
Bersamaan dengan tewasnya Paksi Buana, Soga murid utama dari Padepokan Naga Terbang itu, mulai terdesak oleh serangan-serangan lawannya yang makin lama semakin ganas.
Sampai pada suatu kesempatan Sudra melepaskan empat buah golok terbangnya. Dua dari serangan golok itu berhasil disampok oleh sabetan pedang Soga. Tapi sayang dua golok lainnya sulit untuk dihindarinya. Dan....
"Aaakh...!"
Suara jeritan menyayat terdengar dari mulut Soga. Tubuhnya terjungkal ketika golok itu menancap di ulu hati dan lehernya. Soga meregang nyawa sebentar lalu diam tak bergerak lagi. Tewas!
Di tempat lain, pertarungan antara para pengikut Tiga Iblis Gunung Tandur menghadapi murid-murid Padepokan Naga Terbang pun telah mendekati penyelesaian. Dan berbareng dengan tewasnya Soga, tewas pulalah murid terakhir dari Padepokan Naga Terbang.
Dari arah Utara, tiba-tiba berlari sosok tubuh ramping ke arah pertempuran itu. Semua orang yang ada di situ, sama-sekali tak menyadarinya. Sosok tubuh yang ternyata wanita itu menghambur dan menubruk jasad Paksi Buana yang telah kaku. Dari bibirnya yang terisak, keluar gumaman lirih.
"Kakang... oh, Kakang.... Apa yang terjadi?" Desah wanita itu di antara isak tangisnya yang memilukan hati.
Sudra begitu terkejut karena ada sosok wanita sudah berada di dekatnya. Mata wanita yang indah itu menatap tajam memancarkan kemarahan ke arah Sudra. Orang termuda dari Tiga Iblis Gunung Tandur itu, tanpa sadar melangkah mundur. Hatinya tergetar juga melihat sinar mata yang mengerikan itu.
"Gila! Kepandaian wanita ini rasanya tidak berada di bawah kepandaian murid utama si Naga Sakti!" Gumam Sudra lirih.
Wanita yang ternyata bernama Rara Ampel, terus menatap tajam ke arah Sudra. Dia adalah istri Paksi Buana, yang semenjak pagi telah pergi ke Desa Lamping untuk mengobati orang yang sedang sakit keras. Desa itu terletak tidak jauh dari Desa Karang Jati. Kepala Desa Lamping telah meminta pertolongannya, karena anaknya sakit keras. Selain pandai ilmu silat, Rara Ampel pun pandai dalam ilmu pengobatan. Jarak antara Desa Karang Jati ke Desa Lamping, memakan waktu setengah hari perjalanan. la berangkat ke desa itu bersama putranya dan orang kepercayaannya. Oleh karena itulah pada saat kejadian dia tidak ada di rumah.
Rara Ampel pelahan-Iahan bangkit berdiri. Bahkan kini telah mengeluarkan senjatanya berupa selendang berwarna merah.
"Mam puslah kau, i blis!" teriak Rara Ampel.
Tubuhnya melesat menerjang Sudra dengan kemarahan yang meluap-luap. Dalam dunia persilatan nama Rara Ampel bukanlah nama kosong. Dia berjuluk Dewi Selendang Merah. Tidak heran jika serangannya pun tak dapat dianggap main-main.
Kini selendang merahnya meliuk-liuk bagaikan seekor ular yang menari-nari. Bahkan kadang-kadang berubah menjadi beberapa buah. Setiap ujungnya selalu mengarah ke jalan darah yang berbahaya. Dan kini satu sabetan selendangnya hampir menyentuh tubuh Sudra. Kelihatannya, laki-laki itu tak mampu berkelit.
__ADS_1
Sebelum ujung selendang merah itu menyentuh tubuh Sudra, sebuah bayangan berkelebat menyambut serangan tersebut Terdengarlah letupan-letupan yang sangat nyaring.
Plak! Plak!
"Aiiih!"
Tubuh Rara Ampel terdorong, hampir jatuh. Tulang lengan kanannya terasa nyeri seperti remuk akibat tangkisan lawan yang sangat kuat.
Bayangan hitam yang ternyata adalah Lodra itu berdiri tegak di depan Rara Ampel. Jarak keduanya kurang lebih dua tombak.
"He he he..., Manis! Ayo kita bermain-main sebentar, sebelum bersenang-senang!" Kata Lodra sambil tertawa yang menimbulkan gema. Seolah-olah ingin memamerkan kekuatan tenaga dalamnya.
Beberapa orang yang berada di dekatnya, terjatuh sambil menekan dadanya yang terasa berguncang karena pengarur suara tawa itu.
Sementara Rara Ampel merasakan tubuhnya gemetar hebat. Cepat cepat dikerahkan tenaga dalamnya untuk menahan suara tawa itu.
Tanpa disadari, sepasang mata Lodra secara liar melahap wajah dan tubuhnya dengan seringai buas. Kecantikan Rara Ampel telah membangkitkan nafsu yang menggelegak dalam diri Lodra.
Menyadari adanya tatapan liar itu, merah padamlah seluruh wajah Rara Ampel. Bahkan kini tubuhnya bergidik, melihat mata yang buas Itu. Dia segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Rara Ampel menggerakkan selendang merahnya sehingga seperti bergelombang bagaikan seekor naga yang bermain di angkasa. Tiap hentakan selendangnya menghasilkan ledakan-ledakan yang menusuk telinga.
Ctarrr! Ctarrr!
Lodra yang menghadapi serangan itu, hanya tersenyum dingin. Segera dikeluarkan ilmu andalannya yaitu jurus "Sepasang Tangan Pengacau Lautan' yang merupakan rangkaian kedua dari jurus 'Tangan Maut'. Udara dingin berhembus keras, kerika Lodra menggerakkan tangannya. Mereka yang tidak memlliki tenaga dalam yang kuat tidak akan mampu bertahan terhadap udara dingin yang terpancar dari tubuh Lodra.
Dan, tanpa diduga sama sekali, selendang Rara Ampel terpental balik terdorong hembusan angin dingin tersebut. Rara Ampel begitu terkejut. Dan belum sempat hilang rasa terkejutnya, Lodra sudah menerjang dengan totokan-totokan yang mengarah ke jalan darah di tubuh Rara Ampel.
Menyadari bahaya yang mengancam dirinya, Rara Ampel menggeser tubuhnya ke kiri, sambil melepaskan tendangan lewat jurus 'Sang Dewi Menggeliat'. Tidak berhenti sampai disitu, Rara Ampel pun menyabetkan selendangnya ke pelipis lawan. Sungguh sebuah serangan yang berbahaya!
__ADS_1
Lodra yang berjuluk Iblis Tangan Maut ini memang bukan tokoh sembarangan. Serangan itu tidak membuatnya panik. Dengan satu egosan yang indah, ditekuk kaki kanannya membuat kuda-kuda yang rendah. Sementara tangan kirinya memapak tendangan itu, sedangkan tangan kanannya menepis selendang yang mengarah pelipisnya itu.
Rara Ampel segera menarik kembali serangannya. Tapi, belum lagi sempat memperbaiki posisi, bayangan Lodra telah meluncur ke arahnya.
Tuk! Tuk!
Kejadian itu berlangsung hanya dalam sekejap mata. Kini tubuh Rara Ampel telah tertotok lumpuh dalam pelukan Lodra. Si Iblis Tangan Maut atau Lodra, tertawa terbahak-bahak. Dipondongnya tubuh wanita itu ke dalam Padepokan Naga Terbang. Sesekali tangannya mengelus pinggul Rara Ampel.
"Se taaan! Ib lis cabul! Mau kau bawa ke mana aku? Lepaskan! Lepaskan! Bunuh saja aku, ib lis!" Rara Ampel berteriak-teriak. Dia sadar sesuatu yang lebih mengerikan akan menimpa dirinya.
Sementara Lodra yang sudah berada di dalam kamar di salah satu rumah Padepokan Naga Terbang, meletakkan tubuh molek itu di atas pembaringan. Pakaian yang menutupi tubuh Rara Ampel direnggutnya secara paksa. Kini tampaklah kulit tubuhnya yang putih dan halus itu.
Rara Ampel benar-benar tanpa benang sehelai pun. Lodra dengan leluasa melampiaskan nafsu ib lisnya, di antara jerit tangis wanita malang itu.
Puas melepas nafsu binatangnya, Lodra melangkah keluar dengan senyum yang hampir mirip seringai serigala. Badra dan Sudra pun tak mau ketinggalan. Secara bergantian tubuh molek itu dinikmati bersama.
Setelah puas mempermainkan wanita malang itu, mereka pun membunuhnya secara keji! Tubuh telan jang itu menggeletak dengan kepala pecah!
Setelah menguras seluruh harta kekayaan yang ada di dalam padepokan itu, mereka lalu membakar semua bangunan yang ada.
"Periksa seluruh sudut bangunan ini! Kita harus menemukan anak Paksi Buana. Cari sampai dapat!" Perintah Lodra pada seluruh anak muridnya dengan suara garang.
Sementara di tempat yang agak jauh dan tersembunyi, dua pasang mata yang menyaksikan kejadian itu tak mampu berbuat apa-apa. Mereka tersentak kaget setelah mendengar perintah Lodra. Bergegas mereka menjauhi tempat itu, karena memang ditujukan untuk mereka.
Para murid Tiga Iblis Gunung Tandur menyebar ke seluruh wilayah luar padepokan. Tapi sudah tidak menemukan apa-apa lagi! Karena kedua orang yang dimaksudkan sudah pergi meninggalkan tempat berdarah itu.
Sementara malam kian larut. Awan hitam membawa titik-titik air, membuat cuaca malam semakin bertambah pekat. Samar-samar mulai terlihat titik-titik air yang mulai berjatuhan menyirami bumi. Seakan-akan ikut berduka cita atas peristiwa berdarah Itu.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, dua sosok tubuh tergesa-gesa berlari-lari men-jauhi tempat itu. Siapakah mereka?