
Hari masih gelap. Fajar pun belum lagi terbit. Suara jengkerik pun masih terdengar bersahut-sahutan. Namun, di pagi yang segar itu Panji telah terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa segar sekali. Dibukanya jendela, agar udara sejuk dapat masuk memenuhi ruangan kamarnya.
Panji melangkah keluar dari kamarnya karena ingin menikmati udara di pagi yang sejuk dan menyegarkan. Pemuda itu terus melangkah pelahan sambil bibirnya tersenyum-senyum sendiri. Sesekali pemuda itu menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil mengangkat kedua tangannya.
Tanpa disadari, Panji telah memasuki taman yang berada di belakang rumah kepala desa itu. Hatinya yang diliputi kegembiraan itu, semakin bertambah gembira ketika melihat di sekitarnya banyak bunga yang bermekaran beraneka ragam.
Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara desiran-desiran angin. Suaranya jelas berbeda, dan lebih tajam dari sekedar tiupan angin. Tidak lama kemudian, terdengar bentakan-bentakan merdu dan bertenaga, yang membuat hati Panji semakin penasaran.
"Hm.... Siapakah yang sedang berlatih silat di pagi buta begini?" Gumamnya tak jelas. Rasa ingin tahu yang menguasai perasaan membuat Panji lupa bahwa dirinya adalah seorang tamu yang tentu saja tidak boleh keluar masuk seenaknya.
Pemuda itu terus melangkah pelahan, menuju belakang taman. Gerakan-gerakan yang cukup mantap disertai bentakan-bentakan halus bersuara merdu itu, ternyata datangnya dari seorang gadis. Begitu indah sekali, bagaikan sebuah tarian saja layaknya. Kakinya yang ramping bergerak gesit, mengikuti gerakan tangan mungil berkulit halus.
Panji menyaksikan semua itu, dengan mata tidak berkedip. Seolah-olah ia takut kalau gadis itu menghentikan gerakannya. Ia sengaja bersembunyi di balik rerimbunan tanaman bunga.
Tiba-tiba, gadis itu melompat ke belakang, lalu seorang gadis lain memberikan sebilah pedang yang besi gagang indah kepadanya. Gagang pedang itu dihiasi rangkaian bunga berwarna biru, sehingga nampak semakin menarik. Apalagi yang memegang adalah seorang gadis cantik bagai bidadari, maka semakin sedap lah dipandang mata.
"Haiiit..!"
Gadis itu berteriak lembut disertai ayunan pedangnya. Dan mulailah dia memainkan jurus-jurus pedang yang indah dan menawan. Suara ayunan pedangnya berdesing membelah udara pagi yang bening.
Meskipun jurus-jurus ilmu pedang yang dimainkannya mempunyai banyak kelemahan di sana-sini, namun Panji harus mengakui kalau permainannya benar-benar indah dipandang mata. Panji bagaikan melihat seorang bidadari yang sedang memainkan tarian pedang.
Tidak lama kemudian, gadis jelita itu pun menyudahi permainan pedangnya. Wajahnya kemerahan, karena aliran darahnya semakin lancar. Sehingga semakin menambah kecantikannya. Gadis itu segera menyeka peluh di sekitar leher
dan dahinya. Karena terlalu terpesonanya dengan permainan pedang gadis itu, tanpa sadar Panji keluar dari tempat persembunyiannya sambil bertepuk tangan.
"Ah, hebat sekali, Adik Kenanga! Hebat sekali!" Puji pemuda itu sambil bertepuk tangan. Senyumnya mengembang di bibir.
Si Gadis Jelita yang ternyata adalah Kenanga, menjadi terkejut sekali ketika Panji muncul. Wajah gadis itu menjadi semakin merah karena rasa jengah dan malu.
"Ah! Kakang Panji! Membuat aku malu saja! Mana bisa kepandaianku yang jelek disejajarkan dengan kepandaian Kakang?" Kilah gadis itu sambil tersipu malu.
"Eh! Bagaimana Kakang bisa berada di sini?" Tanya gadis itu.
__ADS_1
Panji baru menyadari kesalahannya. Pemuda itu menjadi kikuk, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia hanya berdiri bengong.
"Eh! Aku... aku... itu...!" Jawab Panji gugup. Dia jadi serba salah dan malu akibat kecerobohannya itu. Diam-diam pemuda itu mengutuk dirinya, yang telah berbuat to lol itu.
"Ah, sudahlah, Kakang! Kau tidak berbuat salah!" Kata gadis itu sambil tersenyum, yang membuat dada Panji terguncang.
"Lagi pula, aku hanya terkejut karena kau sudah bangun sepagi ini," Lanjut Kenanga lagi.
Panji, yang sudah dapat menguasai perasaannya itu hanya dapat tersenyum masam.
"Maafkan aku, Adik Kenanga! Sungguh tidak kusengaja untuk melangkah ke sini! Suasana pagi yang begitu segar tanpa terasa telah membawa langkahku ke taman!" ucap Panji, dengan perasaan bersalah.
"Benar, Tuan Pendekar... eh! Kakang Panji! Kami hanya terkejut!" Jawab gadis berambut sebahu, yang sudah pula datang mendekat.
Sementara itu, Kenanga mempunyai pikiran untuk menggunakan kesempatan ini. Dia sudah menyaksikan kepandaian pemuda di hadapannya itu, mengapa tidak meminta petunjuk kepadanya.
"Kakang Panji! Menurutmu, bagaimanakah permainanku tadi?" Tanya Kenanga memancing
"Bagus! Dan indah sekali!" Jawab Panji, tanpa menyembunyikan kekagumannya Panji memang berkata yang sebenarnya.
"Lalu, maksudmu?" Tanya Panji tak mengerti.
"Ah! Kakang Panji ini, mengapa harus berpura-pura?" Sergah gadis yang lainnya lagi.
"Bukankah apa yang dimaksudkan Den Ayu Kenanga sudah jelas?" Sambungnya lagi.
"Eh! Aku.. Aku sungguh belum mengerti?" Jawabnya bingung. Sebab pemuda itu memang benar-benar belum mengerti maksud perkataan Kenanga.
"Hm.... Begini, Kakang!" Ujar Kenanga.
"Aku... eh! Bolehkah aku meminta petunjukmu tentang ilmu olah kanuragan?" Pintanya sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
"Ah! Aku... aku tidak bisa apa-apa...," tolak Panji halus.
__ADS_1
"Aaah! Sudah kuduga kalau Kakang akan menolaknya," jawab gadis itu. Wajahnya penuh sinar kekecewaan. Hati Kenanga menjadi kecewa ketika mendengar penolakan pemuda pujaannya itu.
"Eh... oh! Bukan... bukan begitu maksudku, Adik Kenanga! Aku... aku... aaah...!" Panji tak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Ah! Sudahlah, Kakang! Aku memang tak patut mendapat petunjuk darimu!" Tegas Kenanga sambil membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu. Kelihatannya dia kecewa sekali.
"Adik Kenanga! Tunggu!" kata Panji serak. Dan pemuda itu pun segera melesat mengejar Kenanga yang dirundung kekecewaan. Dengan sekali lompatan saja, tubuh Panji telah berdiri menghadang di depan Kenanga.
Karena terbawa perasaan yang tak menentu, Panji mengulurkan kedua tangannya dan memegang bahu gadis itu.
Keduanya berdiri bingung. Tubuh sepasang muda-mudi itu bergetar. Aliran darah mereka seolah-olah terbalik. Begitu sadar, Panji menarik kedua tangannya dan wajahnya langsung berubah kemerahan.
Demikian pula halnya dengan Kenanga. Untuk beberapa saat tadi, ia seperti terlena oleh sentuhan tangan Panji. Bidadari jelita itu pun tertunduk malu. Pipinya memerah saga.
"Eh.... Adik Kenanga, aku..., aku minta maaf! Sebenarnya bukan maksudku untuk menolak, tapi aku...," Panji bagaikan kehabisan kata-kata, sehingga tidak tahu harus mengucapkan apa.
"Ah! Sudahlah, Kakang! Lupakan saja permintaanku tadi!" Jawab Kenanga bersungguh-sungguh.
"Adik Kenanga, sebenarnya aku suka sekali untuk memberikan petunjuk kepadamu. Tapi, bagaimana dengan ayahmu?"
"Aku tidak keberatan, Panji!" Jawab sebuah suara. Dan tiba-tiba saja sesosok tubuh gagah, melangkah keluar dari balik semak-semak dan langsung menghampiri mereka.
"Ayah...!" Seru gadis jelita itu sambil tersipu malu.
"Ah! Paman..!" Ujar Panji kaget.
Sosok tubuh gagah itu ternyata adalah Ki Umbaran. Dia tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Panji. Memang Ki Umbaran merasa maklum akan alasan pemuda itu.
"Nah! Apa lagi yang kalian tunggu? Bukankah aku telah menyetujuinya?" Kata Ki Umbaran, mempertegas keragu-raguan Panji.
Selama ini, memang Ki Umbaran lah yang mendidik ilmu olah kanuragan kepada Kenanga. Sebenarnya dia ingin menitipkan anaknya kepada padepokan yang banyak terdapat di daerah Selatan. Namun, karena Kenanga anak satu-satunya, maka Ki Umbaran tidak sampai hati melepaskannya. Dan kini, ada seorang pemuda yang menurut anaknya memiliki kepandaian tinggi. Maka apa salahnya jika hanya untuk menyetujuinya. Lagi pula pemuda itu sangat sopan! Jadi, tidak perlu ada yang ditakutkannya.
Akhirnya, Panji pun setuju akan permintaan Kenanga itu. Pada pagi hari itu juga, Panji mulai memberi petunjuk tentang kelemahan ilmu olah kanuragan pada gadis itu.
__ADS_1
Sementara Ki Umbaran yang tidak ingin mengganggu ketekunan Panji, sudah meninggalkan taman itu. Kepala Desa Tambak itu, merencanakan akan membuat sebuah pesta untuk menyambut kedatangan anaknya kembali. Dan tanpa sepengetahuan Kenanga, diam-diam orang tua gagah itu segera mempersiapkan segala sesuatu yang akan diperlukan dalam pesta nanti.