
Alam telah diselimuti kegelapan, ketika empat sosok tubuh memasuki perbatasan Desa Tambak. Mereka terdiri dari tiga orang wanita dan seorang pemuda tampan berjubah putih.
Ketiga orang wanita itu rata-rata berwajah cantik. Terlebih lagi, wanita yang berambut paling panjang. Wajahnya yang bulat telur itu, nampak sedap dipandang mata. Bibirnya yang merah dan berbentuk bagus, nampak selalu dihiasi senyum menggoda. Tubuhnya yang tinggi semampai, semakin menambah daya tariknya.
"Ehm, inikah desa tempat tinggal kalian?" Tanya si Pemuda Tampan, yang ternyata adalah Panji.
"Benar, Tuan Pendekar! Inilah desa kelahiran kami!" Jawab dua orang dari ketiga wanita itu. Sedangkan si gadis yang berwajah bulat telur, hanya menoleh sekilas disertai dengan senyumnya yang menawan.
"Ah! Janganlah memanggilku dengan sebutan seperti Itu! Kalian hanya membuatku serba salah saja," ujar Panji kikuk.
"Hm, bagaimana kalau kalian panggil aku Panji saja."
"Baiklah, hm... Kakang Panji," jawab keduanya menggoda.
Belum jauh mereka memasuki Desa Tambak, tampak di sebelah depan serombongan orang berkuda bergerak menuju perbatasan. Rombongan itu terdiri dari dua puluh orang laki-laki, dengan senjata di pinggang. Kelihatannya mereka bersiap-siap untuk menghadapi sebuah pertarungan.
Rombongan berkuda itu, dipimpin seorang laki-laki yang berusia sekitar enam puluh tahun. Wajahnya yang gagah dan bersih itu, ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar pipi dan dagunya, sehingga semakin terlihat berwibawa.
Lelaki gagah itu, diapit dua orang yang merupakan pembantu-pembantu utamanya. Yang di sebelah kanan mengenakan baju serba biru dengan ikat kepala dari kain yang sama. Dilihat dari wajahnya yang cukup tampan itu, paling tidak dia berusia sekitar tiga puluh tahun. Sinar matanya yang tajam, menandakan bahwa ia bukan orang yang lemah. Sedangkan yang di sebelah kiri, mempunyai wajah agak kasar. Sebaris kumis lebat melintang di antara hidung dan bibirnya, sehingga terlihat galak dan angker. la berusia sekitar tiga puluh lima tahun Di punggungnya tampak tergantung sebilah pedang. Sepertinya si Kumis Lebat ini tidak asing dengan ilmu olah kanuragan.
Rombongan itu terus melarikan kudanya keluar perbatasan Desa Tambak. Wajah-wajah mereka terlihat tegang, sehingga tidak lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya.
"Ayah...!" Teriak si gadis berambut panjang, yang berjalan didepan Panji.
Gadis berambut panjang itu segera berlari menyongsong rombongan berkuda. Direntangkan tangannya di tengah jalan, yang akan dilewati rombongan itu
"Ayah...!" Teriaknya lagi dengan suara yang lebih nyaring.
Lelaki gagah yang memimpin rombongan berkuda segera mengangkat sebelah tangannya ke atas. Serentak, orang-orang yang berada di belakang orang tua gagah Itu menghentikan kuda-kudanya.
"Eh! Bukankah itu Adik Kenanga?" Tanya si Kumis Lebat, dengan wajah keheranan.
"Kau... kau...," ujar orang tua itu gugup. Dikucek-kucek kedua matanya, seolah-olah tak percaya dengan yang dilihatnya. Matanya melotot bagaikan melihat hantu di siang bolong. Dengan wajah bingung, orang tua itu melorot turun dari atas punggung kudanya.
"Benar, Tuan! Dia adalah Den Ayu Kenanga...!" Tegas kedua orang wanita yang sudah pula berdiri di samping gadis yang bernama Kenanga itu. Sementara Panji hanya membisu di belakangnya.
"Anakku...," ujar orang tua gagah itu bergetar. Dia segera melangkah mendekati gadis itu. Kedua tangannya dikembangkan.
"Ayah...!" Gadis yang bernama Kenanga itu segera menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Tangisnya pun meledak, ketika tangan orang tua gagah itu memeluknya penuh kasih sayang.
"Anakku... anakku...," desah orang tua itu penuh rasa haru.
Para anggota rombongan yang menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu menjadi terharu. Sebentar kemudian wajah mereka berubah cerah, karena berarti tidak perlu lagi bersusah-payah mencari Kenanga.
Sementara, Panji memalingkan wajahnya ke tempat lain Rasanya tak sanggup menyaksikan keharuan itu. la jadi teringat dengan kedua orang tuanya yang telah tiada. Samar-samar terbayang wajah ketiga orang pembunuh ayah ibunya. Panji cepat-cepat mengusir bayangan itu, karena suasananya jelas tidak memungkinkan.
Sementara, suasana haru antara ayah dan anak itu sudah mereda, dan telah berganti dengan suasana gembira.
"Anakku, bagaimana caranya kau dapat terbebas dari tangan Sepasang Harimau Terbang yang terkenal ganas itu?" Tanya orang tua yang masih belum memperhatikan orang-orang di sekelilingnya itu.
"Oh!" Sentak gadis itu terkejut.
"Aku sampai lupa! Ayah, mari kuperkenalkan dengan Kakang Panji!" Ajak Kenanga sambil menggandeng tangan ayahnya dengan wajah berseri-seri.
Kedua orang ayah beranak itu, segera melangkah mendekati Panji. Sedangkan pemuda itu hanya tersenyum sambil memberi hormat kepada orang tua yang tengah digandeng Kenanga.
__ADS_1
"Ayah! Inilah Kakang Panji yang telah menyelamatkan kami bertiga. Entah apa yang akan terjadi terhadap kami, apabila tidak ada Kakang Panji!" Ujar gadis itu memperkenalkan pemuda itu kepada ayahnya.
Orang tua gagah itu, memperhatikan Panji sejenak. Seraut wajah yang tampan dengan jubah putih dari kain sederhana itu masih tertunduk malu. Rasanya dia enggan untuk menyombongkan diri.
"Orang muda! Aku Ki Umbaran, mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu!" Ucap orang tua itu sambil mengulurkan tangannya kepada Panji.
"Ah! Hanya kebetulan saja, Paman! Lagi pula, bukankah memang sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong-menolong!" Sambut Panji merendah.
Orang tua gagah yang ternyata bernama Ki Umbaran, menjadi kagum akan perkataan yang tulus dari Panji itu. Seorang pemuda yang berjiwa bersih dan menolong tanpa pamrih.
Panji lalu diperkenalkan kepada Kenanga dan juga kedua orang wanita yang ditolongnya itu. Sebab, selama dalam perjalanan Panji sama sekali tidak pernah tahu nama mereka! Masalahnya, ketiga gadis itu pun Juga tak mau menyebutkan namanya. Mungkin malu.
"Hm.... Begini, Paman! Berhubung persoalan ini sudah selesai, maka saya mohon diri untuk meneruskan perjalanan saya," ujar Panji lagi.
"Eh, mengapa begitu, Panji? Mengapa tidak singgah dulu di rumah kami? Lagi pula, hari sudah larut malam. Bukankah tidak enak melakukan perjalanan di malam hari?" Mohon Ki Umbaran sungguh-sungguh.
"Eh..., saya..., saya masih banyak urusan yang harus diselesaikan!" Ujar Panji Heran! Mengapa aku menjadi demikian gugup? Pikir pemuda itu tak mengerti. Mungkin kegugupannya karena tatapan Kenanga yang begitu mempesona. Karena asyiknya melamun, Panji tidak mendengar ucapan Kenanga yang ditujukan kepadanya. Sehingga, gadis itu harus mengulangi lagi perkataannya sambil menyentuh lengan Panji.
"Eh! Oh..., apa...?" Ucapnya dengan wajah ketololannya.
Kenanga tersenyum geli melihat pemuda itu terkejut, dan menatapnya dengan bingung.
"Kakang sih, terlalu asyik melamun! Sampai-sampai pertanyaanku tidak terdengar!" Kata gadis itu. Suaranya begitu merdu terdengar.
"Oh..., maaf! Aku tadi sedang berpikir tentang perjalananku!" Panji berbohong.
Kenanga yang tidak ingin menggoda Panji, segera mengulangi pertanyaannya.
"Aku tadi bertanya, ke mana Kakang akan pergi pada malam selarut ini? Apakah tidak lebih baik Kakang menginap di desa kami? Ayah tentu akan menyediakan tempatnya! Bukankah begitu. Ayah?" Ujar Kenanga sambil menoleh kepada Ki Umbaran.
Ki Umbaran menganggukkan kepalanya, lalu melangkah mendekati Panji. Dan dipegangnya kedua pundak pendekar itu.
"Ayolah, Kakang!" Pinta kedua orang wanita yang telah ditolongnya itu.
"Baiklah, Paman! Maaf kalau aku telah mengganggu," jawab Panji tak kuasa untuk menolak terus-menerus.
"Ah! Tidak apa-apa, Panji! Malah sebaliknya, kamilah yang telah mengganggu perjalananmu!" Jawab Ki Umbaran. Maka, rombongan itu pun segera kembali ke desa.
Sementara, seraut wajah dengan senyum sinis selalu memperhatikan Panji. Matanya memancarkan sinar kebencian. Rombongan itu kemudian berhenti didepan sebuah rumah yang cukup besar, dan berhalaman luas. Ki Umbaran berpaling menghadap ke arah rombongannya.
"Saudara-saudara sekalian! Sekarang kalian boleh pulang ke rumah masing-masing. Dan aku mengucapkan terima kasih atas bantuan saudara-saudara," ucap Ki Umbaran. Suaranya terdengar berat dan berwibawa.
Selesai Ki Umbaran berkata demikian, warga desa itu pun bergegas meninggalkan tempat itu dengan perasaan lega. Tinggallah di situ, Ki Umbaran, Kenanga, Panji dan dua orang pembantu utama kepala desa itu.
"Jadi, Paman adalah kepala desa ini?" Tanya Panji pelahan.
"Begitulah yang mereka percayakan kepadaku, Panji!" Jawab Ki Umbaran merendah.
"Mari, kita bicara di dalam saja."
Kelima orang itu pun segera melangkah memasuki ruangan depan rumah besar itu. Sedangkan kedua orang pembantu utama Ki Umbaran, tetap berjaga-jaga di luar gedung. Sepasang mata penuh rasa iri kembali mengikuti langkah kaki Panji.
"Silakan, Panji!" Ujar Ki Umbaran setelah mereka berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Sepertinya, ruangan itu dikhususkan untuk pertemuan jika ada tamu agung.
"Terima kasih, Paman!"
__ADS_1
Ki Umbaran lalu meminta agar Panji bercerita tentang kejadian di hutan itu, hingga ia dapat membebaskan Kenanga dan dua orang pembantunya.
Dengan sederhana dan singkat, Panji pun segera menceritakan pengalamannya. Dia sama sekali tak menyinggung tentang kepandaian, apalagi pamrihnya.
"Eh! Jadi, Sepasang Harimau Terbang itu sudah terbunuh olehmu?" Tanya Ki Umbaran. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan.
"Ah, sebenarnya itu hanya karena mereka lengah saja, Paman!" Ujar Panji merendah.
"Ah! Padahal kepandaian Sepasang Harimau Terbang hebat sekali! Bagaimana caranya pemuda ini dapat membunuh mereka?" Tanya Ki Umbaran dalam hati.
Tentu saja, pertanyaan Ki Umbaran ini tidak diungkapkannya kepada Panji. Dugaannya, pemuda itu pasti tidak akan mengatakannya. Hanya saja dia menduga-duga, sampai di mana kepandaian yang dimiliki pemuda di hadapannya ini.
"Apakah kau juga telah melepaskan para pengikut Sepasang Harimau Terbang yang masih hidup?" Tanya Ki Umbaran lagi. Wajahnya agak gelisah.
"Betul, Paman! Karena mereka telah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya," jawab Panji.
"Eh! Ada apakah, Paman?" Tanyanya ketika melihat wajah Ki Umbaran gelisah.
"Ah! Sungguh berbahaya sekali...!" Desah orang tua itu sambil menghela napas berat.
"Kenapa, Paman...?" Tanya Panji. Dia masih belum mengerti hal apa yang membuat Ki Umbaran resah.
Ki Umbaran terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dahinya berkerut seperti tengah membayangkan sesuatu. Dengan sebuah helaan napas berat bagai ingin melepaskan beban di dadanya, Ki Umbaran membuka suaranya.
"Panji, sebenarnya Sepasang Harimau Terbang masih mempunyai seorang guru yang sangat kejam dan memiliki kepandaian yang tinggi."
"Sepasang Harimau Terbang masih mempunyai guru?" Tanya Panji heran Setelah berpikir sejenak, barulah dapat ditangkapnya arah pembicaraan Ki Umbaran itu.
"Jadi, maksud Paman, orang-orang yang saya bebaskan akan mengadu kepada guru mereka?" lanjutnya.
"Bisa jadi begitu!" Jawab Ki Umbaran.
"Lalu, Guru Sepasang Harimau Terbang akan datang ke desa ini?" Tanya Panji lagi.
"Itulah yang kukhawatirkan, Panji."
"Siapa nama guru Sepasang Harimau Terbang itu, Paman?"
"Julukannya Laba-Laba Beracun. Tak seorang pun yang mengetahui nama aslinya. Kepandaiannya sangat tinggi, dan jarang ada tokoh persilatan yang dapat menandingi kesaktiannya! Dan, kalau ib lis itu datang ke desa ini, sudah dapat dipastikan bahwa desa ini akan musnah!" Tegas Ki Umbaran, penuh duka.
"Ah! Sungguh berbahaya sekali!" Desah Panji. Jelas dia ikut khawatir karena secara tidak langsung dialah yang telah menjadi sebabnya.
"Paman! Kalau benar ib lis itu akan menyerang desa ini, biarlah saya yang akan meng-hadapinya!" Lanjut Panji, tanpa bermaksud ingin menonjolkan
kepandaiannya sedikit pun.
"Ah! Terima kasih, Panji! Tentu saja bantuanmu sangat berarti bagi kami!" Ujar Ki Umbaran. Wajahnya kembali berseri.
Meskipun belum menyaksikannya sendiri, namun ia merasa yakin bahwa kepandaian pemuda di hadapannya tentu sangat tinggi. Kalau tidak, bagaimana mungkin dapat mengalahkan Sepasang Harimau Terbang yang hebat itu? Walaupun tentu saja ia tidak yakin kalau pemuda ini akan mampu menghadapi Laba-Laba Beracun!
"Hhh! Hari sudah semakin jauh malam, Panji! Kau tentu sudah lelah, dan ingin beristirahat, bukan? Ah! Dasar aku tuan rumah tidak tahu adat! Masa tidak tahu tamunya sudah merasa lelah!" Kata kepala desa itu sambil tertawa.
"Ah! Tidak mengapa, Paman! Aku pun belum mengantuk!" Jawab Panji tersenyum.
"Ah, sudahlah," ucap Ki Umbaran, kemudian segera memanggil salah seorang pelayannya. Dengan segera, seorang pelayan terbungkuk-bungkuk datang menghampiri. Pelayan itu diperintahkan untuk mengantarkan Panji ke kamar yang telah dipersiapkan.
__ADS_1
Sebentar Panji memandang Ki Umbaran lalu segera mengikuti pelayan itu. KI Umbaran menganggukkan kepalanya yang penuh dengan bayangan kejadian yang akan menimpa desanya.
Sementara, Panji sudah merebahkan tubuhnya di pembaringan. Sejenak pikirannya melayang pada kejadian sore tadi yang dialaminya. Dan sekilas muncul bayangan seraut wajah berbentuk bulat telur. Rambutnya yang panjang dan hitam. Wajah Kenanga! Cepat-cepat dihapusnya bayangan indah yang melintas di alam pikirannya itu. Sebentar kemudian, terdengar suara dengkurnya yang halus.