Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
16


__ADS_3

"Ha ha ha...!" Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar dan bergema ke sekeliling mereka. Sepertinya suara itu datang dari segala penjuru. Hanya saja, tidak seorang pun yang menampakkan dirinya, sehingga membuat hati para pendekar itu bertambah tegang.


"Berkumpul semua!" Teriak Pendekar Pedang Langit. Sebab kalau tidak demikian, mereka dapat terbantai satu persatu.


Memang hal seperti itulah yang ingin dicegah pendekar itu. Belum lagi suara Pendekar Pedang Langit hilang, tiba-tiba berkelebatan enam sosok tubuh yang segera mengurung mereka. Dan tanpa banyak bertanya lagi, keenam orang pengepung itu pun langsung menyerang hebat ke arah para pendekar itu.


Namun, tokoh-tokoh rimba persilatan itu pun bukanlah tokoh kosong. Mereka pun segera menyambut lawan-lawannya lewat serangan yang tidak kalah ganasnya. Sebentar saja, kedua kelompok itu sudah terlihat dalam pertempuran yang sengit.


Melihat kesepuluh kawannya dapat menghadapi gempuran musuh-musuhnya, Pendekar Pedang Langit melesat meninggalkan arena pertempuran itu. Dia berniat mencari sasaran utama, yakni Tiga Iblis Gunung Tandur.


Sementara itu kelompok yang dipimpin Pendekar Topeng Hitam, sudah terlibat pula dalam sebuah pertarungan yang tidak kalah seru. Kelompok Pendekar Topeng Hitam yang terdiri dari dua belas orang tokoh persilatan itu, bertempur melawan pihak musuh yang berjumlah delapan orang. Meskipun jumlah musuh lebih sedikit, tapi ternyata memiliki kepandaian yang hebat. Maka pertempuran pun berjalan seimbang.


Pendekar Topeng Hitam segera meninggalkan kedua belas orang kawannya, untuk mencari musuh utamanya yang sama dengan Pendekar Pedang Langit.


Sedangkan kelompok yang bergerak dari Utara, sama sekali tidak menemui hambatan. Mereka yang terdiri dari dua puluh satu orang itu, terus bergerak menuju ke belakang bangunan mewah itu. Ketika kelompok itu tiba di belakang bangunan besar itu, terdengarlah suara pertempuran dari halaman samping.


Kelompok itu pun bergegas menghampiri sumber suara pertempuran itu. Dan alangkah terkejutnya hati para pendekar itu ketika melihat Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam tengah bertempur melawan seorang musuh yang menggunakan pisau terbang. Sementara dua orang berwajah bengis, hanya berdiri menonton seperti tak peduli.


Tanpa diperintah lagi, kelompok pendekar itu segera menyerbu ke arah dua orang yang sedang berdiri mengamati pertandingan. Dua orang itu tak lain adalah Lodra dan Badra, dua dari Tiga Iblis Gunung Tandur.


Lodra, yang merupakan orang pertama Tiga Iblis Gunung Tandur itu menyambut serangan itu. Sepasang tangannya yang kokoh menyambar nyambar ganas. Kepandaian ketiga iblis itu


tidaklah sama dengan waktu sepuluh tahun yang lalu. Dalam kurun waktu selama itu kepandaian mereka telah maju dengan pesat. Maka dapat dibayangkan, betapa hebatnya serangan yang dilancarkan Lodra.


Lain Lodra, lain pula dengan Badra Orang kedua yang berjuluk Iblis Cambuk Api itu, menggerakkan cambuknya yang meliuk-liuk bagaikan seekor ular. Bahkan kadang-kadang diseling ledakan yang memercikkan bunga-bunga api ke tubuh lawan. Dalam waktu singkat, para tokoh persilatan yang mengeroyok Iblis Cambuk Api itu pun menjadi kewalahan.


Pertarungan yang berlangsung antara Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam melawan Iblis Golok Terbang atau Sudra, berjalan tampak seru dan seimbang. Sepasang pedang Pendekar Pedang Langit berkelebat cepat mengarah ke titik-titik kelemahan di tubuh lawan. Suara sambaran pedang yang mendesing dahsyat, menandakan betapa kuatnya tenaga yang digunakan pendekar itu.


Sedangkan Pendekar Topeng Hitam sudah pula menggunakan senjata andalannya yaitu sebatang tombak bergolok. Serangannya yang menimbulkan suara bergemuruh dan berdesing mengincar tubuh lawan. Dapat dibayangkan, betapa hebatnya serangan kedua pendekar sakti itu. Namun yang sekarang dihadapi bukanlah tokoh sembarangan!


Iblis Golok Terbang adalah orang ketiga dari Tiga Iblis Gunung Tandur. Kepandaiannya tidak dapat disamakan dengan penjahat-penjahat lainnya. Benar-benar sukar dicari tandingannya! Dan pada masa sekarang ini kepandaian Tiga Iblis Gunung Tandur berada di urutan atas di antara penjahat lainnya.


Dalam menghadapi serangan kedua orang pendekar itu, Sudra menggunakan sepasang golok terbangnya. Tubuhnya yang tinggi kurus itu menyelinap lincah di antara sambaran senjata lawan. Bahkan kadang-kadang diselingi serangan golok terbangnya secara mendadak. Tentu saja hal ini membuat kedua orang pendekar sakti itu harus lebih hati-hati menghadapi kelicikan ib lis itu.


Tanpa terasa, pertarungan sudah berlangsung empat puluh jurus. Iblis Golok Terbang semakin memperhebat serangannya. Sepasang golok terbang di tangannya, melakukan serangan gencar yang sambung-menyambung bagaikan ombak di lautan. Suaranya yang mendengung tajam itu bagaikan suara ribuan ekor lebah marah, sehingga mengganggu konsentrasi lawan.

__ADS_1


Pendekar Pedang Langit berusaha membendung serangan Iblis Golok Terbang, dengan memutar sepasang pedangnya membentuk sebuah benteng yang kokoh. Untuk beberapa waktu lamanya, ia dapat bertahan dari gempuran-gempuran dahsyat itu.


Pendekar Topeng Hitam pun melakukan hal yang serupa. Melihat serangan lawan yang seperti air bah itu, Pendekar Topeng Hitam segera memutar senjatanya di depan dada, membentuk segulung sinar hitam untuk melindungi diri.


Serangan-serangan yang dilancarkan Iblis Golok Terbang memang sedikit terhambat. Namun, Iblis Golok Terbang rupanya tidak kehilangan akal. Melihat keadaan itu, Sudra hanya tersenyum sinis. Entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu di tangannya telah tergenggam empat buah golok terbangnya. Dengan sebuah teriakan mengguntur, Sudra cepat melepas golok terbangnya ke dua arah. Keempat buah golok terbang itu, membelah udara dengan kecepatan luar biasa!


Betapa terkejutnya dua pendekar sakti itu mendengar desingan tajam yang menuju ke arah mereka. Cepat-cepat diperhebat pertahanan senjata mereka, dengan mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya.


Trang! Trang! Trang! Trang!


Terdengar suara keras benturan senjata sebanyak empat kali. Untuk sejenak, putaran senjata kedua orang pendekar itu pun terhenti.


Dan kesempatan yang hanya sekejap itu rupanya telah diperhitungkan Iblis Golok Terbang! Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuh iblis itu melesat ke arah dua orang pendekar sakti itu. Sepasang kakinya melakukan tendangan kilat ke arah dada lawannya.


Desss! Desss!


Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kedua pendekar itu terpental keras, dan jatuh sekitar tiga tombak jauhnya dari tempat semula. Keduanya terbatuk-batuk, lalu memuntahkan darah segar. Dada mereka serasa remuk dan sesak akibat tendangan yang dilakukan Iblis Golok Terbang itu. Kedua pendekar itu kini hanya terduduk lemas.


Sudra yang melihat serangannya berhasil baik, cepat mempersiapkan serangan berikut untuk menghabisi lawan-lawannya. Dengan jurus 'Membentur Seribu Gunung', tubuh Iblis Golok Terbang itu meluncur deras ke arah dua pendekar itu. Terdengar suara bergemuruh bagai angin topan yang mengiringi serangan Sudra.


Pendekar Pedang Langit maupun Pendekar Topeng Hitam, hanya dapat memejamkan matanya dengan hati pasrah. Mereka mengakui kehebatan serangan dahsyat dari lawannya itu. Kini, mereka hanya bisa pasrah menanti maut yang akan datang menjemput.


"Akh...!"


Tubuh Sudra terhempas bagai sehelai daun kering dan jatuh ke tanah sehingga menimbulkan suara bergedebuk. Sudra mendekap dadanya yang serasa pecah akibat benturan yang dahsyat itu. Sekujur tubuh terserang hawa dingin yang hebat.


"Huakkk...!" Segumpal darah yang agak mengental meluncur dari mulutnya.


Iblis Golok Terbang menyadari kalau dirinya mengalami luka dalam yang cukup parah!


Sementara di tengah arena telah berdiri seorang pemuda berjubah putih yang membelakangi Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam. Raut wajahnya tampan dengan potongan tubuh sedang. Selapis kabut yang bersinar putih keperakan, tampak menyelimuti dirinya.


"Pendekar Naga Putih...!" Teriak Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam berbarengan. Dalam suara mereka terkandung rasa gembira yang amat sangat.


Memang, kedua pendekar itu merasa heran ketika pukulan Iblis Golok Terbang tidak kunjung datang. Saat mendengar suara benturan keras, kedua pendekar itu segera membuka matanya. Dan tampaklah tubuh Iblis Golok Terbang terpental dahsyat. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, kini telah berdiri sesosok tubuh pemuda berjubah putih yang seluruh tubuhnya diselimuti kabut yang bersinar putih keperakan.

__ADS_1


Melihat ciri-ciri itu, kedua pendekar sakti itu segera teringat akan selentingan kabar tentang seorang pendekar yang belum lama ini telah mengguncang dunia persilatan dengan menghancurkan gerombolan perampok di bawah pimpinan Sepasang Harimau Terbang, sekaligus membunuh Sepasang Harimau Terbang.


Akan tetapi yang lebih membuat nama Pendekar Naga Putih mencuat adalah setelah ia menewaskan Laba-Iaba Beracun! Guru dari Sepasang Harimau Terbang yang memiliki kepandaian yang tinggi. Dan salah satu dari ciri-ciri pendekar itu adalah selapis kabut yang bersinar putih keperakan. Makanya kedua orang pendekar itu tanpa ragu-ragu lagi menyebut julukan itu.


Pemuda yang memang adalah Panji itu, segera berbalik menghadap ke arah kedua orang pendekar yang berada di belakangnya. Setelah membungkuk memberi hormat, ia pun segera menghampiri.


"Hm, kelihatannya Paman berdua mengalami luka dalam! Bolehkah saya melihatnya?" Ujar Panji setelah memperhatikan sejenak.


Setelah mendapat persetujuan, pemuda itu lalu menotok di beberapa bagian tubuh mereka secara bergantian. Beberapa saat kemudian, pemuda itu pun segera bangkit berdiri.


"Saya rasa Paman berdua harus segera memulihkan tenaga untuk mengusir sisa-sisa pengaruh dari pukulan lawan," ujar Panji lagi.


Sementara itu, ketika mendengar suara jeritan adiknya tadi, Lodra dan Badra serentak melesat meninggalkan lawan-lawannya. Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya dua iblis itu ketika mendapatkan Sudra tengah tergeletak dengan napas terengah-engah. Cepat Lodra menotok di beberapa bagian tertentu di tubuh adiknya. Setelah yakin kalau keadaan adiknya sudah tidak berbahaya lagi, Iblis Tangan Maut segera berpaling ke arah Panji yang telah berdiri dan juga tengah menatapnya.


Untuk beberapa saat, dua pasang mata yang sama tajamnya itu saling berpandangan dan menilai kepandaian lawan.


"Siapa kau, Anak Muda?! Apakah kau sudah bosan hidup sehingga ikut campur urusan kami, heh?!" Bentak Iblis Tangan Maut Suaranya menggelegar.


"Hm.... Aku Panji, yang ingin mencabut nyawamu!" Sahut Panji sambil tersenyum sinis menge jek. Sepasang matanya memancarkan hawa maut! Sungguh pun senyum menghias bibirnya.


"Huh! Bocah sombong! Rupanya kau memang sudah bosan hidup. Bersiaplah!" Bentak Iblis Tangan Maut gusar.


"Eiiit tunggu dulu!" Seru Panji masih dengan senyum di bibirnya.


"Hm! Ada apa? Kau takut? Kalau begitu, menyingkirlah!" Dengus Lodra kesal.


"Huh! Siapa takut kepadamu, iblis peot! Aku hanya ingin bertanya sedikit," tegas Panji.


"Huh! Apa yang ingin kau tanyakan?!" Tanya Lodra tak sabar.


"Aku hanya ingin bertanya, apakah peti mati untukmu sudah tersedia?" kata Panji dingin. Tentu saja kalimat itu disambut oleh tawa para tokoh persilatan yang merasa geli mendengar pertanyaan yang aneh itu.


Dapat dibayangkan, betapa murkanya Iblis Tangan Maut. Wajahnya merah menahan amarah yang meledak-ledak. Tulang-tulang lengannya bergemeletak karena dialiri kekuatan yang dahsyat.


"Bocah se tan, mam puslah!" Teriak Lodra dibarengi lesatan tubuhnya yang meluncur deras ke arah Panji. Tiupan angin dahsyat mendahului serangan Iblis Tangan Maut, sehingga menimbulkan suara keras bergemuruh.

__ADS_1


Panji segera menggeser tubuhnya, untuk menghindari serangan lawan. Dengan cepat langsung dibalasnya serangan itu dengan sebuah serbuan yang tidak kalah dahsyatnya.


Sebentar kemudian, keduanya segera terlibat dalam pertarungan yang sangat menegangkan. Debu dan pasir beterbangan akibat terkena pukulan-pukulan yang tidak mengenai sasaran. Batu-batu yang tersepak kaki kedua orang yang sedang mengadu nyawa Itu, beterbangan ke sekeliling arena pertempuran.


__ADS_2