
"Hei, Bocah! Sungguh besar nyalimu mempermainkan Sepasang Harimau Terbang! Apakah kau sudah bosan hidup? Hah!!" Bentak Lukita dengan tidak kalah bengisnya.
Panji terkejut juga melihat kemunculan mereka yang tidak disangka-sangka itu. Sehingga untuk beberapa saat lamanya hanya terpaku di tempatnya. Sementara ketiga orang wanita itu sudah saling berangkulan dengan wajah pucat!
"Anak-anak! Serbuuu...!" Lujita berteriak garang.
Pemuda berjubah putih itu, tersentak kaget. Segera diperintahkan agar ketiga gadis itu menepi. Dengan gerakan yang indah, pemuda yang bemama Panji itu mengegoskan tubuhnya menghindari sabetan pedang yang mengarah ke lehernya. Tidak sampai di situ saja, ternyata senjata-senjata lainnya juga ingin merencah tubuh Panji. Namun pemuda itu dengan lincah berkelit kesana kemari menghindari serangan yang serentak itu.
Tapi sayang, yang dihadapi kali ini adalah pemuda yang menjadi murid kesayangan si Malaikat Petir. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk dapat melukainya! Serangan-serangan anak buah Sepasang Harimau Terbang yang berjumlah kurang lebih lima belas orang itu, dapat dihadapi Panji dengan mudah. Sampai sejauh ini, pemuda itu sama sekali belum balas menyerang. Dia masih saja mengelak kesana dan kemari untuk menghindari ancamam ujung senjata-senjata lawannya.
Tentu saja hal ini membuat para pengeroyoknya menjadi semakin marah, bahkan makin memperhebat serangan-serangannya.
Melihat kelincahan pemuda berjubah putih itu, Sepasang Harimau Terbang yang berdiri di luar arena menjadi geram sekali. Dengan satu teriakan nyaring, tubuh keduanya segera melayang ke arah Panji.
Pemuda itu segera memalingkan wajahnya ketika mendengar desiran angin tajam yang mengarah kepadanya. Sambil merundukkan tubuhnya, kedua tangan Panji berbalik memapak serangan yang berbahaya itu.
Plak! Plak!
Terdengar suara nyaring ketika kedua pasang lengan Sepasang Harimau Terbang bertemu telapak tangan Panji.
Tubuh Lujita dan Lukita terdorong mundur sejauh lima langkah. Kedua tangan mereka terasa linu, ketika bertemu dengan telapak tangan pemuda berjubah putih itu. Padahal Panji hanya mempergunakan separuh dari tenaganya.
"Gila! Tenaga dalam pemuda ini ternyata sangat hebat!" dengus Lukita, orang termuda dari Sepasang Harimau Terbang.
"Ah! Tentu saja! Posisinya lebih menguntungkan, Adi Lukita!" Bantah Lujita gusar.
Kali ini Sepasang Harimau Terbang tidak ingin main-main lagi. Segera dikeluarkan ilmu andalan yang telah membuat nama mereka terkenal, yaitu ilmu 'Cakar Harimau'. Kedua pasang telapak tangan mereka membentuk cakar yang kekar dan kaku. Mereka kini mengurung tubuh Panji dengan serangan-serangan yang mematikan.
Akan tetapi yang mereka serang kali ini adalah Panji! Murid kesayangan Eyang Tirta Yasa, si Malaikat Petir yang memiliki kesaktian tidak terukur, sehingga betapapun Sepasang Harimau Terbang itu mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya dan menyerang pemuda berbaju putih itu kalang kabut, Panji dengan tenangnya dapat mengelakkan semua serangan mereka.
Betapa berangnya hati Sepasang Harimau Terbang itu! Sebab telah hampir dua puluh jurus mereka melancarkan serangan, tapi tak ada satu pukulan pun yang menyentuh tubuh pemuda itu. Padahal, mereka masih dibantu oleh lima belas orang pengikut mereka.
"Hm.... Rupanya kalian tidak bisa dikasih hati! Kalau kalian ingin cepat-cepat mati, baiklah!" Dengus Panji yang akhirnya mulai jengkel. Melihat sikap lawan yang terus mendesaknya tanpa mempedulikan sikapnya yang telah banyak mengalah.
"Bocah sombong! Tutup mulutmu! Ayo, kita buktikan, siapa yang lebih cepat masuk ke lubang kubur!" Bentak Lujita dengan wajah merah padam.
"Baiklah, lihat serangan!" Seru Panji.
__ADS_1
Sehabis berkata demikian, Panji pun mengeluarkan ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Sebuah ilmu yang tidak ada keduanya di dunia persilatan. Pelahan-lahan di sekujur tubuh Panji mulai diselimuti oleh sinar putih keperakan. Berbareng dengan itu, udara di sekitar tempat itu pun mulai terasa dingin. Semakin lama semakin dingin. Sehingga beberapa pengikut Sepasang Harimau Terbang menjadi menggigil kedinginan. Itulah salah satu keistimewaan ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang dikerahkan Panji.
Diiringi dengan pekik keras mirip suara seekor naga yang sedang murka, tubuh Panji melesat. Pemuda ini mulai balas menyerang. Kali ini Panji tidak ragu-ragu lagi. Dikeluarkannya ilmu 'Naga Sakti'. Angin yang berhembus membawa hawa dingin menggigilkan menyertai setiap serangan itu. Akibatnya hebat sekali! Belum juga serangan Panji tiba, satu persatu tubuh para pengikut Sepasang Harimau Terbang itu terlempar keluar arena. Tubuh mereka bergulingan di tanah sambil memeluk erat-erat tubuhnya yang menggigil. Gigi-gigi mereka bergemeletuk menahan sera-ngan hawa dingin yang amat dahsyat!
Hanya Lukita dan Lujita yang tidak begitu terpengaruh. Sungguhpun demikian, mereka pun tidak luput dari serangan hawa dingin yang menyebar keluar dari tubuh dan setiap serangan Panji. Sepasang Harimau Terbang ini diam-diam terkejut bukan main. Sungguh tidak disangka kalau lawan yang masih muda ini mempunyai kepandaian begitu hebat!
Diam-diam Panji terkejut juga melihat akibat dari ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang dikerahkannya. Untunglah tadi, ia hanya mengerahkan separuh dari tenaganya. Tidak dapat ia membayangkan kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya.
"Bocah se tan! Ayo lawan aku!" Lukita berteriak-teriak mema ki lawannya.
"Ha ha ha.... Jangan berteriak-teriak, harimau ompong! Bukankah kau yang memintanya?" Seru Panji sambil tertawa menge jek.
Dengan hati terbakar, Lujita melancarkan serangan secara beruntun. Kedua tangannya yang berbentuk cakar itu, meluncur deras ke arah pusar dan mata Panji. Sementara dari arah belakang, kedua cakar Lukita mencengkeram ke arah lambung pemuda itu. Sungguh sebuah serangan yang berbahaya. Jangankan tubuh manusia, bahkan batu karang pun pasti hancur terkena cengkeraman Sepasang Harimau Terbang itu.
Pada saat kedua serangan itu hampir mencengkeram tubuhnya, Panji menggeser kaki kanannya membentuk setengah lingkaran. Kedua tangannya bergerak secara berlawanan, guna mematahkan serangan Lujita. Dengan cara demikian, ia pun juga telah berhasil menghindari serangan ke arah lambungnya yang dilancarkan Lukita. Tidak hanya sampai di situ saja! Sepasang tangan pemuda itu langsung meluncur ke arah dada dan perut Lujita!
Namun, Lujita bukanlah tokoh sembarangan. Dia adalah perampok ulung yang sudah delapan tahun malang melintang dalam dunia persilatan. Makanya, dalam keadaan yang berbahaya itu pun segera dimiringkan tubuhnya. Hasilnya, serangan Panji lewat hanya beberapa senti di depan dadanya.
Tapi orang tertua dari Sepasang Harimau Terbang itu salah duga apabila sudah merasa terbebas dari serangan lawannya. Karena berbarengan dengan gerakannya itu, Panji telah melepaskan tendangan kilat ke arah pelipis Lujita! Lujita tercekat melihat serangan yang tidak terduga itu, Dengan cepat segera dimiringkan tubuhnya ke kanan!
Desss!
Panji berniat mengirimkan kembali tendangannya. Tapi niatnya segera diurungkan karena telinganya menangkap desiran angin tajam di belakangnya. Ternyata Lukita ingin mengambil kesempatan selagi Panji mendesak Lujita dengan serangan beruntun.
Serangan Lukita yang menimbulkan desir angin tajam itu, untuk beberapa saat dapat menyelamatkan jiwa saudaranya dari kematian. Tapi, Panji yang memang sudah merasa muak dengan kelakuan mereka tidak mau tanggung-tanggung lagi Segera dibalasnya serangan Lukita dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Tentu saja Lukita menjadi kalang kabut menerima serangan balasan dari pemuda itu. Laki-laki saudara Lujita itu menghindari serangan-serangan yang dahsyat dan berbahaya.
Sementara itu, Lujita yang masih terkapar akibat tendangan Panji tadi, berusaha untuk bangkit berdiri. Dicobanya mengusir hawa dingin yang mengeram dalam tubuhnya, dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Beberapa saat kemudian, Lujita sudah mampu tegak berdiri. Di tangan kanannya tergenggam sebatang golok besar.
"Aaakh...!" Terdengar sebuah jeritan yang panjang dari tengah arena pertempuran.
Rupanya, Lukita yang sudah terdesak oleh Panji itu, tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Sebuah serangan yang dilakukan oleh pemuda itu dalam rangkaian ilmu 'Naga Sakti' itu, bersarang dengan telak dada Lukita! Tubuh Lukita terhempas bagai sebra daun kering yang tertiup angin. Dari mulutnya mengalir darah kental. Orang termuda Sepasang Harimau Terbang itu, tewas seketika dengan dada terobek lebar!
Bukan main marahnya Lujita melihat kematian adiknya itu. Maka tubuhnya pun melesat diiringi teriakan yang mengguntur. Golok besarnya berkelebat ganas. Dicecarnya Panji dengan sabetan-sabetan golok besar yang berkelebatan cepat. Suara golok mengaung dahsyat, menandakan kalau golok besar itu digerakkan oleh tenaga yang kuat.
Panji sudah tidak ingin memperpanjang waktunya. Maka, ketika Lujita membabatkan golok besarnya ke arah pinggangnya, pemuda itu menggeliat dengan kuda-kuda rendah, sambil melepaskan pukulan jarak jauh dengan jari-jari terbuka membentuk cakar naga. Serangkum angin yang amat dingin bertiup keras mengiringi pukulan itu. Inilah jurus 'Pukulan Naga Sakti’.
Desss!
__ADS_1
Pukulan jarak jauh Panji bersarang telak di tubuh lawannya itu. Lujita menjerit kesakitan Tubuhnya terpental sejauh tujuh tombak dari tempatnya sendiri. Kontan orang tertua dari Sepasang Harimau Terbang itu tewas dengan tubuh membiru!
Para pengikut Sepasang Harimau Terbang yang masih selamat, segera menjatuhkan diri bersimpuh hadapan Panji.
"Ampunkan kami, Tuan Pendekar! Kami... Kami berjanji... Tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi. Jangan bunuh kami, Tuan Pendekar!" Ratap mereka, sambil membentur-benturkan kepalanya ke tanah.
"Hm! Manusia-manusia macam kalian, mestinya tidak bisa diberi hati! Sekarang kalian meratap-ratap meminta ampun, tapi besok kalian akan mengulangi perbuatan jahat lagi!" Dengus Panji sengit.
Tubuh orang-orang itu menjadi gemetar. Wajah-wajah mereka pucat seperti kertas mendengar kata-kata Panji itu.
"Ampun, Tuan Pendekar! Kami tobat...! Sungguh, Tuan Pendekar...! Kami berjanji...!" Ujar mereka lagi, dengan suara terputus-putus.
"Baiklah! Untuk kali ini, kuampuni! Tapi ingat! Apabila kudapati kalian berbuat jahat lagi, maka akan kubunuh! Mengerti?!" Ancam Panji.
"Kami mengerti, Tuan Pendekar! Dan kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" Jawab mereka sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Nah! Sekarang minggatlah dari hadapanku!" Bentak pemuda itu.
Sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang, mereka segera berlari meninggalkan tempat itu. Panji lalu melangkah, mendekati ketiga orang wanita yang masih berangkulan. Wajah mereka nampak pucat.
"Mereka sudah pergi semua," Ujar Panji sambil tersenyum.
Ketiga orang wanita itu mencoba untuk tersenyum sambil memandang kagum kepada Panji.
"Ah! Ternyata Tuan adalah seorang pendekar yang sangat sakti!" Kata gadis yang berambut sebahu.
"Benar. Sepak terjang Tuan tadi mirip seekor naga yang sedang mengamuk," sambung gadis yang berwajah bulat telur dan berambut panjang sampai ke pinggang. Gadis yang paling cantik.
"Benar, Tuan. Tepatnya seperti seekor naga putih!" Ucap yang satunya lagi.
Panji berdebar dadanya, ketika melihat sinar kemesraan dari pandangan ketiga orang wanita itu.
"Ayolah kita berangkat! Hari akan gelap!" Ajak Panji, untuk menyembunyikan kegugupannya.
Mereka lalu meneruskan perjalanan menuju desa tempat tinggal ketiga orang gadis itu. Panji berjalan agak jauh di belakang mereka karena merasa kikuk melihat tatapan penuh pesona kepadanya.
Di ufuk Barat, mulai terlihat sinar kemerahan. Pertanda sang matahari sudah menyelesaikan tugasnya untuk hari ini. Sementara kegelapan pun mulai menyelimuti bumi. Sang dewi malam pun bersiap-siap memancarkan keindahan sinarnya.
__ADS_1