
"Bagaimana, Kakang ... ?" tanya Ki Selangkit kepada Pendekar Hati Emas, begitu tiba bersama para pendekar lainnya.
"Entahlah, Adi Selangkit! Ketika kami mengejarnya, tiba‐tiba saja ia lenyap di sekitar daerah ini!" jelas Pendekar Hati Emas.
Mendengar keterangan itu, Ki Selangkit segera, mengedarkan pandang ke sekitar tempat tersebut. Tiba‐tiba hatinya tersentak kaget ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah bukit yang berdiri tegak menyeramkan.
"Bukit... lblisss ... !" seru Ki Selangkit dengan bibir bergetar. Wajahnya seketika berubah pucat.
"Bukit Iblis...!" teriak para pendekar lainnya tidak kalah kaget.
Sebagian orang persilatan memang telah lama mendengar tentang bukit tersebut. Namun baru kali inilah mereka mengetahui bentuk dan letak bukit yang terkenal itu. Sebuah bukit yang dikhabarkan menjadi tempat persembunyian para dedengkot kaum sesat.
"Hm.... Kalau kita nekad menyatroni tempat tersebut, sama saja dengan mengantarkan nyawa!" ujar Pendekar Hati Emas.
"Meskipun kepandaian iblis itu tidak terlalu tinggi, namun ilmu hitam dan ilmu kebalnya itulah yang membuat dia sukar dikalahkan. Perlu diketahui kalau di atas bukit itu, terdapat juga kawan‐kawannya! Maka, akan sia‐sialah segala usaha kita," lanjut pendekar itu lagi.
"Jadi..., apa yang harus kita lakukan?" tanya Ki Selangkit bingung,
"Ya..., kurasa kita harus meminta bantuan kepada orang‐orang Sakti yang tahu kelemahan ilmu dedemit itu," jawab Pendekar Hati Emas pula.
"Lalu..., kepada siapa kita meminta bantuan? Sedangkan para tokoh kelas atas jelas tidak mungkin! Sebab mereka lebih suka mengasingkan diri, daripada mencampuri urusan dunia!" ujar Ki Selangkit. Dari matanya terpancar sinar kekecewaan.
"Tunggu dulu!" potong Pendekar Pemabuk.
"Apakah kalian pernah mendengar seorang pendekar muda yang telah menewaskan Tiga Iblis Gunung Tandur dengan ilmu ilmunya yang mujizat?" tanya Pendekar Pemabuk.
"Eh! Tiga Iblis Gunung Tandur telah dibunuh seorang pendekar muda?" seru para pendekar itu tidak percaya.
"Ya! Bahkan ketiga‐tiganya sekaligus!" tambah Pendekar Pemabuk. Wajahnya barseri gembira.
"Oh, hebat! Hebat!" teriak mereka semakin terkejut.
"Bagaimanakah ceritanya, Adi?" tanya Pendekar Hati Emas tertarik.
Pendekar Pemabuk lalu menceritakan khabar yang sudah tersebar d daerah Selatan. Dan sebagai seorang pendekar pengembara, ia juga telah mendengar khabar ini.
"Luar biasa...!" seru para pendekar itu kagum.
"Tapi, ke mana kita harus mencarinya?" tanya Ki Selangkit penuh harap.
"Mudah saja! Setiap pendekar yang berada di sini harus menyebarkan berita tentang mengganasnya makhluk yang bernama Dedemit Bukit lblis di wilayah Barat, " usul Pendekar Pemabuk.
"Tepat sekali!" sergah Pendekar Hati Emas.
__ADS_1
"Dan sebagai seorang pendekar sejati, apabila ia mendengar berita itu, pastilah ia akan datang untuk membasminya. Bagaimana, sahabat‐sahabat?" tanya pendekar itu kepada yang lainnya.
"Setuju!!" jawab para pendekar tersebut serempak.
"Kalau demikian, sekarang marilah kita kembali ke desa. Para penduduk tentu telah menantikan dengan hati cemas!" seru Ki Selangikit.
Demikianlah, rombongan para pendekar itu pun segera meninggalkan tempat tersebut. Sementara, di kejauhan mulai terdengar kokok ayam jantan yang menandakan pagi akan segera datang.
*
Hari masih pagi ketika para tokoh rimba persilatan yang dipimpin Pendekar Pemabuk bergegas meninggalkan Desa Ganjar. Mereka akan menyebar ke berbagai penjuru untuk menyebarkan berita tentang mengganasnya iblis penculik dan penghisap darah bayi yang berjuluk Dedemit Bukit Iblis!
Sementara Pendekar Hati Emas dan Ki Selangkit tetap berada di Desa Ganjar untuk berjaga‐jaga kalau si iblis kembali membuat ulah di desa itu.
Dalam waktu beberapa bulan saja, kekejaman dan kebiadaban Dedemit Bukit Iblis itu telah ramai dibicarakan orang, Baik di desa‐desa, di kedai‐kedai minum maupun di pasar‐pasar. Demikian pula para petani, pedagang, maupun para pembesar tinggi kerajaan. Mereka semua ikut membicarakan hal berita itu, sehingga semakin meluas ke pelbagai lapisan!
Apalagi di kalangan persilatan. Para pendekar yang merasa ikut bertanggung jawab untuk mengatasi masalah itu, mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Perguruan‐perguruan dari berbagai aliran, mengutus murid‐murid utamanya untuk menyelidiki kebenaran berita yang telah tersebar luas itu.
Maka tidaklah mengherankan apabila setiap hari selalu saja ada rombongan orang berkuda maupun yang berjalan kaki, mendatangi desa‐desa yang terletak tidak jauh dari Bukit iblis itu. Selain datang secara rombongan, ada pula pendekar yang datang secara perorangan. Karena mereka merupakan pendekar perantau, dan tidak memiliki tempat tinggal tetap. Bagi mereka, di mana langit dijunjung dan bumi dipijak, maka di situlah rumah mereka.
Dan tidak sedikit pula dari para pendatang itu yang berstatus pedagang‐pedagang yang memanfaatkan kesempatan itu. Mereka berdatangan dengan harapan dapat memperoleh keuntungan besar. Karena tempat‐tempat yang mereka datangi adalah desa‐desa yang terdekat dengan Bukit iblis. Dan tentulah tempat‐tempat tersebut akan ramai dikunjungi orang!
Memang tepatlah apa yang diperkirakan para pedagang itu. Desa‐desa yang dekat dengan Bukit iblis lebih ramai dikunjungi para pendatang, daripada desa‐desa lainnya. Seperti Desa Ganjar, Desa Pasiran, dan beberapa desa lainnya, yang berada di sekitar Bukit iblis.
Rombongan yang langsung menuju sasaran, kurang lebih berjumlah empat puluhan orang. Mereka tergabung dari tujuh buah perguruan yang terbesar pada masa itu, dan ditambah belasan orang pendekar perantau yang berdiri sendiri.
Sikap mereka terlihat gagah dan berwibawa. Senjata yang dibawa pun bermacam‐macam bentuknya. Kebanyakan pendekar itu, membawa pedang, golok, dan tombak. Hanya sebagian kecil saja yang menggunakan kapak, tongkat, dan senjata lain.
Setelah melakukan perjalanan setengah hari, rombongan itu tiba di Kaki Bukit iblis. Mereka bergegas berlompatan turun dari punggung kuda masing‐masing. Kemudian para pendekar itu pun beristirahat, karena telah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
Kuda‐kuda mereka dilepaskan di padang rumput luas, yang banyak terdapat di sekitar tempat itu. Setelah dirasa cukup beristirahat, para pendekar itu segera berkumpul untuk menentukan langkah berikutnya.
Seorang lelaki gagah yang bernama Ki Teja Laksana, tampil ke depan. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Bulu‐bulu menghiasi pipi dan dagunya, sehingga membuat wajahnya tampak semakin berwibawa. Namanya pun cukup terkenal di kalangan persilatan, yang selalu menjunjung tinggi kebenaran Dia berjulukan Pendekar Tangan Baja.
Pendekar Tangan Baja adalah pendekar perantau yang tidak terikat suatu partai pun. Namun, ia mempunyai hubungan baik di setiap perguruan. Oleh karena itulah, maka hampir dari seluruh pendekar yang hadir di situ telah mengenalnya dengan baik. Dan para pendekar yang hadir segera mempercayakan Pendekar Tangan Baja untuk memimpin rapat ini.
"Sahabat‐sahabatku para pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran!" kata Ki Teja Laksana.
Sengaja suaranya disertai pengerahan tenaga dalamnya agar semua yang hadir dapat mendengar jelas.
"Dalam musyawarah ini, para sahabat dipersilakan mengeluarkan pendapat masing‐masing, agar dapat diambil satu keputusan! Tentu saja keputusan yang terbaik dan disetujui kita bersama! Nah, sekarang, silahkan para sahabat mengajukan pendapat secara bergiliran," seru Pendekar Tangan Baja mengakhiri ucapannya.
Ketika Pendekar Tangan Baja alias Ki Teja Laksana mengakhiri perkataannya, terdengar suara gaduh yang disebabkan pembicaraan para pendekar itu di antara sesama kawannya. Ki Teja Laksana cepat‐cepat mengangkat kedua tangannya ke atas, untuk meredakan kegaduhan itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Dan Ki Teja Laksana pun kembali mengulangi perkataannya.
Salah seorang dari para pendekar itu segera mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda ingin mengajukan usul. Ki Teja Laksana menganggukkan kepalanya ke arah pendekar itu.
"Begini, Kakang! Bagaimana kalau beberapa orang di antara kita menyelidiki keadaan bukit itu terlebih dahulu? Siapa tahu bukit itu dipenuhi perangkap yang akan mencelakakan kita!" usul pendekar itu.
"Hm.... Sebuah usul yang sangat bagus, Adi Kalingga!" ujar Pendekar Tangan Baja. la tampak cukup gembira mendengar usul itu.
Mendengar usulnya disambut gembira, pendekar yang dipanggil Kalingga itu berseri‐seri wajahnya. Tokoh ini adalah seorang murid andalan perguruan 'Tongkat Sakti'. la dikenal dengan julukan Pendekar Tongkat Maut. Kepandaiannya hanya satu tingkat di bawah gurunya. Maka dapatlah dibayangkan betapa hebatnya kepandaian pendekar Itu. Kalingga bersama tiga orang adik seperguruannya diutus gurunya untuk menyelidiki kebenaran berita yang menggemparkan itu.
Sementara itu, rapat dilanjutkan oleh beberapa usulan lagi yang diajukan para pendekar lainnya kemudian para pendekar yang memimpin musyawarah itu segera berembuk untuk mencapai kata sepakat. Beberapa saat kemudian, Pendekar Tangan Baja alias Ki Teja Laksana kembali tampil di hadapan para pendekar itu untuk mengumumkan keputusannya.
Setelah mendengar alasan‐alasan yang dikemukakan Ki Teja Laksana, akhirnya para pendekar itu pun menyetujui usul yang telah diajukan Pendekar Tongkat Maut. Setelah mendengar persetujuan dari para pendekar lainnya, Ki Teja Laksana lalu meminta setiap perguruan yang hadir untuk mengajukan seorang wakil.
Ketujuh perguruan itu pun segera menyerahkan wakiInya, untuk menyelidiki keadaan Bukit Iblis. Dengan dibantu oleh dua orang pendekar perantau, rombongan yang dipimpin langsung oleh KI Teja Laksana segera berangkat.
*
Matahari sudah semakin meninggi ketika rombongan yang berjumlah sepuluh orang mulai mendaki Bukit lblis. Kesepuluh orang pendekar itu berloncatan di atas batu‐batu yang bertonjolan di Badan Bukit lblis.
Tidak berapa lama kemudian, kesepuluh orang pendekar itu pun mulai memasuki daerah yang sukar dilewati. Melihat keadaan medan yang semakin sukar, Pendekar Tangan Baja yang berjalan paling depan segera menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Ki?" tanya seorang pendekar yang bertubuh tinggi kurus itu dengan suara pelahan.
Ki Teja Laksana tidak segera menjawab pertanyaan rekannya. Segera diedarkan pandangan ke sekelilingnya. Wajahnya terlihat agak tegang.
"Rasanya..., kita harus lebih meningkatkan kewaspadaan! Aku merasa ada suatu bahaya mengancam!" ujar Pendekar Tangan Baja memperingatkan kawan‐kawannya.
Mendengar peringatan dari Pendekar Tangan Baja, seketika wajah kesembilan orang pendekar itu berubah tegang! Meskipun tidak mengetahui apa yang dkhawatirkan itu, namun perkataan seorang pendekar seperti Ki Teja Laksana, tidak mungkin hanya omong kosong belaka.
Sementara Ki Teja Laksana masih terus mengawasi sekitarnya. Memang pernah didengarnya perihal bukit yang belum pernah dijamah manusia itu. Dan menurut cerita kakek gurunya, di bukit itu terdapat banyak ancaman yang mengerikan dan telah banyak memakan korban. Namun, sampai saat ini belum jelas apa bahaya itu. Belum ada orang yang mengetahui bentuk ancaman itu, karena yang didengar hanyalah cerita dari mulut ke mulut. Belum ada seorang pun yang dapat membuktikannya.
Itulah, mengapa Ki Teja Laksana merasa ragu‐ragu untuk melanjutkan langkahnya. Pendekar Tangan Baja atau Ki Teja Laksana sudah memiliki banyak pengalaman dalam dunia persilatan. Nalurinya pun telah terlatih dengan baik. Dan kini, nalurinya mengatakan bahwa di sekitar tempat ini banyak bahaya yang tengah mengincar.
Namun Pendekar Tangan Baja tidak ingin membiarkan kawan‐kawannya dihantui bayangan menakutkan. Pendekar itu lalu mengajak kesembilan orang kawannya untuk meneruskan langkah, tanpa meninggalkan kewaspadaan.
Dengan hati penuh ketegangan, kesepuluh orang pendekar itu meneruskan langkahnya. Ki Teja Laksana yang berjalan paling depan melangkah pelahan, sambil sesekali memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Selang beberapa waktu kemudian, mereka tiba pada sebuah tempat yang agak terbuka. Di hadapan mereka terbentang sebuah tanah lapang yang ditumbuhi ilalang setinggi dua tombak yang tumbuh di kiri kanan jalan setapak.
Pendekar Tangan Baja atau Ki Teja Laksana tiba‐tiba, menghentikan langkahnya. Kesembilan orang pendekar lainnya segera mengikutinya. Untuk beberapa saat lamanya, orang tua gagah itu terdiam mengamati hamparan ilalang yang terlihat agak aneh. Bentuk tanah lapang yang ditumbuhi ilalang itu tampaknya seperti sengaja dibuat sedemiklan rupa, sehingga jika diperhatikan secara teliti seolah‐olah membentuk kedudukan delapan penjuru angin. Tentu saja hal ini dapat membingungkan orang yang masuk ke dalamnya.
"Kita coba berjalan seorang demi seorang. Jarak antara kita tidak boleh lebih dari tiga tombak, agar tidak kehilangan jalan keluar!" perintah Ki Teja Laksana.
__ADS_1