
Terdengar suara berdentang sebanyak delapan kali, ketika pedang di tangan para pendekar itu membentur sebatang pedang yang bersinar kehijauan.
Kedelapan orang pendekar itu terdorong mundur sejauh lima langkah. Sementara pedang di tangan mereka hanya tinggal separuhnya, akibat terbabat pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan itu. Meskipun demikian, kedelapan orang pendekar itu sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut. Wajah mereka tetap dingin dan kaku bagai mayat hidup.
Sedangkan di lain pihak, bayangan merah itu menjadi terkejut! Akibat benturan tadi, tubuhnya terdorong sejauh dua tindak. Dan tangannya yang memegang pedang terasa bergetar dan nyeri. Dan bayangan merah itu lebih terkejut lagi ketika melihat wajah kedelapan orang lawannya yang nyaris bagai mayat hidup itu.
"Iiih ... !" pekik si bayangan merah tertahan! Pandangan bayangan merah itu tak lepas ke arah delapan orang di depannya. Tanpa sadar kakinya melangkah ke belakang. Hatinya berdebar bercampur tegang. Namun, sebelum dapat berpikir lebih jauh, kedelapan orang lawannya sudah menerjang dengan ganasnya. Si bayangan merah pun segera menggerakkan pedangnya untuk menyambut serangan lawan‐lawannya.
Pertarungan pun kembali berlangsung. Bahkan kali ini, lebih hebat lagi. Si bayangan merah yang tak lain adalah Sundari, atau yang lebih dikenal dengan julukan Dewi Tangan Merah itu, segera membalas serangan lawan dengan tidak kalah ganasnya. Pedangnya yang bersinar kehijauan itu berkelebatan mengancam tubuh semua lawannya.
Sementara itu, pertarungan yang berlangsung antara Ki Palaran dan seorang pendekar yang telah dikendalikan Dedemit Bukit Iblis itu, mulai tidak seimbang. Ki Palaran terdesak begitu hebatnya oleh serangan lawan yang makin lama makin ganas dan kuat! Seolah‐olah, lawannya itu memiliki sumber tenaga yang tidak pernah habis‐habisnya. Hingga pada suatu saat....
"Aaakh!" Ki Palaran memekik tertahan. Ternyata pedang lawan berhasil melukai pangkal lengan laki‐laki tua itu. Ki Palaran terhuyung sambil menekap pangkal lengan kanannya.
Sabetan pedang lawannya itu kuat sekali, hingga terasa menembus sampai ke tulang Darah pun mulai menetes membasahi pakaiannya. Sedangkan lengannya terasa kaku dan sukar sekali digerakkan. Ki Palaran terpaksa memindahkan pedangnya ke tangan kiri, karena lengan kanannya telah lumpuh! Dan, belum lagi dapat memperbaiki kuda‐kudanya, kini pedang lawan sudah meluncur mengancam ulu hatinya. Karena tidak mempunyai pilihan lain, Ki Palaran berusaha menangkis sebisa‐bisanya.
Trannng! Cappp!
"Aaahhkk ... !" Ki Palaran menjerit kesakitan karena pedang lawan telah menembus lambung kirinya. Meskipun telah ditangkis dengan baik, namun tenaganya sangatlah lemah. Sehingga pedang itu tetap mengarah dan menancap di lambungnya. Ki Palaran terhuyung‐huyung sambil meringis menahan sakit pada lambungnya. Sedangkan pedang lawannya sudah berputar menyambar lehernya dengan kecepatan kilat.
Siiinnng!
"Ahh ... !" orang tua itu tersentak dengan wajah memucat! la hanya dapat memejamkan matanya, menanti datangnya sang maut yang siap menjemput.
Duukkk!
Dhieeesss!
Pada saat yang berbahaya itu sesosok bayangan putih berkelebat cepat dan menyambut serangan lawan terhadap Ki Palaran. Dengan gerakan yang tak tampak oleh mata, bayangan putih itu menggerakkan tangannya untuk menotok ke arah tangan yang memegang pedang. Itu pun masih dibarengi dengan gedoran telapak tangannya ke arah dada! Betapa dahsyatnya tenaga dalam orang yang berjubah putih tersebut.
"Aarrrghh ... !"
__ADS_1
Terdengar raung kematian yang mendirikan bulu roma, disusul terpentalnya sesosok tubuh yang menyemburkan darah segar dari mulut. Tubuh itu berkelojotan sejenak untuk kemudian diam tak bergerak untuk selama‐lamanya. Orang itu tewas dengan dada remuk!
Ki Palaran yang telah pasrah menanti kematiannya menjadi heran. Ternyata pedang lawan belum juga menebas lehernya. Setelah menunggu beberapa saat serangan tersebut belum juga tiba, maka dengan wajah ketakutan bercampur heran orang tua itu mencoba membuka matanya. Dan keheranan Ki Palaran semakin menjadi‐jadi ketika mendapati tubuh lawannya tergeletak tak bernyawa sejauh dua tombak darinya. Sedang di hadapannya telah berdiri sesosok tubuh Yang mengenakan jubah luar berwarna putih.
Orang berjubah putih itu membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara berdebuk di belakangnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat tubuh Ki Palaran sudah menggeletak di atas rumput dengan napas satu‐satu. Bergegas dihampirinya dan diperiksanya keadaan orang tua itu. Si jubah putih semakin terkejut melihat luka Ki Palaran yang cukup parah itu. Cepat ditotoknya tubuh Ki Palaran di beberapa, tempat untuk menghentikan derasnya darah yang keluar.
"Terima... kasih..., Kisanak," ucap orang tua itu perlahan sambil menggerakkan tangannya.
"Ah, sudahlah, Ki! Jangan terlalu banyak bergerak dulu! Luka ini harus segera diobati dan dibersihkan agar tidak membusuk!" ujar laki‐laki berjubah putih Itu.
Setelah berkata demikian, orang berjubah putih Itu segera mengangkat tubuh Ki Palaran dan membawanya ke tempat yang aman. Kemudian dipanggilnya salah seorang dari pengawal Ki Palaran. Setelah memberikan beberapa, Petunjuk cara mengobati luka yang diderita Ki Palaran, si jubah putih memutar tubuhnya dan memperhatikan pertarungan Dewi Tangan Merah yang masih berlangsung seru.
Orang berjubah putih itu ternyata masih muda. Paling tidak, usianya baru sekitar sembilan belas tahun. Namun sikapnya terlihat tenang sekali. Wajahnya yang tampan dan berkulit putih itu selalu dihiasi senyum. Sudah bisa diduga, siapa, pemuda berjubah putih Itu. Dia tak lain adalah Panji, yang merupakan pewaris tunggal dari seorang tokoh persilatan yang berjuluk Malaikat Petir.
Dahi Panji yang dijuluki Pendekar Naga Putih Itu berkerut ketika memandang wajah delapan orang yang mengeroyok Dewi Tangan Merah. Wajah pengeroyok yang dingin dan kaku tak berperasaan itu telah mencurigakan hatinya.
"Hm.. Sepertinya ada yang tidak wajar dalam diri orang‐orang yang mengeroyok wanita berbaju merah itu?" gumam Panji pelahan.
Hati Panji sempat tergetar ketika matanya sempat beradu pandang dengan mata yang bersinar kehijauan milik sosok tubuh itu. Panji menduga‐duga sosok tubuh itu, tapi segera perhatiannya beralih pada pertarungan yang masih berlangsung seru itu.
Pada saat itu pertarungan sudah berjalan lima puluh jurus. Dewi Tangan Merah tampak mulai terdesak oleh kedelapan orang lawannya yang sepertinya memiliki sumber tenaga yang tak pernah habis.
Dewi Tangan Merah yang tenaganya mulai berkurang itu, merasakan tekanan yang makin lama semakin berat! Sehingga, kini tidak dapat lagi ia membalas serangan lawan‐lawannya. Dia hanya mampu bertahan sambil bermain mundur.
"Kurang ajar! Mengapa tenaga mereka semakin lama semakin bertambah kuat saja? Setan apa yang telah merasuk ke dalam tubuh mereka?" umpat Dewi Tangan Merah geram.
Dewi Tangan Merah semakin terdesak hebat! Dia benar‐benar tidak mampu lagi untuk menahan serangan lawan‐lawannya yang kuat dan ganas itu. Bahkan beberapa kali pedang lawan hampir melukai tubuhnya. Pada saat yang gawat itu, tiba‐tiba sesosok bayangan putih berkelebat memasuki arena pertempuran.
"Nisanak! Mari kita gempur mereka bersama sama!" seru bayangan putih yang tak lain dari Panji, sambil melancarkan serangan ke arah delapan orang yang mengeroyok Dewi Tangan Merah.
Setelah Panji ikut membantu, barulah Dewi Tangan Merah merasa lega. Sepertinya baru saja terbebas dari sebuah himpitan yang menyesakkan dada. Mula‐mula Dewi Tangan Merah atau Sundari merasa khawatir kalau‐kalau pemuda itu akan mendapat celaka. Akan tetapi ketika melihat gerakan‐gerakannya yang kuat dan mantap, kekhawatiran itu pun lenyap. Apalagi ketika pemuda yang hanya menggunakan tangan kosong itu telah dapat mendesak kedelapan orang pengeroyoknya. Maka tak ada alasan lagi untuk ragu‐ragu, bahkan kini berubah menjadi kekaguman!
__ADS_1
"Siapakah dia? Kalau dilihat dari caranya menghadapi kedelapan orang itu, pastilah ia memiliki kepandaian yang tidak rendah. Bahkan mungkin, berada di atas kepandaianku! Hebat!" ucap Dewi Tangan Merah dalam hati.
"Kisanak, hati‐hatilah! Kedelapan orang itu tidak mengetahui apa yang mereka lakukan! Mereka dalam pengaruh kekuatan gaib Dedemit Bukit lblis!" seru Dewi Tangan Merah.
Wanita itu merasa khawatir kalau pemuda itu akan berlaku kejam kepada delapan orang yang sebenarnya tak tahu apa‐apa.
"Hm..., pantas saja kedelapan orang ini bertempur bagai orang glia! Rupanya mereka dikendalikan oleh ilmu sihir! Hm, Ialu di manakah Dedemit Bukit Iblis itu sekarang, Nisanak?" tanya Panji tanpa mengurangi serangannya terhadap lawan-lawannya. Meskipun Panji sudah menduganya, namun ia ingin memastikan dugaannya itu.
"Kau lihat orang yang berdiri di bawah pohon besar itu? Dialah yang berjuluk Dedemit Bukit lblis! Entah manusia, atau bukan, aku sendiri tidak tahu!" jawab Dewi Tangan Merah sambil mengelak dari sambaran pedang lawan yang menuju ke pinggangnya.
Setelah mendapatkan kepastian dari Dewi Tangan Merah, tiba‐tiba Panji melompat mundur dan mengeluarkan sebuah bentakan yang merontokkan jantung! Begitu dahsyatnya bentakan itu, sehingga udara di sekitarnya terasa bergetar.
Dewi Tangan Merah melompat ke belakang sejauh dua tombak. Cepat dikerahkan tenaga saktinya, untuk melindungi dadanya yang terasa sesak akibat bentakan yang dahsyat tadi.
"Gila! Siapakah sebenarnya pemuda ini?" pikir Dewi Tangan Merah semakin kagum.
Sebenarnya Dewi Tangan Merah atau Sundari sudah mempunyai dugaan tentang pemuda berjubah putih itu. Namun dugaannya menjadi kabur karena tidak dillihat adanya selapis kabut berwarna Putih keperakan yang khabarnya menjadi ciri khas Pendekar Naga Putih.
Sementara, akibat bentakan Panji terhadap kedelapan orang lawannya itu lebih dahsyat lagi. Tubuh mereka jatuh bergulingan sambil menutup, kedua telinganya yang terasa pecah! Wajah mereka menyeringai menahan rasa sakit yang hebat, Tidak terkecuali pula Dedemit Bukit Iblis. Meskipun berada agak jauh dari arena pertempuran, namun bentakan Panji tadi telah membuat dadanya berdebar.
Dedemit Bukit Ibis terkejut bukan main! Tidak disangkanya kalau pada malam ini akan menemui lawan Yang tangguh! Cepat dikerahkan kekuatan sihirnya kembali untuk menguasai para pendekar yang tengah bergulingan itu.
"Bangkitlah…… Bangkit…… Bunuh pemuda berjubah putih dan gadis berbaju merah itu! Rasa sakit itu tidak akan menghalangi niat kalian! Bangkit .. Seraaang .. ! Bunuh mereka....!" perintah Dedemit Bukit Iblis dengan suara parau namun mengandung kekuatan sihir yang luar biasa. Suaranya bergema ke sekeliling tempat itu. Menyelusup dan menggetarkan sukma delapan orang pendekar itu.
Panji dan Sundari tersentak mundur! Mereka terkejut sekali ketika melihat kedelapan orang pendekar yang tengah bergulingan itu, tiba‐tiba melompat bangkit dengan sigapnya. Diiringi gerengan yang dirikan bulu roma, kedelapan orang pendekar itu menyerbu Panji dan Sundari. Serangan budak iblis itu kini lebih kuat dan lebih ganas daripada sebelumnya seolah‐olah bentakan Panji tadi telah melipat gandakan tenaga mereka.
"Nisanak, tahanlah serangan mereka untuk beberapa jurus! Aku akan mencoba untuk menghadapi Dedemit Bukit Iblis agar perhatiannya menjadi terpecah. Siapa tahu dengan berbuat demikian, la tidak dapat lagi mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi mereka," ujar Panji kepada Dewi Tangan Merah.
"Baiklah, Kisanak! Aku akan mencobanya. Dan hati‐hatilah! lblis itu sangat licik dan kepandaiannya pun tinggi sekali!" jawab Dewi Tangan Merah memperingatkan pemuda Sakti itu.
"Terima kasih.... ujar Panji sambil melemparkan senyumnya kepada dara jelita berbaju merah itu.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, tubuh Panji berkelebat ke arah berdirinya Dedemit Bukit Iblis.