
Di atas sebuah puncak gunung yang terletak cukup Jauh dari Selatan Desa Cikunir, berdiri sebuah bangunan besar yang dikurung oleh pagar tembok yang tinggi dan kokoh.
Di atas pintu gerbang yang terbuat dari kayu pilihan tertera nama 'PERGURUAN GUNUNG SALAKA' yang tertulis pada papan tebal. Nama perguruan itu ditulis dengan tinta emas. Huruf-hurufnya yang besar dan terukir, cukup indah dan gagah dipandang. Dalam jarak sepuluh tombak, orang sudah dapat jelas membacanya.
Bagi kaum rimba persilatan, nama Perguruan Gunung Salaka bukanlah nama asing. Perguruan itu terkenal sebagai pusatnya pendekar-pendekar.
Malam itu, Ki Tunggul Jagad yang merupakan Ketua Perguruan Gunung Salaka tampak sedang mengumpulkan murid-murid utamanya yang berjumlah delapan orang. Mereka adalah tokoh-tokoh tingkatan atas di perguruan itu, karena merupakan murid-murid langsung dari Ki Tunggul Jagad.
“Tentu hati kalian bertanya-tanya, mengapa mendadak aku memanggil. Sebenarnya hal ini sudah lama kupikirkan, namun baru kali ini mempunyai kesempatan untuk mengutarakannya kepada kalian!" orang tua sakti itu terdiam sejenak sambil menarik napas panjang, sepertinya apa yang akan disampaikannya ada suatu hal yang penting.
"Begini murid-muridku! Aku bermaksud menyerahkan urusan perguruan ini untuk sementara waktu kepada kalian."
"Apakah maksud Guru, ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Guru?" tanya salah seorang murid tertua Perguruan Gunung Salaka yang dipimpin Ki Tunggul Jagad. Wajah murid ketua itu gelisah, takut kalau-kalau ada tingkah mereka yang telah membuat hati orang tua sakti itu kecewa.
"Tidak ada satu pun dari kalian yang berbuat salah! Aku hanya berniat ingin beristirahat dari kesibukan-kesibukan perguruan selama beberapa waktu. Nah! Oleh karena itu akan kutunjuk salah seorang dari kalian, yang akan menggantikanku selama beristirahat. Dan untuk selama itu aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun, atau urusan apa pun! Apakah kalian sanggup?" tanya Ki Tunggul Jagad sambil merayapi wajah-wajah muridnya dengan tajam.
"Sanggup, Guru! Dan selanjutnya kami mohon petunjuk dan nasihat demi kelancaran tugas kami...!" jawab delapan orang murid Ki Tunggul Jagad dengan suara tegas.
"Hm, bagus..., bagus! Memang begitulah seharusnya," ujar Ki Tunggul Jagad. Kini wajahnya menjadi cerah.
Kemudian orang tua sakti itu pun menunjuk Ki Sukma Kelana untuk mengurus perguruan selama dirinya menyepi. Selain itu juga ditunjuk Ki Surya Kencana sebagai wakil. Begitu juga keenam orang lainnya yang masing-masing diserahi tugas yang harus dilaksanakan sungguh-sungguh.
"Nah! Sekarang kemukakanlah pendapat kalian! Kalau ada yang merasa keberatan, sampaikanlah selagi aku masih ada di sini. Sebab, aku tidak ingin apabila di kemudian hari ada kejadian yang tidak diharapkan. Dan jika hal itu terjadi, maka tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian!" ujar Ki Tunggul Jagad, dengan suara yang tegas dan berwibawa.
"Kami setuju, Guru! Dan semua perintah Guru akan kami laksanakan dengan sebaik baiknya!" janji kedelapan orang murid-murid Ki Tunggul Jagad, bersungguh-sungguh.
"Baiklah. Kalau memang sudah tidak ada persoalan lagi, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing "
"Baik Guru!" seru kedelapan orang itu serempak Setelah memberi hormat, delapan orang itu pun segera meninggalkan tempat itu.
Pada keesokan harinya kedelapan murid Perguruan Gunung Salaka mulai menjalankan tugas sebagaimana yang telah dipesankan guru mereka. Dan tidak seorang murid lain pun yang mengetahui hal itu, kecuali delapan murid utama Perguruan Gunung Salaka.
Hal itu memang sudah dipesankan oleh Ki Tunggul Jagad, agar tidak terjadi keresahan di antara murid Perguruan Gunung Salaka itu.
*
Hari masih pagi, ketika serombongan orang bersama-sama mendaki Lereng Gunung Salaka. Kalau di lihat dari keadaan yang rata-rata kusut dan agak kotor, itu, jelas bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Meskipun langkah-langkah kaki terlihat agak gemetar, namun dari sorot mata terpancar semangat mereka yang tinggi.
__ADS_1
Rombongan itu terdiri dari berbagai golongan. Ada anak hartawan, anak saudagar kaya, dan ada juga anak pedagang kecil. Maksud kedatangan mereka ke tempat itu adalah sama, yaitu untuk mengikuti ujian penerimaan murid baru, yang akan diadakan Perguruan Gunung Salaka pada setiap enam bulan sekali.
Setelah melakukan pendakian yang sukar dan melelahkan, rombongan itu tiba pada pos pertama yang dijaga dua orang murid tingkat enam, Perguruan Gunung Salaka.
"Saudara-saudara, harap berhenti sebentar...!" seru salah seorang dari dua penjaga itu.
"Huh! Apa maksudnya badut-badut itu mencegah kita?!" Membuat jengkel orang saja...!" umpat salah seorang pemuda dari rombongan itu. Tarikan wajahnya kelihatan angkuh. Pemuda itu berusia sekitar enam belas tahun. Pakaiannya terbuat dari bahan sutra pilihan berwarna biru muda. Wajahnya tampan, bagai seorang bangsawan. Kelihatan manja dan pesolek.
"Sudahlah! Jangan mencari penyakit, Sobat! Kita baru memasuki pos penjagaan yang pertama!" jawab seorang pemuda lain, yang rupanya tidak suka ucapan pemuda pesolek tadi.
"Benar! Kalau kita diterima menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, kita harus sabar dan bersikap sopan," sahut pemuda lainnya lagi, ikut memberikan nasihat
Sementara itu, kedua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga di pos pertama mulai melakukan pemeriksaan. Setiap orang yang akan melewati pos pertama, harus meninggalkan segala bentuk senjata tajam yang dibawa. Jika benar-benar bersih tanpa senjata, baru mereka diperbolehkan meneruskan perjalanan.
"Hm, sombong sekali orang-orang gunung itu! Untuk apa buntalan pakaian diperiksa? Memangnya kita ini pencuri...?" geruru si pemuda pesolek lagi.
Kedua orang pemuda yang tadi mencoba memberi nasehat menoleh sejenak. Dan tanpa menjawab sepatah kata pun segera dipalingkan wajah mereka dengan perasaan sebal. Memang sudah bisa ditebak sifat jelek pemuda pesolek yang sombong itu.
"Huh! Dikira perguruan ini milik nenek moyangnya apa...!" gerutu salah seorang dari dua pemuda itu, sambil melengos meninggalkan pemuda pesolek anak hartawan itu. Tindak-tanduknya memang kelihatan sombong.
Mendengar gerutu itu, pemuda yang satunya lagi hanya tertawa saja. Segera diikuti langkah temannya, yang sudah berjalan ke arah pos pemeriksaan itu.
"Sahabat, apa tujuanmu memasuki perguruan kami?" tanya salah seorang yang menjadi pimpinan di pos kedua ini.
Kali ini yang mendapat giliran adalah salah seorang dari dua pemuda yang memberi nasihat kepada pemuda pesolek yang sombong tadi.
"Paman" jawab pemuda itu sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia sengaja memanggil paman, karena melihat penjaga itu berumur sekitar tiga puluh lima tahun.
"Maksud hamba memasuki Perguruan Gunung Salaka adalah untuk mempelajari ilmu silat!" jawabnya jujur.
"Hm, untuk apa kau pelajari ilmu silat? Bukankah ilmu silat hanya akan mengundang keributan saja?" tanya penjaga itu lagi. Kali ini disertai senyum. Memang, penjaga itu ingin mengetahui jawaban atau pandangan anak muda itu tentang ilmu silat
"Paman, menurut pendapat hamba yang bodoh ini, setiap sesuatu yang kita pelajari atau kita miliki tentulah memiliki sifat baik dan buruk. Dan semua itu tergantung pada orang itu sendiri. Apakah orang itu mempergunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan ataukah untuk kejahatan? Bukan begitu, Paman?" pemuda itu berhenti sejenak untuk melihat reaksi penjaga tersebut.
Si penjaga itu mengangguk-angguk penuh kepuasan. Maka kakinya segera menyingkir, memberi jalan kepada pemuda itu meneruskan maksudnya.
Setelah pemuda tadi lulus dengan baik, ternyata masih ada beberapa orang pemuda yang berhasil melewati pos penjagaan kedua itu. Demikian pula si pemuda pesolek yang sombong tadi. Sedangkan para pemuda yang mengalami kegagalan, dipersilakan meninggalkan Perguruan Gunung Salaka. Mereka yang gagal berjumlah lima belas orang.
__ADS_1
Dengan wajah penuh kekecewaan, lima belas orang pemuda itu bergegas meninggalkan Perguruan Gunung Salaka. Kini barulah mereka merasakan kelelahan yang sangat pada tubuhnya. Kelelahan yang semula tertutup semangat berapi-api tadi, dan baru muncul setelah semangat itu hancur dilanda kegagalan.
Setelah cukup lama perjalanan dari Kaki Gunung Salaka, lima belas orang pemuda tadi menjatuhkan diri di atas sebuah padang rumput tebal. Layaknya sebuah permadani hijau terhampar di mulut sebuah hutan. Mereka segera beristirahat sambil mengeluarkan bekal yang dibawa di dalam buntalan pakaian masing-masing.
"Hhh! Tidak kusangka, kalau demikian sulitnya untuk menjadi murid perguruan itu!" keluh seorang pemuda sambil mengunyah makanannya pelahan lahan. Seolah-olah selera makannya ikut lenyap tergilas kegagalan yang dihadapinya.
"Benar! Tidak seperti guru-guru silat di desa, siapa pun akan diterima asalkan dapat membayar sejumlah uang yang cukup!" jawab pemuda lain dengansuara pelahan. Seakan-akan berkata untuk dirinya sendiri.
"Tentu saja. Sebab kata orang, Perguruan Gunung Salaka itu pusatnya para pendekar. Bahkan kepandaian mereka sudah seperti dewa saja. Malah di antara tokoh-tokohnya ada yang pandai menghilang!" pemuda lain lagi ikut pula menimpali.
"Eh! Sampai sedemikian hebatnya!" seru kedua orang pemuda tadi, yang diikuti pula oleh para pemuda lainnya.
Para pemuda itu segera menggeser bokongnya karena merasa tertarik pada cerita salah satu kawannya itu.
Pemuda tadi jadi semakin bersemangat, karena empat belas orang kawannya itu merasa tertarik oleh ceritanya. Dan untuk sementara, mereka segera terlupa akan kegagalan dan kelelahan. Sepertinya lenyap begitu saja. Tapi belum lagi cerita itu sempat diteruskan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkumandang di sekitar tempat itu.
"Ha ha ha...! Mana ada manusia yang mampu menghilang, anak-anak to lol! Coba katakan padaku, siapa yang sudah pernah melihat manusia yang dapat menghilang! Ayo, jawab!" belum lagi gema tawa itu lenyap, orang yang bersuara itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.
Kelima belas orang pemuda itu tersentak bagai disengat kalajengking! Wajah mereka mendadak pucat karena rasa kaget yang luar biasa.
"Ssseeettt... tttaaannn...!" teriak beberapa orang pemuda dengan tubuh gemetar. Mereka serentak saling berangkulan satu sama lain Orang yang baru datang itu benar-benar disangka dedemit. Sebab bagaimana mungkin orang itu tiba-tiba muncul dihadapan mereka, tanpa diketahui dari mana dan kapan datangnya.
Sementara, beberapa orang pemuda lain yang telah memiliki pengetahuan cukup, mulai menduga bahwa orang itu pasti memiliki kesaktian dan kepandaian tinggi. Mereka yang lebih mempunyai keberanian dan pengalaman itu, segera saja dapat menguasai hati dan perasaannya.
"Ha ha ha! Hanya sedemikiankah keberanian orang-orang yang ingin berguru ke Gunung Salaka? Benar-benar memalukan! Pantas kalau kalian tidak diterima manusia-manusia sombong itu!" seru orang itu lagi. Nadanya benar-benar menghi na.
Mendengar hi naan itu, lima orang pemuda yang telah dapat meredakan kekagetannya itu segera bangkit sambil mengepal tangan meskipun belum menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, namun mereka tidak terima dihi na orang itu.
"Kisanak yang gagah!" ujar salah seorang dari lima pemuda itu, tanpa meninggalkan kesopanannya.
"Mengapa Tuan menghi na kami? Bukankah kita tidak saling mengenal? Biarpun kami gagal, tapi kami tidak ingin dihina seperti itu."
"Hm," orang yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bewok itu mendengus kasar. Namun ada kekaguman atas perkataan anak muda di hadapannya yang terdengar sopan tapi mempunyai ketegasan.
"Siapa yang menghi namu, Anak Muda? Bukankah aku hanya bertanya? Apakah pertanyaan itu di anggap menghi na?! Kalaupun aku menghi namu, kau mau apa?" tantang orang tua itu. Namun kali ini nada suaranya terdengar lebih halus meskipun masih mengandung e jekan yang menyakitkan.
"Hm, Orang Tua! Rupanya kau adalah orang sombong yang merasa paling pandai, sehingga tidak ingin mendengar kelebihan orang lain. Kami berbicara di antara kami sendiri, lalu apa urusannya denganmu, Orang Tua? Kami ingin bercerita apa pun, itu adalah urusan kami! Lantas, mengapa dirimu yang kelabakan? Seperti kakek-kakek yang kebakaran jenggot saja!" jawab pemuda itu lagi semakin berani, karena sama sekali tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Eh eh eh, semakin berani saja kau bicara! Tahukah kau, dengan siapa berhadapan?! Jaga mulutmu, Anak Muda!