Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
19


__ADS_3

Keesokan paginya, Ki Selangkit bersama para pembantunya telah berada di Balai Desa, untuk membicarakan musibah yang terus menerus menimpa penduduk Desa Ganjar.


"Saudara‐saudaraku! Sengaja kukumpulkan kalian pada hari ini di sini, untuk membicarakan masalah yang kita hadapi di desa kita ini. Nampaknya keadaan sudah semakin gawat!" ujar Ki Selangkit kepada para pembantunya yang hadir di tempat pertemuan itu.


"Lalu, bagaimana kita harus mengatasi masalah ini, Ki? Sedangkan kepandaian iblis itu sangatlah hebat!" potong Lugat dengan wajah putus asa.


"Oleh karena itulah aku mengajak kalian berkumpul di tempat ini untuk meminta pendapat ataupun usul‐usul kalian!" sergah Ki Selangkit agak keras.


"Maafkan saya, Ki! Saya..., saya bingung.. ucap Lugat gagap, ketika melihat Ki Selangkit gusar karena pembicaraannya dipotong.


Namun Ki Selangkit menjadi sadar akan perkataannya yang terdengar agak kasar itu.


"Aku pun minta maaf, Lugat! Aku juga heran, mengapa akhir‐akhir ini aku menjadi mudah sekali marah!" gumamnya dengan wajah lesu.


Mereka pun menjadi terdiam. Untuk beberapa saat lamanya ruangan itu menjadi hening, terbawa arus pikiran masing‐masing.


"Nah! Sekarang aku ingin mendengar pendapatmu, Adi Jarwa!" ujar Ki Selangkit kemudian, sambil memandang ke arah kepala keamanan desa itu


"Mmm..., begini, Ki! Menurut apa yang saya ketahui, kepandaian iblis itu sangatlah tinggi. Dan rasa‐rasanya usaha yang kita lakukan bersama‐sama penduduk desa selama ini akan sia‐sia saja! Ah! Maaf, Ki! Bukan berarti saya meremehkan apa yang telah kita lakukan selama ini!" ucap Jarwa panjang lebar.


"Lalu, menurutmu apa yang harus kita perbuat?" tanya Ki Selangkit yang masih belum dapat menerka arah pembicaraan pembantunya ini.


"Menurut hemat saya, untuk mengatasi keganasan iblis itu adalah dengan meminta bantuan para pendekar persilatan!" usul Jarwa kemudian.


"Hm. Ya, ya," gumam Ki Selangkit sambil mengangguk‐anggukkan kepalanya. Dan memang sepertinya ia dapat menerima usul yang diajukan Jarwa itu.


"Bagaimana, apa ada usul yang lain lagi?" tanya Ki Selangkit kepada pembantunya yang lain.


"Saya kira usul Kakang Jarwa tepat sekali, Ki' tegas Lugat sependapat.


"Baiklah! Kalau demikian, kita harus membagi tugas!" ujar Ki Selangkit kemudian.


Setelah semua yang hadir mendapat tugasnya masing‐masing, Ki Selangkit pun segera membubarkan rapat itu. Kemudian, undangan segera disebarkan ke perguruan‐perguruan silat yang menjadi sahabat‐sahabat Ki Selangkit, juga kepada pendekar‐pendekar yang telah mereka ketahui kepandaiannya.

__ADS_1


Pada hari yang telah ditentukan, Desa Ganjar menjadi ramai oleh para pendekar yang berdatangan memenuhi undangan Ki Selangkit.


Puluhan orang‐orang gagah dan berbagai perguruan berkumpul di Desa Ganjar. Mereka semua datang dengan hati rela, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Memang sudah menjadi kewajiban mereka untuk menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk kepentingan orang banyak.


Ki Selangkit pun sibuk menyambut kedatangan para pendekar‐pendekar itu. Wajahnya nampak berseri seri. Terutama setelah berjumpa dengan sahabat‐sahabat lamanya.


"Ah, Kakang Danu Wirya! silakan, silakan, Kakang! Terima kasih atas kerelaan Kakang yang telah sudi datang dari tempat yang jauh untuk memenuhi undangan kami...!" sambut Ki Selangkit kepada salah seorang sahabat lamanya itu.


"Ah, Adi Selangkit! Mengapa sungkan‐sungkan? Apakah kau telah melupakan persahabatan kita...?" ujar orang yang dipanggil Danu Wirya itu dengan wajah gembira.


"Ah! Kakang bisa saja ...... ucap Ki Selangkit senang.


Danu Wirya merupakan salah seorang sahabat lama Ki Selangkit. la memiliki sebuah perguruan silat yang cukup terkenal di wilayah Barat ini. Perguruannya bernama Gagak Putih, dan telah banyak menciptakan pendekar‐pendekar tangguh berjiwa ksatria. Sehingga nama perguruan Gagak Putih itu sangat disegani kawan dan ditakuti lawan.


Hampir semua pendekar yang diundang Ki Selangkit itu datang memenuhi undangan. Mereka dipersilakan untuk beristirahat melepaskan lelah di tempat‐tempat yang telah disediakan sebelumnya oleh Ki Selangkit.


Kedatangan para pendekar persilatan itu untuk sementara ini telah melegakan hati penduduk Desa Ganjar yang selama ini tertekan akibat teror yang melanda desa mereka. Melihat kegagahan para pendekar itu, penduduk Desa Ganjar merasa yakin kalau malapetaka yang menimpa desa mereka akan segera berakhir.


Pada sore harinya Ki Selangkit mengundang mereka untuk menghadiri pertemuan yang diadakan di Balai Desa. Tidak lama kemudian, para pendekar pun mulai berdatangan ke Balai Desa. Dari langkah‐langkah kaki mereka yang ringan, dapat ditebak bahwa mereka rata‐rata mempunyai kepandaian yang tidak rendah. Sikap mereka juga sopan, mencerminkan sifat seorang pendekar sejati.


Para pendekar itu segera mengambil tempat duduk yang telah disediakan. setelah semua pendekar yang diundang itu berkumpul, Ki Selangkit segera membuka pertemuan.


"Sahabat‐sahabat sekalian! Sebelum pertemuan ini kita mulai, kami persilakan untuk mencicipi hidangan ala kadarnya ... !" ujar Ki Selangkit membuka pertemuan.


Tanpa ragu‐ragu lagi, para pendekar itu lalu mencicipi hidangan yang telah tersedia di atas meja. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, ruang pertemuan itu menjadi sedikit gaduh. Sambil mencicip hidangan, para pendekar Itu saling bertegur sapa satu sama lain.


"Adi Selangkit, rasanya pertemuan ini sudah bisa kita mulai!" bisik Ketua Perguruan Gagak Putih, yang duduk di sebelah Ki Selangkit.


"Baiklah, Kakang!" jawab Ki Selangkit.


Plok! Plok! Plok!


Para pendekar itu menoleh secara bersamaan ke arah suara tepukan itu berasal. Seketika suara‐suara gaduh itu pun lenyap, berganti keheningan. Mereka menunggu apa yang akan dibicarakan Ki Selangkit.

__ADS_1


"Sahabat‐sahabat sekalian, apakah pertemuan ini sudah bisa kita mulai?" tanya Ki Selangkit. Suaranya begitu berwibawa.


Terdengar suara riuh sejenak, ketika para pendekar itu menyetujui usul Ki Selangkit ini. Ki Selangkit segera mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menghentikan suara gaduh yang seperti kumpulan lebah. Beberapa saat kemudian, keadaan pun menjadi hening kembali.


"Sahabat‐sahabat sekalian! Mungkin sebagian besar pendekar‐pendekar yang hadir di sini belum saling mengenal satu sama lainnya, tetapi sudah sering mendengar nama masing‐masing, maka kini aku akan memperkenalkan kalian," ajar Ki Selangkit dengan wajah berseri‐seri.


"Orang yang duduk di sebelah kanan saya, adalah Ki Danu Wirya atau yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Hati Emas. Dia adalah Ketua Perguruan Gagak Putih!"


Ki Danu Wirya segera bangkit dari tempat duduknya, lalu menganggukkan kepalanya.


Semua yang hadir di situ memandang ke arahnya dengan kagum Nama Pendekar Hati Emas memang cukup mengguncangkan dunia persilatan. Sepak terjangnya pun membuat lawan akan berpikir dua kali untuk berurusan dengannya.


Dalam lima tahun belakangan ini, namanya mencuat karena tindakannya yang selalu menolong orang yang lemah. Banyak sudah tokoh hitam yang tewas di tangannya. Namun, tidak sedikit pula yang dilepaskan begitu saja. Mungkin karena memiliki pertimbangan lain.


"Ah! Sebuah julukan yang kosong saja, kawan‐kawan!" ucap Ki Danu Wirya merendah. Setelah berkata demikian, pendekar sakti itu pun kembali duduk di kursinya.


"Dan, di sebelah kiri saya adalah seorang pendekar yang tidak kalah terkenalnya. Apakah di antara para sahabat sekalian ada yang dapat menerkanya?" lanjut Ki Selangkit berteka‐teki.


"He he he…… Hanya sebuah julukan yang berlebihan..., hik ... !” seru orang yang dimaksud Ki Selangkit sambil menggoyang‐goyangkan guci araknya.


"Pendekar Pemabuk ... !" seru beberapa orang yang hadir di situ dengan mata bertanya‐tanya


Mendengar disebutnya nama Pendekar Pemabuk, beberapa pendekar lain pun menjadi terkejut. Sebab. bagaimana caranya Ki Selangkit mengundang pendekar itu? Menurut khabar, Pendekar Pemabuk adalah seorang pendekar perantau. Dan tidak seorang pun yang mengetahui tempat tinggal pendekar sakti itu.


Pendekar Pemabuk pun bukan tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh beberapa pendekar yang hadir di tempat itu. Dan ia pun tidak ingin membuat mereka kebingungan.


"He he he... Hanya kebetulan lewat! Ya, hanya kebetulan...!" ujarnya patah‐patah.


Setelah berkata demiklan pendekar sakti itu segera menuangkan arak ke dalam mulutnya dari dalam guci yang tak pernah lepas dari tangannya itu. Terdengar suara arak memasuki kerongkongannya.


Glek... glek ... !


Ada beberapa orang pendekar andal lagi yang dikirimkan beberapa perguruan terkenal yang diperkenalkan oleh Ki Selangkit.

__ADS_1


Demikianlah, pertemuan para pendekar itu pun berjalan lancar, sebagaimana yang diharapkan. Beberapa keputusan pun telah diambil dan disepakati bersama. Ki Selangkit dan para pendekar itu segera mengatur siasat guna menjebak iblis yang telah membunuh beberapa penduduk Desa Ganjar, dan membawa petaka bagi keselamatan umat manusia.


Hari sudah mulai gelap ketika pertemuan para pendekar itu dibubarkan Ki Selangkit. Dan mereka segera kembali ke tempat penginapan masing‐masing. Mereka akan berkumpul kembali pada waktu yang telah disepakati bersama.


__ADS_2