
"Harimau jahat! Harimau jelek! Ayo, terkamlah aku! Lawanlah aku!" Panji yang sudah tidak mempedulikan dirinya lagi itu, terus melangkah maju mendekati binatang buas itu.
Si Raja Hutan yang kelihatannya sudah tidak memperhatikan Panji itu, menoleh sambil menggereng lirih. Seolah-olah memperingatkan bahwa ia tidak ingin diganggu.
Namun Panji yang marahnya telah meluap terhadap harimau itu, sudah tidak mempedulikannya lagi. Diambilnya beberapa buah batu sekepalan tangannya lalu dilemparkannya ke tubuh si Raja Hutan.
Merasa kesenangannya diganggu, harimau itu menggereng marah. Terdengar raungannya yang seperti akan merontokkan jantung. Tanpa sadar, Panji melangkah mundur. Wajahnya nampak pucat dan tubuhnya gemetar, karena pengaruh raungan itu. Tapi segera dikuatkan hatinya. Dua buah batu yang masih digenggam, dilemparkannya ke tubuh sang harimau.
Kali ini dengan dibarengi raungannya yang dahsyat, harimau itu melompat menerkam Panji, yang berdiri mematung dengan wajah memucat!
Sementara Panji bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi....
Dapat dipastikan taring harimau itu akan ******* tubuh kecil yang tanpa dosa itu. Tapi, sebelum terkaman harimau mengenai sasaran, tiba-tiba tubuh raja hutan itu terbanting ke tanah, seraya meraung keras karena merasa kesakitan.
Dan kini tahu-tahu, di samping Panji telah berdiri sosok tubuh seorang kakek tua. Seluruh rambut di kepala, kumis, dan janggutnya telah memutih. Usia kakek itu kira-kira telah mencapai tujuh puluh tahun, namun potongan tubuhnya masih menampakkan kegagahan. Pakaiannya jubah putih longgar, melambai-lambai tertiup angin. Kakek itu tersenyum lembut. Sambil tangannya yang agak keriput itu mengusap tubuh Panji yang masih gemetar. Anak kecil itu sedikit heran, karena dari telapak tangan kakek itu mengalir hawa sejuk. Pelahan-lahan tubuh Panji menjadi segar kembali dan hatinya pun menjadi tenang.
Kakek itu kembali menatap ke arah si Raja Hutan yang nampak bersiap-siap hendak menyerang kembali. Disertai raungan murka, harimau itu kembali menerjang ke arah sang kakek yang menghadapinya dengan senyum lembut.
Ketika serangan harimau sudah hampir sampai kakek misterius itu menghentakkan kedua tangannya kedepan. Akibatnya sungguh menakjubkan! Tubuh si Raja Hutan itu terlempar sejauh tiga tombak lalu jatuh berdebum di tanah. Namun harimau itu tidak menjadi kapok Diulanginya serangan itu beberapa kali, namun hasilnya sama saja.
Setelah merasakan bantingan untuk yang kesekian kalinya, rupanya harimau itu menyadari bahwa manusia yang satu ini merupakan lawan yang berat baginya. Kini dia hanya berputar ke kiri dan ke kanan seolah-olah ingin mencari kelemahan lawannya.
Si Kakek sendiri merasa takjub oleh kekuatan harimau itu. Padahal tadi telah dipergunakan seperempat tenaganya. Namun harimau itu sama sekali tidak terluka.
"Sungguh luar biasa daya tahan harimau ini!" Decaknya kagum.
"Rasanya tokoh persilatan pun sulit menundukkannya. Sungguh sayang sekali apabila harus dibunuh," lanjut kakek itu, seolah-olah berkata pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Eyang, bagaimana kalau kita pelihara?" Usul Panji tiba-tiba.
"Tidak, Cucuku! Biarlah dia bebas dan merdeka seperti ini!" Ujar sang kakek lembut.
Baru saja kakek itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar raungan keras kembali. Kali ini si Raja Hutan kembali menerjang sepenuh tenaganya, disertai raungan yang menggetarkan memenuhi penjuru hutan. Sementara itu, Panji sampai jatuh terduduk, karena mendadak seluruh tubuhnya terasa lumpuh. Sementara kedua tangannya mendekap dada, karena jantungnya untuk beberapa saat seolah-olah terhenti.
Kakek misterius itu, semakin kagum akan kekuatan harimau yang begitu dahsyat. Kalau saja ia tidak memiliki tenaga dalam yang tinggi, tentu sudah jatuh seperti halnya Panji. Kakek itu pun rupanya tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Maka, kali ini dikerahkan hampir separuh tenaga dalamnya.
Perlahan-lahan udara di sekitar tempat itu mulai terasa hangat. Ketika kuku-kuku harimau itu hampir mengenainya, si kakek memiringkan tubuhnya ke kanan, sambil tangan kanannya bergerak membacok. Akibatnya sungguh luar biasa! Harimau yang terhantam tangan kakek itu meraung keras. Tubuhnya meluncur deras dan menabrak sebatang pohon sebesar pelukan orang dewasa. Pohon itu kontan patah dengan suara berderak keras. Si Raja Hutan itu kali ini harus mengakui keunggulan orang tua ini. Tubuhnya tergeletak dengan posisi miring. Sesekali terdengar gerengannya pelahan, bagaikan sedang menahan rasa sakit yang hebat!
Benar-benar luar biasa kekuatan tubuh si Raja Hutan itu! Seandainya yang menerima pukulan tadi tokoh persilatan tingkat pertengahan, bukan mustahil tubuhnya remuk terkena hantaman kakek itu.
Kakek tua itu segera menghampiri tubuh Si Raja Hutan yang belum dapat bangkit lagi Dia kemudian berjongkok di sisi harimau itu, lalu menotok di beberapa bagian tubuh binatang buas yang hanya mampu menggereng lirih itu. Beberapa saat kemudian, harimau itu bangkit dan melarikan diri ke dalam hutan.
Setelah harimau itu tidak kelihatan lagi, kakek itu melangkah mendekati tubuh Panji, yang masih terbaring di atas rumput. Jari-jari tangannya mengurut bagian-bagian tertentu di tubuh anak tak berdosa itu. Beberapa saat kemudian, Panji sudah dapat bangkit berdiri. Dia merasa heran, ketika didapati tubuhnya terasa segar dan nyaman. Tidak ada sisa-sisa kelelahan sedikit pun.
Si Kakek hanya tersenyum lembut, demi melihat tutur kata yang sopan dari bocah berusia delapan tahun itu.
"Cucuku...," ujarnya lembut.
"Sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk saling tolong-menolong. Nah! Oleh karena itulah, jangan engkau merasa berhutang budi kepada Eyang, Cucuku! Lalu..., hendak ke manakah engkau sekarang, Cucuku? Dan mengapa engkau berada di hutan yang berbahaya ini?" Tanyanya heran.
"Entahlah, Eyang," jawab Panji bingung.
"Saya... Saya tidak tahu."
Sehabis berkata demikian, Panji termenung Dia berusaha menahan kesedihan, karena terbayang kembali akan kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya. Kini ia tinggal sendiri, karena orang-orang yang dikasihi semua telah tiada lagi. Oleh karena itulah kerika dltanya orang tua tersebut, la jadi bingung. Tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Sudahlah, Cucuku! Jangan kau bersedih. Ceritakanlah, barangkali Eyang dapat membantu kesulitanmu?" Ujar orang tua itu iba, ketika dilihatnya Panji menunduk sedih.
Dengan suara terputus-putus, Panji lalu menceritakan segala kejadian yang menimpa keluarganya. Mulai dari saat kehancuran padepokan ayahnya oleh Tiga Iblis Gunung Tandur, sampai tersesat di Hutan Iblis Menangis ini.
Orang tua itu, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sesekali terdengar helaan napasnya yang panjang.
"Hm.... Bunuh-membunuh.... Balas-membalas... Se-lalu terjadi dalam dunia yang semakin tua ini," kakek itu bergumam tak jelas. Seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri.
"Cucuku, apakah engkau pun berniat membalas kematian ayahmu?" Tanya kakek itu ingin tahu.
Setelah berpikir beberapa saat lamanya, Panji menarik napas pelahan.
"Eyang, saya tidak tahu. Tapi..., apakah Ayah dan Ibu saya akan tenang di alam baka, apabila saya sebagai anaknya tidak membalas dendam? Apakah mereka tidak akan murka, Eyang?" Jawab Panji seraya juga memberondong dengan pertanyaan.
Mendengar jawaban itu si Kakek tersenyum, sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang dan putih. la tidak ingin menjawab pertanyaan Panji, karena ia tahu hati anak itu masih dikuasai kemarahan dan dendam yang membara.
"Aku lihat, kau memiliki susunan tulang yang baik. Darahmu pun bersih. Rasanya..., kau akan menjadi seorang pendekar yang hebat, apabila mau mempelajari ilmu olah kanuragan. Maukah kau menjadi muridku, Cucu-ku?" Tanya kakek itu sambil tersenyum.
Panji tidak mengerti, apa yang diucapkan orang tua sakti tersebut. Tapi ketika mendengar pertanyaan itu, ia pun langsung berlutut di hadapan kakek itu
"Saya mau, Eyang..! Saya mau...," kata Panji girang sambil mengangguk-anggukkan kepala. Mulutnya tak henti-hentinya berucap, hingga napasnya memburu karena kegembiraan yang meluap-luap.
Orang tua itu mengangguk senang, sambil tangannya mengusap-usap kepala Panji yang bersujud di hadapannya itu. Setelah menguburkan jenazah Wira Tama, kakek sakti itu lalu mengajak Panji untuk pergi dari situ. Sambil memondong Panji, tubuhnya berkelebatan bagaikan bayangan hantu yang sedang mencari mangsa.
Dalam sekejap saja, kakek itu telah jauh meninggalkan tempat tersebut. Jubahnya yang lebar berkibaran, sehingga sepintas lalu tubuh kakek itu bagaikan seekor burung yang melayang-layang di udara.
Slapakah sebenarnya kakek sakti itu? Dan ke mana Panji akan dibawa pergi?
__ADS_1