Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
13


__ADS_3

Malam itu bulan bersinar terang. Bintang-bintang yang bertaburan, bagaikan pelita penghias malam. Langit yang bening saat ini membuat suasana malam itu semakin meriah. Demikian pula keadaan Desa Tambak. Obor-obor yang berjejer sepanjang jalan, membuat desa itu menjadi terang benderang.


Para penduduk berduyun-duyun mendatangi balai desa, tempat diadakannya pesta atas kembalinya putri sang kepala desa dengan selamat.


Ki Umbaran sengaja mengadakan pesta di halaman balai desa, agar seluruh penduduk desanya dapat menikmati pesta itu. Hiasan-biasan pun telah dipasang di sekitar balai desa. Panggung juga telah berdiri di tengah halaman yang luas itu.


Ketika seluruh penduduk Desa Tambak telah memenuhi halaman balai desa, nampaknya pesta pun segera pula dimulai. Berbagai hiburan ditampilkan. Mulai dari tari tarian sampai sandiwara rakyat.


Tampak Ki Umbaran duduk di sebuah kursi paling depan, menghadap ke panggung Di sebelah kirinya, duduk si Jelita Kenanga dengan anggunnya. Bibirnya yang merah merekah, tak henti-hentinya menebarkan senyuman manis. Hatinya bukan main gembiranya menyaksikan hiburan di panggung. Terlebih lagi melihat sambutan penduduk Desa Tambak yang begitu hangat atas keselamatan dan kepulangan dirinya.


Sementara di sebelah kanan Ki Umbaran, Panji pun ikut pula merasakan kegembiraan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Pesta itu benar-benar meriah! Meskipun seluruh pertunjukan berasal dari rakyat, namun benar-benar menarik dan mempesona. Seluruh rakyat Desa Tambak kelihatannya betul-betul bahagia pada malam itu.


Tapi, rupanya tidak semua orang yang menghadiri pesta itu merasa bahagia. Seperti halnya sosok tubuh yang berdiri tidak jauh dari panggung. Orang itu tampaknya tidak peduli dengan keramaian itu. Wajahnya yang cukup tampan hanya tersenyum sinis. Tatapan matanya yang penuh rasa iri menusuk ke arah Panji tanpa berpaling sedikit pun.


Sedangkan orang yang diperhatikan oleh mata semerah bara itu, tampak duduk dengan tenang tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya. Panji sama sekali tidak merasa terganggu oleh pandangan menusuk itu.


Sementara itu di atas panggung beberapa pertunjukan sudah berakhir. Suara tepukan bergemuruh membahana bagai hendak merubuhkan panggung. Malam sudah semakin larut, kerika semua acara segera usai.


Tiba-tiba sesosok bayangan hitam melayang naik ke atas panggung. Dengan dua kali bersalto di udara, didaratkan kakinya di atas panggung. Sorak-sorai menyambut kehebatan orang berbaju hitam itu.


"Saudara-saudara sekalian! Rasanya kurang lengkap apabila pesta ini tidak ditutup dengan pertunjukan ilmu olah kanuragan!" Orang berbaju hitam berhenti sejenak untuk mengetahui sambutan para penonton yang menghadiri tempat itu.


Ketika mendengar teriakan-teriakan ribut yang menyatakan setuju, orang berbaju hitam itu tersenyum. Segera diangkatnya kedua tangannya ke atas, untuk mengatasi kebisingan itu. Beberapa saat kemudian, suara bising itu lenyap.


"Jagal! Apa maksudmu?!" Teriak Ki Umbaran yang sudah bangkit dari kursinya dengan kedua tangan terkepal menahan geram. Wajah kepala desa itu tampak memerah.


Orang yang dipanggil Jagal itu segera berpaling kepada kepala desanya. Tubuhnya dibungkukkan sebagai tanda hormat.


"Maaf, Ki! Saya hanya ingin menambah semarak suasana pesta saja!" Sahut orang yang dipanggil Jagal, dengan suara nyaring.


Jagal adalah seorang jagoan yang cukup terkenal di Desa Tambak. Meskipun sikapnya agak sedikit urakan, namun belum pernah melakukan kesalahan besar. Paling-paling hanya minta sedikit uang jaga dari para pedagang di pasar. Dan antara Jagal dengan Ki Umbaran memang ada semacam 'perang dingin'.


"Lalu, apa maumu?" Tanya sang kepala desa lagi.


Sebenarnya Ki Umbaran sudah dapat menduga apa maunya laki-laki bertampang seram itu. Tapi, ia ingin memastikannya lewat jawaban dari mulut orang yang bernama Jagal itu.


"Begini, Ki! Saya mendengar di desa kita telah kedatangan seorang pendekar muda yang hebat, sehingga dapat membunuh Sepasang Harimau Terbang! Tapi saya tidak percaya! Saya tahu pasti kehebatan ilmu kepala rampok itu. Jadi, saya ingin bukti sampai di mana kehebatan pendekar muda itu?" Jagal berkata seolah-olah kepada Umbaran, namun matanya tak lepas-lepas memandang Panji.


"Huh! Manusia tak tahu diri!" Bentak Kenanga yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


"Mengapa baru sekarang kau jual lagak? Dulu semasa se tan kepa rat itu masih hidup kau mirip sapi ompong!" Sambung Kenanga ketus.


Merah seluruh wajah Jagal mendengar sindiran itu, namun ia tidak bisa mengelak dari kata-kata yang tepat mengenai sasarannya itu. Untuk beberapa saat lamanya, orang sok jago yang bernama Jagal itu tidak berkutik.


"Nah! Mana lagakmu, heh!" E jek Kenanga lagi ketika melihat Jagal seperti kehabissan kata-kata.

__ADS_1


"Nini Kenanga! Hebat sekali ucapanmu. Aku jadi ingin tahu, apakah ilmu silatmu sehebat lidahmu?" Tanya Jagal gemetar bernada tantangan. Dia marah sekali dihi nakan oleh gadis itu didepan umum.


"Hei! Apa kau pikir, aku takut?" Balas Kenanga tak kalah garangnya. Tanpa banyak bicara lagi, gadis jelita itu segera melesat ke atas panggung. Kenanga berdiri di hadapan Jagal sejauh dua tombak Senyumnya terlihat menge jek.


"Ayo! Tunjukkan kehebatanmu, jagoan kampung!" E jek Kenanga pedas.


Mendengar julukan itu, Jagal marah bukan main. Sementara orang-orang yang menonton tertawa geli mendengar julukan yang diberikan Kenanga. Wajah Jagal yang hitam, menjadi semakin gelap.


"Hati-hatilah, Nini! Jangan sampai mulutmu yang indah itu kusobek!" Ancam Jagal dengan suara gemetar.


"Majulah! Jangan hanya pentang bacot!"


"Bang sat! Kubunuh kau!!" Teriak Jagal.


Tubuhnya segera melesat menerjang Kenanga yang masih berdiri bertolak pinggang.


Ketika kepalan Jagal hampir menyentuh tubuhnya, Kenanga segera menggeser kaki kanannya ke belakang Kemudian, tangan kirinya mengirim serangan ke dada lawan. Ini adalah salah satu ilmu yang telah disempurnakan oleh Panji.


Melihat serangan balasan dari gadis itu, Jagal tidak menjadi bingung. Segera dielakkannya pukulan itu seraya membalas dengan tidak tanggung-tanggung lagi. Terjadilah pertarungan yang cukup seru dan menarik.


Jagal yang sudah marah itu, menyerang dengan pukulan-pukulan yang berbahaya. Dia seolah-olah ingin menjatuhkan lawannya dengan sekali pukul saja. Tangannya yang kasar dan terlihat kuat itu, berkelebatan cepat.


Sampai sepuluh jurus terlewat, serangan-serangan Jagal belum juga mengenai sasaran. Gerakan-gerakan Kenanga yang lincah itu, benar-benar telah membuat Jagal penasaran. Maka Jagal pun semakin memperhebat serangan-serangannya.


Pada jurus ke dua belas, pukulan Jagal meluncur ke arah lambung Kenanga. Gadis jelita itu, segera memiringkan tubuhnya ke kanan dibarengi gebrakan tangan kanannya ke perut lawan.


Tubuh Jagal terdorong mundur sejauh empat langkah. Namun, tubuh orang itu ternyata kuat sekali! Pukulan itu tidak menimbulkan luka yang berarti.


Sedangkan Kenanga malah sebaliknya. Lengannya terasa nyeri dan linu, ketika membentur tubuh jagoan pasar itu. Diam-diam gadis itu sedikit ciut hatinya, melihat kekuatan lawan yang sama sekali di luar dugaannya.


Sementara itu, Jagal sudah membangun serangan kembali. Kali ini dia bersikap lebih hati-hati. Serangan-serangannya tidak seganas semula namun penuh perhitungan. Justru serangan yang seperti Inilah yang lebih berbahaya, dan sulit ditembus pertahanannya.


Sebentar saja, Kenanga sudah mulai terdesak dan hanya dapat bermain mundur. Berkali-kali serangan Jagal hampir menghantam tubuhnya. Untunglah berkat kegesitannya, ia masih dapat lolos dari pukulan-pukulan lawan. Tapi, biar bagaimanapun pertahanannya pasti bobol juga.


Ki Umbaran begitu cemas melihat putrinya hampir tidak berdaya membalas serangan Jagal. Orang tua gagah itu meremas-remas kedua tangannya dengan perasaan gelisah. Keadaan Kenanga memang benar-benar mulai gawat. Pada saat itu, dua buah pukulan Jagal meluncur ke arahnya!


Kenanga berusaha sebisanya menghindari serangan itu, namun terlambat karena ketika dia berusaha membuang tubuhnya ke kanan, pukulan Jagal telah lebih dulu menghantam perutnya.


Plak! Desss!


Tubuh gadis jelita itu terjengkang ke belakang. Namun, sebelum tubuh Kenanga jatuh ke bawah panggung, tiba-tiba sesosok bayangan putih melayang, menyambar tubuh gadis itu. Tubuh ramping itu pun tidak sampai terbanting ke tanah yang keras.


Bayangan putih yang ternyata adalah Panji, segera menurunkan tubuh Kenanga di atas lantai panggung. Pada saat yang bersamaan, Jagal sudah pula menerjang Panji. Kedua tangan Jagal meluncur cepat ke arah tengkuk dan dahi pendekar itu. Sebuah serangan yang curang dengan cara membokong.


Panji sama sekali tidak menoleh ke arah serangan Jagal. la sibuk menotok beberapa bagian tubuh Kenanga agar tidak menderita luka dalam. Ketika serangan yang berbahaya itu hampir menyentuh tubuhnya, Panji hanya mengebutkan lengan kanannya secara sembarangan untuk memapak kedua serangan Jagal. Kelihatannya perlahan saja.

__ADS_1


Plakkk!


Akibatnya hebat sekali! Tubuh Jagal terlempar balik. Tubuhnya melayang, dan terdengar suara benda berat jatuh ke bumi. Tubuh jagoan yang bernama Jagal itu jatuh ke bawah panggung dalam keadaan pingsan. Sementara dari sela-sela bibirnya, mengalir darah segar.


Para penduduk desa yang melihat kejadian itu, hanya dapat berdiri bengong. Baru setelah tubuh Jagal tergeletak di tanah, mereka berlari mengerubungi tubuh jagoan kampung itu.


Sementara Ki Umbaran pun tersentak kaget Sampai terbangkit dari kursinya. la yang sudah dapat mengukur kepandaian Panji, tidak menyangka kalau pemuda itu sedemikian hebatnya. Jagal yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi, hanya dengan sekali kebutan tangannya sudah tergeletak pingsan!


"Luar biasa! Tak kusangka kepandaian pemuda itu demikian hebatnya! Ah! Rasa-rasanya pemuda itu pasti akan mampu menghadapi Laba-Laba Beracun, yang ganas dan memiliki kepandaian seperti iblis itu," gumam Ki Umbaran penuh harap.


Di tempat lain, sepasang mata penuh iri itu pun tidak kalah terkejutnya. Wajahnya mendadak pucat bagai tak teraliri darah.


"Gila! Apakah anak muda itu mempunyai kepandaian seperti malaikat?" Desah orang itu dengan hati gelisah.


Sementara itu Kenanga si Bidadari Jelita sudah mulai sadar dari pingsannya. Gadis jelita itu mengeluh sejenak. Kemudian dikerjap-kerjapkan matanya dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya.


"Oh..., Kakang Panji," ujar Kenanga ketika melihat pemuda itu duduk di dekatnya.


"Apa yang terjadi, Kakang?" Tanyanya kemudian.


"Kau tadi terjatuh terkena pukulan lawanmu, lalu pingsan!"


Jawab Panji sambil memandang mata yang bersinar bagai bintang kejora itu. Ah, sungguh indah sekali mata itu, bisik hatinya mengagumi indahnya mata Kenanga.


"Lalu..., ke manakah perginya manusia kepa rat itu?" Tanya Kenanga.


Gadis itu lalu bangkit berdiri, dan mencari-cari orang yang dimaksud sambil mengedarkan pandangannya. Kenanga lalu melangkah menghampiri kerumunan orang desa, yang berada agak jauh di depannya. Ketika ia sampai di situ, orang-orang desa segera menyingkir agar putri kepala desanya dapat melihat jelas. Kenanga menjadi terkejut sekali, ketika melihat tubuh jagoan kampung itu tergeletak pingsan. Darah masih mengalir dari sela-sela bibirnya.


"Dia kenapa, Kakang?" Tanya Kenanga kepada Panji, yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Ah! Dia hanya terjatuh ketika aku menangkis pukulannya," jawab Panji menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.


Kenanga yang sudah tahu akan silat Panji, tidak bertanya lebih jauh.


"Oh.., hanya terjatuh!" Ujarnya menggoda.


Panji hanya tersenyum mendengar sindiran Kenanga.


Melihat keadaan sudah aman, Ki Umbaran segera melesat ke atas panggung.


"Saudara-saudara sekalian! Pesta sudah berakhir. Dan saya persilakan untuk kembali ke rumah masing-masing!" kata Ki Umbaran. Suaranya berat dan berwibawa.


Tidak berapa lama kemudian, orang-orang desa itu pun segera bergegas meninggalkan arena keramaian. Hanya beberapa orang saja yang masih tinggal, untuk membereskan tempat pesta itu.


Baru beberapa tombak para penduduk meninggalkan halaman balai desa, tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelegar dan bergema di empat penjuru. Suara tawa itu demikian keras dan menyeramkan, disalurkan dengan tenaga dalam yang cukup tinggi.

__ADS_1


"Ha ha ha...!" Suara tawa itu terus berkumandang bagaikan tiada habis-habisnya. Seolah-olah bukan suara tawa manusia saja!


__ADS_2