‐tiba saja muncul dari ruangan dalam rumah itu.
"Grrhhh ... ! Khauu ingin menangkapku?! Hi hi hi...! Cobalah ... !" desis iblis penculik bayi itu dengan suara parau.
__ADS_1
“Lihatlah, iblis! Kau sudah terkepung!" ujar Ki Selangkit lagi.
Iblis penculik bayi itu segera memandang ke sekelilingnya. Di dalam rumah itu, belasan orang telah mengurungnya. Ketika memandang ke atas atap, juga telah dipenuhi belasan orang bersenjata. Dan iblis itu kembali memandang kepada penyerangnya tadi.
"Hm.... rupanya dia merasa gentar kepadamu, Kakang Danu Wirya!" kata Ki Selangkit.
Si penyerang yang ternyata Pendekar Hati Emas itu pun, tetap memandang tajam si iblis penculik bayi.
Beberapa saat kemudian, rupanya iblis itu telah mengambil keputusan. Dengan sebuah teriakan parau, iblis itu segera menjejak bumi. Tubuhnya cepat melambung ke atas atap, sambil mengerahkan tenaga saktinya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Ketika melihat sesosok bayangan putih berkelebat menerobos atap, Pendekar Pemabuk yang memimpin pengepungan di atas segera menyambut dengan hantaman guci araknya. Suaranya mengaung membelah udara malam dengan kecepatan yang sukar diikuti mata.
Tapi, si iblis yang telah memperhitungkan hal itu tidak menjadi terkejut. Segera digerakkan tangannya untuk menyambut serangan guci arak tersebut.
Baaannng!
Benturan antara telapak tangan si iblis dengan guci Pendekar Pemabuk menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.
Tubuh iblis penculik bayi itu terpental dengan keras. Namun dengan sebuah gerakan yang indah, iblis itu bersalto beberapa kali di udara. Tubuhnya kemudian mendarat di tanah dengan ringannya. Untuk kedua kalinya ia merasa terkejut, ketika tangan kanannya yang menyambut serangan guci arak tadi terasa linu.
Demikian pula dengan Pendekar Pemabuk. Dengan beberapa kali salto di udara, ia mendaratkan kakinya di tanah. Pendekar Pemabuk cepat‐cepat memeriksa guci araknya. Setelah memastikan bahwa guci tersebut tidak mengalami kerusakan, ia pun segera mengalihkan pandangannya ke arah si iblis.
"Gila! Tidak kusangka, tenaga dalam iblis Itu hebat sekali!" umpat Pendekar Pemabuk pelahan.
Sementara itu, iblis penculik bayi masih tetap berada di tengah‐tengah kepungan para pendekar. Pendekar Pemabuk segera melesat ke arah kepungan itu. Ternyata, Pendekar Hati Emas dan Ki Selangkit telah pula berada di antara para pendekar yang mengepung si iblis.
"Hm. Malam ini adalah akhir dari petualanganmu, Iblis!" bentak seorang pendekar yang mengurungnya.
"Begithukahh?! Hi hi hi...! Kemarilah Anak Baik Khemarilahhh… !" ujar si iblis dengan suara yang menyeramkan.
Suara iblis itu menggetar dan menyelusup ke dalam alam pikiran. Sementara matanya yang memancarkan sinar kehijauan itu menatap dengan tajam ke arah orang yang berbicara tadi.
Untuk sekejap orang itu menjadi gelagapan ketika mendengar suara ajakan itu la terus saja menatap ke arah iblis itu dengan sinar mata yang kian meredup. Dan dengan tertatih‐tatih, orang itu pun mulai melangkah mendekati si iblis. Raut wajah orang itu bagai orang yang hilang ingatan.
"Bhagusss.... kemarilah! Terus... terus...!" dengan suaranya yang parau, iblis itu terus memerintah.
Para pendekar yang mengepung tempat itu menjadi terpaku ketika melihat salah seorang kawannya melangkah ke tempat si iblis berdiri. Mereka menjadi tidak mengerti, apa yang hendak dilakukan oleh temannya itu.
Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk juga agak terkesiap demi melihat kejadian yang tidak diduganya itu. Kedua pendekar itu segera dapat menerka apa yang telah terjadi terhadap salah seorang kawannya itu.
"Ilmu sihir...!" seru kedua orang sakti itu bersamaan.
Tanpa membuang‐buang waktu lagi, kedua orang pendekar sakti itu segera menerjang iblis yang tetap melancarkan kekuatan sihir dari matanya. Sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang mengandung tenaga Sakti, tubuh mereka melesat menerjang.
__ADS_1
Iblis penculik bayi itu tersentak mundur. Wajahnya seketika berubah. la terkejut ketika mendengar suara lengkingan yang mampu membuyarkan pengaruh sihirnya itu. Semenjak ia melakukan aksinya, baru kali inilah ia menemukan lawan yang berat!
Ketika serangan kedua orang lawannya itu meluncur datang, iblis itu pun segera berkelit dengan indah. Langsung dibalasnya serangan‐serangan itu. Namun, kali ini yang dihadapinya bukanlah tokoh‐tokoh kosong. Kepandaian Pendekar Hati Emas maupun Pendekar Pemabuk tidaklah dapat dianggap remeh. Kedua orang sakti itu sudah terbiasa menghadapi lawan tangguh. Apalagi kini mereka maju bersama! Terlihat betapa sibuknya iblis penculik bayi itu menghadapi serangan‐serangan yang dahsyat dari kedua pendekar itu.
Dua puluh jurus pun telah terlewat. Kini kedua Pendekar sakti itu benar‐benar tidak memberi peluang bagi si iblis untuk membalas. Mereka terus mendesak dengan serangan‐serangan gencar yang susul me nyusul.
Pada suatu saat, iblis itu tidak dapat menghindari lagi, ketika sebuah pukulan yang dilancarkan Pendekar Hati Emas meluncur deras ke dada kirinya. Pada saat bersamaan, hantaman guci arak Pendekar Pemabuk pun melayang ke kepalanya.
Dhiieesss!
Blaaakkk!
Tubuh iblis itu terlempar dengan keras, dan jatuh tersuruk menghantam bumi. Namun, kedua orang pendekar Sakti itu menjadi ternganga ketika melihat iblis itu bangkit tanpa menderita luka sedikit pun. Sungguh suatu hal yang mustahil.
"Gila! Apakah ia memiliki ilmu kebal?!" seru Pendekar Pemabuk dengan wajah heran.
"Entahlah! Padahal aku telah mengerahkan tiga perempat dari tenagaku! Apakah tubuh iblis itu lebih keras dari batu karang?" seru Pendekar Hati Emas pula.
"Hi hi hi! Ayo, keluarkan seluruh kepandaian kalian!" ejek si iblis.
Tiga orang lainnya yang turut mengurung iblis itu segera melompat sambil membabatkan senjatanya dengan sekuat tenaga.
Tapi, iblis itu seolah‐olah tidak melihat serangan Itu. Tentu saja ketiga orang penyerang itu menjadi girang. Dan ketiganya merasa yakin dapat membunuh si iblis dengan sekali tebas.
Buukk! Duukk!
Dhaaakk!
Senjata ketiga orang itu memang tepat mengenai tubuh si iblis. Namun, mereka menjadi tertegun. Ternyata, senjata mereka bagaikan bertemu dengan sebatang besi yang kuat. Kesempatan yang hanya sekejap itu tidak disia‐siakan oleh iblis itu. Dengan cepat bagai kilat, dilontarkannya tiga buah pukulan sekaligus!
Dhiesss!
Buukk!
Dhieeess!
Tubuh ketiga orang pendekar itu terpental sejauh dua tombak. Setelah memuntahkan gumpalan darah yang mengental, ketiga orang itu pun tewas seketika. Itulah pukulan ilmu 'Iblis Pengejar Roh' yang menjadi andalan iblis itu.
"Iblisss...!" teriak para pendekar bersamaan.
Mereka menjadi marah sekali ketika melihat tiga orang kawannya tewas secara mengerikan. Dengan teriakan‐teriakan gusar, mereka pun segera menyerbu iblis penculik bayi itu.
"Jaha nam...!" !" bentak Pendekar Hati Emas, Pendekar Pemabuk, dan Ki Selangkit, bersamaan dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Ketiganya segera melesat ke arah si iblis yang tengah dikeroyok oleh para pendekar lainnya.