
Dengan kemarahan yang meluap‐luap, pendekar yang berjumlah sekitar sembilan belas orang itu menyerang secara bertubi‐tubi. Mereka mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk dapat segera meringkus Dedemit Bukit Iblis.
Pada jurus yang kelima, tiga buah senjata berkelebat secara bersilangan mengancam tubuh si iblis. Namun berkat kegesitannya yang luar biasa, Dedemit Bukit Iblis mampu menyelinap di antara sambaran tiga batang senjata itu. Dan dengan kecepatan yang tak tampak oleh mata, tahu‐tahu cakar Dedemit Bukit Iblis sudah mengancam tenggorokan ketiga orang pendekar yang menyerangnya tadi!
Crakkk!
Jreppp!
******!
Ketiga orang pendekar itu menjerit menyayat ketika kuku‐kuku yang sekeras baja itu merobek tenggorokan mereka! Darah kontan memercik ke sekitarnya bersamaan terhempasnya tubuh tiga orang pendekar yang bernasib sial itu. Mereka tewas seketika.
Menyaksikan keadaan tiga orang kawannya yang tewas secara mengerikan itu, tanpa sadar para pendekar lain melangkah mundur dengan wajah pucat. Beberapa di antaranya yang pernah merasakan kepandaian Dedemit Bukit Iblis, menjadi terkejut sekali!
"Gila! Kepandaian iblis itu semakin hebat saja!" serunya heran.
Memang benar apa yang dikatakan salah seorang dari pendekar itu. Kepandaian Dedemit Bukit Iblis dalam beberapa bulan belakangan ini telah meningkat jauh. Itulah sebabnya, mengapa iblis itu tidak lagi menghindarkan diri ketika perbuatannya dipergoki para pendekar. Rupanya dia sudah merasa yakin akan kepandaiannya.
"Huh! Lebih baik mati daripada melihat makhluk biadab ini tetap berkeliaran di muka bumi. Heaaattt...!" kata salah seorang pendekar. Setelah berkata demikian diterjangnya Dedemit Bukit Iblis dengan serangan yang ganas dan cepat!
Mendengar ucapan itu, para pendekar lainnya merasa tergugah semangatnya. Ya! Lebih baik mati di tangan iblis itu, daripada hidup sebagai seorang pengecut! Dibarengi teriakan nyaring, para pendekar itu pun kembali mengeroyok Dedemit Bukit Iblis yang ganas itu.
Para pendekar yang kini berjumlah enam belas orang itu, membabatkan senjatanya secara cepat dan kuat! Mereka bertarung bagaikan singa lapar. Meskipun demikian, mereka tidaklah bertempur secara membabi buta! Serangan para pendekar itu tetaplah diperhitungkan secara tepat. Mereka bukanlah orang kasar yang hanya mengandalkan kekuatan saja, tapi sudah terlatih dengan baik.
Namun kemajuan yang diperoleh Dedemit Bukit Iblis memang hebat sekali! Dalam beberapa jurus saja lima orang pendekar sudah menggeletak tewas! Dua orang di antaranya, tewas dengan kepala pecah! Sedangkan tiga lainnya dengan leher hampir patah dan isi perut berhamburan! Benar‐benar mengerikan akibat dari jurus 'Tangan Pengejar Roh' yang menjadi jurus andalan Dedemit Bukit Iblis itu.
Meskipun telah jatuh korban lagi, namun semangat Para pendekar itu masih tetap tinggi. Memang tekad Para pendekar itu sudah mantap. Iblis itu yang tewas, atau mereka yang terkubur!
"Heaaattt ... !"
Dua orang pendekar kembali menusukkan pedangnya ke mata dan tenggorokan Dedemit Bukit iblis. Suara pedang yang berdesing tajam, terdengar karena digerakkan dengan sepenuh tenaga. Lagi‐lagi Dedemit Bukit Iblis sama, sekali tidak berusaha untuk menghindar! Dengan sikap acuh tak acuh, iblis itu menanti datangnya dua serangan itu.
Takkk! Takkk!
__ADS_1
Dengan kecepatan luar biasa, tahu‐tahu lengan Dedemit Bukit Iblis telah menangkis dua pedang yang mengarah ke tubuhnya. Kedua orang pendekar itu merasakan lengannya lumpuh seketika. Dan sebelum menyadari hal itu, mendadak leher mereka bagai dijepit oleh baja yang amat kuat! Kedua orang pendekar itu meronta‐ronta berusaha melepaskan jepitan tangan Iblis itu pada leher mereka.
"Kreeaahh ... !"
Dengan gerengan yang mendirikan bulu roma, dua tangan Dedemit Bukit Iblis menghentak ke atas. Tubuh kedua orang pendekar itu menggantung di udara, dengan napas yang hampir putus! Dedemit Bukit Iblis makin memperketat cengkraman tangannya hingga terdengar suara gemeretak. Kepala kedua orang pendekar itu terkulai, karena tulang lehernya telah patah!
"Huh...!" sambil mendengus kasar, Dedemit Bukit Iblis membanting tubuh kedua orang pendekar yang telah menjadi mayat itu. Dua tubuh itu meluncur deras dan menghantam sebuah batu besar yang berada tidak jauh darinya.
Praakkk!
Seketika cairan merah berhamburan dari kepala dua orang pendekar itu. Para pendekar yang kini tinggal sembilan orang itu serentak mundur dengan mata membelalak! Di wajah mereka terbayang kengerian yang luar biasa! Tubuh mereka gemetar dengan hebatnya! Berbagai perasaan bercampur di hati, hingga kesembilan orang pendekar itu tidak mengetahui apa sebenarnya yang mereka rasakan saat itu!
Sementara Dedemit Bukit Iblis yang sudah dilanda kemurkaan itu melangkah mendekati mereka. Kedua tangannya yang berkuku ranting itu siap ******* hancur sembilan tubuh yang tengah dilanda kengerian itu. Matanya yang bersinar kehijauan menatap dengan memancarkan daya sihir yang kuat. Akibatnya kesembilan orang pendekar itu hanya dapat memandang dengan wajah pucat.
"Dengarrr ... !" seru Dedemit Bukit Iblis serak.
"Kalian adalah budak‐budakku yang selalu tunduk pada segala perintahku ... ! Dan sekarang kalian kuperintahkan untuk merebut bayi yang ada dalam gendongan wanita itu! Bunuh siapa saja yang menghalangi kalian.!" Suara Dedemit Bukit Iblis yang mengandung kekuatan gaib itu, menggeletar dan menyusup ke dalam pikiran mereka.
Untuk beberapa saat lamanya tubuh kesembilan orang pendekar itu menegang, lalu pelahan‐lahan mata yang semula membeliak berubah menjadi layu tak bergairah. Wajah‐wajah mereka pun menjadi dingin tak berperasaan.
Melihat kejadian yang tak disangka‐sangka itu, para penduduk menjadi pucat. Mereka tidak mengerti, mengapa Para pendekar itu berbalik hendak menyerang mereka? Dengan wajah tegang, para penduduk menanti apa yang hendak dilakukan para pendekar itu.
"Jauhkan bayi itu dari tempat ini, cepat!" teriak seorang lelaki tua, sambil melompat menghadang jalan kesembilan orang pendekar itu.
Walaupun telah berusia sekitar enam puluhan tahun, namun tubuhnya masih terlihat gagah. Sorot matanya tajam dan berwibawa. Suaranya pun terdengar lantang ketika memberi perintah kepada orang‐orang desa itu.
"Hati‐hati, Ki! Nampaknya para pendekar itu kini sudah dalam kekuasaan Dedemit Bukit Iblis. Lihat saja wajah mereka! Dingin dan kaku, bagai tak memiliki perasaan!" ujar salah seorang penduduk memperingatkan orang tua gagah itu. Dalam nada suaranya terkandung kekhawatiran yang dalam.
"Hm...! ! Tampaknya iblis itu telah mempergunakan kekuatan gaibnya untuk menguasai para pendekar itu! Iblis kepa rat! Rupanya ini sengaja dilakukan, agar kita saling bunuh di antara kawan sendiri. Licik sekali iblis kepa rat itu!" umpat orang tua gagah itu cemas. Wajahnya menjadi murung terselimut kedukaan yang hebat. Dengan hati berat, ia terpaksa harus berhadapan dengan para pendekar itu.
"Rebut bayi itu! Bunuh siapa saja yang menghalangi...," suara Dedemit Iblis terus bergema, mempengaruhi kesembilan orang pendekar yang melangkah semakin dekat ke arah kerumunan penduduk.
"Ya! Bunuh siapa saja yang menghalangi ... !" bisik kesembilan orang pendekar Itu, mengulangi kata‐kata Dedemit Bukit Iblis. Mendadak sinar mata yang semula meredup itu berkilat penuh nafsu membunuh!
__ADS_1
Melihat sinar mata yang mengandung kekuatan gaib, orang tua gagah itu agak gentar juga hatinya. Tanpa sadar ia pun melangkah mundur beberapa tindak. Beberapa orang yang berada di kiri dan kanannya, ikut pula melangkah mundur! Bulu kuduk mereka meremang ketika beradu Pandang dengan kesembilan orang pendekar itu. Beberapa kali mereka menelan ludah dengan wajah pucat!
Tanpa banyak bicara lagi, kesembilan orang pendekar itu sudah menerjang ke arah para penduduk dengan, serangan yang cepat dan ganas. Dari suara desingan tajam yang ditimbulkan ayunan pedang para pendekar itu, mudah ditebak kalau serangan itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang tinggi!
"Ki Palaran! Awas ... !" teriak beberapa orang yang berada di sampingnya yang langsung bergulingan menghindari serangan yang ganas tersebut.
Namun, orang tua gagah yang dipanggil Ki Palaran itu tidak mempunyai waktu lagi untuk menghindar. Posisinya yang berada di tengah‐tengah kawannya itu sepertinya memang tidak memungkinkan dia untuk menghindar. Satu‐satunya jalan untuk menyelamatkan kepalanya dari sambaran pedang adalah memapak dengan pedangnya.
Traaannng!
Terdengar benturan yang nyaring disertai memerciknya bunga api yang menandai betapa kerasnya benturan tadi. Dan sebagai akibatnya, tubuh Ki Palaran terdorong sejauh lima langkah. Lengan kanannya yang dipakai menangkis tadi terasa nyeri dan linu. Cepat‐cepat Ki Palaran memeriksa pedangnya. Dan alangkah terkejutnya orang tua gagah itu ketika mendapati mata pedangnya telah rompal!
"Gila! Mengapa tenaga mereka menjadi demikian hebat?" umpat Ki Palaran. Wajah laki‐laki tua itu diliputi keheranan. Padahal ia tahu betul kepandaian para pendekar itu tidaklah berada di atasnya!
"Hm.... Tidak salah lagi! Pastilah ilmu gaib iblis inilah yang telah melipatgandakan tenaga para pendekar itu!" ucap Ki Palaran dalam hati.
Tapi orang tua gagah itu tidak dapat berpikir panjang lagi. Karena tiba‐tiba serangan dari lawan telah meluncur datang. Terjadilah pertarungan yang tak dapat dihindari lagi. Pendekar yang jiwanya telah dikuasai Dedemit Bukit lblis itu membabatkan pedangnya dengan serangan‐serangan maut. Seolah‐olah pendekar itu berhadapan dengan orang yang sangat dibencinya. Sehingga apablia Ki Palaran lengah sedetik saja, maka malaikat maut pasti segera menjemputnya!
Dapat dibayangkan, betapa sulitnya posisi Ki Palaran saat itu. Di satu pihak, ia sebagai kepala desa berkewajiban membela warganya. Sementara di pihak lain, harus pula dimaklumi keadaan pendekar itu yang tidak menyadari perbuatannya, akibat pengaruh gaib si iblis. Itulah sebabnya, mengapa sampai pada jurus kelima Ki Palaran masih belum juga membalas serangan lawan.
Memang, kepandaian mereka tidak berselisih jauh. Tentu saja hal ini membuat Ki Palaran menjadi terdesak hebat. Dan kalau pada jurus‐jurus selanjutnya Ki Palaran masih tidak membalas serangan lawan, maka kerugianlah yang akan didapatnya.
Di arena lain, para pendekar yang telah dikuasai Dedemit Bukit lblis juga mengamuk hebat. Para penduduk yang tidak mengerti tentang ilmu olah kanuragan, berlarian menjauhi tempat tersebut Mereka merasa ngeri menyaksikan akibat dari amukan para pendekar yang sudah seperti gila itu. Beberapa orang penduduk yang tak sempat menghindar, langsung berpentalan tewas. Usus mereka terburai, dan kepala terpisah dari badan. Jerit dan tangis bergema merobek udara malam yang semakin dingin itu. Darah pun mengalir membasahi rerumputan yang lembab.
Desa Pasiran malam itu benar‐benar telah berubah menjadi neraka! Mayat para penduduk yang tidak berdosa bergelimpangan tumpang tindih dengan keadaan yang sangat menyedihkan! Amukan kesembilan orang pendekar yang dipengaruhi iblis itu sangat memilukan hati siapa saja yang berada di dekatnya, langsung dibabat tanpa kenal ampun.
Pengawal kepala desa yang jumlah dua belas orang segera mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membendung amukan Para pendekar yang kesetanan itu. Meskipun sadar sepenuhnya bahwa mereka bukanlah tandingan para pendekar Itu, namun tanggung Jawab terhadap keselamatan desa kelahiran membuat kedua belas orang Pengawal Kepala Desa rela mengorbankan nyawa mereka.
Tapi sayang, kepandaian para Pengawal kepala desa Itu masih terlalu rendah jika dibandingkan kepandaian lawan‐lawannya. Sehingga dalam tiga jurus saja, pedang kedelapan orang pendekar itu telah membabat putus leher mereka! Darah kembali menyembur membasahi bumi. Delapan tubuh tanpa kepala itu terhuyung‐huyung untuk kemudian jatuh tanpa dapat bangkit lagi.
Sedangkan empat orang lainnya melompat mundur dengan tubuh mengigil bagai terserang demam hebat. Wajah mereka pucat bagai tak dialiri darah. Bibir mereka gemetar, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Rupanya kejadian itu telah mengguncangkan hati para Pengawal kepala desa yang masih tersisa itu.
Mereka benar‐benar tidak menyadari kalau pada saat itu tengah terancam oleh dua batang pedang yang siap mencincang hancur tubuh mereka.
__ADS_1
Pada saat yang menentukan, tiba‐tiba sesosok bayangan merah yang terbungkus oleh segulung sinar hijauan meluncur memotong serangan kedelapan orang pendekar itu.
Trang! Trang! Trang!