Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
21


__ADS_3

Menghadapi keroyokan itu, iblis penculik bayi menjadi kalang kabut. Tubuhnya jatuh bangun terkena hantaman pukulan maupun senjata‐senjata yang berkelebatan di sekeliling tubuhnya. Untunglah iblis itu mempunyai kekebalan terhadap segala macam senjata.


Meskipun si iblis dibuat jatuh bangun oleh para pendekar itu, namun tak segores pun luka yang tampak di tubuhnya. Kecuali, hantaman dari Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk yang terasa agak menyakitkan. Berkali‐kali hantaman dari kedua orang Sakti itu mendarat telak di tubuhnya. Tapi iblis itu kembali bangkit tanpa menderita luka sedikit pun, kecuali hanya meringis‐ringis.


Puluhan jurus telah terlewati. Namun, iblis itu masih sukar untuk ditundukkan. Tentu saja para pendekar Itu menjadi cemas. Kalau keadaan ini tidak berubah, lama‐kelamaan tenaga mereka akan habis juga.


Sebenarnya dalam hal ilmu silat, kepandaian iblis itu tidaklah terlalu tinggi. Meskipun ilmunya hanya satu tingkat lebih tinggi dari Pendekar Hati Emas maupun Pendekar Pemabuk, namun apabila kedua pendekar itu maju bersama, pasti iblis itu dapat ditaklukkan. Apalagi kini ia harus menghadapi keroyokan dari para pendekar lain yang rata‐rata memiliki ilmu yang lumayan tinggi itu.


Hanya berkat ilmu hitam serta ilmu sihirnyalah, sehingga iblis itu dapat bertahan dari gempuran para pendekar. Setiap kali hantaman mereka mengenai tubuh si iblis, seketika itu pula ia dapat bangkit kembali. Akibatnya, para pendekar itu hampir putus asa.


Dhiieeess!


Dhiiiggg!


Kembali tubuh iblis itu terjengkang terkena pukulan para pendekar. Selagi tubuh iblis itu bergulingan di atas tanah, para pendekar itu segera memburunya. Tubuh si iblis kini siap dicacah. Namun, tiba‐tiba tubuh iblis itu melenting ke atas dan mendarat sejauh tiga tombak.


"Hei!" Tiba‐tiba iblis itu membentak.


Suaranya keras menggetarkan hati.


"Mengapa kalian menyerangku dengan ular?!"


Para pendekar yang tengah meluncur ke arahnya, mendadak berhenti dengan wajah bingung. Iblis itu pasti telah gila, karena tidak dapat meloloskan diri dari kepungan mereka. Dan dalam keputusasaannya, jiwa iblis itu pun menjadi terguncang. Demikian pikir para pendekar itu.


Tapi, bukan main terkejutnya para pendekar, ketika memandang ke arah senjata yang mereka genggam. Ternyata di tangan mereka masing‐masing telah tergenggam seekor ular yang mendesis‐desis dengan ganas.


"Hah!?! U... u... ular...!" teriak para pendekar itu. Mereka langsung membuang ular‐ular Itu ke tanah.


Namun, untuk ke sekian kalinya mereka kembali terkejut. Karena ular‐ular yang mereka lemparkan ke tanah, mendadak berubah menjadi senjata‐senjata mereka kembali.


"Eh! Ini... ini ... !" teriak mereka gagap. Dan tidak ada seorang pun dari para pendekar itu yang berani menyentuh senjatanya.


"Ini pasti sihir...!" teriak pendekar Hati Emas.


"Awas! Jangan memandang kearah matanya!" seru Pendekar Pemabuk. Karena ia seringkali menemukan hal‐hal aneh dalam perantauannya, maka ia sedikit mengerti tentang cara menanggulangi ilmu sihir itu.


"Hi hi hi...! Aku adalah seorang raksasa yang besaaar... dan menyeramkan! Dan Aku akan menyantap tubuh kalian satu persatu! Hi hi hi...!" kembali terdengar suara iblis itu yang menggetarkan sukma.

__ADS_1


Dan para pendekar itu kini merasakan jantung mereka seperti copot! Ketika di hadapan mereka, telah berdiri sesosok tubuh yang tinggi besar dan menyeramkan! Matanya yang Iiar dan bersinar kehijauan itu menatap para pendekar yang berdiri dengan kaki gemetar! Betapa tidak? Karena, mimpi seperti ini pun mereka tidak pernah, apalagi menghadapinya secara nyata!


Untunglah Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk langsung mengambil tindakan cepat. Kedua pendekar sakti itu segera mengempos semangatnya untuk menyatukan tenaga sakti mereka. Lalu, terdengar lengkingan tinggi yang merobek angkasa!


Aneh! Tubuh tinggi besar yang menyeramkan itu pun mendadak lenyap dan berubah menjadi sediakala. Bahkan tubuh iblis itu sedikit terdorong ke belakang. Sedangkan dan sela‐sela bibirnya tampak mengalir cairan yang berwarna merah!


Sementara para pendekar lain tersentak kaget oleh suara lengkingan yang menggetarkan jantung itu. Serentak para pendekar itu duduk bersila. Mereka mengerahkan hawa mumi untuk melawan getaran suara itu. Dan dengan sendirinya, pengaruh sihir dari iblis itu pun lenyap.


Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk yang telah menyatukan tenaganya, serentak meluncur ke arah iblis penculik bayi dengan serangan gabungan mereka yang bergemuruh bagai angin topan!


Rupanya iblis itu telah menjadi murka. la bukannya mengelakkan pukulan kedua orang sakti itu, tapi malah membiarkan tubuhnya jadi sasaran. Kedua pendekar sakti itu kaget bukan main! Mereka sama sekali tidak menyangka kalau iblis itu akan melakukan hal yang nekad. Namun, untuk menarik pulang tenaganya, mereka sudah terlambat! Ketika serangan itu hampir mencapai sasaran, tiba‐tiba iblis itu menghentakkan langannya ke depan.


Dhiieess!


Blakkk!


Dhliggg!


Tubuh iblis penculik bayi itu melayang bagai sehelai daun kering. Pukulan kedua orang sakti itu dengan telak menghantam dada dan lambungnya. Tubuhnya bergulingan di atas tanah sejauh lima depa, tetapi kemudian ia bangkit dengan sigapnya. Tidak terlihat luka sedikit pun pada tubuhnya, kecuali rasa ngilu pada dada dan lambungnya.


Sedangkan keadaan Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk lebih parah lagi. Tubuh keduanya terbanting ke tanah disertai semburan darah yang memercik membasahi bumi. Pukulan balasan si iblis yang disertai tenaga dalam penuh itu memang luar biasa sekali. Dada kedua pendekar itu bagai dihantam palu godam yang berat. Sehingga, untuk beberapa saat mereka harus mengatur jalan napas mereka yang terasa sesak.


Tangan Ki Selangkit yang menegang kaku bagai cakar itu berkelebatan mengincar kelemahan di tubuh lawan. Sedangkan pedang dan golok para pendekar lainnya, berdengung bagai lebah‐lebah marah! serangan‐serangan mereka selalu ditujukan ke mata si iblis.


Tentu saja iblis penculik bayi itu menjadi terperanjat Sehingga dalam pertarungan kali ini, ia lebih banyak melindungi kedua matanya yang merupakan kelemahan dari ilmunya itu. Dengan demikian, serangan‐serangannya pun menjadi, berkurang.


Ketika memasuki jurus kelima belas, Ki Selangkit mulai mengubah serangannya. Dengan jurus 'Dewa Menunjukkan Jalan', cakar Ki Selangkit meluncur ke tenggorokan, lawan. Sedangkan kaki kanannya melepaskan tendangan kilat ke perut bagian bawah si iblis. Sementara tangan kirinya, yang berada di sisi pinggang, siap terlontar dengan tiba‐tiba. Sungguh sebuah serangan yang berbahaya!


Namun, Ki Selangkit telah melupakan sesuatu! Ternyata si iblis mempunyai kekebalan tubuh yang sukar ditembus. Itulah sebabnya ketika serangan Ki Selangkit meluncur datang, ia sama sekali tidak menghindar. Malah iblis itu mengulurkan tangannya untuk mencengkeram leher Ki Selangkit, yang menjadi terkejut setengah mati!


Ki Selangkit segera menarik pulang kedua serangannya. Tangan kirinya yang dipersiapkan untuk serangan susulan itu, terpaksa digunakan untuk menangkis cengkeraman ke lehernya. Ki Selangkit memiringkan tubuhnya ke kiri. Sementara tangan kirinya yang terbuka, menepak ke arah pergelangan tangan lawan.


Si iblis yang rupanya sudah memperhitungkan gerakan lawan, secepat kilat menarik pulang cengkeramannya. Dan sekaligus lengan kirinya melayang ke arah kepala Ki Selangkit....


Breeettt!


Tubuh orang tua itu melintir, ketika tangan yang membentuk cakar itu menyambar pipi kanannya. Ki Selangkit berdiri limbung dengan pandangan berkunang‐kunang. Sementara dari luka yang memanjang di pipi kanannya, mengalir darah segar!

__ADS_1


Bersamaan dengan melintirnya tubuh Ki Selangkit, golok di tangan Jarwa meluncur deras membabat tengkuk si iblis dari samping kiri. Sedangkan dari sisi sebelah kanan, pedang dari salah seorang pendekar yang mengeroyoknya berkelebat ke arah dadanya.


Menghadapi kedua serangan yang meluncur datang itu, si iblis tidak menjadi gugup. Dengan sigap, kedua tangannya segera terulur menangkap pergelangan kedua lawannya. Tentu saja kedua penyerang itu menjadi terkejut dan wajah mereka berubah pucat. Dengan sebuah teriakan parau, iblis itu menyentak kedua tangannya. Akibatnya kedua, tubuh lawannya itu tersuruk ke depan. Segera disambutnya dua tubuh itu dengan jari‐jari terbuka yang menusuk ke tenggorokan.


Jreepp! Creeeppp!


"Arrrgghhh……. !"


Dibarengi sebuah jeritan yang panjang, tubuh kedua orang itu tersentak ke belakang Sebentar mereka meregang nyawa lalu diam tidak bergerak. Kedua orang itu tewas dengan tenggorokan berlubang!


Menyaksikan kehebatan iblis itu, para pendekar yang mengeroyoknya serentak mundur. Hati mereka diliputi bermacam perasaan yang berkecamuk. Sedih, marah dan gentar bercampur menjadi satu Sehingga sulit untuk membedakan perasaan apa yang sebenarnya ada di hati mereka saat itu.


Ketika melihat para pengeroyoknya melangkah mundur, tanpa membuang‐buang waktu lagi iblis penculik bayi itu segera melesat meninggalkan arena pertarungan Tubuhnya berkelebatan di antara pepohonan dan atap rumah‐rumah penduduk.


"Kejar...!" tiba‐tiba terdengar sebuah teriakan yang dibarengi dengan berkelebatnya dua sosok tubuh dengan kecepatan yang sukar dikuti mata.


Para pendekar yang masih belum menyadari kejadian itu, menjadi tersentak kaget. Dan tanpa diperintah dua kali, para, pendekar itu berlarian mengejar iblis penculik bayi yang melarikan diri.


lblis itu semakin mempercepat larinya ketika melihat para pendekar itu telah pula mengejarnya. Tubuhnya melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busur. Dan dalam waktu yang singkat saja, para pendekar itu tertinggal jauh di belakang.


Memang kalau dalam hal ilmu meringankan tubuh, sulit sekali rasanya untuk dapat menandingi kecepatannya. Karena ilmu meringankan tubuhnya benar‐benar sangat hebat, dan jarang dimiliki tokoh dunia persilatan.


Dua sosok bayangan yang berteriak tadi, tak lain adalah Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk Kedua orang sakti itu pun masih tak mampu juga menandingi kecepatan si iblis. Padahal mereka telah mengerahkan seluruh kemampuan meringankan tubuh mereka. Namun, jarak antara mereka dengan si iblis tetap saja tidak berubah.


"Huh! Tidak kusangka, ilmu meringankan tubuh iblis itu hebat sekali!" ujar Pendekar Pemabuk antara dengusan napasnya yang mulai memburu.


"Ya! Benar‐benar di luar dugaan kita!" jawab Pendekar Hati Emas menimpali.


Akhirnya, kedua orang pendekar sakti itu hanya dapat membayangi si iblis dari kejauhan. Sedangkan para pendekar lainnya telah tertinggal jauh di belakang.


lblis penculik bayi terus berlari melewati perbatasan Desa Ganjar. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi itu, ia berlari di atas pematang‐pematang sawah tanpa mengalami kesukaran sedikit pun.


Setelah cukup lama mereka berkejaran, Pendekar Hati Emas dan Pendekar Pemabuk sempat melihat iblis itu memasuki sebuah hutan lebat yang membentang di hadapan mereka. Kedua orang sakti itu ikut pula memasuki hutan itu. Namun ketika tiba pada sebuah daerah perbukitan, kedua orang Sakti itu telah kehilangan buruannya. Iblis penculik bayi itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Hilang bagai ditelan bumi!


"Aneh! Ke mana larinya iblis kepa rat itu ... !' gerutu Pendekar Pemabuk dengan perasaan jengkel.


"Entahlah! Tapi yang jelas, ia menghilang di sekitar bukit‐bukit ini!" ujar Pendekar Hati Emas pula.

__ADS_1


Kemudian kedua orang pendekar sakti itu segera memeriksa semak‐semak di sekitar tempat itu. Mereka menduga ada sebuah jalan rahasia yang telah dipergunakan iblis tersebut. Namun, hingga para pendekar lainnya tiba, belum juga ditemukan jalan yang mereka cari.


__ADS_2