
Cahaya kemerahan mulai tampak di ufuk Barat. Para pendekar yang menanti di Kaki Bukit Iblis mulai dicekam kecemasan! Mereka mulai gelisah, karena kesepuluh orang pendekar yang ditugaskan untuk menyelidiki keadaan di Bukit iblis belum juga kembali.
Kalingga yang dipercayakan untuk memimpin teman‐temannya, tampak gelisah sekali. la berjalan mondar‐mandir sambil menggendong tangannya ke belakang. Sebentar‐sebentar Kalingga berhenti dan perhatikan jalan tempat kesepuluh kawannya mulai mendaki tadi. Beberapa kali dihapus butir‐butir keringat yang membasahi dahinya.
Para pendekar yang lain pun tidak kalah gelisahnya. Mereka mulai mengkhawatirkan keselamatan rombongan yang dipimpin Pendekar Tangan Baja itu. Berbagai dugaan memenuhi pikiran mereka. Memang, para pendekar itu telah juga mengetahui betapa banyaknya bahaya yang mengincar di daerah Bukit Ibis itu.
"Kakang Kalingga, apakah tidak sebaiknya beberapa orang di antara kita menyusul mereka?" usul salah seorang pendekar. Dia memang sudah tidak sabar menantikan kesepuluh orang teman mereka.
“Betul, Kakang! Kami khawatir, jangan‐jangan mereka dalam bahaya!" ujar salah seorang lainnya, menimpali usul tadi.
"Sabarlah, kawan‐kawan! Aku percaya akan kepandaian maupun pengalaman yang dimiliki oleh Pendekar Tangan Baja. Jadi, biarlah kita tunggu beberapa saat lagi!" pinta Kalingga kepada kawan-kawannya.
Padahal sesungguhnya dia juga mulai curiga atas keterlambatan kesepuluh orang pendekar itu. Namun semua itu tidak ingin ditunjukkannya di hadapan para pendekar yang juga sedang dilanda kegelisahan itu.
"Tapi, Kakang! Kalau hari sudah muiai gelap, bukankah mereka akan mengalami kesulitan untuk keluar dari tempat itu? Sedangkan mereka sama sekali tidak membawa obor, untuk menyusuri jalan yang akan mereka lalui!" bantah seorang pendekar lainnya lagi.
”Hm…..,baiklah. Kalau memang itu sudah kesepakatan kalian. Ayo, kita berangkat. Bawalah beberapa buah obor untuk menandai jalan‐jalan yang kita lalui. Dan sebagian dari kalian, tetaplah berjaga jaga di sini!" tutur Kalingga yang akhirnya menyetujui usul kawan‐kawannya itu.
"He he he! Tidak harus begitu, Kalingga! Kau harus tetap tinggal di sini!" tiba‐tiba terdengar sebuah suara yang membuat semua yang ada di situ terkejut.
Serentak semuanya menoleh ke arah asal suara itu. Sementara di tangan mereka masing‐masing telah tergenggam senjata yang siap dihantamkan.
Untuk beberapa saat lamanya para pendekar itu menjadi tertegun melihat si pemilik suara tadi tengah menghampiri mereka dengan langkah yang terhuyung‐huyung bagai orang mabuk. Sesekali orang itu berhenti, seraya menuangkan arak dari dalam sebuah guci yang tergenggam di tangan kanannya. Terdengar suara tegukan, ketika arak melewati tenggorokannya.
"Pendekar Pemabuk!" seru Kalingga dan beberapa orang pendekar yang sudah pernah berjumpa dengan pendekar itu sebelumnya.
Wajah mereka yang semula diliputi ketegangan, mendadak cerah. Karena, dengan kehadiran pendekar konyol itu, berarti mereka akan memperoleh tambahan tenaga yang dapat diandalkan.
Kalingga yang sudah mengenal Pendekar Pemabuk dengan baik, segera menyambut dan menyalaminya. Wajahnya berseri‐seri gembira. Kedatangan pendekar yang terkenal berwatak jenaka itu, benar‐benar melegakan hatinya. Jelas pada saat ini pengalaman maupun nasihat pendekar itu sangatlah diperlukan.
"He he he.... Apa khabar, Kalingga? Sudah lama sekali kita tidak jumpa! Oh, ya. Bagaimana keadaan gurumu? Apakah baik‐baik saja?" berondong Pendekar Pemabuk dengan pertanyaan begitu ia tiba di depan Kalingga.
Mendengar pertanyaan Pendekar Pemabuk yang bagai air bah itu, Kalingga hanya tersenyum‐senyum. Ditatapnya Pendekar Pemabuk yang tengah menuangkan arak ke dalam mulutnya. Pendekar Pemabuk segera menurunkan guci araknya, ketika tidak didengarnya jawaban Kalingga.
"Eh! Mengapa engkau diam, Kalingga? Apakah pertanyaanku ada yang aneh?" tanya Pendekar Pemabuk. Wajahnya diliputi keheranan.
"Ha ha ha.... Bagaimana aku harus menjawabnya, Kakang? Pertanyaanmu begitu banyak! Jadi, mana yang harus kujawab lebih dulu?" ujar Kalingga yang menjadi geli ketika melihat pendekar kocak itu memandang penuh ketololan.
"Eh! Apa betul begitu?" tanya Pendekar Pemabuk sambil memandang ke sekelilingnya, seolah‐olah meminta kepastian dari para pendekar lain.
"Ah! Sudahlah..., sudahlah ... !" katanya lagi dengan goyangan tangan berkali‐kali.
"Eh, Kakang! Apakah maksud kata‐kata Kakang yang menyuruhku tetap tinggal di sini?" tanya Kalingga mengalihkan persoalan. Memang, dia masih belum mengerti maksud kata‐kata Pendekar Pemabuk itu.
"Oh, ya...! Mengapa aku sampai lupa tujuanku semula?" ujar Pendekar Pemabuk sambil menepuk dahinya sendiri.
"Tujuan? Tujuan apa yang Kakang maksudkan?" tanya Kalingga yang semakin tak mengerti.
__ADS_1
"Begini, Kalingga!" ujarnya mantap.
"Ketika tiba di tempat ini, aku mendengar kalian hendak menyusul kawan‐kawan yang hingga kini belum kembali dari Bukit lblis. Mendengar hal itu, aku menjadi tertarik! Lalu, kuputuskan untuk ikut dengan kalian. Itu pun kalau kalian tidak keberatan!"
"Ah! Kakang ini ada‐ada saja! Mana mungkin kami akan keberatan? Malah kami akan berterima kasih sekali apabila Kakang bersedia ikut membantu!" jawab Kalingga sungguh‐sungguh.
"Betul, Ki! Kami betul‐betul membutuhkan bantuan!" timpal beberapa orang pendekar lainnya.
"Hm.... Siapakah yang memimpin pendakian sebelumnya itu?" tanya Pendekar Pemabuk kepada Kalingga.
"Yang memimpin adalah Ki Teja Laksana, Kakang!" jawab Kalingga.
"Ki Teja Laksana?! Maksudmu Ki Teja Laksana yang berjuluk Pendekar Tangan Baja itu?" tanya Pendekar Pemabuk menegaskan.
“Betul, Kakang! Siapa lagi yang mempunyai julukan Pendekar Tangan Baja kalau bukan Ki Teja Laksana?!" jawab Kalingga dengan nada bangga.
"Hm.... Kalau begitu, pasti terjadi apa‐apa dengan mereka!" gumam Pendekar Pemabuk pelahan.
"Eh! Mengapa Kakang berpikir begitu?" tanya Kalingga. Dia memang tengah mengkhawatirkan keselamatan kesepuluh kawannya itu.
"Ya! Sebab aku kenal betul sifat Pendekar Tangan Baja. Dia itu seorang pendekar yang selalu menepati janjinya," Jelas Pendekar Pemabuk sambil memandang lawan bicaranya.
"Jadi, menurut Kakang...?" tanya Kalingga. la memang tidak ingin berpikir yang bukan‐bukan tentang kawan kawannya itu.
"Hm..., begini, saja! Kau tetap saja di sini, Kalingga! Biar aku dan beberapa orang pendekar lainnya yang pergi menyusul mereka," tegas Pendekar Pemabuk.
"Sudahlah! Bukankah engkau ditugaskan oleh Pendekar Tangan Baja untuk menunggu di sini? Nah, laksanakanlah tugasmu dengan baik!" potong Pendekar Pemabuk cepat. Lalu la pun segera mengajak beberapa orang pendekar untuk segera mengadakan pencarian.
"Cepatlah! Hari sudah mulai gelap!" ujar Pendekar Pemabuk.
Beberapa saat kemudian, Pendekar Pemabuk yang ditemani dua belas orang pendekar lainnya itu pun mulai mendaki Bukit iblis. Dengan diterangi delapan buah obor, mereka berjalan menerobos semak belukar yang menghalangi jalan. Selang beberapa waktu kemudian, mereka mulai melintasi jalan yang tertutup pohon‐pohon besar. Sehingga tempat itu lebih gelap daripada tempat‐tempat lainnya.
"Mulai dari sini, obor‐obor harus ditinggalkan dengan jarak tertentu, agar tidak kehilangan arah pulang!" ujar Pendekar Pemabuk.
Dia mulai merasakan keanehan pada tempat di sekitarnya. Kecurigaannya mulai timbul ketika melihat bentuk semak semak setinggi tiga tombak lebih itu.
Tanpa banyak bertanya, para pendekar itu pun mulai meninggalkan obor‐obornya satu persatu, dan ditancapkan pada tempat yang agak tinggi. Ini berguna untuk dapat melihat dari kejauhan. Dengan demikian mereka tidak akan tersesat, dan mudah menemukan jalan melalui sinar obor itu.
Tiba‐tiba Pendekar Pemabuk yang berjalan di depan itu, mengangkat tangan kanannya ke atas. Melihat isyarat itu, para pendekar yang berada di belakangnya serentak menghentikan langkah.
"Ada apa, Ki...?" bisik seorang pendekar yang berada tepat di belakangnya. Suaranya sedikit tegang.
Pendekar Pemabuk tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi malah menoleh dan tersenyum sambil menepuk‐nepuk bahu pendekar itu.
"Coba kemarikan obor itu!" pinta Pendekar Pemabuk kepada salah seorang dari mereka yang masih memegang obor.
"Kalian tetaplah di sini!" perintahnya lagi dengan suara pelahan.
__ADS_1
Sambil memegang obor di tangan kirinya, Pendekar Pemabuk segera melangkah hati‐hati. Tenaga saktinya telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dipertajam indra pendengarannya, sehingga suara yang kecil sekalipun telah cukup, untuk membuatnya berbalik dengan kesiagaan penuh.
Sementara kedua belas orang pendekar lainnya, tetap siaga di tempat. Mereka, menanti dengan wajah tegang! Tangan‐tangan mereka telah meraba gagang senjata masing‐masing, dan siap melindungi Pendekar Pemabuk apabila terjadi sesuatu.
Di tempat lain, Pendekar Pemabuk telah menghentikan langkahnya. la berdiri di tengah jalan dengan kaki terpentang. Ditengadahkan kepalanya ke atas. Dan tiba‐tiba terdengar siulan dari mulutnya. Mula‐mula siulan itu terdengar pelahan, namun makin lama semakin keras. Iramanya pun terdengar aneh! Secara pelahan lahan suara siulan itu mulai menyelusup semak belukar. Hembusan angin membawa siulan itu hingga memenuhi daerah sekitarnya.
*
Sementara itu, Pendekar Tangan Baja dan Jalung yang masih sibuk merambas semak belukar sejenak menghentikan gerakannya. Kedua orang itu segera menelengkan kepalanya sedikit untuk memperjelas pendengaran mereka. Setelah mendengar jelas, tiba‐tiba paras Pendekar Tangan Baja berubah cerah!
Sudah dikenalnya betul suara siulan yang bernada aneh itu. Sekilas, terbersit secercah harapan di hati Pendekar Tangan Baja. Segera digenggamnya tangan Jalung erat‐erat. Laki‐laki itu masih belum mengetahui apa yang membuat Pendekar Tangan Baja kelihatan begitu gembira.
"Suara apakah itu, Ki? Mengapa Ki Teja begitu gembira mendengarnya?" tanya Jalung heran.
"Sudahlah! Mari ikuti aku! Dan jangan banyak tanya!" ujar Pendekar Tangan Baja gembira.
Sambil melangkah pelahan, Pendekar Tangan Baja mengerahkan tenaganya Ialu menyalurkannya melalui kerongkongannya, Tidak lama kemudian, terdengarlah lengkingan halus yang menyambut suara siulan Pendekar Pemabuk tadi.
Di tempat lain, Pendekar Pemabuk yang mendengar suara lengkingan itu menjadi berseri wajahnya Sambil meneruskan siulannya, Pendekar Pemabuk menggerakkan tangannya ke depan sebagai isyarat agar kawan‐kawannya datang mendekat. Dengan sigap, kedua belas orang pendekar itu pun segera menghambur kearahnya.
"Angkat ketiga obor itu tinggi‐tinggi!" perintah Pendekar Pemabuk.
Tiga orang pendekar yang membawa obor itu seperti tidak mengerti, namun dituruti juga perintah pendekar itu.
Secara samar‐samar, kedua belas orang pendekar itu mulai mendengar lengkingan halus berkepanjangan. Serentak mereka saling pandang satu sama lain, lalu saling menggeleng tanda tidak mengerti. Pendekar Pemabuk sengaja tidak memberitahu kawan‐kawannya. Hal ini dilakukan agar tidak memancing keramaian yang dapat mengundang perhatian Dedemit Bukit Iblis.
Makin lama suara lengkingan dan siulan itu pun semakin dekat jaraknya. Sedangkan pancaran sinar obor yang membias di antara semak belukar itu, semakin menambah keyakinan pendekar Tangan Baja. Kedua orang pendekar itu pun semakin mempercepat langkahnya. Dengan berpedoman cahaya itu, mereka segera menyusuri jalan yang berliku‐liku. Suara siulan yang dikeluarkan Pendekar Pemabuk tidak iagi segencar semula, Dan kini suara siulan itu hanya sekali‐sekali terdengar.
"Ayo! Tiga orang ikut denganku. Dan yang lainnya tetap tinggal di sini!" ujar Pendekar Pemabuk sambil melangkah meninggalkan kawan‐kawannya.
Dengan diterangi cahaya obor yang dibawa salah seorang dari mereka, keempat orang pendekar itu pun melangkah hati‐hati. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba‐tiba dari segerombol semak belukar, melompat dua sosok bayangan dengan gerakan gesit.
Cepat bagai kilat keempat orang pendekar itu langsung menggeser kakinya membuat posisi kuda‐kuda. Bahkan tiga orang yang menemani Pendekar Pemabuk sudah pula menghunus pedangnya!
"Kakang Teja! Kaukah itu...?" sapa Pendekar Pemabuk yang lebih dahulu dapat menguasai keadaan.
"Benar! Akulah adanya, Adi Panggal!" jawab salah satu dari bayangan itu.
Pendekar Pemabuk yang dipanggil Panggal itu segera menyalami dua sosok bayangan yang tak lain adalah Ki Teja Laksana dan Jalung. Mereka pun saling berpelukan erat, dan saling menyapa dengan wajah gembira.
Pendekar Tangan Baja dan Pendekar Pemabuk adalah merupakan dua orang sahabat lama. Mereka sama‐sama pernah berguru pada seorang pertapa sakti selama satu tahun lamanya. Maka tidaklah heran apabila kedua orang pendekar Itu, telah mengenal baik satu sama lain.
"Kakang Teja, bukankah kalian berjumlah sepuluh orang? Ke manakah para pendekar yang lainnya?” tanya Pendekar Pemabuk ketika melihat Ki Teja Laksana, hanya datang bersama seorang pendekar yang bernama Jalung.
"Huh! Panjang sekali ceritanya, Adi! Nantilah kuceritakan! Sekarang lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepatnya! Ayo!" ajak Pendekar Tangan Baja.
"Baiklah, Kakang! Mari...," ujar Pendekar Pemabuk yang ingin segera mendengar cerita Pendekar Tangan Baja itu.
__ADS_1
Dengan diterangi oleh cahaya obor, para pendekar itu pun bergegas meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kelima belas orang pendekar itu dengan mudah dapat keluar dari tempat itu, karena berpedoman obor‐obor yang telah ditinggalkan sepanjang jalan.