Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
27


__ADS_3

Malam belum begitu larut. Di dalam kamar sebuah rumah penginapan yang terdapat di Desa Pasiran,tampak seorang gadis tengah melakukan semadi. Gadis Itu cantik sekali,  apalagi ditambah pakaiannya yang serba merah. Benar‐benar bagaikan seorang Dewi yang agung dan mempesona layaknya.


Namun, jangan disangka bahwa ia adalah seorang gadis biasa yang lemah dan mudah untuk dipikat. Karena dalam rimba persilatan gadis yang bernama Sundari Itu sudah sangat dikenal dan berjulukan Dewi Tangan Merah. Sepak terjangnya yang tidak kenal kompromi dalam memberantas setiap kejahatan membuat namanya semakin ditakuti oleh tokoh golongan sesat.


Dan kehadirannya di Desa Pasiran juga untuk melakukan hal yang serupa. MembasmiDedemit Bukit lblis!


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara kentongan yang dipukul para peronda malam. Mereka memang tengah berkeliling menyusuri jalan‐jalan desa dengan diterangi dua buah obor. Udara malam yang dingin bukan halangan, karena keenam orang peronda Itu sudah terbiasa dengan suasana seperti Itu. Mereka kini hampir mencapai sebuah kedai yang ramai dikunjungi orang.


"Hai! Sahabat‐sahabat! Mari singgah sejenak untuk menghangatkan tubuhl" ajak salah seorang yang ada di kedai ketika para peronda melewati tempat itu. Orang yang mengajak itu berusia sekitar tiga puluh tahunan.


Wajahnya terlihat gagah dengan bentuk rahang yang kokoh. Di pinggangnya tergantung sebilah golok besar yang terlihat berat. Kalau dilihat dari sikapnya, jelas dia adalah seorang pendekar yang pada waktu itu banyak berdatangan ke Desa Pasiran.


"Ah! Terima kasih, Kisanak! Biarlah kami melaksanakan tugas kami terlebih dahulu," jawab salah seorang dari para peronda itu.


"Oh! Kalau begItu, silakan, sahabat‐sahabat! Dan selamat bertugas!" ujar seorang pendekar lain yang bertubuh jangkung.


Setelah berbasa‐basi sebentar, keenam orang peronda itu pun meneruskan langkahnya untuk menjaga keamanan Desa Pasiran. Suara kentongan pun kembali terdengar mengiringi langkah kaki mereka.


Sudah hampir sebulan lebih keadaan Desa Pasiran aman‐aman saja. Dedemit Bukit Iblis sudah tidak pernah muncul lagi di desa itu. Para penduduk Desa Pasiran pun sudah mulai merasa tenang. Apalagi kehadiran para pendekar di desa ini membuat hati penduduk desa semakin tentram.


Namun, tidak demikian halnya dengan Kepala Desa Pasiran yang tetap berjaga‐jaga meskipun Dedemit Bukit Iblis tidak pernah muncul lagi. Penjagaan ketat tetap dijalankan seperti biasa. Dan kepala desa itu tidak akan pernah merasa tenang, sebelum Dedemit Bukit Iblis tersebut benar‐benar musnah.


Dan memang, kesiagaan sang kepala desa tidaklah berlebihan. Buktinya pada suasana malam yang cerah itu, tampak sesosok bayangan putih berkelebatan di atas rumah‐rumah penduduk. Gerakannya ringan sekali, sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun llmu meringankan tubuhnya benar‐benar sempurna, dan jarang terdapat di dunia persilatan.


Bayangan putih itu berloncatan menuju ke sebelah Timur Desa Pasiran. Jubah luarnya yang lebar dan berwarna putih, tampak berkibar tertiup angin. Rambutnya yang panjang berwarna putih, dibiarkan meriap menutupi sebagian wajahnya. Jelas itu adalah bayangan Dedemit Bukit Iblis yang menjadi momok bagi penduduk desa di wilayah Barat.


Kadang‐kadang, tubuh Dedemit Bukit Iblis itu berloncatan dari pohon yang satu ke pohon lainnya. Bayangannya terus berkelebat menuju sebuah rumah yang letaknya agak terpencil. Di rumah itu, istri pemilik rumah baru saja melahirkan seorang bayi laki‐laki yang sehat.


Dan kini, Dedemit Bukit Iblis telah tiba di rumah itu. Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sukarlah bagi Dedemit Bukit Iblis untuk hinggap di atap rumah itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sebentar diedarkan pandangannya untuk memastikan keadaan di sekitarnya. Setelah merasa aman, Dedemit Bukit lblis menggerakkan tangannya melubangi atap rumah itu.

__ADS_1


Air liur Dedemit Bukit Iblis menetes seketika melihat sesosok tubuh mungil tergolek di pembaringan. Matanya bersinar kehijauan, tanda seleranya mulai tergugah. Sejenak dedemit tersebut mengurungkan niatnya ketika bayi itu tersentak bangun sambil menangis keras‐keras. Rupanya, naluri bayi yang masih murni itu, mulai merasakan adanya bahaya mengancam.


Ibu si bayi yang masih terlelap itu langsung bangun ketika mendengar tangisan anaknya. Bergegas dia beringsut, lalu bangkit untuk menimang dan menghibur buah hatinya.


"Shhh.... Tidur, ya Sayang ... ! Cup, cup, shhh rayu sang ibu, berusaha mendiamkan anaknya. Namun celakanya, tangis si bayi malah semakin keras. Matanya yang bening berputar‐putar liar, seolah‐olah mengungkapkan kegelisahan hatinya. Melihat keadaan bayinya yang aneh itu, si lbu menjadi khawatir.


"Kang! Bangun, Kang! Lihat ini anak kita, Kang!" teriak sang istri sambil membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas. Wajahnya mulai cemas karma anaknya menanangis semakin keras. Si suami tersentak bangun sambil mengerjap‐ngerjapkan kedua matanya. Lelaki berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu terkejut melihat keadaan anaknya.


"Ada apa, Nyai. Si kecil kenapa?" tanya laki‐laki itu dengan wajah tegang! Sejenak dia termenung dan teringat akan cerita dan para tetangganya. Benar! Tangis bayi itu adalah tanda‐tanda bayi Itu bakal menjadi korban Dedemit Bukit Iblis.


"Kang! Jangan‐jangan?!" ujar istrinya tiba‐tiba dengan wajah pucat pasi. Mendadak tubuh ibu muda itu gemetar!


Si suami tidak menyahut. Segera disambarnya sebilah golok yang tergantung di bilik, dan langsung dihunusnya! Pandangannya beredar ke tiap sudut dalam rumahnya. Napasnya seperti tertahan dan wajahnya penuh ketegangan! Butir butir keringat sebesar biji jagung memenuhi seluruh wajahnya!


Brraaakkk...!


Tiba‐tiba atap rumah itu ambrol dengan menimbulkan suara ribut! Berbareng dengan suara itu, sesosok bayangan putih melayang turun sambil memperdengarkan suara tawa yang mendirikan bulu roma.


"Nyai, lariii ... !" teriak laki‐laki itu kepada istrinya.


"Hei. iblis! Pergi kau dari Sini! Jangan ganggu anak kami!" lanjut si suami dengan golok melintang di depan dada.


Mendengar teriakan suaminya, wanita itu menghambur keluar.


"Tolooong ... ! Setaaannn...! Tolooong .. !" teriaknya sambil berlari. Sementara itu, sang suami sudah langsung menerjang Dedemit Bukit lblis dengan golok di tangan. Berkali‐kali lelaki muda itu membacokkan goloknya ke tubuh iblis itu.


Anehnya, Iblis itu sama sekali tidak  terluka, tapi malah tertawa terkekeh. Tiba‐tiba Dedemit Bukit Iblis menggerakkan tangannya pelahan, bagai mengusir nyamuk. Akibatnya sungguh luar biasa. Tubuh lelaki muda itu terbanting sejauh tiga tombak, dan kontan menabrak bilik rumah hingga jebol! Lelaki muda itu terkulai dengan luka menganga pada lehernya!


Sementara itu, ketika suara minta tolong itu terdengar oleh Para peronda, maka bunyi kentongan tanda bahaya pun terdengar bertalu‐talu membelah udara malam yang dingin! Suasana malam pun yang semula hening, kini berubah menjadi ribut dan bising!


Teriakan‐teriakan bernada perintah terdengar bersahut‐sahutan. Dalam sekejap saja, Desa Pasiran menjadi terang benderang. Puluhan orang belarian hingga menimbulkan suara bergemuruh. Cahaya‐cahaya obor bermunculan dari setiap pelosok desa. Mereka semua menuju sumber suara minta tolong tadi.

__ADS_1


Para pendekar yang memang sudah menantikan kedatangan Dedemit Bukit lblis segera berkelebatan mendahului para penduduk desa. Mereka berusaha saling mendahului, untuk segera tiba di tempat kejadian. Maka dikerahkan Ilmu peringan tubuh agar dapat tiba, lebih cepat!


Di tempat lain, ibu muda yang berusaha menyelamatkan anaknya itu terus berlari menjauhi rumahnya. Tubuhnya telah basah oleh peluh. Namun, tiba‐tiba sesosok bayangan putih itu berkelebat melampaui kepalanya, dan tahu‐tahu telah berdiri di hadapannya. Tak salah lagi. Dialah Dedemit Bukit Iblis.


"Iblis! Pergi, kau! Jangan ambil anakku! Pergi...!" teriak ibu muda itu ketakutan. Air matanya mengalir bercampur keringatnya. Tubuhnya gemetar karena diserang rasa takut yang hebat. Meskipun demikian, dia berusaha untuk mempertahankan buah hatinya.


Sambil berteriak dan menjerit‐jerit, dilemparinya tubuh iblis itu dengan batu‐batu yang berada di dekatnya. Tapi, Dedemit Bukit Iblis malah tertawa terkekeh tanpa menghiraukan lemparan‐lemparan itu. tiba‐tiba tangan Dedemit Bukit Iblis terulur ke arah tubuh mungil yang berada dalam gendongan lbu muda itu.


"Iblis keji! Mam puslah...!" tiba‐tiba terdengar bentakan yang disertai dengan melayangnya dua sosok tubuh menhalangi niat Dedemit Bukit Iblis.


Dua buah sinar putih berkilatan memotong ke arah tangan yang terulur itu. Tangan Dedemit Bukit Iblis itu sama sekali tidak mengelak ataupun ditarik pulang, tapi malah terus terulur. Seolah‐olah dia tidak mengetahui serangan yang mengancam tangannya.


Takkk! Takkk!


Terdengar suara berdentang nyaring, dibarengi terpentalnya dua tubuh si penyerang. Kedua sosok tubuh itu terbanting keras, hingga menimbulkan suara berdebum. Ketika berusaha bangkit, terlihat mereka mentegangi Langan kanannya yang telah patah! Mereka memang bagai membacok sebuah balok baja yang amat keras, sehingga tenaganya berbalik dan melukai diri sendiri.


Tapi usaha kedua orang itu pun tidaklah sia‐sia. Akibat dari bacokan itu, tangan iblis tersebut melenceng dari sasarannya. Maka bayi itu pun terbebas pula dari cengkraman Dedemit Bukit Iblis!


Alangkah murkanya Iblis itu melihat ada orang yang menghalangi niatnya.


"Grrr .. ! Khu bunuhhh... khaliaan ... !" dengus iblis itu gusar. Setelah berkata demikian, tubuh Dedemit Bukit lblis meluncur ke arah dua orang pendekar yang masih belum mampu bangkit itu. Jari jari tangannya yang berkuku panjang dan hitam itu siap merejam tubuh lawan.


Dengan susah payah, kedua orang pendekar itu bergulingan untuk menghindari ancaman kuku-kuku yang sekeras baja itu. Dan hebatnya, ke mana pun kedua orang pendekar itu menghindar, sepasang tangan yang berkuku runcing itu tetap saja mengikuti mereka. Hingga pada suatu saat, tidak dapat dihindari lagi!


Breettt! Breettt!


"Aaarrrgghhh...!"


Kedua orang pendekar itu berteriak setinggi langit. Tubuh mereka terlempar dengan usus memburai. Jari‐jari tangannya yang berkuku runcing itu telah merobek perut mereka! Setelah meregang nyawa sesaat, kedua orang pendekar itu pun tewas.


"Biadab! Iblis keji! Mam puslah ... ! Heaaattt...!" terdengar sebuah bentakan yang disusul berkelebatnya sesosok bayangan yang menerjang Dedemit Bukit lblis.

__ADS_1


Kemudian berturut‐turut beberapa bayangan lainnya sudah pula berdatangan, dan langsung ikut mengeroyok. Tidak lama kemudian, tempat itu pun menjadi terang benderang oleh sinar‐sinar obor yang dibawa penduduk desa yang baru saja tiba di tempat itu.


__ADS_2